Day (31): Terlupakan

1019 Kata
Aneira berjalan perlahan mencari keberadaan Fairel, sebenarnya tidak cukup sulit mencari Fairel karena kondisi hotel yang sudah cukup sepi dan para tamu undangan sudah banyak yang meninggalkan tempat ini untuk pulang. Aneira berjalan menyusuri setiap koridor dimana tempat terdekat menuju tempat parkir, siapa tau Fairel ada di sana. Tapi tak juga ia temukan. Aneira mencoba keluar siapa tahu Fairel menunggu di dalam mobil yang membuat dirinya tak terlihat. Aneira tak pantang menyerah pikiran positifnya membawanya menuju kembali ke dalam tempat pesta berlangsung beberapa jam yang lalu. Tapi hasilnya nihil, Fairel tak ada dimana mana. “Apakah Fairel hanya mempermainkan dirinya atau Fairel sedang bersama Kein lebih baik ia tunggu saja Fairel di tempat mereka janjian” batin Aneira masih mencoba berfikiran positif walaupun ada terbesit rasa bahwa Fairel hanya mengumbar janji belaka kepada dirinya karena dirinya terlihat sangat mudah di permainkan. Aneira menggeleng gelengkan kepala, mengusir pikiran buruk yang seketika mengendalikan dirinya. “Lebih baik gue tunggu disini jika dalam beberapa menit kak Fairel nggak datang gue akan pulang sendiri, gue bisa dan gue mandiri” Aneira melihat jam yang ada di ponselnya sekarang sudah menunjukkan pukul 23.40 sebentar lagi tepat tengah malam, suasana di sini sudah cukup sepi hanya ada beberapa cleaning service yang sedang bersih bersih. Aneira terus mengecek ponselnya berharap ada pesan atau panggilan masuk dari Fairel. Angin malam yang dingin menyentuh kulitnya membuat dirinya menggigil kedinginan apalagi bajunya yang sedikit terbuka malam ini dan hanya sebatas lutut membuat angin bisa dengan mudah membuatnya kedinginan. Sudah hampir 10 menit ia berdiri di sini tapi tak juga tampak kehadiran Fairel. Mungkinkah Fairel lupa akan dirinya, atau lebih baik dirinya bertanya kepada salah satu cleaning service yang ada di dekatnya. Aneira melangkah perlahan mendekati cleaning service itu “Permisi mas” sapa Aneira hangat “Iya mbak ada yang bisa saya bantu?” Aneira membuka ponselnya mencari foto Fairel saat mereka berempat berswa foto lalu menunjukkan kepada cleaning service itu “Mas, pernah lihat laki laki ini nggak?” tanya Aneira dengan memperbesar tepat di wajah Fairel. Mas Cleaning Service itu seperti mengingat akan sesuatu “Rasanya tadi saya ngelihat mas ini mbak, berdiri disana tapis sudah pergi bersama teman perempuannya yang lain” Aneira tak yakin akan ucapan cleaning service itu, mana mungkin Fairel meninggalkannya. Tapi dengan cepat Aneira memberikan foto Sheerin yang tersimpan di dalam ponselnya dan menunjukkan kembali kepada mas tersebut “Perempuan ini bukan mas ?” “Nah iya ini, tadi mas itu pergi sama mbak ini” Mas Cleaning Service itu tampak yakin membuat Aneira juga yakin bahwa apa yang dikatakannya memang benar. “Kira kira pukul berapa mereka pergi ya mas?” tanya Aneira masih belum puas dengan info yang diberikan “Sekitar 1 jam yang lalu mbak” Cleaning Service itu mencoba mengingat ngingat kepergian Fairel dan Sheerin. “Baik terimakasih mas” lalu Aneira pergi meninggalkan Cleaning Service itu. Aneira berdiri di tempat semula, kenapa ia bisa dengan bodoh mempercayai ucapan Fairel. Padahal Aneira tahu betul siapa Fairel sebenarnya. Aneira memukul mukul dadanya untuk meringankan rasa sesak di dadanya, matanya terasa memanas tapi dirinya tak ingin menangis ini semua sudah menjad konsekuaensinya karena melanggar janji yang dibuat Aneira kepada kakaknya, dari awal seharusnya Aneira sadar bahwa ia mencintai orang yang salah, orang yang menghancurkan hidupnya, tapi mengapa Aneira tetap berusaha menolak fakta itu. Lihatlah betapa mudahnya ia mengingkari ucapan yang telah ia buat, padahal Aneira sangat mempercayai itu. “Aneira bodoh kamu bodoh” bisiknya tertahan kepada dirinya sendiri, ia sangat membenci saat dirinya dalam keadaan seperti ini. Jika saja sejak awal ia hanya fokus kepada misi balas dendamnya pasti hal seperti ini tidak akan terjadi, Aneira melukai dirinya sendiri tanpa sadar. Apakah semudah itu dirinya di mata Fairel, sehingga membuat Fairel dengan mudah mengubar janjinya, memuji dirinya, dan berusaha melindunginya apakah semua yang Fairel lakukan memang dari hatinya atau hanya kepura puraan belaka demi menghancurkan seorang gadis yang sebenarnya Fairel tahu bahwa hidup gadis itu sudah lama hancur di tangannya. Aneira menangkupkan wajahnya, tubuhnya tak kuat lagi berdiri tidak ada tenaga lagi hanya untuk menopang tubuhnya. Akhirnya ia memilih untuk jongkok menyembunyikan wajahmya agar tak ada siapapun yang tahu bahwa Aneira dalam keadaan yang begitu hancur hanya karena terbuai dengan janji janji dari orang yang sudah menyakitinya. Air mata terus mengalir deras, Aneira ingin sekali menghentikannya karena ia tahu bahwa tindakannya adalah perbuatan yang sia sia, tapi hatinya berkata lain dia hanya ingin menangis karena menangis menjadi satu cara yang ampuh bagi dirinya sendiri entah untuk mengobati atau semakin menyakiti. Aneira merasakan seluruh rasa sakit dari ujung rambut sampai ujung kakinya, terlebih lagi pergelangan kakinya yang sejak tadi ia tahan sakitnya sehingga membuat bagian itu membengkak. Aneira hanya ingin kenyamanan bersama Fairel, ia seakan lupa rasa sakit saat berada di dekat Fairel. Tapi ia lupa fakta bahwa Fairel sumber rasa sakitnya selama ini. Aneira semakin menenggelamkan wajahnya, tak peduli pukul berapa sekarang yang ia bisa ia lakukan hanya menangis, menangisi kebodohannya yang terus terjadi berulang kali. “Aneira” sebuah suara memanggil nama Aneira Dengan cepat Aneira mengangkat wajahnya dan menghapus bulir bulir air mata, ia tak ingin kelihatan habis menangis tapi itu mustahil karena mungkin matanya sekarang sudah sembab akibat menangis. Aneira kemudian berdiri saat melihat yang memanggil dirinya adalah Kein, ada sedikit harapan bahwa itu adalah Fairel tapi itu semua hanyalah harapan yang sia sia. “Kenapa lo belum pulang?” tanya Kein heran sebab ia tahu bahwa seharusnya Aneira pulang bersama Fairel. Aneira hanya menggeleng ia tak tahu harus menjawab pertanyaan Kein dengan jawaban seperti apa. “Fairel mana ? bukannya lo pulang bareng dia?” lihatlah bahkan Kein tahu bahwa seharusnya dirinya pulang bersama Fairel, ini semua karena mulutnya yang terlalu mengumbar ngumbar sesuatu yang belum tentu menjadi kenyataan. Aneira sekali lagi menggeleng. Kein memandang Aneira khawatir bisa dilihat dari wajahnya ia seperti habis menangis, tapi Kein tak berani mengatakan apapun untuk memastikan bahwa Aneira benar benar menangis atau tidak. “Loh Nei, lo kok masih disini?” Divandra datang dari arah belakang Kein Divandra sama terkejutnya dengan Kein, kenapa jam segini Aneira masih ada disini. Bukankah tadi seharusnya Aneira pulang bersama Fairel. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN