Livia merasakan seluruh oksigen diraup paksa olehnya saat ia menatap wanita berambut merah yang kini berdiri di depan ruang depan. Terlebih saat ia melihat sosok Raphael yang terpaku menatapnya. Ingatan akan mimpinya kemarin seperti melompat keluar dalam dunia nyata. Livia menatap jelas dari kejauhan saat ia menyadari betapa miripnya ia dengan Penelope. Bagaikan kembar..hanya saja Penelope tidak memiliki rambut dan bola mata seperti dia. Livia menelan ludahnya ngeri saat tangannya terkepal erat. Sophie, yang saat itu sedang membereskan kamar pun ikut menjatuhkan sapunya sewaktu melihat sosok Penelope. Ia menyadari Livia yang berada di dekatnya, menatap wanita itu kosong. Tak ada yang menginginkan Penelope datang, tidak Livia, Rachel atau bahkan para pembantu. Tapi Livia tak tahu apakah

