Rona mengerjapkan matanya beberapa kali sampai akhirnya dia bisa melihat dengan jelas. Sejenak perempuan itu merasa disorientasi dan hampir berteriak saat menyadari dia tidak tidur di kamarnya sendiri. Namun sedetik kemudian dia tersadar bahwa dia tidur di rumah Anya, tepatnya di kamar sahabatnya itu. Rona bangkit dari tidurnya. Sedikit menengok ke kanan dan kiri untuk melemaskan otot-otot lehernya. Memijat pelan bahunya yang terasa sakit. Berusaha mengingat-ingat kenapa bahunya bisa terasa sakit. Namun sampai dua menit dia merenung, tak ada jawaban dari semua itu. Apakah karena kemarin dia merasa tegang karena ketakutan sehingga sekarang tubuhnya merasa sakit semua? Rona melihat jam dinding kamar Anya sudah menunjukkan pukul lima pagi. Dia pun menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh

