Tepat pukul 20.00 pesawat New York - Indonesia mendarat di bandara internasional Soekarno Hatta. Terlambat satu jam dari jadwal yang seharusnya, hal ini disebabkan karena cuaca buruk yang terjadi di New York membuat pesawat mengalami delay.
Sheerin Auretta, akhirnya menghirup udara yang sangat ia rindukan, tanah airnya setelah hampir 3 tahun ia terbang ke New York lebih tepatnya melarikan diri setelah kejadian itu. Kejadian yang merubah hidup Sheerin 180 derajat.
Hidupnya yang awalnya ia kira akan selalu baik baik saja teryata dihamntam oleh badai yang seketika memporak porandakkan dirinya dan kehidupannya, segalanya menjadi rumit sehingga membuatnya menemukan solusi terbaik pada akhirnya yaitu melarikan diri.
Terkadang dalam hidup kita perlu melarikan diri, sebab tak ada yang bisa dilakukan selain lari dan terus berlari hingga masalah akhirnya meninggalkan kita.
Melarikan diri butuh konsekuensi yang besar, kita harus siap meninggalkan siapapun yang berarti bagi kita.
Kedatangan Sheerin kali ini ke tanah airnya, untuk membuktikan bahwa dirinya tidak akan pernah melarikan diri. Ia akan menetap dan menjaga orang orang yang sempat ia tinggalkan baik dalam suka maupun duka.
Sheerin sebenarnya tak sepenuhnya lari, ia masih mencoba untuk mengirimkan email beberapa kali tapi tak mendapatkan satu pun balasan, baginya itu mungkin balasan atas dirinya yang dengan lancangnya pergi tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Tapi kali ini ia pastikan akan memperbaiki apa yang retak sebelum benar benar pecah berkeping keeping, Sheerin yakin ini semua belum terlambat. Waktu 3 tahun tidak akan mengubah perasaan orang itu kepadanya, karena perasaan yang mereka miliki tak semudah itu untuk dihilangkan.
“Kak Sheerin”
Sheerin tersenyum melihat Divandra telah menunggunya sambil membawa kertas bertuliskan namanya Sheerin Auretta.
Dengan cepat Sheerin berjalan ke arah Divandra, ia sangat merindukan sosok gadis kecil yang kini sudah beranjak dewasa.
“Di, kamu makin cantik aja” puji Sheerin kemudian memeluk gadis itu erat, mereka saling melepas rindu. Dahulu mereka selalu bermain bersama, bagi Divandra tak ada hari tanpa Sheerin begitu pula sebaliknya.
“Makasih kak, kakak juga dah kaya orang bule. Body Goals” ucapan Divandra membuat Sheerin mengusap puncak kepala Divandra, masih saja merasa gemas melihat gadis yang dua tahun lebih muda darinya.
“Ya udah kak, ayuk kita jalan mang udin udah nunggu” Divandra membantu Sheerin membawakan koper karena melihat Sheerin yang sedikit kesulitan membawanya.
“Emang mang udin masih ada Di?” tanya Sheerin antusias mang udin adalah sopir yang bekerja di rumah Divandra, sejak mereka kecil mang Udin lah yang mengantar mereka kemana mana mulai dari ke sekolah, lalu pergi ke mall. Namanya anak kecil pasti selalu banyak maunya, tapi herannya mang udin selalu sabar menghadapi kami berdua.
“Masih kak Alhamdulillah, beliau masih sehat malahan senang banget dengar kakak mau pulang”
Sheerin semakin tak sabar ternyata ada banyak orang yang menunggunya untuk pulang, semoga orang itu juga menunggunya.
***
Sheerin dan Divandra sampai di mobil yang dikendarai Mang Udin, perjalanan mereka sangat menyenangkan tak ada keheningan yang menyelimuti ada saja yang diceritakan oleh mang udin, seperti sedang bernostalgia mengingat masa lalu.
“Neng Sheerin, masih tinggal di rumah yang lama?” tanya Mang Udin
Sheerin menggeleng “Nggak Mang, udah nggak tinggal disitu lagi sekarang tinggal di apartment”
Mang Udin hanya manggut manggut saja “Berarti sekarang langsung ke apartment?”
“Iya Mang”
“Loh kak, nggak ke rumah dulu mama udah masak buat Kak Sheerin, karena mama tahu kakak pasti rindu dengan masakan Indo” Bujuk Divandra agar Sheerin mau kerumahnya.
Ucapan Divandra mendapat dukungan dari Mang Udin, jika seperti ini sudah pasti ia tak bisa menolak.
“Ya udah, nggak jadi ke apartment mang ke rumah Divandra aja” selesai mengucapkan itu terdengar teriakan senang dari bibir Divandra.
Membuat Sheerin juga ikut tertawa.
***
“Kopernya nggak usah diturunin kak, nanti biar di antar mang udin ke apartment ya nggak mang?”
“Eh eh I iyaa siap Neng” ujar Mang Udin sambil berdiri tegak dengan sikap hormat sebagai bentuk kesiapannya dalam menjalankan perintah.
“Yok kak, mama udah nunggu di dalam” Divandra menarik tangan Sheerin agar segera menuju meja makan dimana mama Divandra telah menunggu kedatangan Sheerin.
Sesampainya di meja makan, Sheerin dibuat takjub dengan banyaknya makanan yang tersaji di atas meja makan membuat perutnya meronta ronta untuk segera mencicipinya.
“Sheerin sayang” Mama Divandra mendekat kepada Sheerin dan langsung memeluknya “Mama kangen”
“Aku juga ma”
Sheerin memangil mama Divandra dengan sebutan mama saking dekatnya kami dahulu seperti tidak ada pembatas yang menghalanginya amat dekat hingga lupa menyadari bahwa ada perasaan yang berbeda.
“Kamu apa kabar ? Makin cantik aja” puji mama Divandra melihat perubahanku yang cukup signifikan
“Baik Ma, hehehe”
“Ya udah yok, kita makan kamu pasti lapar” dengan cepat mama Divandra mendorong kursi yang ada di dekatnya untuk mempersilahkan Sheerin duduk disana.
Dengan cepat Sheerin duduk di kursi itu, tak sabar mencicipi makanan yang ada.
“Mama masak sebanyak ini?” tanya Sheerin takjub matanya tak bisa lepas dari berbagai macam mulai dari ayam bakar, ikan bakar, sayur asem dan masih banyak lagi.
“Iya tapi dibantu sama bibi juga, kamu pasti kangenkan masakan Indonesia?” tanya Mama Divandra yang sebenarnya tanpa ditanya sudah pasti ia mengetahui jawabannya.
“Iya dong ma pasti, apalagi masakan mama nggak ada di New York tuh”
Ucapan Sheerin mendapat gelak tawa dari Divandra dan mamanya.
Sekarang di meja makan hanya ada mereka bertiga, membuat Sheerin penasaran akan keberadaan anggota keluarga yang lain.
Sheerin menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya, rasanya benar benar meleleh di mulut. Inilah yang sangat ia rindukan sensasi makanan Indonesia yang penuh dengan rempah dan bumbu.
“Gimana Kak enak?” tanya Divandra
“Ini sih bukan enak lagi, udah mantap” ujar Sheerin mencoba jujur dengan apa yang ia rasakan.
“Emang masakan mama juara sih” kali Divandra yang menyetujui ucapan Sheerin, masakan mamanya memang tak pernah bisa ada yang menandingi.
“Btw, Kein mana Di kok dari tadi nggak keliatan?” tanya Sheerin pada akhirnya karena rasa penasaran yang terus menggerogotinya.
“Oh Kak kein, kenapa kak kangen ya?” tebak Divandra
“Iya dong siapa sih yang nggak kangen sama temen sendiri”
“Kak Kein lagi pergi sama kak Fairel”
Nama terakhir yang di sebut Divandra mampu membuatnya menghentikan kegiatan menyuapnya, dunianya seakan berhenti berputar hanya mendegar nama dari orang itu.
“Fairel?” ulangnya ia takut bahwa dirinya salah dengar karena terlalu merindukan si pemilik nama
“Iya Kak Fairel, sahabatnya kak Kein, kakak ingat kan?”
***