Siapapun yang melihat Livia sekarang, akan merasa gadis itu boneka manusia yang dibuat sangat sempurna. Raphael duduk di pinggir kasur. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Livia adalah Penelope! Tapi semakin ia menatap Livia, keyakinannya tergoyah. Livia mau tertawa bersama para pelayan. Ia mau mendengar cerita para mereka. Dan Raphael tahu beberapa pelayan prianya menaruh hati pada Livia, tapi tak cukup berani mengatakannya. Lalu hari ini, badai hujan yang tiba-tiba datang di musim dingin membuatnya tambah bingung. Apalagi Livia seperti sangat syok, sangat terpukul. Raphael menggeleng kuat. Ini hanya kasihan! Hanya rasa tanggung jawab! Dengan lembut, ia memanggil nama Livia, tak ada respon. Lebih keras, juga tak ada respon. Raphae

