Day (26): Rooftop

1268 Kata
Flashback Hari ini entah kenapa Aneira merasa sesak di dalam kelas yang bising ini, kebetulan hari ini guru sedang mengadakan rapat membuat seluruh kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Seperti halnya sekolah pada umumnya ini menjadi sebuah ajang untuk para siswa menikmati kesempatan ini, ada yang sedang mengobrol, bernyanyi, bahkan ada yang berlari larian di ruang kelas. Aneira yang memang bukan tipe orang yang suka akan keramaian merasa bahwa hal ini sangat menganggunya apalagi sekarang ia hanya sendiri di kelas Divandra hari ini tidak masuk karena dirinya tahu bahwa guru guru akan mengadakan rapat. Maklum Divandra adalah siswa yang spesial yang memiliki orang dalam untuk mengetahui setiap info terbaru. Sebenarnya Aneira cukup menyesal karena tak mengikuti apa yang Divandra lakukan, jika saja ia mengikuti Divandra mungkin sekarang ia sudah berbaring di tempat tidurnya, tak merasa bosan seperti ini. Sekarang Aneira harus segera pergi mencari udara segar, karena disini sudah terasa sesak. Aneira berdiri dari bangkunya, berjalan menuju pintu keluar. Satu tempat yang ia pikirkan adalah rooftop, karena di rooftop lah tempat terbaik ia bisa mencari udara segar untuk mengisi sesak paru parunya yang mulai tidak sehat akibat udara ibukota yang penuh akan polusi. Sebelum Aneira menuju ke rooftop ia berjalan menuju kantin untuk membeli sebotol minuman karena dirinya merasa sedikit haus. Sesampai di kantin ia bisa melihat keadaan kantin cukup ramai, para siswa siswa ini sama seperti dirinya merasa bosan di kelas dan memutuskan untuk sekedar duduk dan makan di kantin. “Mbak, ini satu ya” ujar Aneira kepada penjaga kantin, Aneira memberikan selembar uang 10 ribuan kepadanya. “Ini mbak” ucap penjaga kantin sambil memberikan kembalian sisa uang Aneira Aneira tersenyum “Udah ambil aja mbak” kemudian Aneira berlalu dari hadapan penjaga kantin itu. Aneira berjalan menuju rooftop yang berada di lantai paling atas yaitu lantai empat butuh perjuangan ekstra bagi dirinya untuk sampai ke rooftop, karena harus melewati puluhan anak tangga mulai dari lantai 2, 3 dan 4. Walaupun sekolah ini merupakan sekolah internasional dengan fasilitas yang lengkap tapi terdapat satu kekurangan yaitu tidak adanya lift yang disediakan. Entah apa alasannya Aneira tidak tahu. Aneira mengistirahatkan kakinya setelah sampai di lantai 3, untung saja ia membeli minum jika tidak ia benar benar tidak tahu bagaimana tenggorokkannya saat ini. Aneira meneguk minumannya beberapa teguk setelah ia rasa sudah cukup menghilangkan dahaganya Aneira melanjutkan langkahnya lagi. Beberapa kali ia mencoba menyemangati dirinya sendiri untuk terus berusaha agar bisa sampai ke rooftop. “Sedikit lagi Ne, lo bisa” ternyata usaha memang tak mengkhianati hasil akhirnya Aneira bisa sampai di rooftop ada sebuah kepuasan yang dirasakannya ketika dirinya berhasil mencapai sesuatu yang dia inginkan walaupun pada awalnya ia harus bercucuran keringat demi mencapainya. Karena begitulah hidup sesuatu yang indah tak bisa dicapai dengan mudah butuh usaha dan kerja keras, bahkan kerja keras terkadang tak cukup butuh kesabaran dan keuletan. Aneira membuka pintu yang menuju ke rooftop, ia sempat takut bahwa pintu terkunci tapi ketika ia menarik ganggang pintu ternyata pintunya terbuka. Aneira mengucapkan syukur akhirnya keinginannya terkabul untuk bisa menikmati rooftop. Aneira berjalan perlahan memperhatikan setiap detail yang menarik perhatiannya, Aneira sangat suka dengan rooftop ada hal unik yang disajikan oleh setiap rooftop yang hanya dirinya yang bisa merasakannya, tapi jika dijelaskan mungkin akan terasa sulit. Aneira berdecak kagum karena rooftop sekolah ini benar benar rooftop terbaik yang pernah ia temukan, Walaupun rooftop ini jarang dikunjungi tapi kebersihannya tetap terjaga, semua detailnya tersusun rapid an menarik. Pagar pembatasnya juga benar benar terawat, Aneira semakin tak sabaruntuk segera berdiri di sana menikmati semilir angin yang berhembus pelan seperti tahu bahwa Aneira akan datang kesini. Aneira yang awalnya hanya berjalan pelan kini berlari kecil menuju pagar pembatas setelah ia yakini tak ada siapapun disini. Alasan lainnya kenapa Aneira sangat menyukai rooftop adalah karena ini adalah tempat tersepi yang ada di sekolah, hiruk pikuk sedikitpun tak terdengar hanya suara semilir dan deruan angin yang menghiasai gendang telinga. “HAHHH” Aneira menarik nafas dalam dalam, memang benar udara di rooftop adalah yang terbaik. Aneira menutup matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajah cantiknya dan menerbangkan bebrapa anak rambutnya yang ia biarkan terurai panjang. Aneira sesaat bisa merasakan beban beban di pundaknya seakan luruh saat itu juga. Kemudian Aneira melatunkan sebuah lagu yang sangat ia sukai, menurutnya lagu itu sangat cocok dengan suasana seperti ini. Setelah selesai menyanyi Aneira kembali ke posisi awalnya hanya kesunyian yang menemaninya. Aneira mencoba berbalik tapi begitu terkejut saat melihat sesosok laki laki yang sedang duduk di sebuah kursi yang sedikit tersembunyi dan punggung yang bersandar ke tembok yang ada di dekatnya. “Kak Fairel” panggil Aneira saat ia mengenali Fairel yang ternyata juga ada di rooftop bersamanya. Fairel yang awalnya memejamkan matanya mau tak mau membuka matanya saat mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Memang sejak awal Fairel yang datang lebih dahulu daripada Aneira sudah sejak dua jam yang lalu Fairel dalam posisi duduk seperti ini, ia berusaha mengabaikan kedatangan seseorang yang menganggu ketenangannya tapi untunglah orang itu tidak banyak bicara hanya diam, maka dari itulah Fairel tak ingin mengusir orang itu yang tak lain adalah Aneira. “Kak ngapain disini?” tanya Aneira “Menurut lo gue ngapain?” tanya Fairel masih dengan mata terpejam Hanya dengan posisi itu entah kenapa Fairel terlihat sangat tampan aura ketampanannya berterbangan di terbang oleh angin yang menerpa wajahnya. Aneira yang gugup karena mengetahui fakta bahwa Fairel ada disini sejak tadi dan mendengar suara nyanyiannya. “Sejak kapan kakak disini?” “Sejak gue dengar suara nyanyian lo yang ngeganggu tidur gue” ucap Fairel yang berusaha menyembunyikan senyumnya, karena Fairel tak menyangka jika suara Aneira akan sebagus itu. Aneira bertambah malu dengan cepat dia mengambil ancang ancang untuk melarikan diri “Kalau gitu gue permisi kak” Aneira mengayunkan kakinya untuk melangkah tapi ucapan Fairel membuatnya berhenti. “Tunggu” Fairel kemudian membuka matanya lalu berdiri berjalan mendekati Aneira “Ngapain lo kesini?” sekarang giliran Fairel yang bertanya kepada Aneira “Karena gue suka rooftop” jawab Aneira cepat “Suka?” Aneira mengangguk membuat Fairel tertawa mendengar jawaban seorang Aneira “Nggak takut ketinggian lo?” “Nggak” jawab Aneira tanpa ragu “Dasar Aneh” Fairel mengusap puncak kepala Aneira yang membuat Aneira terlonjak kaget dan seketika mundur menjauhi Fairel, Fairel yang melihat itu segera menjauhkan tangannya dari puncak kepala Aneira. Fairel juga tidak tahu kenapa tiba tiba tangannya bisa bergerak ke sana. Fairel lalu berjalan menuju pagar pembatas meletakkan kedua tangannya “Sini” ajaknya kepada Aneira Entah apa yang merasuki aneira dengan cepat aneira melakukan apa yang diperintahkan Fairel dan berdiri tepat disamping Fairel. Beberapa saat mereka berdua terdiam “Kenapa lo nggak takut ketinggian?” tanya fairel masih menuntut jawaban karena menurutnya sangat aneh bila seorang perempuan tak takut akan ketinggian. “Karena gue suka ketinggian” “Kenapa?” “Gue ngerasa kalau gue sedang berada di ketinggian semua yang gue lihat menjadi kecil dunia yang luas terlihat amat sangat kecil, dan kita manusia bahkan tak terlihat bagaikan debu.” “Hanya itu?” Aneira menggeleng “Nggak hanya itu, dari ketinggian gue belajar bahwa kita ini bukan apa apa bahkan tanpa kita dunia ini akan berjalan sebagai mana mestinya, jadi untuk apa kita terlalu mencintai dunia sedangkan kita tak ada artinya bagi dunia, bukankah orang yang saling mencintai akan saling membutuhkan satu sama lain, kita sebagai manusia memang butuh dunia tapi dunia nggak butuh kita, jadi buat apa terlalu berlebihan sampai takut akan kematian.” Perkataan Aneira sukses membuat Fairel terdiam ia benar benar takjub dengan gadis di sampingnya ini, ucapannya benar benar membuat Fairel merasakan sebuah ketenangan dan diam diam perasaan hangat menjalari hatinya. Flashback end
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN