Divandra sangat senang akhirnya Fairel dan Aneira sudah bersamanya.
Divandra mengambil pengeras suara yang ada di hadapannya “Hai semuanya, pasti kalian bertanya tanya kenapa gue panggil dua orang yang ada di sebelah gue Kak Fairel dan Aneira untuk naik ke atas panggung” Divandra menjeda ucapannya membuat orang orang juga ikut penasaran akan apa alasan Divandra memilih Fairel dan Aneira.
“Karena pesta ini nggak bakalan ada kalau nggak ada dua orang ini, dua orang inilah yang berperan besar bagi kelancaran pesta ini tidak terkecuali kakak gue Kein. Mereka saling bekerja sama ngebantu gue yang banyak maunya ini, tapi herannya mereka selalu tahu apa yang gue inginkan. Terimakasih untuk semuanya gue bahagia punya kalian di samping gue, untuk Aneira tetap jadi sahabat gue apapun yang terjadi maafin gue selama ini banyak maunya dan Kak Fairel” Divandra kembali menghentikan kalimatnya bukan karena ia ingin tapi suaranya sudah serak karena menangis terharu mengingat apa yang dilakukan oleh orang yang disayanginya selama ini demi mewujudkan dream party miliknya.
“Dan untuk Kak Fairel terimakasih udah ngebantuin gue ngebujuk kak Kein yang super mageran untuk ngebantu adiknya, tanpa Kak Fairel mungkin kak Kein nggak akan seproduktif kemarin terimakasih untuk semua yang kalian lakukan, ma, pa, kak Kein, Ane, dan Kak Fairel terimakasih”
Kein, Divandra, dan Fairel ikut tersenyum mendengar ucapan terimakasih yang tulus dari seorang Divandra, mereka tak menyangka sebesar itu rasa terimakasih Divandra terhadap mereka padahal mereka merasa hanya membantu sedikit saja tapi Divandra sangat menghargai itu. Aneira memeluk Divandra dari samping ia tak dapat menahan air mata terharunya ia menepuk nepuk pundak Divandra yang dalam keadaan sama sepertinya kemudian keduanya saling bertatapan dan saling menertawakan diri mereka
“Lo jelek kalau nangis”
“Make up lo luntur”
Yang mendapat gelak tawa dari tamu undangan dan semuanya, kemudian Divandra lalu mengambil sepotong kue yang akan ia berikan kepada Fairel dan Aneira.
Divandra sengaja membedakan sendok yang ia gunakan antara Fairel dan Aneira, tidak mungkin ia menyamakannya bisa habis ia diamuk oleh Aneira dan juga Fairel.
“Baiklah ini saat yang kita tunggu tunggu suapan terakhir untuk mereka yang spesial beri tepuk tangan semuanya”
Divandra lalu menyendokkan sesendok kue kepada Aneira kemudian kepada Kein, tapi sebuah ide jahil terlintas di pikiran Divandra, Divandra mengambil krim putih yang ada di kuenya dengan jari telunjuknya lalu dengan cepat mengarahkannya kepada pipi Aneira dan sisanya kepada pipi Fairel.
Aneira dan Fairel yang terkejut dengan tindakan Divandra langsung berteriak memanggil namanya “Divandra”
Tepat disaat keduanya memanggil nama Divandra musik kembali berbunyi kencang, music kali ini berbeda dengan sebelumnya musik ini bisa membuat semua orang ikut menari mengikuti irama musik yang sedang diputar.
Membuat divandra tertawa terbahak bahak karena tindakannya kepada kedua orang itu, Fairel dan Aneira yang tahu bahwa mereka sedang dikerjai oleh Divandra saling menatap satu sama lain dan saling melemparkan senyuman, namun setelah sadar Aneira dengan cepat menghilangkan senyuman dari wajahnya, wajahnya kembali datar sama seperti sebelumnya, Aneira dengan cepat turun ke atas panggung karena tidak ingin melihat Fairel dan malu jika harus menari di atas panggung seperti apa yang dilakukan Divandra di atas sana.
Dengan cepat Aneira menuruni anak tangga dan berdiri di tempat sebelumnya, mengambil segelas air untuk menghilangkan rasa gugupnya. Setelah tenang Aneira mengutuki dirinya sendiri kenapa ia harus lari dari Fairel bukankah jika seperti itu akan terlihat jelas semuanya.
“Bodoh bodoh” ujar Aneira sambil memukul kepalanya pelan.
Tapi dengan cepat seseorang menahan tangannya, membuat Aneira mengadahkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang dengan lancing memegang tangannya.
“Lo bisa beneran bodoh kalau kek gitu” ujar orang itu yang tak lain adalah Fairel, Fairel mengikutinya sampai ke sini.
Aneira dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Fairel “Lepas” gerakan tiba tiba Aneira membuat Fairel yakin bahwa ada sesuatu yang salah dari Aneira.
Mereka berdua saling terdiam tanpa ada yang ingin bersuara, Aneira meneguk kembali minumannya membiarkan Fairel berdiri di hadapannya yang hanya memperhatikannya.
“Ada apa dengan Kak Fairel?” tanya Aneira dalam hati tak berani untuk mengutarakan apa yang ia pikirkan.
Aneira mencoba mengalihkan pandangannya dari wajah Fairel yang tepat berada satu garis lurus darinya
“Berhenti ngehindarin tatapan gue Nei” tembak Fairel langsung yang membuat Aneira hanya diam ketika Fairel tahu bahwa dirinya menghindari tatapan Fairel
“Gue nggak ngehindar kak” ujar Aneira berbohong sebisanya tapi tentu saja hal ini sangat diketahui oleh Fairel
“Jangan bohong, lo lihat gue” perintah Fairel tapi tak diindahkan oleh Aneira, seharusnya Aneira tak bersikap seperti ini Aneira seperti lupa akan dirinya, janji yang ia buat kepada dirinya sendiri agar tak terlibat lebih dalam mengenai Fairel cukup ia melakukan apa yang harus ia lakukan tapi mengapa melihat Fairel melindunginya seperti melihat sosok ayahnya.
Melihat Aneira yang tak mengindahkan perintahnya, Fairel dengan cepat menggenggam tangan Aneira yang bebas. Tindakan Fairel membuat Aneira terkejut “Lepas kak” ucap Aneira berusaha menarik tangannya
Tapi kali ini tak semudah tadi tenaga Fairel benas benar besar dibanding dirinya yang perempuan “Gue nggak akan ngelepasin tangan lo, sampai lo ngelihat gue”
Lama Aneira berfikir memutuskan apa yang harus ia lakukan dengan memantapkan hatinya ia melihat ke arah Fairel seperti apa yang diinginkan oleh Fairel.
Aneira bisa melihat bahwa luka di sudut bibir Fairel tampak mongering, kering dengan sendirinya tanpa perlu diobati ini semua berkat Sheerin perempuan masa lalu Fairel. Seharusnya Aneira tak boleh membenci Sheerin sebab Sheerinlah yang akan membantunya dalam menjalankan misinya. Tapi perasaan bodoh ini membuatnya merasakan perasaan iri kepada Sheerin.
“Tuhan, Aneira ingin melarikan diri saja” doanya dalam hati kepada tuhannya.
Fairel dan Aneira saling berpandangan dalam waktu yang lama merasakan gejolak perasaan antara keduanya. Entah gejolak karena mereka saling menyukai atau sebaliknya tak ada yang tahu selain diri mereka masing masing.
Fairel yang masih terus berkutat dengan masa lalunya dan
Aneira yang masih terus menyimpan dendam masa lalunya.
“Lepasin gue kak” ujar Aneira menagih janji Fairel yang akan melepaskan tangannya setelah Aneira berani menatapnya.
“Gue nggak akan ngelapasin lo” ucapan Fairel membuat Aneira terkejut sudah berulang kali Aneira terkejut dengan setiap apa yang diucapkan Fairel kepadanya.
Sekarang apalagi yang akan dilakukan Fairel, Aneira sudah cukup lelah akan semua ini.
***