Aneira mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat, setelah berkutat dengan apa yang terjadi semalam Aneira baru bisa tertidur pukul 04.00 pagi. Aneira mencari keberadaan ponselnya tapi tak kunjung ia temukan.
“Oh ya ponsel gue dah hancur” Aneira teringat akan ponselnya yang dilemparkannya ke sembarang arah karena kesal melihat foto yang dikirim oleh si Mr.X. Seharusnya foto yang dikirim itu adalah senjata untuk menghancurkan Fairel tapi kenyataannya foto itu malah menjadi senjata untuk menghancurkannya.
Aneira melihat jam yang ada di dinding pukul 08.00 pagi. Itu tandanya ia sudah terlambat ke sekolah tak ada lagi harapan untuk dirinya bisa masuk hari ini.
Aneira mencoba menggerakkan badannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki semuanya terasa sakit. Aneira kemudian mendudukkan dirinya tapi saat dirinya sudah berhasil tiba tiba kepalanya terasa sakit dan berputar luar biasa, pandangan Aneira terasa mengabur. Aneira dengan cepat memijat pelipisnya pelan tapi tak juga rasa sakit itu berkurang, Aneira kembali membaringkan tubuhnya berharap rasa sakit di kepalanya bisa mereda tapi dirinya salah rasa sakit itu terus saja setia menemaninya.
Aneira merasakan bahwa suhu badannya tidak normal, lebih panas dari biasanya.
“Apakah ini yang menjadi penyebab kenapa kepalanya terasa sakit sekali?” tanya Aneira kepada dirinya sendiri, Aneira tak sanggup untuk menahannya rasa sakit ini jauh lebih sakit dari pergelangan kakinya yang sejak semalam semakin bengkak karena tak mendapatkan pengobatan yang tepat.
Aneira hanya bisa memejamkan matanya kembali, seketika ia menyesali keputusannya untuk bangkit dari tempat tidur. Sekarang tak ada yang bisa Aneira lakukan selain diam dan berbaring tanpa memikirkan apapun.
Rasa sakit kepala seperti ini baru pertama kali Aneira rasakan tak pernah ia rasakan rasa sakit seperti ini. Aneira mencoba berbalik tapi rasa sakit di kakinya malah membuatnya merintih kesakitan
“Apa lagi ini tuhan, kenapa rasanya semua terasa makin sakit” rintih Aneira, perpaduan yang sempurna rasa sakit di kepala dan rasa sakit di kaki. Double Kill.
Aneira tak tahu harus apa, tenggorokannya terasa sangat kering ia butuh asupan nutrisi dan ion tubuh tapi bagaimana ia bisa bergerak jika semuanya terasa sakit. Aneira kembali memejamkan matanya tidur menjadi pilihan yang tepat saat ini, masa bodoh dengan dirinya yang demam dan harus segera diobati yang terpenting saat ini Aneira ingin merasakan sebentar saja rasa sakit itu hilang, dan cara yang paling tepat adalah tidur.
***
Fairel merasa heran kenapa jam segini Kein belum datang juga, biasanya jika Kein tidak masuk atau sedang malas untuk ke sekolah ia selalu memberitahu dirinya. Tapi sekarang anehnya Kein hilang tanpa jejak dan kabar.
Fairel merogoh sakunya untuk menelfon Fairel, kemudian seseorang menghentikan aktifitasnya membuat Fairel fokus kepada siapa yang memanggilnya, kening Fairel mengerut tidak mengerti merasa heran kenapa Sheerin bisa berada disini dan memakai seragam sekolah yang sama dengannya.
Sheerin melangkah menuju kursi Fairel dan Kein, Sheerin tersenyum sumringah menyapa Fairel di pagi hari adalah kegiatan yang sangat Sheerin rindukan, dan kini ia bisa melakukannya kembali.
“ Sheerin kenapa lo disini ?” tanya Fairel heran
“ Surprise, gue sekolah disini “ ujar Sheerin tersenyum senang, karena ia sangat berharap bahwa Fairel akan senang mendengarnya.
Tapi respon Fairel membuatnya terdiam, tak ada senyum dan raut bahagia dari wajah Fairel ketika mendengar bahwa dirinya akan kembali satu sekolah dengan Fairel seperti sedia kala, bermain bersama bahkan jalan bersama. Setiap hari mereka habiskan bersama.
“ Fairel lo kok diam aja “ Sheerin tak terima karena ucapannya tak direspon sama sekali dengan Fairel.
“ Lo nggak seneng ? ” sambungnya lagi ia kembali menyudutkan Fairel dengan pertanyaan yang membuat Fairel harus hati hati dalam menjawab.
“Gue senang, tapi cuman kaget aja ternyata lo bisa masuk CAIS di pertengahan semester”
“ Lo lupa gue pindahan dari New York, tentu saja CAIS bakalan nerima murid pintar kek gue” ucap Sheerin bangga dengan dirinya sendiri.
Fairel sebenarnya merasa tak nyaman sekarang dengan Sheerin, Sheerin yang sekarang sangat berbeda dengan Sheerin yang dahulu yang dari matanya saja kita bisa tahu bahwa dia seorang yang tulus, tapi sekarang mata itu seperti berubah menjadi mata yang penuh dengan kebencian dan prasangka buruk.
Mungkin jika dahulu ditanya mata siapa yang paling indah di dunia, Fairel dengan cepat menjawab tanpa ragu yaitu mata Sheerin.
Selama bertahun tahun Fairel terjebak akan perasaannya hanya karena mata Sheerin yang begitu tulus tanpa kepura puraan tapi sekarang Fairel tak bisa menemukan itu lagi. Jika menurut logika yang benar jika sesuatu yang kita suka sudah hilang pasti perasaan suka itu akan semakin lama akan semakin berkurang.
Dan Fairel berharap rasa suka itu akan segera berkurang bahkan hilang walaupun saat ini masih terdapat perasaan itu yang jauh lebih besar dari yang Fairel tahu.
Akankah perasaan Fairel ke Aneira bisa lebih besar dari perasaannya terhadap Sheerin.
Hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan itu, Fairel hanya mengikuti jalan takdir membawanya, jika memang itu yang terbaik untuknya ia tak bisa menolak tapi tetap Fairel akan berusaha agar sesuatu yang ia sukai bisa menjadi yang terbaik.
Aneira atau Sheerin ? jika ditanya seperti itu Fairel masih akan memilih Sheerin. Ketika bersama Sheerin Fairel bisa melupakan Aneira dengan begitu mudahnya, dan jika bersama Aneira Fairel serasa melihat mata Sheerin yang sudah lama tak ia lihat bahkan dari Sheerin sendiri.
“ Rel, gue boleh duduk disini nggak ?” Sheerin menunjuk kursi di sebelah Fairel
Fairel dengan cepat menggeleng “ Nggak ini tempat Kein ”
“ Keinnya mana ? ”
“Belum datang” jawab Fairel cepat ia tidak ingin dirinya di amuk oleh Kein. Karena Kein sangat tidak suka jika tempat duduknya di tempati oleh orang lain tanpa seiizinnya.
“Belum datang atau nggak masuk?” Sheerin langsung meletakkan tasnya di bangku milik Kein.
Fairel yang sudah berusaha untuk mencegahnya tetap saja ia tak mampu melakukannya, karena Fairel tahu betapa keras kepalanya seorang Sheerin.
Sheerin memandang Fairel, tampak dari wajah Fairel bahwa ia sedikit takut.
“Gue teman Kein, nggak mungkin gue nggak boleh duduk disini sementara doang” Fairel menghela nafas berat percuma jika harus berdebat dengan Sheerin dirinya tak akan pernah bisa menang
"Ya udah gue duduk disini ya"
"Lo emang udah duduk" jawab Fairel ketus.
Fairel mengalihkan pandangannya ke arah jendela, ia baru ingat jika sekarang adalah hari kamis itu berarti jadwal olahraga kelas Aneira dan Divandra, dengan semangat Fairel mencari keberadaan Aneira dari sini, biasanya hanya melakukan hal seperti ini ia bisa menemukan Aneira dengan cepat. dan sekarang ia tak bisa menemukan Aneira dimanapun hanya ada Divandra seorang diri.
"Aneira ke mana?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Fairel benar benar tidak tahu apa yang terjadi dengan Aneira semalam, sejak Aneira menolak untuk pulang bersamanya
***