Divandra berjalan menuju kelasnya, sepanjang perjalanannya ia merasa sedikit menyesal telah mengucapkan perkataan yang kasar kepada Fairel. Padahal dari tatapan Fairel entah kenapa Divandra merasa bahwa Fairel tak mengerti apa yang terjadi.
Itulah mengapa ada rasa heran dari diri Divandra kenapa Fairel bersikap seperti itu. Tapi biarlah Fairel menyadari dirinya agar suatu saat ia tak berbuat seenaknya lagi.
***
Aneira kembali terbangun dari tidurnya, rasa sakit di kepalanya sudah jauh lebih baik. Aneira kemudian memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Hari ini tak ada siapapun di apartmentnya kecuali dirinya.
Sudah sejak beberapa hari yang lalu asisten rumah tangganya izin untuk pulang kampung karena anaknya akan menikah.
Aneira berdiri dengan perlahan saat tubuhnya terasa ling lung dengan cepat ia memegang sesuatu yang ada di dekatnya, seperti sekarang ia mencoba berdiri dengan seimbang sambil memegang meja yang ada disampingnya. Setelah dirasa dirinya sudah seimbang barulah Aneira berjalan perlahan menuju pintu kamarnya walaupun kakinya masih terasa sangat sakit.
Saat hampir sampai di pintunya ia baru teringat akan ponselnya, ia harus mencari ponselnya dan mengecek keadaan ponselnya apakah masih menyala atau sudah tak layak digunakan.
Aneira mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya yang sebentar lagi mungkin akan menjadi seperti kapal karam melebihi kapal pecah.
Kemudian perhatiannya teralihkan kepada benda hitam yang tergelatak dengan nyaman di lantai, itu ponsel yang ia cari.
Aneira berjalan perlahan, ia sungguh mengutuki dirinya karena tak berhati hati semalam dan menyebabkan kakinya benar benar bengkak.
Dengan kesusahan Aneira mengambil ponselnya, Aneira mengecek keadaan ponselnya.
Ada beberapa retakan yang terlihat di layar ponsel miliknya, hanya itu. Aneira kira ponselnya memang sudah tak terbentuk tapi syukurlah ponselnya sama kuat dengannya.
Aneira mencoba menghidupkan ponselnya, takut akan kemungkinan bahwa ponselnya tak bisa menyala lagi.
Aneira berharap cemas sambil terus memperhatikan layar ponselnya, sekarang baru dirinya menyesal apa yang telah ia lakukan semalam memang benar tak bisa ia kontrol kenapa dia harus tiba tiba melemparkan ponselnya.
Setelah beberapa kali mencoba ternyata mucul sebuah pemberitahuan bahwa ponselnya mati karena kehabisan batrai.
Aneira berteriak senang “Untung aja”
Aneira kembali ke tempat biasa ia mengisi daya ponselnya.
Aneira penasaran siapa saja yang mencoba menghubunginya atau memang tak ada yang menghubunginya.
Aneira kembali menghidupkan ponselnya yang sedang mengisi daya, tampak di layar ponselnya ada banyak sekali notifikai.
20 Missed Call
12 Message
Aneira terkejut dengan notifikasi ponselnya, dengan penasaran ia melihat notifikasi tersebut mulai dari membuka 13 pesan yang ternyata adalah dari Divandra. Hampir ke 13 pesannya adalah dari Divandra. Aneira tersenyum sebegitu khawatirnya divandra dengan dirinya sampai harus mengirim pesan sebanyak ini.
Nei
Lo baik baik aja?
Nei, kenapa telfon gue nggak diangkat
Nei, jawab gue
Nei, jangan lupa minum obat
Nei, lo udah beli obatkan?
Kalau belum biar gue beliin
Nei, gue kesel
Ternyata Kak Fairel pulang bareng Sheerin
Gue tadi marah sama kak Fairel
Ngapain juga dia nanya nanyain lo
Mana tampangnya kek orang nggak salah.
Aneira membaca seluruh pesan yang dikirim Divandra. Divandra tahu bahwa Fairel pulang bersama Sheerin, dari mana divandra tahu apakah Fairel yang memberitahunya sendiri. Tapi kenapa juga Fairel mencarinya padahal Fairel sendiri yang meninggalkannya, dasar aneh.
Dengan cepat Aneira membalas pesan dari Divandra ia tak ingin divandra khawatir dengannya, segera Aneira mengetikkan pesan kepada divandra dengan cepat.
Gue baik baik aja Di, gue udah minum obat. *Sent*
Aneira terpaksa berbohong kepada Divandra karena tak ingin sahabatnya itu khawatir jika ia mengatakan yang sebenarnya kepada Divandra.
Kemudian Aneira beralih kepada notifikasi missed call, ia penasaran siapa saja yang menghubunginya.
Aneira begitu terkejut ternyata dari 20 missed call yang paling banyak adalah dari Fairel
Kak Fairel (11)
Kak Kein (3)
Divandra (5)
Mr. X (1)
Kenapa Fairel masih menghubunginya setelah apa yang ia lakukan semalam. Aneira sebenarnya sangat penasaran mengenai alasan Fairel menelfonnya tapi ia coba untuk tidak menggubrisnya cukup ia dikhianati seperti kemarin, sekarang tujuannya benar benar harus benar focus kepada satu tujuan tanpa terdistraksi oleh hal hal lain.
Dari banyaknya missed call, Aneira memutuskan untuk menghubungi balik Mr.X. Tak biasanya Mr.X menelfonnya, ada apa?
Terdengar nada tunggu dari seberang sana
“Halo” Suara berat terdengar dari ujung sana
“Halo kak, ada apa?”
“Nggakk, gue cuman mau ngingetin lo”
“Ngingetin?”
“Iya, gue rasa lo udah mulai lupa sama tujuan awal kita”
Glek
Aneira meneguk ludahnya, orang ini tahu apa yang terjadi kepada Aneira. Aneira dengan cepat berdalih agar tidak terus disudutkan.
“Gue ingat dengan tujuan gue datang ke sini kak”
“Syukurlah kalau lo masih ingat, gue cuman mau ngingatin aja bahwa lo nggak boleh punya perasaan sama orang yang menghancurkan hidup lo, lo ingat gimana kepergian kakak lo dan gimana hancurnya lo saat itu” ucapan si Mr.X membuat Aneira sadar bahwa dirinya tak seharusnya memiliki perasaan kepada Fairel, perasaannya terlalu berharga untuk diberikan kepada pria seperti Fairel.
Seharusnya Aneira sadar bahwa Fairel hanyalah alat balas dendamnya, dari awal Aneira tahu itu, mungkin selama ini semua salahnya. Tapi hidup akan terus berjalan ia harus segera memperbaiki kesalahannya dan kembali ke tujuan awalnya, tak boleh lagi terdistraksi ataupun lengah. Hanya satu kesalahan yang bisa ditolerir itu artinya tak akan ada lagi kesalahan kesalahan berikutnya.
"Lo percaya sama gue kak, gue nggak akan menggagalkan apa yang gue rencanakan selama ini" Aneira menguatkan tekadnya, ia kali ini harus bergerak untuk satu tujuan yaitu balas dendam.
Sambungan telfon pun terputus sepihak.
Setelah sambungan telfon itu berakhir Aneira merasa ada semangat kembali dalam dirinya untuk segera menjalankan misinya yang sempat tertunda karena kebodohan dirinya.
Aneira meletakkan ponselnya dan melangkah menuju dapur ia harus mengisi perutnya dengan sesuatu, ia tak boleh lemah dan tak boleh sakit ini semua demi kakak dan ayahnya yang memperhatikannya di atas sana.
Aneira merasa bersalah kepada keduanya karena lebih memperhatikan perasaannya daripada perasaan kedua orang yang telah disakiti oleh Fairel.
Yap, Fairel adalah musuh terbesarnya ia tak boleh merasakan perasaan apapun, cepat atau lambat ia akan bisa membalaskan semua rasa sakit dan penderitaan yang selama ini ia rasakan kepada Fairel, agar Fairel tahu bahwa apa yang ia lakukan telah mengancurkan kehidupan seseorang.
Tunggu saja.
Aneira yang kuat akan kembali, siapkan saja dirimu.
****