Kein memakirkan mobilnya di depan gudang kosong yang biasa menjadi tempat dirinya dan teman satu gengnya bekumpul. Untuk hari ini Kein memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah walaupun seragam sekolah masih melekat di tubuhnya, seragam sekolah ini dijadikan sebagai tamengnya agar tidak dicurigai oleh orang tuanya dan para penghuni rumah.
Mood Kein hari ini benar benar buruk sejak kejadian semalam ia terus menahan emosinya agar tidak dilampiaskan kepada hal yang tidak seharusnya. Kein benar benar tak habis fikir dengan apa yang dilakukan Fairel.
Masih teringat jelas di benaknya bagaimana bergetarnya tubuh Aneira menahan dingin dan takutnya ketika tak ada seorangpun yang menemaninya. Setiap mengingat hal itu pasti darah Kein seakan mendidih tak pernah ia merasa seperti ini, mungkin ini terjadi karena ia menganggap Aneira adalah adiknya dan sebagai kakak ia sangat marah jika adiknya di perlakukan seperti itu, mungkin sekarang hanya itulah kesimpulan yang bisa ditarik oleh Kein akan penyebab kenapa dirinya sangat marah.
Kein memasuki gudang tersebut, hanya tempat ini yang bisa menenangkan dirinya. Ia tak pergi ke sekolah karena untuk menghindari Fairel, jika ia melihat Fairel maka emosinya akan terlampiaskan ke wajah Fairel, dan ia tak ingin itu terjadi biarlah seharian ini ia menenangkan diri sebelum bertemu dengan Fairel.
Dengan langkah pasti Kein memasuki gudang itu, ternyata benar gudang ini benar benar kosong tak ada teman teman yang lain, hanya ada dirinya sendiri. Suasana yang tenang sangat cocok untuk dirinya menenangkan diri.
Kein duduk di sofa yang ada di sana, sofa ini mereka beli bersama sama dengan cara patungan sehingga siapapun bertanggung jawab untuk menjaganya.
Kein membaringkan tubuhnya memejamkan matanya, menghirup udara agar paru parunya yang terasa sesak kembali terisi dengan baik.
Dering ponsel membuatnya merogoh saku celananya. Nama adiknya Divandra yang terpampang di layar ponselnya, mungkin Divandra sudah sampai di sekolah tapi tak menemukan mobilnya yang terparkir.
Kein membiarkan panggilan Divandra, tak ingin mengangkatnya.
Sebenarnya tak ada salahnya ia mengangkat telfon dari Divandra, Divandra pasti hanya bertanya dirinya ada di mana, tentu saja Kein akan memberitahukan dimana dirinya berada. Tapi yang menjadi permasalahan bagaimana jika Fairel bertanya kemana dirinya kepada Divandra, dan Divandra mengatakan yang sebenarnya sudah pasti Fairel akan menyusulnya ke tempat ini.
Dan ketika ia melihat Fairel ia takut emosinya tak bisa ia tahan.
***
Divandra mengerang kesal, kenapa paginya yang cerah harus rusak akibat Kein yang tak menangkat telfonnya tanpa alasan yang jelas.
Saat Divandra berjalan melewati koridor menuju ke kelasnya ia berpapasan dengan Sheerin, Divandra tak berniat untuk menyapanya maka dari itu ia sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya.
Tapi usahanya sia sia Sheerin ternyata sudah melihatnya dengan cepat Sheerin berjalan ke arah Divandra yang masih belum mengetahui bahwa Sheerin ternyata sudah melihatnya.
“Divandra” sapa Sheerin sambil menepuk pundaknya pelan
Divandra yang mengumpat kesal di dalam hati karena persembunyiannya tak berhasil membuatnya terpaksa merubah ekspresinya “Eh kak Sheerin” jawabnya dengan cengiran
“Gimana Di kakak cocok nggak pake seragam ini?” tanya Sheerin antusias sambil berputar putar menunjukkan seragamnya kepada Divandra.
“Cocok kak malah sangat bagus di kakak” Divandra berkata jujur memang benar apa yang dikatakannya Sheerin tampak modis dengan seragam sekolah yang dikenakannya.
Kemudian Divandra teringat akan sesuatu, kemarin Sheerin tak berpamitan dengannya saat ingin pulang. Membuat Divandra penasaran dengan siapa Sheerin pulang kemarin.
Sheerin dan Divandra berjalan beriringan menuju kelas masing masih, sebelum sampai di kelas Divandra, Divandra dengan cepat menanyakan apa yang membuatnya penasaran
“Kak, malam tadi kakak pulang dengan siapa?” Tanya Divandra hati hati dirinya tak ingin disangka terlalu kepo dengan urusan Sheerin.
Sheerin sempat terdiam membuat Divandra merasa tak enak “Kalau kakak nggak mau kasih tau nggak apa apa kak”
“Fairel” jawaban Sheerin membuat Divandra menegang di tempat, apakah Divandra tak salah mendengar Sheerin pulang bersama Fairel. Yang seharusnya Fairel pulang bersama Aneira tapi malah pulang dengan Sheerin.
Divandra memegang erat tali tasnya kuat kuat, jadi perempuan yang dihadapannya ini yang membuat sahabatnya menjadi seperti itu.
Sheerin kembali menjelaskan walaupun tak diminta Divandra “Fairel yang ngajak aku malam tadi Div”
Jawaban Sheerin makin membuat Divandra meradang, ia tak jadi berfikir bahwa ini salah Sheerin ini berarti murni kesalahan Fairel. Fairel yang mengingkari janjinya kepada Aneira demi mengajak perempuan lain.
“Divandra” Sheerin menggerakkan tangannya di depan wajah Divandra, karena tiba tiba Divandra hanya diam seperti memikirkan sesuatu.
“Iya kak”
“Kenapa bengong?” tanya Sheerin
“Nggak kenapa napa kak, Cuman lagi mikirin sesuatu aja”
“Eh iya kak, kalau gitu gue ke kelas dulu” Divandra langsung berlari menuju kelasnya meninggalkan Sheerin sendirian.
Sheerin melanjutkan langkahnya, ia tak merasa heran sedikitpun dengan reaksi yang diberikan oleh Divandra atas jawabannya.
“Jika itu milikku tak ada yang boleh merebutnya” batin Sheerin dalam hati.
Kemudian melangkah dengan tenang menuju ke kelasnya, kelas yang sama dengan Fairel dan Kein.
***
Divandra mendudukkan dirinya dengan kasar, sekarang ia benar benar kesal terhadap apa yang dilakukan Fairel kepada sahabatnya, ia kira selama ini Fairel adalah laki laki yang baik ternyata sama saja dengan lelaki buaya darat yang lain.
Jika saja ia bertemu dengan Fairel saat ini juga mungkin dia akan memukul wajah Fairel yang sok kegantengan itu.
Divandra dengan cepat mengambil ponselnya, kakaknya harus tau apa yang menyebabkan Fairel meninggalkan Aneira sendirian di tengah malam.
Kak, lo tahu gara gara pulang bareng kak Sheerin si Fairel ninggalin Aneira. Emang b******k banget *Sent*
Divandra langsung menekan tombol kirim, ia harap kakaknya segera membaca pesannya. Hanya kakaknya yang bisa memberikan pelajaran kepada Fairel.
”Gue kecewa sama lo kak” ucap Divandra pelan
Kemudian ia mencoba mengirimi Aneira pesan siapa tau Aneira akan membalasnya
Nei, gimana keadaan lo?* sent *
Hingga bel berbunyi tak juga ada balasan dari Aneira dan Kein, mereka seolah kompak mengacuhkan Divandra, membuat Divandra jengah setengah mati.
" Awas saja mereka berdua gue jadiin ayam geprek baru tau " Divandra mengepalkan tangannya kuat menyalurkan rasa kesalnya baik kepada Fairel, Kein serta Aneira yang mengacuhkannya.
Kini dirinya harus fokus ke pelajaran yang akan segera dimulai, nanti baru dia mencari solusi yang terbaik bagaimana menyelesaikan masalah ini nanti.
***