Calon Pengasuh
Siang itu cuaca kampus cukup terasa terik. Namun sepertinya tidak berpengaruh untuk dua orang gadis yang sedang asyik duduk di bawah pohon Mangga seraya meminum es bubble di tangan masing-masing. Mereka asyik berghibah sambil menunggu jemputan pulang.
“Kamu tau gosip baru di kampus kita nggak, Na?” tanya gadis dengan potongan rambut sebahu dan mengenakan kaos berwarna cream. Wajahnya cantik, tapi sedikit terlihat jutek. Walaupun begitu, tidak menghilangkan kecantikan yang ada pada dirinya.
Rona menggeleng, masih asyik menyesap es bubble di tangannya.
“Si Dio yang nembak kamu minggu kemarin, besok mau nikah dong!” seru Anya heboh.
“Uhuk!!” Seketika Rona langsung tersedak mendengar ucapan Anya! Asem, sakit banget hidungnya. Gara-gara Dio sialan, dia jadi tersedak kan,? Untung saja dia sedang minum es saat tersedak tadi, gimana kalau dia lagi makan bakso super pedas kesukaannya? Membayangkannya saja Rona ngeri sendiri.
“Demi apa? Wah PK juga tuh cowok,” komentar Rona tak percaya. Penampilan sih baik-baik. Tapi kelakuan buaya darat.
“Dih ogah banget aku mau demi-demi buat dia, Na. Pokoknya yah untung aja kamu nggak terima itu playboy, gila aja udah diterima besoknya kamu ditinggal nikah sama dia,” cerocos Anya kesal. Gadis itu menyaksikan sendiri bagaimana gencarnya laki-laki bernama Dio itu mengejar cinta sahabat piyiknya, Rona. Yah, tidak bisa dipungkiri bahwa pesona seorang Arona Alaya bisa membuat kaum adam terpesona dibuatnya. Dengan rambut panjang bergelombang, kulit putih, wajahnya yang cantik dan mungil itu membuat siapa saja jatuh hati melihatnya. Setiap kali mereka jalan berdua, Rona menjadi pusat perhatian.
Dari mulai kirim surat, bunga, coklat sampai bikin baliho demi bisa menarik perhatian Rona, sudah Dio lakukan. Tapi mau bagaimana lagi, gadis cantik itu tidak tertarik sama sekali dengan Dio. Walaupun Dio tampan, Rona tidak tertarik sama sekali dengan laki-laki itu.
“Aku juga nggak suka sama dia, An. Kamu tau kan aku tuh suka sama Mas Kha-“
“Khafi Lazuardi Dinata,” potong Anya dengan tatapan mencibir, sementara Rona hanya terkekeh malu.
“Umur kalian tuh bedanya lumayan Na. Duda pula, yah walaupun Mas Khafi memang ganteng, sih. Tapi dia udah punya buntut juga, Na,” gerutu Anya yang tak habis pikir kenapa Ronanya yang cantik bisa jatuh hati pada sahabat kakaknya. Kenapa Rona tidak jatuh hati saja pada Mas Kaisar? Kakak laki-laki Anya yang tak kalah tampan dengan Mas Khafi. Dan yang terpenting adalah, Kakaknya yang masih single ting-ting juga seorang dokter.
“Nggak masalah, An. Aku bisa jadi ibu tiri yang baik, kok. Kamu tau sendiri sambilanku itu ngajar anak-anak di sekolah gratisnya Mbak Tiwi,” sahut Rona percaya diri.
Anya hanya bisa menghela nafas pelan. Menghadapi Rona memang perlu ekstra kesabaran. Rona adalah perempuan yang memiliki pendirian yang teguh. Dia pantang menyerah sebelum mencoba. Namun jika hasilnya tidak sesuai keinginan, Rona bisa seminggu mengurung diri di kamar dan menangis sampai matanya bengkak. Paling parah bisa masuk rumah sakit karena tidak mau makan dan tifusnya pun kambuh.
“Tapi masalahnya, kamu mau deketin Mas Khafi dengan cara apa? Kalian berdua tuh ketemu juga bisa dihitung,” tanya Anya kemudian.
“Iya juga yah, dia kan dokter anak. Kerjanya di rumah sakit, masa iya aku mau ngelamar kerja di rumah sakit? Pakai apa? Skripsi aja belum kelar- kelar,” sahut Rona lemas. Sepertinya dia harus mencari cara agar bisa mendekati duren -Duda Keren- satu itu. Dia tidak mau kisah cintanya karam sebelum berlayar. Boro- boro berlayar, naik kapalnya saja belum kesampaian.
“Ngelamar jadi office girl sana, baru deh bisa ketemu terus sama Mas Khafi,” ucap Anya asal.
Senyum cerah Rona langsung merekah mendengar saran Anya,”Daebak ! Keren, An. Ide kamu benar-benar keren. So, aku harus ngelamar jadi office girl nih di Rumah Sakit tempat Mas Khafi kerja? Kira-kira di sana lagi butuh office girl nggak, yah?” tanya Rona polos.
“Ya Allah Rona! Aku tuh asal nyeplos. Yang ada kamu bisa digantung sama Tante Meira kalau sampai anak bungsunya jadi office girl,” ucap Anya mengingatkan betapa galaknya ibu Rona. Anya menyesal sendiri karena tadi asal bicara. Kalau sampai itu terjadi dan Rona bilang pada Tante Meira itu adalah idenya. Hah...jangan harap Anya akan selamat. Tujuh hari tujuh malam dia pasti akan diceramahi terus oleh Tante Meira. Tante Meira itu sebenarnya baik dan ramah. Tapi semua akan langsung berubah kalau anaknya berbuat ulah.
“ Ck... aku lupa kalo ada kanjeng mama yang harus dilewati sebelum pertempuran dimulai. Kalau begitu ide jadi office girl harus dicoret dari daftarku. Nanti aku pikirin lagi deh gimana cara deketin Mas Khafi,” ucap Rona lalu mencoret rencana menjadi office girl dalam notebook kecil yang sering dibawanya. Melihat itu Anya bisa menggelengkan kepala. Bahkan Rona sudah mempersiapkan catatan untuk mendekati sahabat kakaknya itu. Wah, niat sekali gadis satu ini.
“Tin!Tin!”
Sebuah mobil SUV putih berhenti tak jauh dari tempat duduk keduanya. Sepertinya jemputan yang ditunggu-tunggu Anya dan Rona telah tiba.
“Tuh Mas Kaisar sudah datang, yuk!” ajak Anya menarik tangan Rona menuju mobil putih tersebut. Rona memilih duduk di belakang, sementara Anya langsung menarik pintu di samping kemudi.
“Mas Kaisar lama banget,” gerutu Anya setelah gadis itu mengenakan sabuk pengaman.
“Maaf, dek, tadi ada perlu sebentar dengan Khafi.” Kaisar mengelus-elus rambut Anya penuh rasa sayang. Menjelaskan mengapa dia bisa sampai terlambat. Rona terkadang suka merasa iri melihat kedekatan keduanya. Rona hanya memiliki satu saudara perempuan dan itupun sudah menikah. Jadi Rona tidak serumah lagi dengan kakak perempuannya.
Mendengar nama Khafi disebut Rona langsung memasang kedua telinganya baik-baik. Bahkan dia langsung menguncir rambut panjangnya agar pendengarannya tidak terhalang apapun. Memastikan tidak ada informasi yang terlewat mengenai Mas Khafi tersayangnya.
“Memang ada perlu apa sampai-sampai bikin aku nunggu sejam lebih,” tanya Anya tak terima.
“Khafi lagi cari baby sitter untuk Athar. Apalagi sebentar lagi Athar mau masuk play grup. Jadi Mas bantu cari, dan sempat dapat. Tapi Athar nggak suka,” jelas Kaisar dengan sabar.
Mendengar kata baby sitter membuat Rona tersenyum bahagia. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kalau sudah jodoh memang tidak kemana. Rona tak perlu lagi repot-repot memikirkan cara untuk mendekati Mas Khafi, lihat saja, ternyata Allah telah membukakan jalan untuknya. Memang yah, orang sabar itu selalu saja ada jalan. Sementara Anya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang terus saja tersenyum dari kaca mobil. Gadis itu sudah tau apa yang akan Rona lakukan setelah mendengar berita tadi. Senyum diwajahnya sudah menggambarkan dengan sangat jelas rencana gadis itu. Berteman sejak sekolah dasar membuat Anya mengetahui betul watak dan sifat Rona. Paling-paling nanti malam dia akan diberondong chat mengenai Mas Khafi.
...
Rona menatap rumah bergaya minimalis dua lantai yang ada di depannya. Rumah yang cukup megah. Menurut alamat yang diberikan Anya, rumah ini adalah rumah tempat Mas Khafi tinggal. Rumah itu terlihat sepi. Tetapi di depan garasi rumah tersebut, terparkir mobil hitam yang sepertinya adalah tamu rumah ini. Rona kemudian menekan bel yang menempel di tembok luar dekat pagar. Setelah tiga kali menekan bel, keluarlah seorang perempuan paruh baya yang menghampirinya.
“Cari siapa, Mbak?” tanya perempuan paruh baya itu ramah. Penampilannya terlihat bersih dan rapih.
“Saya mau melamar pekerjaan, Bu. Katanya Pak Khafi sedang cari baby sitter, yah?” tanya Rona dengan senyum ramahnya.
Perempuan itu memerhatikan sejenak penampilan Rona. Dia sedikit heran, perempuan secantik ini kenapa mau melamar kerja sebagai baby sitter? Bahkan menjadi artis saja sepertinya dia mampu dengan hanya mengandalkan wajah cantiknya.
“Ayo masuk dulu, Mbak. Kebetulan ada nyonya besar. Beliau yang akan memutuskan siapa nantinya yang akan menjadi pengasuhnya Den Athar, karena jujur, mbak orang kesepuluh yang melamar sebagai pengasuhnya Den Athar,” jelas perempuan paruh baya tersebut yang sepertinya merupakan asisten rumah tangga di rumah ini.
What? Apa yang tadi Ibu itu bilang? Kesepuluh? Wow...keren sekali. Baru mau menjadi pengasuh anaknya saja Rona sudah harus menyingkirkan sembilan orang perempuan. Apalagi jika dia harus menikah dengan Mas Khafi? Jangan –jangan dia harus menyingkirkan semua perempuan yang ada di dalam rumah sakit tempat Khafi bekerja. Wah ternyata perjuangannya masih sangat jauh.
Rona melangkah mengikuti asisten rumah tangga tersebut menuju pintu samping yang langsung menghubungkan dengan taman yang cukup luas. Terdapat gazebo dan juga kolam renang berukuran sedang. Taman itu terlihat asri dan juga cantik dengan penataan tumbuhan yang sedemikian rupa.
“Permisi Nyonya Besar, ada yang ingin bertemu,” ucap asisten rumah tangga itu.
“Siapa Bi Sumi? Saya sepertinya tidak ada janji dengan siapa-siapa,” sahut sang Nyonya Besar itu dengan suara yang ramah dan lembut. Rona sedikit merasa lega melihat bahwa calon mertuanya itu ternyata orang yang baik hati. Apa barusan dia bilang? Calon mertua? Hahaha...sepertinya penyakit halu Rona semakin menjadi-jadi. Bagaimana bisa dia langsung mengakui ibunya Mas Khafi sebagai calon mertuanya?
“Ada perempuan muda yang mau melamar kerja jadi pengasuh Den Athar, Nyonya,” Jawab asisten rumah tangga tersebut yang ternyata bernama Sumi.
“Suruh ke sini, Bi Sumi. Saya mau lihat orangnya,” perintah Nyonya Besar yang diangguki oleh Bi Sumi.
“Silahkan Mbak, Nyonya mau ketemu Mbak Rona,” Bi Sumi kemudian meninggalkan keduanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Rona tersenyum canggung berjalan mendekati perempuan paruh baya itu yang menyambutnya dengan senyum hangat.
“Silahkan duduk, Nak,” ucap Nyonya Besar tersebut ramah.
“Terimakasih Bu,” sahut Rona lalu duduk di kursi yang ada di hadapan calon mertua khayalannya.
“Panggil saja Tante Nadia,” potongnya cepat.
Rona mengangguk kikuk,”Eh... iya, Tante Nadia.”
“Boleh lihat CV kamu dulu?” tanya Tante Nadia saat melihat gadis itu sudah duduk di hadapannya.
Rona mengeluarkan map yang berisikan CV dirinya yang semalam diketiknya dengan penuh semangat. Untung saja, selama satu bulan ke depan mamanya tidak akan tinggal di rumah karena harus menemani kakak perempuannya yang baru saja seminggu yang lalu melahirkan keponakan pertamanya. Karena tinggal di kota yang berbeda, jadi ‘nenek baru’ itu masih ingin tinggal bersama cucu pertamanya.
Rona memerhatikan penampilan Tante Nadia. Walaupun sudah berumur, tetapi kecantikannya masih terlihat jelas. Tidak heran Mas Khafi memiliki wajah yang tampan, sementara mamanya saja cantik seperti ini. Ciri-ciri perempuan cantik dan elegan. Mulai dari tutur kata dan pembawaannya semua menunjukkan bahwa perempuan paruh baya itu berpendidikan tinggi. Apalagi penampilan Tante Nadia yang sudah berhijab. Menambah kesan hangat dan menenangkan bagi yang melihatnya.
Rona mengangguk,”Iya, Tante. Tiga bulan lagi genap dua puluh satu, Tan.”
“Kenapa kamu tertarik melamar jadi pengasuh cucu saya?” tanya Tante Nadia lagi.
“Karena saya suka anak Tante,” jawab Rona cepat. Namun sedetik kemudian Rona menyadari kebodohannya. Saking gugupnya dia sampai menjawab dari lubuk hatinya yang paling dalam. Jujur sekali kamu, Rona. Stupid!! Dumelnya dalam hati. Gadis itu tanpa sadar memukul pelan bibirnya. Menyalahkan kinerja mulutnya yang tidak bisa diajak kerja sama.
“Apa?!” tanya Tante Nadia tidak yakin dengan jawaban Rona.
“Ma...maksud saya, Saya suka dengan anak kecil tante. Biasanya saya mengajar di sekolah gratis di kampung dekat rumah sepupu saya, Tan. Ta.. tadi saya gugup jadi salah bicara,” jelas Rona dengan wajah bersemu merah. Ah memalukan sekali mulutnya ini. Jika saja Anya melihat kebodohannya, sudah pasti Anya akan tertawa paling keras.
Tante Nadia tersenyum geli melihat kepolosan gadis di depannya,”Kamu tau dari siapa kalau kami sedang membutuhkan jasa pengasuh?”
“Dari sahabat saya, Tante. Namanya Anya. Kakaknya Anya berteman dengan anak tante. Namanya Mas Kaisar. Jadi infonya saya dapatkan dari teman saya,” jawab Rona jujur. Tentu saja dia harus jujur soal ini. Kalau tidak, kemungkinan diterima dirinya akan semakin kecil jika tidak membawa nama Mas Kaisar. Apalagi dia kan tidak ada pengalaman sama sekali mengasuh balita.
“Ah... Kaisar. Saya kenal dengannya. Dia sahabat anak saya sejak SMA,” ucap Tante Nadia. Perempuan paruh baya itu tampak terdiam sejenak.” Sebenarnya saya mencari yang sudah berpengalaman di bidangnya. Karena kamu tau sendiri kan, mengurus balita itu tidak mudah. Dan sedangkan kamu, pengalaman kamu belum ada sama sekali.”
Mendengar hal itu membuat Rona seperti terhempas ke dasar jurang. Dia merasa kalah sebelum berperang. Tiba-tiba saja bayangan Anya yang tertawa bahagia melintas di pikirannya. Sahabatnya itu paling bahagia jika dirinya gagal mendekati Mas Khafi.Ck.. kenapa tidak Mas Khafi saja sih yang dia bayangkan. Kenapa malah sahabatnya yang menyebalkan itu yang ada di pikirannya. Rona hanya bisa menghela nafas pelan. Tangannya tanpa sadar memilin ujung kemeja yang dikenakannya saat ini. Haruskah perjuangannya berhenti sampai di sini? Bahkan dirinya belum melakukan serangan apapun.
“ Tetapi cucu saya itu sangat pemilih, dia tidak mau dipegang sembarang orang. Sudah banyak pengasuh yang ditolaknya. Jika kamu bisa mengambil simpatinya dan dia nyaman dengan kamu, mungkin saya akan pertimbangkan kamu untuk menjadi pengasuhnya dengan masa percobaan tiga bulan. Bagaimana ? ” lanjut Tante Nadia yang seketika membawa harapan baru untuk Rona.
Dengan bersemangat Rona langsung mengangguk. Raut sedihnya tadi sudah pergi entah kemana.”Saya mau, Tante. Setidaknya saya sudah mencoba sebisa saya, jika pun hasilnya ditolak, saya akan terima.”
Tante Nadia tersenyum lembut. Sebenarnya dia menyukai semangat gadis yang ada di hadapannya ini. Walaupun sebenarnya Tante Nadia merasa sedikit heran, mengapa gadis cantik di hadapannya ini mau melamar menjadi pengasuh.
“Ayo ikut saya ke dalam. Cucu saya ada di ruang bermainnya. Kamu hanya memiliki waktu tiga puluh menit untuk menarik perhatiannya,” ajak Tante Nadia masuk ke dalam rumah. Rona mengikutinya di belakang. Gadis itu berjalan seraya memerhatikan setiap sudut rumah. Terdapat foto berukuran besar yang terpajang di ruang tengah. Foto itu adalah foto Mas Khafi yang sedang menggendong seorang bayi di tangannya. Senyum bahagianya terpancar jelas. Rona tidak pernah melihat senyum lepas Mas Khafi yang terlihat seperti di foto itu. Karena selama dia bertemu dengan Mas Khafi. Hanya senyum simpul saja yang sering diperlihatkan dokter tampan itu.
Tante Nadia berhenti di depan pintu berwarna coklat yang bertuliskan ‘Play Room’. Kemudian membukanya dan menyuruh Rona untuk ikut masuk ke dalam. Rona melihat Athar yang sedang bermain dengan kereta apinya. Sebenarnya Rona sedikit gugup. Dia takut mendapat penolakan dari calon anak tirinya itu.
“Ayo...silahkan. Tante mengawasi dari sini saja,” ucap Tante Nadia memperbolehkan Rona untuk mendekati cucunya.
Rona mengangguk lalu berjalan pelan mendekati Athar yang masih asyik bermain dan belum menyadari kehadiran nenek dan calon pengasuhnya itu.
“Halo Athar... lagi main apa?” sapa Rona lembut seraya tersenyum kearah Athar.
Merasa namanya dipanggil, Athar membalikkan badannya. Dia menatap Rona dalam diam. Sementara gadis itu bingung sendiri karena Athar yang tidak menjawab sapaannya.
“Huaaa....Omaaaa!” tiba-tiba saja Athar menangis dan langsung berlari menuju Tante Nadia. Memeluk kaki perempuan paruh baya itu. Sementara Rona terpaku di tempatnya.
Apakah dia baru saja ditolak? Secepat itu? Bahkan belum ada satu menit dia menyapa calon anak tirinya.