Day (43)

1003 Kata
Fairel melihat Divandra berjalan seorang diri menuju gerbang sekolah. Divandra pasti menunggu taksi online karena Kein sedang berada di gudang tempat mereka berkumpul. Fairel memelankan laju mobilnya membuka kaca yang berada di samping Sheerin. Fairel bisa melihat Divandra masih melihat dirinya persis seperti terakhir kali, tapi Fairel mencoba untuk menghiraukannya. “Di, gue antar” ucap Fairel Divandra masih terus melanjutkan langkahnya Fairel tetap setia mengikutinya. “Pulang bareng gue yuk Di” Divandra menghentikan langkahnya kesal “Gue bisa pulang sendiri” lalu dengan cepat Divandra berlari meninggalkan mobil Fairel. Fairel sungguh heran bagaimanaa ada orang yang sekeras Divandra, padahal lebih baik ia naik bersama Fairel daripada harus naik taksi online. *** Divandra berlari sekencang kencangnya meninggalkan mobil Fairel, jika keadaannya baik baik saja pasti ia lebih memilih naik mobil Fairel yang nyaman daripada harus naik taksi online. Tapi sekarang keadaannya sedang tidak baik baik saja Divandra sedang marah dan kesal dengan Fairel. Jauh di lubuk hati Divandra sebenarnya ia merasa bersalah dengan Fairel, Fairel masih bersikap baik dengannya. Seharusnya divandra bisa bersikap lebih dewasa, apa salahnya jika dirirnya bertanya mengenai alasan mengapa Fairel meninggalkan Aneira. Tapi nasi sudah jadi bubur emosinya lebih mendahului logikanya, mungkin besok ia akan mencoba bertanya atau sebaiknya divandra diam saja karena itu bukan urusannya. “Ah semuanya membuat Divandra bingung” Divandra mengacak rambutnya kasar tepat saat Divandra sedang mengacak rambutnya taksi onlinenya datang. “Jangan bilang taksinya sudah melihat tingkah gilanya” batin Divandra lalu naik ke dalam taksi Sesampai di taksi hal yang pertama Divandra lihat adalah si sopir taksi sedang menahan senyumnya sambil melirik Divandra. Benar dugaan Divandra, bahwa supir itu telah melihat tingkah bodohnya. Divandra segera menenggelamkan wajahnya karena malu. *** Tak ada satupun obrolan yang terdengar di dalam mobil Fairel, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Sampai akhirnya Sheerin merasa muak dengan suasana seperti ini. “Rel, kok lo jadi pendiem?” “Gue? Emang gue gini kok” ujar Fairel merasa tak ada yang aneh dalam dirinya. “Maaf atas kejadian semalam” Sheerin meminta maaf atas kejadian semalam yang dengan lancangnya mencium pipi Fairel, Walaupun ia merasa bahwa tindakannya sangat tidak sopan tapi jika ia diberi kesempatan untuk memutar waktu ia lebih memilih untuk melakukannya daripada menyesal di kemudian hari. Fairel hanya terdiam tak merespon ataupun bereaksi sedikitpun. Fairel mengingat jelas bagaimana Sheerin mencium pipinya tiba tiba. “Rel” panggil Sheerin menatap ke arah Fairel sebab Fairel tak merespon ucapan permintaan maafnya. Terdengan helaan nafas berat dari Fairel yang juga terdengar oleh Sheerin. “Kita nggak akan bisa seperti dulu lagi Rin, dan lo tahu itu” Ucap Fairel pelan Sheerin terdiam menatap nanar Fairel. Apakah sebegitu sulitnya memperbaiki apa yang terjadi di masa lalu. “Lo tahu gue Rel, gue nggak akan berhenti sebelum semuanya kembali seperti dulu” Sheerin tak mau kalah, ia tak ingin usahanya kembali ke Indonesia harus menjadi sia sia. Ia meninggalkan semuanya di New York demi memperbaiki hubungannya dengan Fairel, ia rela tinggal disini sendirian walaupun tiap malam ia terus dihantui oleh trauma itu. Mata Sheerin terasa memanas, tak terasa air matanya menetes jatuh membasahi pipinya. “Jika dari awal gue bisa Rel, gue nggak akan memutuskan untuk kembali ke sini Rel.” tangis Sheerin semakin menjadi membuat Fairel menjadi tak tega dirinya, Fairel seketika merasa bersalah. Ada bagian dimana hati Fairel terasa sakit mendengar setiap ucapan dari Sheerin. Fairel menepikan mobilnya ia tak bisa melanjutkan perjalanan jika Sheerin masih terus menangis. Setelah menepikan mobilnya Fairel kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Sheerin, air mata mengalir di pipi Sheerin, tak bisa dibohongi bahwa ia juga terluka melihat Sheerin seperti itu. Tapi ia harus menghentikan ini semua sebelum terlambat, lebih baik mencegah daripada menyesal nantinya. Fairel kemudian memeluk Sheerin hangat, mencoba menenangkannya hanya ini yang bisa ia lakukan sebagai seorang teman, Sheerin seperti ini karena dirinya dank arena itulah ia harus menjaga jarak dengan Sheerin agar tak terus menyakiti Sheerin. Mungkin kebersamaannya dengan Sheerin 3 tahun yang lalu menjadikannya dirinya memiliki ketakutan akan hal yang terjadi di masa lalu, ia takut kejadian yang sama akan terulang lagi kepada orang yang berbeda. Fairel merasa bahwa dirinya tak pantas untuk dicintai karena apapun yang menyangkut dirinya pasti akan membuat orang yang mencintainya tersakiti. Setelah dirasa Sheerin sudah cukup tenang Fairel melepaskan pelukannya. “Maaf Rel” hanya kata maaf yang keluar dari bibir Sheerin. *** Fairel sampai di apartment milik Sheerin. Sheerin turun dari mobil Fairel tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mungkin hari ini menjadi hari yang berat baginya, ia benar benar melihat bahwa Fairel benar benar tak bisa lagi bersamanya. Tapi hati kecilnya terus saja berkata bahwa Fairel akan kembali bersamanya dan melindunginya seperti dahulu. Sheerin berjalan masuk ke apartmentnya dengan langkah gontai, harapannya yang ia bawa jauh jauh dari New York harus pupus sudah hanya dalam beberapa hari. Sheerin membaringkan tubuhnya di atas kasur milikinya, kepalanya terasa berat bayang bayang masa lalu terus menghampirinya. *** Setelah menurunkan Sheerin Fairel dengan cepat menyetir mobilnya menuju gudang tempat Kein dan teman temannya berada. Fairel tak boleh kehilangan Kein, ia butuh penjelasan dari Kein kenapa Kein tak membalas atau mengangkat panggilan darinya. Jarak apartment Sheerin dan gudang cukup jauh, jika ia pergi ke gudang pasti ia akan melewati apartment Aneira. Maka dari itu Fairel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di tempat tujuannya. *** Hanya dalam 15 menit Fairel sudah sampai di depan gudang, Fairel sedang memarkirkan mobilnya disamping mobil Kein. Syukurlah Kein masih ada disini. Tak lupa Fairel mengambil ponsel miliknya dan tas, menyandangnya hingga ia sampai ke dalam. Ketika masuk aroma rokok menguar masuk ke indera penciuman, tempat ini identik dengan rokok. Sudah berulang kali Fairel mengingatkan teman temannya untuk mengurangi konsumsi rokok tapi namanya sudah kecanduan tak ada yang bisa menghentikannya. Gudang ini menjadi tempat bersejarah bagi mereka semua disinilah geng mereka terbentuk, banyak orang yang beranggapan bahwa kami adalah anak anak geng yang meresahkan seperti pada umumnya. Tapi percayalah kami berbeda. Disinilah terkadang kami menemukan kenyamanan, dan disinilah tempat kami merilekskan tubuh dari hiruk pikuk dan kilauan ibukota yang tak pernah berhenti. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN