"Ssst Al, tidur ya. Jangan nangis terus. Kasian Bunda baru tidur nanti kebangun lagi." Aku yang berdiri di ambang pintu sontak tersenyum tatkala menyaksikan dua manusia berbeda generasi yang tengah asik berbincang. Yang satunya bisa berbicara dengan lancar, sementara yang satunya lagi hanya bisa bergumam dan menangis. Isak tangis Al masih terdengar sayup-sayup olehku. Tapi perlahan isakan itu semakin hilang. Tampaknya ia sudah terlelap nyenyak di pangkuan ayahnya. Pemandangan dua pria yang sering berinteraksi ini bukanlah pemandangan yang baru bagiku. Mereka berdua seperti punya dunia mereka sendiri. Aku melangkah mendekat dan memeluk mas Panca dari belakang seraya menyandarkan kepalaku pada punggungnya. Bukan sekali dua kali ia yang lebih dulu terbangun saat malam hari daripada aku. T

