“Kenapa nangis, Sayang?” tanya Tante Nadia lembut pada cucunya. Menghapus air mata yang membasahi pipi chubby Athar.
Sementara Rona merasa tidak enak hati karena telah membuat Athar menangis. Walaupun sebenarnya dia merasa tidak berbuat salah pada Athar.
“Maafin saya tante. Saya nggak bermaksud membuat membuat Athar menangis,” sesal Rona.
“Tante Lona nakal, Oma. Tante Lona nggak pakai gelang yang Athal kasih. Tante Lona ingkal janji,” jawab Athar dengan aksen cadelnya. Dia sudah berhenti menangis. Tetapi wajahnya masih terlihat kesal karena merasa Rona mengingkari janjinya.
Sementara Rona tercengang setelah mendengar apa yang Athar katakan. Ah... dia lupa memakai gelang dari batu alam yang diberikan Athar saat terkahir kali mereka berdua bertemu di rumah Anya.
“Maksud Athar gelang ini?” Rona mengeluarkan gelang batu alam dari saku tas kecil yang di bawanya. Tadi saat mandi Rona memang sengaja melepasnya dan menyimpannya di saku tas kecil yang biasa dia bawa saat bepergian, setelah itu dia lupa memakainya kembali. Hah.. hampir saja jantungnya copot karena reaksi berlebihan dari Athar. Dasar anak kecil. Ada saja kelakuannya yang bikin gemas.
Athar mengangguk pelan. Masih dengan bibir yang mencebik.
“Tadi tante lepas saat mandi, Sayang. Terus tante simpan di saku tas biar nggak hilang. Eh tante lupa pakai lagi karena terlalu bersemangat mau ketemu Athar ,”jelas Rona dengan sabar dan perlahan.
“Kilain tante buang,” ucap Athar sedih.
Rona kemudian menghampiri Athar. Dia berjongkok untuk mensejajarkan pandangannya.
“Nggak mungkin tante buang dong, Sayang. Kan ini hadiah dari Athar. Ini lihat... tante sudah pakai lagi, kan? Jangan sedih lagi yah,” bujuk Rona mengelus pucuk kepala Athar penuh rasa sayang. Menghapus sisa air mata bocah menggemaskan itu.
Sementara Tante Nadia yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepala. Dia pikir Athar tidak akan menyukai calon pengasuh barunya itu. Siapa sangka ternyata keduanya sudah saling kenal. Bahkan Athar sudah memberikan hadiah gelang batu alam yang dulu sempat diminta Athar darinya. Tante Nadia masih ingat jelas jawaban Athar saat dia menanyakan untuk siapa gelang itu dibelinya.
“Gelang itu buat siapa , Sayang?” tanya Tante Nadia saat keduanya sedang berada di toko pernak pernik di kota Banjarmasin.
“Buat tante Lona Oma. Tante Lona baik. Suka dongengin Athal di lumah Eyang Sinta," jawabnya polos.
“Tante Lona siapa, Sayang?”
“Temannya Tante Anya, loh Oma. Yang Cantik itu,” jelas Athar masih dengan kesibukannya memilih gelang.
Tante Nadia tertawa mendengar jawaban Athar mengenai visual Tante Lona yang katanya cantik. Masih kecil saja sudah bisa menilai penampilan orang.
Ternyata yang dimaksud cucunya dengan Tante Lona adalah Rona itu sendiri. Dia terkecoh karena aksen cadel Athar . Lona dan Rona adalah orang yang sama.
“Jadi... karena Athar sudah ada temannya, Oma tinggal boleh?” tanya Tante Nadia mengetes Athar. Biasanya jika sudah ada dirinya, Athar tidak mau bermain bersama pengasuhnya. Bocah itu akan selalu mengekori kemana neneknya pergi.
“Boleh Oma. Athal mau ajak Tante Lona lihat-lihat mainan Athal,” sahutnya bersemangat seakan lupa kalau baru saja Athar membuat drama di depan Rona.
“Saya tinggal yah Rona,” pamit Tante Nadia.
“Baik Tante,” sahutnya.
Sepeninggalan Tante Nadia, Athar langsung heboh memperlihatkan satu persatu mainan miliknya. Mulai dari Lego, sampai koleksi puzzle milik bocah menggemaskan itu. Selama lima belas menit berlalu, keduanya masih asyik bermain bersama dengan Athar yang masih antusias menjelaskan asal usul darimana mainan itu dia dapatkan.
“Ini Daddy yang beli waktu pelgi ke Jepang, Tante,” jelas Athar memperlihatkan Kokeshi atau boneka kayu khas Jepang pada Rona.
“Lucu banget. Gembul kayak Athar. “
“Gembul apa Tante?” tanya Athar bingung.
“Gembul itu artinya gemuk. Nih badan sama pipinya Athar gemuk bener. Bikin gemes tau, nggak,” jawab Rona seraya mencolek pipi Athar yang memang chubby.
“Tante main ke atas yuk, ke kamal Athal,” ajak Athar menarik tangan Rona agar bangun dari duduknya.
“Kita mau ngapain ke atas, Sayang? “ tanya Rona yang pasrah saja ditarik Athar menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
“Ambil mobil balu Athal. Semalam Daddy balu beliin,” jawab Athar dengan antusias. Bahkan Athar hampir saja tersandung tangga karena terlalu bersemangat bercerita sambil berjalan.
“Hati-hati Sayang naik tangganya,” ucap Rona memperingatkan. Rona tidak heran dengan energi seorang anak kecil seperti Athar. Di sekolah gratis yang diajarnya, semua anak kecil seumuran Athar berlarian kesana kemari di ruangan kelas. Mereka akan berhenti sendiri setelah lelah bermain. So, tinggal tunggu waktunya saja, maka sebentar lagi Athar akan habis energinya.
Sampai di lantai dua, Rona di sambut dengan ruang santai yang terlihat cozy. Terdapat sofa bed di depan TV, Sebuah meja kopi dan juga terdapat rak buku di sebelahnya. Kembali pandangan Rona terpaku pada foto berukuran 20 R yang memperlihatkan Khafi yang juga masih menggendong Athar yang masih bayi. Namun wajah Rona tiba-tiba saja berubah menjadi merah seperti kepiting rebus karena dalam foto tersebut Khafi hanya mengenakan celana panjang berwarna putih. Sementara laki-laki itu sedang duduk di sofa tanpa mengenakan pakaian dan sedang memeluk bayi Athar yang juga tidak mengenakan apa-apa. Sepertinya Khafi sedang melakukan bonding secara fisik pada Athar untuk pertama kalinya. Dan disana, roti sobek dokter tampan itu terlihat sangat jelas. Pantas saja foto itu diletakkan di lantai dua. Tapi jika nanti Rona menikah dengan Khafi , maka hal yang pertama akan dia lakukan adalah memindahkan foto itu ke ruang tidur mereka. Rona tidak ingin berbagi keindahan itu pada orang lain.
Ah ... Imajinasi yang terlalu berlebihan.
“Tante liat apa?” tanya Athar membuyarkan lamunan Rona.
“Eh foto bayi Athar lucu ya,” jawab Rona . dan foto daddy kamu hot banget lanjutnya dalam hati.
“Itu foto Athal waktu balu lahil. Yuk tante masuk ke kamal Athal,” ajaknya kembali menarik tangan Rona menuju ruangan dengan pintu bercat hitam.
“Tolong bukain pintunya Tante,” pinta Athar karena sepertinya Athar sedikit kesusahan membuka pintu tersebut.
“Cklek”
“Astagfirullah!” teriak Rona terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
“Brak!!” Refleks, Rona langsung menutup pintu tersebut dengan keras. Wajahnya sudah berubah menjadi kepiting rebus. Entah ini kesialan atau keberuntungan untuknya. Tetapi sebenarnya dia belum siap mental untuk melihat secara live roti sobek milik Khafi. Di ruangan tadi, Rona tanpa sengaja melihat Khafi yang keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk putih panjang selutut yang melingkar di pinggangnya.
Gadis itu langsung memilih duduk di sofa bed, mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah karena sekarang wajahnya terasa panas. Entah semerah apa sekarang wajahnya. Apa yang harus dia katakan kalau Khafi keluar nanti? Rona tidak tau sama sekali kalau ruangan itu adalah ruang tidur Khafi juga. Dia hanya mengikuti Athar.
Ahhhh...Ronaaa... kamu lancang banget masuk kamar laki-laki! Mana lagi nggak pake baju lagi orangnya. Mau ditaruh mana muka kamu?! Dumel Rona.
“Tante kenapa? Tante sakit? Muka tante melah,” tanya Athar terlihat khawatir.
“Nggak, Sayang. Tante cuma-“
“Kamu siapa?” tiba-tiba saja suara berat bertanya padanya. Rona langsung bangun dari duduknya. Gadis itu membalikkan badan kemudian menundukkan wajahnya.
“Ma-maaf Mas. Tadi saya nggak tau kalau ada Mas Khafi di dalam,” jelas Rona dengan wajah yang kembali bersemu merah.
“Ini Tante Lona, Daddy,” celetuk Athar tiba-tiba.
“Lona?”Dahi Khafi mengerut, mencoba mengingat pemilik nama tersebut,” Ah kamu temannya Anya?” tanyanya kemudian.
“Iya, Mas. Saya temannya Anya, Anya adiknya Mas Kaisar,” jawab Rona pelan. Kembali wajahnya bersemu merah.
“Ada perlu apa kamu datang ke sini?”
“Rona sekarang adalah pengasuh Athar yang baru, Nak. “ Tiba-tiba saja Tante Nadia muncul dari arah tangga.
“Pengasuh Athar yang baru?” tanyanya bingung. Bukankah mamanya mengatakan tadi pagi calon pengasuh anaknya yang baru adalah wanita berumur empat puluhan. Tetapi kenapa yang ada di hadapannya adalah seorang gadis?
“Iya. Ibu Dini didiskualifikasi sama anak kamu, dia nggak mau didekati sedikit pun. Untung saja siang tadi Rona datang melamar. Mama nggak tau ternyata Lona dan Rona adalah orang yang sama yang sering Athar ceritakan sama Mama. Jadi mulai besok Rona akan menjaga Athar selama kamu kerja,” jelas Tante Nadia panjang lebar.
Apa tadi kata tante Nadia? Besok aku sudah mulai kerja? Jadi aku diterima kerja jadi pengasuhnya Athar?Alhamdulillah Ya Allah, jalan menuju calon suami sebentar lagi.
“Kalau Athar suka, Khafi nggak ada masalah. Yang terpenting adalah Athar merasa nyaman dengan pengasuhnya.”
“Tante Lona boleh nginap di sini Daddy?” tanya Athar yang ternyata sejak tadi memerhatikan pembicaraan ketiga orang dewasa di hadapannya.
“Ee...Coba Athar tanya sama Oma,” Sahut Khafi.
“Boleh Oma?” tanya Athar dengan wajah lugunya.
Tante Nadia tersenyum lembut, mengelus pucuk kepala cucu tersayangnya,”Nanti Oma tanya sama Tante Rona dulu ya. Sekarang Athar sama Daddy dulu. Oma mau bicara berdua sama Tante Rona,” sahut Tante Nadia yang kemudian menggandeng lembut tangan Rona menuju lantai dasar. Sementara gadis itu masih tertunduk malu, tidak berani menatap wajah Khafi. Dia masih membayangkan bagaimana kejadian di kamar tadi bisa terjadi. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal itu. Ah Rona...please, jangan ingat-ingat lagi kejadian itu. Malu-maluin aja tau nggak!
*
“Gimana hasilnya?” tanya Anya penasaran saat Rona baru saja tiba di rumah gadis itu.
“Ten – “
“Nggak usah dijawab. Senyum kamu itu sudah menggambarkan semuanya,” potong Anya sebal. Rona hanya cengar cengir mendengar ucapan Anya. Terlihat jelaskan kebahagiaan di wajahnya?
“Gimana yah, An. Aku kan nggak nyangka bakal semudah ini prosesnya. Kamu tau? Besok aku udah mulai kerja dong," ucap Rona sombong.
“Semudah itu? Nggak kaget juga sih, kamu kan dari awal ketemu anaknya selalu deketin Athar terus, kan?”
“Enak aja, Atharnya memang suka sama aku dari pertama lihat kok. Jangan pura-pura amnesia yah? pas Athar bilang kalo mau didongengin terus sama aku, kamu ada disana,” jawab Rona tidak terima. Yah walaupun memang niat awalnya dia ingin mendekati Athar karena ayahnya. Tetapi karena tingkah lucu dan menggemaskan bocah itu membuat Rona jatuh hati padanya. Termasuk kebiasaan drama anak itu.
“Yah...yah... whatever you said. Jadi jadwal kerja kamu hari apa aja?”
“Senin sampai Sabtu. Tapi aku bilang nggak bisa menginap. Cuma kalau ada urgent nanti ku usahakan. Misal Khafi keluar kota, mau nggak mau aku harus menginap kalau Tante Nadia nggak bisa menemani Athar.”
“Jadi kamu sudah ketemu Tante Nadia?”
“Sudah. Calon mertua idaman banget memang Tante Nadia itu. Oh iya, aku tuh masih penasaran. Khafi itu kenapa bisa jadi duda? Istrinya meninggal? Atau dia cerai?” tanya Rona penasaran.
“Cerai. Dulu itu Mas Khafi dijodohkan oleh papanya sejak SMA. Anak dari salah satu kolega papanya. Terus mereka akhirnya menikah. Tetapi ternyata mantan istri Mas Khafi ini dari dulu nggak mencintai Mas Khafi. Dia melakukan semua itu demi uang. Karena kalau perjodohan ini batal. Dia bakal didepak dari rumah. Dan setauku sih mereka nggak cocok terus cerai. Lebih detailnya cuma Mas Kaisar yang tahu,” jelas Anya panjang lebar.
Mendengar cerita Anya, Rona merasa kasihan pada Athar. Seharusnya anak seumuran Athar didampingi oleh ibunya. Tetapi karena keegoisan wanita itu, Athar lah yang menjadi korban. Tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Untung saja ada sang nenek yang selalu memastikan kebahagiaan anak itu. Tenang Sayang, Mommy Rona akan selalu menyayangi Athar, apapun yang terjadi. Tunggu Tante Rona sah jadi Mommy Athar yah, Sayang.
“Sayang banget laki-laki tampan kayak Mas Khafi harus disia-siakan. Padahal aku dengan senang hati aku akan menyambutnya dengan tangan terbuka,” ucap Rona seraya merentangkan kedua tangannya. Yang kemudian langsung di pukul oleh Anya.
“Plak!”
“Aduh! Sakit Anya, kamu kalau mukul kok kayak orang dendam gitu sih?” gerutu Rona mengelus-elus tangannya yang tadi di pukul Anya. Tuh kan, merah.
“Kebanyakan ngayal. Jangan tinggi-tinggi kalau menghayal tuh, kalau jatuh pasti sakitnya sampai ke pembuluh darah. “ Ucap Anya mengingatkan.
“Siap, Bu Guru. Rona akan selalu mengingat nasehat dari Bu Guru Anya yang cantik tapi galak,” gurau Rona memeluk sahabatnya itu erat-erat.
“Nggak usah merayu. Pokoknya kalau sampai dia bikin kamu kecewa. Kamu harus cepat-cepat jaga jarak. Awas kalau ada apa-apa nggak cerita,” ancam Anya galak.
“Siap Bu Guru. Bu Guru Anya cukup doakan semoga semua planning Rona berjalan dengan lancar, tanpa ada duri yang menghalangi.”
*
Pagi –pagi sekali Rona sudah tiba di rumah Khafi. Gadis itu mengenakan dress motif bunga-bunga yang membuatnya semakin cantik. Dia memang tidak mengenakan seragam baby sitter pada umumnya. Tante Nadia melarangnya mengenakan pakaian tersebut. Rona boleh mengenakan pakaian apapun, asal rapih dan terlihat sopan. Rona sendiri tidak tau alasannya mengapa Tante Nadia melarangnya. Yang jelas gadis itu menerimanya dengan senang hati. Jadi suatu saat nanti dirinya jalan bertiga dengan Khafi dan Athar, orang- orang tidak akan mengira dirinya adalah seorang pengasuh Athar.
“Pagi Bi Sumi, Atharnya sudah bangun?” sapa Rona ramah ketika gadis itu sudah memasuki ruang tamu.
“Kurang tau Mbak Rona, Soalnya biasanya kalau sudah bangun Den Athar langsung ke bawah untuk sarapan,” sahut Bi Sumi seraya mengelap meja ruang tamu.
“Saya tunggu di sini saja deh, Bi,” Ucap Rona setelah mendengar Athar masih berada di lantai atas. Dia tidak ingin mempermalukan diri untuk kedua kalinya.
“Kata Nyonya Besar, Mbak Rona yang harus membangunkan Den Athar mulai sekarang. “
Rona menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Kebiasaannya jika sedang bingung Rona akan menggaruk pelipisnya,”Saya nggak enak, Bi. Athar kan sekamar dengan Khafi.”
“Loh kata siapa? Den Athar punya kamar sendiri, Mbak. Kamarnya persis di sebelah kamar Pak Khafi.”
“ Tapi Kemarin—“
Stop, Rona! Kamu nggak mungkin kan menceritakan hal memalukan kemarin ke orang lain. Cukup kamu saja yang tau hal memalukan itu terjadi.
“Kemarin kenapa, Mbak?” tanya Bi Sumi penasaran.
“Eh kemarin kata Athar kamarnya Mas Khafi adalah kamarnya juga,” jawab Rona cepat. Dia tidak berbohong. Kemarin Athar memang mengatakan bahwa kamar dengan pintu berwarna hitam itu adalah kamarnya.
“Oh, mungkin karena terkadang Den Athar suka tidur dengan Pak Khafi jadi mungkin Den Athar menganggap kamar itu adalah kamarnya juga, Mbak. Tapi semalam Nyonya bilang kalau mulai hari ini Den Athar tidur di kamarnya, jadi Mbak Rona nggak perlu sungkan buat bangunin Den Athar,” Jelas Bi Sumi panjang lebar.
“Oke, Bi. Kalau gitu Rona langsung ke atas saja buat bangunin Athar,” ucap Rona akhirnya. Tak ada pilihan lain. Ini adalah tugasnya sebagai pengasuh untuk membangunkan Athar. So, Rona. Be prepare yourself, semoga kamu nggak bertemu dengan Mas Khafi lebih dulu sebelum hatimu siap lahir dan batin. Yah walaupun kemungkinan besar itu bisa terjadi. Setidaknya dia harus berdoa lebih dulu kan?