Livia mendengar bunyi pintu yang tertutup dan ia tersenyum kecewa. Ia berharap, sangat berharap sebenarnya kalau Raphael akan memaksa untuk tinggal dan membantunya. Tadi Livia tak tahu saat lelaki itu datang. Ia terhanyut dalam pikirannya sendiri. Dan saat ia mendengar suara Raphael, refleks badannya berputar cepat dan membuat sisi samping tubuhnya terjatuh ke depan. Lututnya kini berwarna merah, dan kulitnya mengelupas sedikit sewaktu mengeluarkan darah segar karna mengenai tepi bathtube. Menggigit bibir bawahnya, Livia berpegangan erat pada kaca, yang memisahkan bathtube dengan pancuran, sebelum akhirnya berhasil naik. Tangannya terulur mengambil handuk yang menggantung di tepi wastafel, sementara punggungnya membungkuk sedemikian rupa. Livia berhasil menarik ujungnya, melilitkan h

