Day (30): Pulang

1138 Kata
Sudah pukul 23.00 waktunya para tamu undangan untuk segera pulang setelah menikmati pesta selama hampir 4 jam penuh .Apalagi di luar sekarang sedang hujan, membuat para tamu undangan harus segera sampai di rumah takut takut terjadi apa apa jika mereka menunda nunda untuk pulang. Acara pesta ulang tahun divandra ditutup dengan pembagian souvenir ke masing masing tamu undangan. Aneira juga ikut membantu Divandra yang cukup kesulitan melepaskan segala yang melekat di tubuhnya. Fairel yang melihat Aneira sedang berjalan bersama Divandra yang sedang menuju ke kamar ganti segera mencegat Aneira sebelum terlambat. Fairel terus mengingat pesan dari Kein untuk mengantarkan Aneira sampai ke rumah dengan tepat waktu sebagai permintaan maaf dan sekalian modus begitulah kira kira ucapan Kein, yang membuat Fairel tertawa geli mendengarnya. “Aneira” panggil Fairel sambil menahan tangan Aneira membuat Aneira menghentikan langkahnya dan memandang Fairel dengan penuh tanda tanya. “Iya kak ada apa?” “Gue tunggu lo di depan, pulang bareng gue” ucap Fairel lembut tak ingin ada nada memerintah di dalamnya. “Tapi kak gue masih harus ngebantuin Divandra dulu sebentar” Aneira tidak ingin membuat Fairel menunggu toh dirinya bisa naik taksi. “Nggak apa apa, gue tungguin aja” “Tapi kak, gue bisa naik taksi” ucap Aneira masih merasa tak enak “Nggak ada perempuan malam malam naik taksi, nggak boleh biar gue antar. Gue nggak menerima penolakan Aneira” ujar Fairel tegas tak terbantahkan. Ucapan Aneira terhenti saat Divandra memanggilnya dari kejauhan mungkin sadar bahwa sahabatnya ketinggalan. “Gue tunggu di depan” ucap Fairel kemudian mendorong tubuh Aneira menuju Divandra agar segera menyusul Divandra. Aneira tak bisa menolak, Fairel sangat keras kepala. Aneira tak bisa menyembunyikan senyumnya ketika ia mengingat Fairel begitu gigih mengajak dirinya untuk pulang bersama. Sampai Aneira tak sadar bahwa Divandra sejak tadi memperhatikannya. “Lo ditembak kak Fairel?” tanya Divandra yang membuat Aneira membelalakkan matanya terkejut. “Gila lo” “Yah habis lo senyam senyum nggak jelas kek orang lagi kasmaran, cerita sama gue ada apa?” Desak divandra membuat Aneira malu sebab disini bukan hanya mereka berdua ada beberapa staf part organizer yang masih membantu Divandra. Aneira berpura pura fokus dengan apa yang ia kerjakan berusaha tak mempedulikan tatapan mengintimidasi dari Divandra yang penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi. “Aneira” Aneira melihat ke arah cermin ia bisa melihat bahwa Divandra benar benar menatapnya kesal akhirnya dari pada membuat sahabatnya marah, Aneira memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Aneira sedikit mencondongkan tubuhnya agar dirinya bisa lebih dekat ke telinga Divandra kemudian Aneira berbisik tepat di telinga Divandra “Kak Fairel ngajak pulang bareng” Aneira berusaha sebisa mungkin untuk memperkecil suaranya agar tak terdengar oleh siapapun kecuali Divandra. Beberapa detik setelah Divandra mampu mencerna apa yang dikatakan Aneira “APAAA? PULANG BARENG SAMA KAK FHMP HMP” Teriak Divandra keras ia begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Aneira membutnya tak bisa mengontrok diri sedikitpun untung saja reflek seorang Aneira sangat cepat jadi ia bisa membungkam mulut Divandra sebelum menyebut nama Fairel. “Lo bisa jangan kek toa nggak Di?” peringat Aneira kemudian hanya mendapat cengiran dari Divandra “Maaf Nei, nggak sengaja” “Dasar kebiasaan” ucap Aneira tak terima, Divandra bukan sekali dua kali seperti itu entah sudah berapa kali ia bisa lepas kontrol seperti itu. “Terus terus apa kata lo?” Divandra masih saja penasaran “Awas lo toa lagi.” “Iya iya janji nggak” Divandra membentuk jari kelingkingnya membuat tanda janji “Gue tolak…” belum sempat Aneira melanjutkan ucapannya tiba tiba suara teriakan Divandra kembali terdengar. “KENAPA LO TOLAK?” Teriak Divandra tanpa sadar bahwa ia kembali melanggar janjinya kepada Aneira. Dengan cepat Divandra meminta maaf “Maaf nei, gue reflek masa lo nolak kak Fairel” “Mangkanya kalau gue ngomong itu didengerin sampai selesai” kesal Aneira karena Divandra tak memberikan dirinya kesempatan untuk berbicara. “Maaf Nei, yaudah lanjut” Divandra mempersilahkan Aneira untuk melanjutkan ucapannya yang tertunda. “Gue tolak sih awalnya tapi dia tetap gigih ya udah gue iyain, katanya dia nunggu di depan padahal udah gue bilang gue naik taksi aja” setelah mengatakan itu Aneira tak mendapatkan respon apapun dari Divandra tumben Divandra tak merespon apapun yang ia katakana. Karena penasaran akhirnya Aneira melihat kembali ke arah cermin untuk melihat pantulan wajah Divandra dan betapa terkejutnya Aneira saat Divandra malam memberikan tatapan genit serta nakalnya kepada Aneira yang membuat Aneira seketika merinding yang membuat bulu kuduknya merinding. “Lo beneran udah gila” ujar Aneira kepada Divandra yang tak juga berhenti dari kegiatannya. “Gue bangga punya teman kek lo, akhirnya ada juga yang bisa ngeluluhin kak Fairel, ngedukun dimana lo?” tanya Divandra yang saat ini ingin sekali Aneira geprek hidup hidup jika tidak ingat bahwa ini ulang tahun Divandra, kan tidak lucu jika besok pagi ada headline news seorang sahabat menggeprek sahabatnya di pesta ulang tahunnya. Akhirnya yang bisa Aneira lakukan adalah menahan emosinya ke titik terendah sebelum meletus kemana mana, biarlah emosinya menjadi lahar dingin sebelum sempat meletus. “Untung sahabat gue, kalau nggak gue geprek lu” kemudian Aneira kembali fokus dengan apa yang ia kerjakan. Tanpa sepengetahuan mereka ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua mulai dari awal hingga akhir, orang itu hanya tersenyum misterius dan berlalu pergi setelah mendapatkan info yang sangat penting bagi dirinya. *** “Udah selesai” Aneira akhirnya menyelesaikan pekerjaannya akhirnya Divandra bisa kembali ke Divandra yang seperti biasanya. “Makasih ya Nei” ujar Divandra tulus ia memeluk Aneira erat seperti tak ingin lepas, tapi karena saking eratnya membuat Aneira kesulitan untuk bernafas. “Di, lepa sin gu e” Aneira kesulitan untuk berbicara “Apa Nei gue nggak dengar” Aneira berusaha mendorong tubuh Divandra agar segera melepas pelukannya “Di, lepas in gu e” Aneira mencoba memberikan penekanan di setiap kata aga Divandra mengerti apa yang dikatakan oleh Aneira. Setelah beberapa menit akhirnya Divandra melepaskan pelukannya dan memandang wajah Aneira heran “Lo nggak suka ya di peluk sama gue?” Aneira masih mencoba menghirup oksigen banyak banyak karena pasokan oksigen di dalam paru parunya tampaknya sangat menipis akibat pelukan Divandra. Akhirnya setelah tenang walaupun masih sedikit ngos ngosan Aneira mencoba mengeluarkan suaranya “Gila lo meluknya erat banget, gue serasa mau mati” “Hah Benarkah?” tanya Divandra polos sepertinya ia benar benar tak menyadari tindakannya. “Maaf ya, ya udah lo sekarang siap siap pulang Kak Fairel pasti udah nungguin lo di depan” Divandra mendorong tubuh Aneira agar segera pergi dari hadapannya menuju ke tempat Fairel. “Bentar bentar gue udah cantik belum?” Aneira berbalik menghadap Divandra lalu Divandra membentuk kata oke dengan bibirnya sebagai tanda bahwa Aneira masih cantik. Aneira kemudian menarik napasnya pelan mencoba menghilangkan rasa gugupnya, dan berjalan menuju tempat Fairel yang sedang menunggu dirinya untuk pulang bersama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN