Day (42): Sikap

1123 Kata
Aneira memutuskan untuk mandi setelah memakan makanan yang ternyata hanya ada roti di kulkasnya, sebenarnya belum cukup untuk mengisi perutnya tapi mau bagaimana lagi tubuhnya masih belum kuat untuk berjalan jauh apalagi menyetir mobil. Gara gara semalam ia mandi di waktu yang sangat tidak dianjurkan, akhirnya ia harus menanggung akibatnya, suhu tubuhnya di atas normal yang berarti sekarang ia sedang demam. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berbaring, tapi rasanya tak afdol jika dirinya tak mandi lagi habis bangun tidur, walaupun mandi bisa membuat suhu tubuhnya naik lagi, Aneira tak mempedulikannya. Aneira adalah orang yang sangat aneh sejak kecil saat ia demam pasti dirinya akan mandi dengan teratir walaupun sudah dilarang oleh ayahnya, tapi begitulah Aneira menurutnya saat itu tubuhnya panas jika disiram dengan air dingin tentu tubuhnya akan kembali dingin seperti bara yang sangat panas disiram air akan mati dan menjadi dingin, begitulah menurut Aneira perumpaan mandi saat demam. Padahal ayahnya sudah berulang kali mengingatkan dirinya untuk tidak mandi, tapi sekarang tak ada lagi ayah bahkan kakaknya yang melarang bahkan memperhatikannya jadi Aneira bisa berbuat sesuka hatinya. Aneira masuk ke dalam kamar mandi, tak beberapa saat ia kemudian keluar persis seperti orang yang habis mandi. Aneira menatap dirinya di cermin Setidaknya dengan mandi dirinya tak terlihat menyedihkan. Setelah memakai baju, Aneira memutuskan untuk mengambil ponselnya yang masih di charger Aneira tak tahu akan menghubungi siapa, pasti sekarang Divandra masih di sekolah karena jam menunjukkan proses pembelajaran masih berlangsung. Tangan Aneira berhenti di sebuah nama yang sudah menelfonnya sebanyak 11 kali ia tak boleh lemah hanya karena Fairel menelfonnya sebanyak itu membuatnya kembali melupakan tujuan awalnya. “Tidak Aneira, Tidak” teriaknya keras untung dirinya hanya sendiri di apartment ini, jika tidak pasti ia sudah di kira orang gila karena berbicara dan berteriak sendiri. *** Bunyi bel sekolah membangunkan Fairel yang tidak sengaja tertidur di rooftop, ia melihat jam yang melinggkar di pergelangan tangannya. Betapa terkejutnya Fairel saat jam menunjukkan pukul 15.00 itu berarti bel yang barusan ia dengar adalah bel tanda untuk pulang. Fairel merogoh sakunya untuk mencari ponselnya, ada beberapa pesan dari Sheerin yang menanyai keberadaannya, dan satu pesan dari teman satu gengnya ia mengirimkan sebuah foto yang terlihat Kein sedang berada di gudang tersebut tempat mereka berkumpul. Rel, teman lo galak benar kek singa betina. Sejak pagi tadi Fairel mencari Kein tapi mengapa Kein tal membalas atau mengangkat panggilan darinya padahal Kein ada di gudang, dan apa maksud temannya Kein berubah menjadi Singa Betina, memangnya Kein berbuat apa. Segera ia berlari menuju tangga turun, ia harus cepat menyusul Kein ke sana ia ingin meminta penjelasan Kein mengapa Kein tidak sekolah dan Kenapa Kein mengacuhkan dirinya. *** Sheerin bersiap siap untuk pulang Fairel yang sejak tadi tidak terlihat membuatnya malas untuk melakukan apapun, padahal ini hari pertamanya di sekolah tapi Fairel tak menyambutnya dengan baik. Sheerin mencoba mengirimkan pesan kepada Fairel sejak tadi tapi hanya di read tidak di balas. Sheerin menghela nafas berat saat ia mulai melangkah menuju pintu kelas tiba tiba Fairel datang sambil berlari, rambutnya terlihat berantakan. Sheerin menghentikan langkahnya lalu berbalik menuju meja Fairel sebab Fairel bersiap untuk pulang mengambil tasnya. “Lo dari mana aja Rel?” tanya Sheerin penasaran “Rooftop” balas singkat Fairel lalu ia kembali berjalan keluar meninggalkan Sheerin dengan cepat Sheerin mencegat Fairel. “Rel, tunggu” mendengar panggilan Sheerin membuat Fairel menghentikan langkahnya. “Ada apa?” “Gue pulang bareng lo” Mendengar hal itu Fairel mengacak rambutnya kasar “Maaf Rin, gue buru buru” Sheerin kembali mengeluarkan jurus andalannya, dengan jurus ini Sheerin yakin Fairel tak akan bisa menolaknya seperti tadi malam “Gue nggak nyangka lo setega itu sama gue Rel, gue tinggal sendiri Rel, nggak ada yang antar jemput gue. Lo tau kan gue punya trauma…” belum selesai Sheerin menyelesaikan ucapannya dengan cepat Fairel memotongnya “Oke Fine, gue antar” Sheerin tersenyum senang, dugaannya benar Fairel tak akan bisa menolaknya. Sheerin dengan semangat mengikuti langkah Fairel yang berjalan lebih dulu di depannya. *** Divandra baru keluar dari kelasnya, hari ini terasa membosankan tak ada Kein dan tak ada Aneira. Hampa dan sepi cocok untuk mendefinisikan harinya hari ini. Divandra melangkah gontai menuju tempat parkir, mang udin hari ini tak bisa menjemputnya lagi ia haus mengantar mama karena mama sedang malas menyetir alhasil dirinyalah yang harus berkorban demi menyenangkan hati mamanya. Divandra mencoba menghubungi Kein siapa tau Kein mau menjeputnya daripada ia harus naik taksi online. Divandra berdiri di koridor yang terhubung ke tempat parkir sambil menelfon Kein. “Angkat dong kak” ujar Divandra saat tak juga mendapat jawaban dari Kein. Akhirnya usaha Divandra tak sia sia Kein mengangkat telfonnya “Halo?” “Kak, lo dimana?” “Kenapa?” Kein malah balik bertanya bukannya menjawab pertanyaan Divandra membuat Divandra mendengus kesal. “Jemput gue dong kak, Mang udin lagi nganter mama” “Pulang aja sendiri, jangan manja” Bukannya jawaban yang diinginkan Divandra, Kein malah membuat Divandra semakin naik darah ia seketika menyesal menghubuni Kein. Tanpa salam penutup dan aba aba dengan cepat Divandra memutuskan sambungan telfon secara sepihak, masa bodoh dengan Kein yang akan marah karena dirinya tak sopan sebab perkataan Kein jauh lebih tidak sopan. Divandra menghentakkan kakinya kesal, sekarang satu satunya pilihan adalah pulang naik taksi online. Divandra melangkahkan kakinya menuju gerbang utama tapi langkahnya terhenti saat melihat Sheerin naik ke mobil Fairel. “Mereka pulang bersama?” “Tadinya nyariin Aneira eh taunya malah pulang sama yang lain dasar b******k” Divandra tak henti hentinya mengomentari apa yang sedang Fairel dan Sheerin lakukan. Keduanya tak merasa bersalah sama sekali fikir Divandra. Divandra harus memberi tahu Aneira tentang masalah ini. Gue nggak habis fikir sama kak Fairel gimana bisa dia pulang bareng kak Sheerin. Kecepatan mengetik Divandra tak ada yang bisa mengalahkan jika sedang kesal, sebuah pesan singkat sudah terkirim kepada Aneira. Aneira harus tahu ini bahwa Fairel bukanlah laki laki baik yang seperti ia ucapkan dulu. ”yang namanya bangkai bakalan kecium juga busuknya” ucap Divandra sambil memperhatikan mobil Fairel yang sedang bergerak meninggalkan tempat parkir menuju gerbang utama yang sama dengan yang ia tuju. Divandra dengan cepat melanjutkan langkahnya agar tidak ketahuan bahwa dirinya sedang mengatai Fairel dan Sheerin. Divandra berusaha menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat tapi ternyata tasnya sudah dikenali oleh Fairel. Fairel mengklakson Divandra Tiit Tiit Divandra tetap terus berjalan tapi Fairel masih saja mengikutinya menyesuaikan kecepatan mobilnya dengan langkah kaki Divandra. Fairel membuka kaca bagian penumpang dan Divandra bisa melihat jelas bahwa Sheerin ada di sampingnya. Divadra berdecih sebal “Ada apa dengan mereka, mau pamer kemesraan” batin Divandra. “Di biar gue antar” ajak Fairel masih dengan nada lembut Seketika Divandra terkesiap karena Fairel masih bersikap baik padanya padahal dirinya sudah mengatai Fairel yang tidak tidak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN