Day (32): Kala itu

1153 Kata
Aneira membuka apartmentnya, badannya sudah benar benar mati rasa. Tapi hatinya tetap saja masih terasa sedih mengingat kenyataan bahwa Fairel pergi meninggalkannya karena Sheerin, seharusnya dirinya senang karena rencananya berjalan lancar, tapi apa hatinya malah terasa sesak dan membuat tubuhunya benar benar down seperti sekarang. Air mata yang keluar tak cukup menyembuhkan perasaannya, untuk pertama kalinya ia merasa kecewa pada dirinya sendiri, karena menaruh harapan lebih kepada orang, dari dulu Aneira tak pernah diajarkan untuk berharap kepada orang lain selain kakak dan ayahnya karena kehidupan mereka sudah sangat kejam tak ada gunanya untuk berharap kepada sesame manusia. Aneira mendudukan tubuhnya, memijat pelipisnya pelan kepalanya serasa ingin pecah perasaannya campur aduk entah sedih, benci, ataukan marah. Aneira menatap langit langit kegiatan yang seharusnya tidak ia lakukan di tengah malam begini, awalnya ia berfikir selepas pesta ia akan kembali ke apartment dan tidur nyenyak untuk melepaskan rasa lelahnya tapi kenyataannya di tengah malam seperti ini Aneira masih terjaga. Aneira masih menatap lekat langit langit apartmentnya, seakan itu adalah pemandangan menarik. Aneira meletakkan lengannya di atas kepalanya demi mengurangi sinar lampu yang menyilaukannya. Disaat seperti ini hanya satu yang Aneira butuhkan yaitu Savalas Rahabian kakaknya. Pikiran Aneira terus menerus berkelana tak tahu tujuan, inilah yang membuat Aneira sangat benci jika harus menangis, setelah menangis maka pikirannya tak bisa ia kendalikan, ada saja hal yang menyakitkan yang terus teringat olehnya, hingga jatuh di titik saat kenangan buruk yang selama ini menjadi alasan terbesarnya mengapa ia sangat membenci hari ulang tahunnya, kenangan itu semakin lama semakin teringat jelas seakan baru terjadi kemarin padahal sudah 12 tahun lamanya, tapi lukanya masih sangat membekas berulang kali Aneira berusaha melupakannya tapi semakin lama ingatan itu semakin melekat dan tersimpan di ruang hatinya yang terus ia tutup rapat rapat. Flashback Avar memeluk adiknya erat, sudah beberapa jam yang lalu adiknya terus menangis memanggil ayahnya. “Aneira yang sabar ya ayah pasti pulang” Avar memperbesar volume suaranya agar bisa mengalahkan suara hujan yag begitu mendominasi. Benar, di luar sedang hujan dengan sangat derasnya jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Ayahnya yang sudah berangkat kerja sejak pagi tapi belum juga kembali, ada perasaan khawatir di dalam diri Avar tapi Avar terus berusaha menyembunyikannya agar adiknya tak bertambah takut. Hanya dirinya yang dimiliki adiknya saat ini, jika dia menunjukkan kekhawatirannya siapa yang akan menenangkan adik kecil yang sangat ia sayangi. “Kak Avar, ayah mana?” ujarnya terisak Avar kembali mengeratkan pelukannya mencoba menenangkan adiknya adalah satu satu cara yang bisa ia lakukan saat ini. “Kita coba telfon ayah lagi ya?” bujuk Avar kepada Aneira Tiit Titt Tittt Bunyi sambungan telfon terdengar tapi masih sama seperti tadi tak ada satupun yang menjawab panggilan dari mereka berdua. Sudah berulang kali mungkin sudah hampir 10 kali Avar mencoba menelfon ayahnya, tapi nihil ayahnya tak menjawabnya, ayahnya tak pernah seperti ini. Ayahnya selalu mengabari kami anak anaknya jika harus terlambat pulang atau terjebak hujan, tapi sekarang ayahnya benar benar tak ada kabar sama sekali. “Kan nggak dijawab ayah lagi kak” Aneira kembali menangis harapannya untuk merayakan ulang tahunnya bersama ayahnya pupus sudah. Padahal sejak tadi Avar dan Aneira sengaja belum menyalakan lilin ulang tahun milik Aneira karena Aneira menunggu kedatangan ayahnya yang selalu ada di saat hari ulang tahunnya. Avar mengelus kepala adiknya lembut, mencoba memberikan alasan alasan positif kepada adiknya agar adiknya tidak semakin takut “Ayah mungkin terjebak hujan di jalan, karena hujannya deras suara dering ponselnya jadi nggak kedengeran, Aneira banyak berdoa ya supaya hujannya berhenti dan ayah bisa pulang dengan selamat” Mendengat jawaban dari kakaknya, Aneira merasa sedikit tenang mungkin apa yang dikatakan kakaknya memang benar, ayahnya sedang terjebak hujan. “Maaf ya kak, Aneira malah nangis bukannya berdoa” ucapan Aneira kecil membuat air mata Avar berlinang tapi dengan cepat ia hapus agar adiknya yang sudah cukup tenang tidak kembali menangis. Kini perasaan Avar lah yang bergejolak hebat, bagaimana ia harus menenangkan adiknya jika ayahnya tak kembali juga malam ini. Avar hanya seorang anak kecil berumur 7 tahun yang berusaha menjadi kakak yang baik demi adiknya, demi adiknya ia rela melakukan apapun, tapi tetap saja ada ketakutan terbesar dalam dirinya bahwa ayahnya benar benar tak kembali, sebab sejak ia berpisah dengan ayahnya terakhir kali ada perasaan tak enak yang mengganjal di hatinya. Avar memandang Aneira kecil, yang mencoba menghapus sisa sisa air matanya kemudian ingusnya yang keluar akibat menangis tadi, Aneira yang tahu kakaknya sedang memperhatikannya balik melihat kakaknya lalu tersenyum tulus, membuat Avar juga ikutan tersenyum, ada kekuatan dalam dirinya yang kembali muncul ketika melihat seorang Aneira. Anak kecil yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi tumbuh menjadi sosok yang hangat dan penuh perhatian. Aneira kembali memeluk Avar, ia tak ingin melepaskan Avar ia takut kakaknya akan pergi jika tak ia pegang dengan erat. “Kak kita doain ayah yuk biar ayah cepat pulang” ajak Aneira dengan sangat bersemangat dan langsung mendapat anggukan dari Avar “Aneira yang pimpin doanya ya” Aneira dengan cepat mengangkat kedua tangannya ia menarik nafasnya sebelum mulai berdoa. “Ya Tuhan, ini Aneira sama Kakak. Maaf ya Aneira doanya malam malam, tapi Aneira tahu Tuhan pasti dengerin doa Aneira dan Kakak walaupun udah malam..” Aneira memejamkan matanya seolah sedang berbicara dengan tuhan, Avar yang mendengar itu tak bisa menahan air matanya agar tak jatuh. Aneira kembali melanjutkan doanya “Tuhan hari ini ulang tahun Aneira, Aneira ingin ayah cepat pulang biar bisa ngrayain ulang tahun bersama ada ayah dan kakak, Aneira cuman mau ayah dan kakak Aneira nggak minta ibu, Tuhan maukan nyuruh ayah cepat pulang biar bisa makan kue sama sama, tapi ayah harus pulang dalam keadaan sehat ya tuhan. Aneira nggak akan mau ngerayain ulang tahun lagi sebelum ayah pulang dalam keadaan sehat, tuhan janji kan ngabulin doa Aneira, aamiin.” Aneira mengakhiri doanya dan membuka matanya sedikit sulit untuknya menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya, avar yang sejak tadi menangis dalam diam dengan cepat ia menghapus air matanya sebelum Aneira melihat air matanya. “Kak gimana, doa Aneira dikabulin tuhan nggak ya” tanya Aneira takut kalau doanya tidak dikabulkan Avar tersenyum menunjukkan keoptimisannya kepada Aneira “Kakak yakin tuhan pasti ngabulin doa anak manis seperti Aneira” “Tapi kak kalau nggak dikabulin berarti Aneira nakal ya?”tanyanya kembali membuuat Avar menggeleng cepat “Nggak, siapa bilang Aneira anak nakal” Aneira tersenyum senang, ia kemudian kembali memperhatikan kue coklat yang dijadikan sebagai kue ulang tahunnya. Tak pernah sekalipun ulang tahun Aneira dirayakan tanpa kue coklat. Aneira masih ingat ulang tahunnya kemarin pada saat usianya menginjak 4 tahun. Ayahnya berinisiatif untuk membuat kue coklat sendiri, ayahnya begitu bersemangat tapi semangat ayah tak membawa hasil yang baik kue coklatnya memang jadi tapi bantat tak mengembang dengan sempurna, tekstur kue yang seharusnya lembut menjadi sedikit keras. Alhasil ayahnya ingin membeli yang baru tapi Aneira tetap kukuh ingin kue yang dibuat ayahnya. Dan mungkin itu menjadi ulang tahun Aneira bersama ayahnya. Flashback end ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN