Aneira membuka matanya, ia tak bisa terus mengingat kenangan itu. Cukup baginya hal menyakitkan hari ini membuatnya sakit, ia tak seharusnya mengingat kenangan lainnya. Walaupun Aneira tahu bahwa hidupnya penuh dengan rasa sakit, tapi tak seharusnya ia seolah olah merasa menjadi orang yang paling tersakiti di dunia.
Ini semua salahnya tak seharusnya dirinya mengeluh, dari awal harusnya Aneira tahu konsekuensinya. Aneira dengan cepat menghapus air matanya, walaupun hatinya masih terasa sakit tapi ia tak boleh terus berlarut larut, Aneira butuh istirahat dan hari ini dirinya benar benar lelah.
Aneira memutuskan untuk berganti dressnya yang sejak tadi masih melekat di tubuhya, tapi sebelumnya Aneira beranjak ke kamar mandi, mungkin dengan mandi bisa mendinginkan kepala dan juga hatinya. Sebenarnya ini bukan waktu yang baik untuk mandi tapi Aneira tetap saja melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Tapi anehnya Aneira tak membuka dress yang masih melekat di tubuhnya, ia hanya menghidupkan shower dan duduk di bawahnya, membiarkan air mengguyur tubuhnya. Aneira kembali menangis, mengingat semua yang terjadi hari ini, hanya diperlakukan seperti itu tapi Aneira benar benar terasa begitu hancur, Aneira tak pernah merasa seperti ini. Pasti ada yang salah dengan dirinya, ini bukan Aneira yang ia kenal, Aneira adalah orang yang kuat yang bisa mengatasi segalanya sendirian tapi sekarang Aneira itu menghilang kembali menjadi Aneira yang rapuh dan lemah, apakah selama ini Aneira yang kuat hanyalah kamuflase yang dibuat oleh dirinya sendiri demi menghadapi kenyataan yang ada di depannya, dan sekarang saat dirinya sudah tak mampu lagi barulah Aneira yang sebenarnya kembali.
Aneira duduk terdiam, kini tak ada lagi isakan. Ia hanya diam memandang ke depan. Mungkin jika ada yang melihatnya seperti sekarang mereka akan menganggapnya gila, karena bisa dengan cepat berubah yang dari awal menangis sekeras kerasnya menjadi diam tak bersuara.
Aneira memejamkan matanya beberapa saat, merasakan guyuran air yang semakin lama entah kenapa semakin dingin. Aneira melihat kakinya yang bengkak, lalu kemudian tertawa sumbang
“Lihatlah Nei, lo nyakitin diri lo demi dia”
“Padahal lo tau dia adalah orang yang buat diri lo hancur”
“Nei, tapi lo suka kan sama dia”
“Nei sadar dong dia itu musuh lo, ingat tujuan awal lo”
“Lo nggak ada apa apanya dibanding Sheerin sadar diri”
“Fairel nggak suka sama lo”
Cacian dan makian yang terus berputar di kepalanya seolah terdengar jelas di telinganya, seperti sedang menampar dirinya untuk kembali ke kenyataan yang ada. Aneira memukul kepalanya keras agar suara cacian itu tak ia dengar tapi entah kenapa semakin lama semakin kuat.
Aneira sudah sangat lama tak mengalami hal hal seperti itu, sudah hampir 4 tahun lamanya. Ia kira dirinya sudah benar benar baik saja tapi ternyata dalam keadaan seperti ini gejala itu muncul kembali.
Aneira mencoba bangkit, walaupun sangat sulit untuk berdiri dengan seimbang. Dirinya yang dulu tak boleh kembali lagi.
Dengan langkah terseok dan tubuh yang basah kuyup Aneira mencoba mengambil handuk miliknya.
Mengelap tubuhnya sembarangan segera ia membuka dress miliknya, masa bodoh dengan lantai yang basah dan sebagainya. Aneira dengan cepat mengganti bajunya dengan baju yang ia pilang sembarang di dalam lemarinya.
Aneira membaringkan tubuhnya berharap bahwa suara suara itu cepat menghilang, tapi matanya tak juga terpejam tiba tiba suara notifikasi pesan dari Mr.X terdengar dengan cepat Aneira membuka pesan tersebut.
Aneira melihat pesan itu dan
PRANGGG
Aneira melempar ponselnya asal, persetan akan keadaan ponselnya yang mungkin sekarang sudah tak terbentuk lagi.
Aneira merasakan hatinya kembali memanas melihat apa yang barusan ia lihat.
Sebuah foto, ya hanya sebuah foto mampu membuat Aneira melemparkan ponselnya.
Foto Fairel dan Sheerin yang menampakkan bahwa Sheerin sedang mencium pipi Fairel.
Aneira mengacak rambutnya kasar “SIAL, Lo bakalan ngerasain gimana hancurnya gue Fairel” nafas Aneira memburu ada raut kemarahan dan kebencian yang menjadi satu di ekspresi wajahnya, dengan cepat Aneira menarik selimutnya menutup wajahnya biarlah kali ini ia menjadi Aneira yang berkamuflase, cukup sampai di sini ia menjadi Aneira yang lemah dan rapuh.
***
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.
Berulang kali Divandra mencoba menelfon Aneira, tapi hasilnya nihil.
Divandra sedang menuju sekolahnya hari ini ia diantar oleh mang udin, Kein sudah menghilang sejak pagi tadi, tak seperti biasanya.
Ada yang berbeda dengan Kein semenjak kejadian semalam, ia lebih banyak diam. Masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apapun dan pergi pagi pagi sekali tanpa siapapun yang tahu.
Divandra sedikit khawatir dengan keadaan kakaknya itu. Divandra memijat pelipisnya pelan rasa kantuk masih terus menggerogoti matanya, bagaimana tidak ia hanya tidur beberapa jam tadi malam dan sekarang ia harus pergi sekolah belum lagi pikirannya yang bercabang kemana mana memikirkan kakak dan sahabatnya yang tidak dalam keadaan baik baik saja.
Aneira yang tak bisa ditelfon membuatnya semakin khawatir. Kemudian terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Divandra, dengan cepat Divandra membukanya berharap jika itu adalah Aneira tapi ternyata bukan, itu adalah Kak Sheerin.
Tumben kak Sheerin mengirim pesan pagi pagi, dan betapa terkejutnya Divandra saat membuka pesan dari Sheerin yang menampilkan foto Sheerin dengan seragam sekolahnya yang persis bahkan sama dengan yang digunakan Divandra. Itu berarti Sheerin masuk ke sekolah yang sama dengannya, ya walaupun dia tahu Sheerin akan bersekolah disini tapi ia tak menyangka bahwa itu sekolahnya sekolah tempat dimana ada Fairel dan Kein.
Apakah ini hal yang menyenangkan atau sebuah malapetaka, entahlah Divandra juga tak mengerti.
Yang ia lakukan hanyalah mengawasi apa yang terjadi bukan ikut campur, cukup dirinya sebagai pengamat seperti sedia kala.
***
Divandra turun dari mobilnya segera melangkah menuju tempat parkir tapi anehnya ia tak menemukan mobil Kein, bukankah Kein sudah pergi lebih dahulu dibanding dirinya tapi kenapa Kein belum juga sampai, seingatnya Kein memakai seragam sekolah tadi tapi kenapa dia tak sampai ke sekolah.
Divandra mengambil ponsel dan mendial nomor kakaknya itu.
Nada tunggu terdengar, Divandra mengetuk ngetuk kakinya tak sabar. Tapi tak diangkat oleh Kein.
Divandra tak pantang menyerah ia kembali mendial nomor kakaknya, tapi tak juga ada jawaban.
Divandra benar benar kesal hari ini, semuanya tak mengangkat telfonnya mulai dari Aneira dan sekarang Kein.
“Sebenarnya ada apa dengan mereka hah?” kesal Divandra kepada dirinya sendiri.
***