"Ra, Mas gak usah pergi aja ya?" Ini sudah kelima kalinya mas Panca mengatakan hal yang sama. Padahal jelas-jelas ia sangat dibutuhkan dalam meeting kali ini, tapi tetap saja ia enggan untuk pergi. "Lagian ada Bu Ani sama Pak Robi, aku gak sendirian loh di rumah." Aku merapikan kerah bajunya yang tak berbentuk. Karena malas pergi makanya dia jadi enggan berbenah. Disuruh mandi aja susahnya minta ampun. Berasa melihara bayi deh di rumah ini. "Kalau nanti kamu mau lahiran gimana? Mas gak mau ya kamu keburu lahiran sebelum Mas sampai. Awas kalau iya." Kontan saja tanganku menuju kearah lengannya untuk mencubitnya sekuat tenaga. "Sakit, Rainy!" ringisnya. "Emangnya aku bisa larang anak aku buat keluar? Mas aneh-aneh aja sih. Makanya cepat pergi. Makin lama kamu pergi makin lama juga balikny

