Sheerin terus menatap pintu kelasnya berharap Fairel muncul dari pintu itu, sudah hampir satu jam Fairel tak juga kembali dari toilet, walaupun Sheerin tahu itu hanya alasannya saja tapi Sheerin tak menyangka akan selama ini.
Guru yang mengajar pun sudah berulang kali menanyakan kepada Sheerin kemana Fairel pergi sebenarnya dan hanya gelengan yang menjadi jawabannya. Sheerin merasa bahwa dirinya tak mengenal Fairel lagi ada perasaan aneh ketika ia bertemu kembali dengan Fairel. Terkadang ia merasa bahwa Fairel yang sekarang ada di hadapannya berbeda dengan Fairel yang ia temui 3 tahun yang lalu.
***
Setelah perkataan kasar dari Divandra kepada dirinya membuat Fairel mengurungkan niatnya untuk menghubungi Aneira serta memutuskan untuk tidak kembali ke kelas, moodnya sudah terlanjur hancur. Sekarang hanya ada satu tempat yang menjadi tujuannya yaitu rooftop, tempat dirinya menenangkan diri ketika dunia sedang tak baik baik saja.
Fairel duduk di tempat dirinya biasa duduk jika berada di rooftop, tempatnya cukup tersembunyi sehingga jarang ada yang melihatnya seperti Aneira kemarin yang tidak menyadari kehadirannya jika bukan ia yang menyapa duluan.
Fairel menaikkan kedua kaki panjangnya ke atas meja yang ada di hadapannya, ia letakkan kedua tangannya sebagai penyangga kepalanya. Fairel memejamkan matanya menghirup dalam dalam udara yang bisa mengisi paru parunya.
Kepala Fairel tak berhenti berdenyut sejak tadi ada kejadian kejadian yang membuatnya terus berfikir apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya seolah olah menghindarinya, jujur sebenarnya Fairel yang harusnya bertanya kepada Aneira tentang alasan kenapa Aneira menolak ajakannya tapi Fairel tak menanyakan itu karena menurutnya itu adalah keputusan Aneira dan ia menghargainya, tapi kenapa sekarang seolah olah dirinya yang salah.
Bunyi dering ponsel menganggu ketenangan Fairel, ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang masih terus berdering.
Keningnya berkerut ketika dirinya membaca nama si pemanggil yang berada di layar ponselnya.
“Papa” ucapnya lalu ia menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.
“Halo pa”
“Dimana kamu?” Fairel terkejut dengan nada suara papanya seperti orang yang sedang marah apalagi ini batin Fairel
“Di Sekolah pa, ada apa?” Fairel berusaha untuk tenang ia tak boleh tampak takut siapa tau papanya hanya sedang marah ke bawahannya sehingga terbawa ketika berbicara dengan Fairel.
“Kamu lupa hah dengan pertemuan kita bersama Pak Retno” ujar papanya kebih seperti bentakan
“Pak Retno?” Siapa pak Retno bahkan Fairel baru pertama kali mendengar namanya
“Kamu jangan pura pura lupa Rel, papa kan sudah mengingatkan kamu untuk datang ke pertemuan papa hari ini, Pak Retno ingin bertemu kamu membahas langkah ke depan tentang ide kamu tapi kamu malah tidak datang” Fairel masih mencoba mengingat kapan papa menyuruhnya bertemu Pak Retno itu dan membahas ide bukannya ide Fairel mengenai perusahaan baru ia sampaikan kepada papanya.
“Tapi pa, papa nggak ngomong apa apa sama Fairel” Fairel mencoba memberitahu papanya tapi ia malah mendapat bentakan kembali
“Dasar anak yang nggak bisa diandalkan” kalimat yang diucapkan papa Fairel menjadi akhir dari sambungan telfon mereka, papa Fairel memutuskan sambungan secara sepihak tanpa mendengarkan penjelasan Fairel.
Fairel memasukkan ponselnya kembali, Fairel hanya menghela nafas berat terkadang orang bisa menilai hidupnya sangat menyenangkan punya papa yang punya perusahaan besar, uang berlimpah, dan keluarga yang lengkap. Tapi mereka tak tahu bagaimana perasaan Fairel yang sebenarnya, hidupnya penuh tekanan. Tekanan untuk menjadi anak yang bisa membanggakan papanya agar nanti bisa mengelola perusahaan milik papanya yang drintis dari bawah oleh papanya, benar kata orang semakin tinggi kedudukan dan semakin banyak harta yang dimiliki maka semakin tinggi pula tekanan yang diberikan.
Fairel sering dibentak oleh papanya ketika ia tak becus mengurusi perusahaan, diumur Fairel yang belum genap 20 tahun Fairel sudah diberikan setumpuk pekerjaan tentang manajerial perusahaan yang terkadang membuat Fairel muak, karena ia tahu ini bukan passionnya tapi mau bagaimana lagi jika teringat bahwa hanya dirinya yang bisa diandalkan papanya membuat Fairel mau tak mau harus menerima segala yang dilimpahkan kepadanya, setidaknya dengan diam dan mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan papanya bisa membuat Fairel menjadi anak yang membanggakan di mata papanya ia akan ikhlas melakukan apapun.
Fairel kembali memejamkan matanya, tangannya bergerak ke sudut bibirnya yang sudah mulai membaik, ia teringat akan perlakuan Aneira kepadanya bagaimana Aneira mengobati lukanya padahal Fairel mengatakan bahwa dirinya baik baik saja tapi dengan keras kepalanya Aneira tetap mengobatinya. Perlakuan yang tak pernah Fairel dapatkan dari siapapun. Semua seakan menganggap jika Fairel mengatakan bahwa dirinya baik baik saja itu tandanya dirinya benar benar baik baik saja tapi sebenarnya tidak Fairel butuh seseorang, dan di Aneira lah ia bisa mendapatkan perlakuan itu.
Kekaguman Fairel kepada Aneira sebenarnya sudah muncul sejak dirinya menolong Aneira ketika terlambat, Fairel masih ingat bagaimana ekspresi Aneira pada saat itu, ekspresi yang tak pernah dikeluarkan gadis manapun, Aneira terlihat sebagai gadis yang kuat yang tak memiliki rasa takut begitulah Fairel menyimpulkan ekspresi Aneira saat itu. Tapi Fairel mencoba untuk tidak menunjukkan kekagumannya, ternyata semakin mengenal Aneira Fairel merasa bahwa apa yang ia pikirkan pertama kali tentang Aneira ternyata benar Aneira gadis yang kuat dan tak pernah mengeluh seperti gadis gadis lainnya, tak ada kata manja di kamusnya selagi ia bisa melakukannya sendiri maka akan ia lakukan.
Fairel tak bisa berbohong bagaimana khawatirnya dirinya terhadap Aneira sekarang, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Fairel sepertinya memang berbuat kesalahan yang tak sengaja di perbuatnya kepada Aneira sehingga membuat Divandra semarah itu dengannya.
Fairel kembali mengeluarkan ponselnya kali ini ia tak menghubungi siapapun hanya membuka galeri dimana foto fotonya tersimpan.
Ia membuka foto yang terakhir ia ambil semalam. Mengingatnya membuat Fairel tersenyum.
Flashback
“Kak, gue nggak kelihatan menor banget ya?” Tanya Aneira kepada Fairel saat mereka berdua akan turun dari mobil menuju hotel tempat pesta ulang tahun Divandra.
“Nggak cantik kok” ujar Fairel jujur
Seketika Aneira merasa wajahnya memanas karena pujian dari Fairel, tapi dengan cepat ia menguasai dirinya “Bohong pasti, kakak nggak ngerti masalah make up” Aneira masih saja tak percaya dengan ucapan Fairel, membuat Fairel hanya menghela nafas berat.
Fairel heran dengan makhluk yang bernama perempuan padahal ia sebagai laki laki sudah mengatakan bahwa sudah cantik tapi mengapa mereka malah tidak percaya dan mengatakan bahwa laki laki tak mengerti, jadi untuk apa mereka bertanya. Padahal kan laki laki yang bisa menilai mana yang cantik mana yang nggak.
Fairel hanya bisa diam melihat Aneira masih sibuk ntah apa yang dicari, Fairel mencoba bertanya agar setidaknya dirinya bisa membantu.
“Cari apa Nei?”
“Handphone gue kak”
“Untuk apa?” Fairel tak megerti mengapa Aneira mencari handphonenya padahal mereka sedang membahas masalah riasan di wajah Aneira.
“Buat ngetes nanti kalau di kamera menor atau nggak”
Fairel kemudian mengeluarkan ponselnya “Ini pake handphone gue aja”
Fairel memberikan ponselnya kepada Aneira dengan cepat Aneira mengambilnya membuka aplikasi camera di ponsel milik Fairel.
Fairel hanya bisa menahan senyumannya melihat tingkah random Aneira yang sangat lucu di matanya, kini Aneira sedang tersenyum senyum di depan kamera dengan berbagai gaya.
“Kak lo jangan lihat” ancam Aneira sambil mencoba menutup mata Fairel
Terlambat Fairel sudah melihat semuanya mulai dari pose yang normal hingga pose yang sangat lucu “Nggak gue nggak liat” Fairel pasrah saat Aneira menutup matanya dengan tangannya, tercium aroma body mist milik Aneira yang entah mengapa membuat jantung Fairel berdegup cepat.
Tak lama kemudian, Aneira menarik tangannya yang menutupi wajah Fairel kemudian memberikan ponsel milik Fairel “Ini kak, makasih”
Fairel mengambil ponsel dari tangan Aneira, sebuah ide jahil muncul di otaknya “Tunggu Nei”
Membuat Aneira kembali menatapnya “Apa lagi kak?”
“Lo belum coba foto pake kamera belakang, kan nanti fotonya kebanyakan pake kamera belakang” ucap Fairel menjelaskan
“Oh ya lo bener kak, hampir aja gue lupa”
“Biar gue yang bantu fotoin” Fairel menawarkan dirinya dan dengan cepat Aneira menolaknya “Nggak ah kak gue malu”
“Loh, gimana caranya lo foto sendiri pake kamera belakang”
Aneira kemudian berfikir benar apa yang dikatakan Fairel mana bisa dirinya memotret dirinya sendiri.
“Oke deh kak, tapi habis itu hapus ya gue malu”
Fairel kembali membuka kamera di ponselnya “Siap ya, gue foto senyumnya”
CEKREK
Fairel mengambil foto Aneira, satu kata yang bisa Fairel definisikan dari foto itu adalah cantik.
“Kak, gue mau lihat” Fairel memberikan ponselnya kepada Aneira, Aneira melihat fotonya di ponsel Fairel sangat puas dengan hasilnya, tapi saat Aneira akan mencari opsi hapus foto dengan cepat Fairel menarik ponselnya dari tangan Aneira membuat ponselnya sudah bepindah tangan tanpa sempat Aneira menghapusnya.
“KAK FAIREL, FOTONYA BELUM DIHAPUS” Teriak Aneira sambil menarik tangan kanan Fairel sedangkan ponselnya ada di tangan kiri Fairel
“Kak hapus kak” mohon Aneira kepada Fairel tapi percuma Fairel masih mencoba menjauhkan ponselnya dari Aneira.
Aneira mencoba menjangkau tangan Fairel yang memegang ponsel tapi usahanya itu malah membuat dirinya malah jatuh ke d**a bidang milik Fairel.
Sempat Aneira terdiam mencoba mencerna apa yang telah terjadi, untung saja kali ini proses berfikir Aneira bisa lebih cepat dari biasanya membuat Aneira segera menjauh dan duduk dengan tenang di bangkunya, merutuki dirinya yang terlalu ceroboh.
Fairel yang juga tak menyangka bahwa mereka akan berada di posisi seperti itu membuat Fairel gugup setengah mati, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Fairel berdehem menetralkan suasana hatinya.
“Maaf kak” ujar Aneira pelan
Lama mereka terdiam, saling menenangkan detak jantung masing masing yang terus berdegup kencang mereka saling berharap agar detak jantung mereka tidak didengar oleh lawannya.
“Ya udah yok turun” ajak Fairel
“Tunggu kak, gue haus” ucapan Aneira membuat Fairel tersenyum, Aneira tetaplah Aneira dalam keadaan apapun ia akan jujur mengatakan apa yang ia rasakan.
Flashback End
“Cantik” kembali kata itu keluar dari bibir Fairel sama seperti malam itu, tak ada yang bisa menolak kecantikan dari seorang Aneira, banyak gadis yang cantik di luar sana tapi hanya Aneira yang bisa membuatnya mengulangi kata itu.
***