Selepas bertemu sheerin, Aneira kembali ke tempat dirinya dan Fairel berada.
Ada harapan yang tersembunyi di dalam hatinya bahwa Fairel sedang menunggunya.
Aneira menghentikan langkahnya dan tersenyum saat melihat punggung Fairel dihadapannya sedang menunggu dirinya, mau tak mau Aneira segera mempercepat langkahnya dan menormalkan detak jantungnya yang entah kenapa selalu berpacu cepat saat berada di dekat Fairel.
Tanpa aba aba apa pun, Aneira langsung berdiri di samping Fairel dan menatap lurus ke depan.
Fairel yang sadar akan kedatangan Aneira mengalihkan pandangannya ke arah Aneira yang terlihat tersenyum sambil menikmati penampilan di atas panggung. Fairel ikut tersenyum tanpa sadar melihat Aneira tersenyum, cukup seperti ini biarlah mereka berdiri berdampingan dengan senyum yang melukis di wajah mereka. Melupakan sejenak apa yang terjadi sebelumnya.
Melihat Aneira seperti ini bisa membuat Fairel merasakan ketenangan, ini memang adalah sesuatu hal yang aneh sejak kejadian di rooftop Fairel merasa bahwa Aneira adalah sosok yang bisa membuatnya nyaman.
“Aneira” panggil Fairel membuat Aneira mengalihkan pandangannya.
Aneira kemudian menatap sudut bibir Fairel yang terluka, walaupun dirinya sempat berfikir bahwa Fairel baik baik saja setelah bertemu Sheerin tapi ia tak boleh melepaskan tanggung jawabnya apa yang terjadi kepada Fairel itu semua karena kesalahannya.
“Kak”
“Hmm”
“Kotak P3K mana?” tanya Aneira kepada Fairel, Aneira yakin bahwa Kein memberikannya kepada Fairel.
“Di sudut ruangan didekat vas bunga” tunjuk Fairel dengan cepat Aneira melihat ke arah mana arah tunjuk Fairel dan benar dari sini ia bisa melihat bahwa terdapat kotak P3K di sana.
Aneira menarik tangan Fairel untuk mengikutinya, Fairel yang bingung kenapa Aneira tiba tiba menarik tangannya sempat ingin bertanya tapi ia membiarkan Aneira menarik tangannya membawanya kemanapun.
Aneira dengan cepat berjalan sambil menarik tangan Fairel, kemudian ia berhenti sebentar untuk mengambil kotak P3K dan kembali melanjutkan langkahnya dengan masih menarik Fairel.
Dan sampailah mereka di balkon hotel tempat pesta ulang tahun Divandra.
“Duduk kak” Aneira
Fairel masih saja berdiri tak mengikuti arahan Aneira, membuat Aneira berdecak sebal “Ckk, kak duduk” ucap Aneira sambil melihat ke arah kursi lalu ke arah Fairel.
Entah sejak kapan Fairel sangat menyukai ekspresi sebal dari Aneira, ia sangat suka melihat Aneira yang seperti itu.
“Kak” mohon Aneira saat Fairel tak juga mengindahkan perkataannya
Akhirnya Fairel pun memutuskan untuk duduk di kursi yang telah disediakan “Udah Aneira” ujarnya membuat Aneira kembali tersenyum bersemangat.
Aneira meletakkan kotak P3K itu di meja yang tepat berada di samping keduanya.
Aneira berjongkok agar dirinya tidak kesulitan menyiapkan apa yang ia perlukan untuk mengobati luka Fairel.
“Gue kira lo nggak mau lagi” ucapan Fairel membuat gerakan Aneira terhenti ia sebenarnya mengerti arah pembicaraan Fairel tapi ia berusaha untuk mengalihkannya.
“Tadi gue buru buru ke toilet kak, mangkanya gue titip ke kak Kein” bohong Aneira
“Aneira, lo nggak akan bisa bohong dari gue”
Aneira hanya diam tak tahu akan menjawab apa dengan cepat ia menuangkan alcohol ke kapas yang berada di tangannya.
Tangannya bergerak cepat menuju sudut bibir Fairel, membuat Fairel begitu terkejut karena jarak mereka yang sangat dekat.
Aneira yang sadar wajah mereka terlalu dekat akhirnya sedikit menjauhkan wajahnya, barulah dengan pelan ia membersihkan sudut bibir Fairel.
Terdengar rintihan dari Fairel membuat Aneira tertawa “Gue nggak nyangka lo bakalan selemah ini kak”
Fairel yang mendengar ejekan Aneira hanya memutar bola matanya seakan tak terima bahwa bisa bisanya Aneira mengatakan hal seperti itu kepadanya.
“Pelan pelan Nei, tenaga gajahnya jangan dikeluarkan” balas Fairel kepada Aneira membuat Aneira semakin sengaja membersihkan sudut bibir Fairel dengan sedikit menekannya membuat Fairel berteriak kesakitan “Aneira, AWW”
“Mangkanya jangan ngeledekin Aneira” ucap aneira kembali membersihkan dengan perlahan.
Fairel terus memperhatikan Aneira yang masih sibuk dengan lukanya, kenapa setiap Aneira melakukan sesuatu bisa membuat fokus seorang Fairel teralihkan.
Fairel melihat setiap fitur wajah yang dimiliki Aneira dengan sangat lekat, Aneira yang mengetahui Fairel melihatnya segera berdehem untuk menetralkan degup jantungnya “Ehem, baru tau lo kak kalau gue cantik” ucap Aneira tanpa mengalihkan pandangannya membuat Fairel terkejut karena dirinya sudah tertangkap basah sudah memperhatikan Aneira.
“Iya, dan malam ini lo makin cantik”
Blush
Ia merutuki dirinya karena sudah memancing Fairel dan akibatnya Pipi aneira merona, ucapan Fairel sukses membuat dirinya menjadi malu dan gugup. Sudah dua kali Fairel memujinya malam ini.
Karena saking gugupnya tak sengaja Aneira menekan luka Fairel sedikit keras membuat Fairel kembali berteriak kesakitan.
“Maaf kak” ucap Aneira panik ia mencoba meniup luka milik Fairel agar rasa sakit nya sedikit berkurang.
Fairel yang melihat itu hanya tersenyum, Aneira begitu salah tingkah hanya dengan ucapannya seperti itu, padahal apa yang Fairel katakan adalah sebuah kebenaran.
Aneira mencoba mengendalikan dirinya, tapi dengan susah payah karena Fairel yang terus memperhatikannya.
“Nei, pipi lo” ucap Fairel membuat Aneira langsung menyentuh pipinya, memangnya ada apa dengan pipinya “Pipi gue? Kenapa kak?”
Bukannya menjawab Fairel malah menyentuh pipi Aneira lembut, membuat aneira kembali terkejut, jika berada di dekat Fairel pasti selalu membuat jantung Aneira bekerja lebih keras bisa bisa ia akan mati muda jika terus dibiarkan.
“Pipi lo kek tomat” ledek Fairel membuat Aneira mencubit perut Fairel yang berada dalam jangkauannya seharusnya Aneira sadar bahwa Fairel sedang mempermainkannya.
“Kak, berhenti mengejek gue kalau nggak gue pergi nih” Aneira segera berlaih menuju kotak P3K dengan cepat ia membereskannya.
Melihat hal itu Fairel segera menahan tangan Aneira “Maaf, gue bercanda” ujar Fairel tulus.
Membuat Aneira mau tak mau akhirnya kembali mengobati Fairel.
Aneira mengambil obat merah dan mengoleskannya secara perlahan agar tak menimbulkan rasa sakit.
Kali ini Fairel hanya diam saja, tak berani lagi dirinya menggoda Aneira jika ia mencoba menggoda Aneira bisa habis dirinya.
Aneira kini beralih kepada plester untuk menutupi luka, ia dengan cepat mengguntingnya agar berukuran kecil sehingga tidak membuat Fairel terganggu karena ukurannya.
Fairel menatap Aneira dalam, kenapa manik mata Aneira terlihat begitu familiar baginya, ia seperti pernah melihatnya tapi entah dimana.
Fairel kemudian teringat akan sesuatu yang terus menganggu pikirannya sejak tadi.
“Aneira”
“Hmm” jawab Aneira masih fokus mengoleskan obat merah
“Gue dengan Sheerin..”
***