Manusia hanya bisa berencana dan berdoa, selebihnya keputusan ada di tangan Allah. Dan itulah yang terjadi dengan Rona saat ini. Bagaimana pun dia berusaha menghindar, suatu saat pasti dia akan berpapasan juga dengan ayahnya Athar. Seperti saat ini. Gadis itu masih membantu Athar mengenakan kemeja. Sementara Khafi sedang duduk di sofa bed dan terlihat sibuk dengan berkas di tangannya. Untung saja Athar adalah anak yang penurut dan patuh pada Rona. Sehingga gadis itu tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengurusnya. Bahkan mulut kecilnya tidak berhenti membicarakan apa saja yang menurutnya menarik.
Hari ini adalah hari dimana Athar mengikuti Trial School di salah satu Play group yang sudah ditentukan Khafi. Setelah survey dari beberapa Play group, ini adalah trial kedua yang diikuti oleh Athar. Dan juga akan menjadi keputusan Khafi untuk memilih Play group yang cocok dengan Athar dengan mempertimbangkan beberapa poin penting tentunya.
“Sudah siap?” Tanya Khafi setelah Athar menghabiskan sarapannya. Hari ini Athar lebih memilih sarapan dengan sereal dan s**u.
“Sudah Mas. Ayo Sayang kita berangkat,” ajak Rona menggandeng tangan mungil Athar menuju garasi mobil.
Setelah membantu Athar duduk dalam car seatnya,Rona kemudian beranjak menuju pintu samping mobil dimana Athar duduk. Namun suara bariton Khafi menghentikan langkahnya.
“Kamu mau kemana? Duduk di depan. Saya bukan supir, Rona. Duduk di samping saya,” perintah Khafi datar. Tanpa penolakan, gadis itu pun langsung duduk di samping Khafi. Bukankah ini yang dia inginkan? Berdekatan dengan dokter tampan itu. Tapi kenapa rasanya masih terasa canggung? Apakah karena kejadian roti sobek kemarin? Atau karena Rona yang baru pertama kali duduk di samping Khafi?
“Nggak perlu merasa canggung. Anggap saja kemarin tidak terjadi apa-apa,” ucap Khafi yang malah semakin membuat wajah Rona bersemu merah. Kenapa di saat sedang berdekatan seperti ini laki-laki itu malah membahasnya?
“I-iya, Mas?” jawab Rona singkat. Dia tidak bisa mengatakan hal lain selain kata iya. Mana mungkin kan dia bilang,’Nggak bisa gitu dong, Mas. Karena roti sobek Khafi itu, Rona nggak bisa tidur semalaman. Rona kena serangan Insomnia dadakan. Seharusnya Khafi tanggung jawab.’ Cari mati namanya jika kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Selama perjalanan menuju sekolah Athar, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Tidak ada obrolan yang terjadi antara Khafi dan Rona. Hanya sesekali suara Athar yang terdengar karena menanyakan sesuatu yang dilihatnya dari kaca mobil. Setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai di play group yang dituju. Rona langsung turun dari mobil untuk bergegas membantu Athar melepaskan sealtbeltnya.
Gedung sekolah itu cukup besar untuk ukuran Play group dan TK. Untuk gedung Taman kanak-kanaknya pun di pisah. Gedung A khusus murid play group, sementara Gedung B untuk murid TK. Rona mengikuti Khafi yang kini menuntun putra semata wayangnya itu. Terlihat jelas laki-laki itu sangat menyayangi Athar. Wajahnya akan berubah lembut jika sudah berhadapan dengan Athar. Tidak ada raut datar dan dingin yang biasa dia tampakkan. Hanya ada senyum hangat yang terlihat.
Setelah bertemu dengan teacher dan menanyakan beberapa hal mengenai Trial School, Athar kemudian dibawa ke ruangan kelas yang di dalamnya terdapat kurang lebih ada sepuluh orang anak. Dengan satu teacher, assisten teacher dan juga assisten pembantu. Sementara semua orang tua atau wali diperbolehkan menunggu di luar untuk melihat interaksi anaknya masing-masing dari dinding yang terbuat dari kaca khusus. Dari dalam terlihat gelap, sementara dari luar terlihat jelas.
Trial School berlangsung selama tiga jam dengan setengah jam dipotong waktu istirahat. Selama jam istirahat anak-anak diperbolehkan makan snack dan buah yang sudah dipersiapkan oleh masing-masing orang tua. Rona juga sebelum berangkat tadi sudah menyiapkan makanan dalam wadah kotak bekal yang sudah dipersiapkan Bi Sumi. Gadis itu hanya menata dalam kotak bekal milik Athar. Athar yang keluar dari ruang kelas langsung tersenyum bahagia melihat ayahnya yang masih setia menunggu.
“Daddy nggak kelja?” tanya Athar seraya duduk dipangkuan sang ayah.
“Daddy kan lagi nungguin Athar sekolah. Gimana? Seru sekolah di sini?” Tanya Khafi. Dengan lembut laki-laki itu mengelap titik-titik keringat disekitaran dahi Athar dengan sapu tangannya. Tadi beberapa kali Athar terlihat antusias saat disuruh bernyanyi. Dia bahkan melompat-lompat karena senang saat ditunjuk oleh sang guru.
“Seneng. Tadi ada temen balu, Dad. Namanya Wili,” cerita Athar.
“Oh ya? Sekarang Athar sudah punya teman baru juga? Hebat banget anak Daddy,” puji Khafi seraya tersenyum bangga.
“Iya, dong. Tante Lona tadi bilang, kalau ada teman balu halus diajak kenalan,iya kan , Tante?” Athar menatap Rona dengan senyum bangganya.
Sementara Rona yang diam saja sejak tadi, karena menyaksikan interaksi manis antara Khafi dan Athar , tergagap dibuatnya karena pertanyaan Athar yang tiba-tiba. Padahal dia sedang terpesona dengan duda tampan di hadapannya.
“Ah...iya, Sayang. Kalau ingin berteman, harus kenalan dulu,” ucap Rona canggung karena Khafi yang ikut menatapnya.
“Yuk, pulang. Sudah siang, Athar harus pulang ke rumah. Dan Daddy harus kembali ke rumah sakit karena sudah ada janji dengan pasien Daddy.” Khafi kemudian membawa Athar ke dalam gendongannya. Bocah berumur tiga setengah tahun itu sudah terlihat lelah, jadi dia lebih baik menggendongnya karena jarak ruang kelas dan parkiran yang lumayan cukup jauh. Sementara Rona berjalan di sampingnya dengan membawa ransel motif Tayo milik Athar.
...
“Kamu lagi ngapain?” tanya Anya saat Rona sedang duduk di sofa bed, di kamar milik Athar. Setelah makan siang dan sholat berjamaah dengan ayahnya. Bocah menggemaskan itu pun mengeluh mengantuk dan tak berapa lama tertidur setelah Rona membacakan cerita tentang Nabi Ismail. Sebenarnya tadi Rona cukup kecewa karena tidak bisa sholat berjamaah dengan calon imam masa depannya. Dia sedang berhalangan. Padahal sholat berjamaah dengan keduanya adalah kejadian yang langka. Tapi apa mau dikata, dia memang sedang tidak bisa melaksanakan kewajibannya itu.
Rona semakin dibuat jatuh hati oleh duda tampan itu, karena ternyata selain tampan, pintar dan ayah yang baik, Khafi juga adalah seorang muslim yang taat. Rona menyaksikan sendiri bagaimana telatennya Khafi mengajarkan sholat sejak dini pada Athar. Dilihat dari gerakan Athar yang tertib, terlihat jelas bahwa laki-laki itu sering mengajak anaknya sholat berjamaah. Nikmat TuhanMu yang mana lagi yang kau dustakan, Rona?
“Lagi telponan,” sahutnya ringan.
“Aku juga tau! Maksudnya sebelum aku nelpon, Oneng!” gerutu Anya kesal.
“Oh. Hehehe, Jangan marah-marah terus, Anya. Cepet tua, nanti. Habis dongengin Athar. Terus sekarang dia sudah tidur. Jadi aku cuma duduk-duduk aja. Why? Kangen yah nggak ada yang bisa diajak nongkrong lagi,” goda Rona. Karena biasanya kalau sedang tidak ada kegiatan, Anya akan menculik Rona dan membawanya untuk nongkrong di Cafe Gelato langganan keduanya.
“Iya. Kapan kamu pulang? Aku mau minta temenin cari kado buat ulang tahun ponakan,” tanya Anya.
“Jam empat sore. Setelah Mas Khafi pulang dari rumah sakit. Gimana? Kesorean, nggak ?” Rona balik bertanya.
“Nggak. Nanti sekalian makan sore aja. Aku yang traktir. Kita makan fast food aja yah. Udah lama nggak makan ayam crispy nih.”
“Boleh. Kamu bawa mobil atau naik ojek online ?” Tanya Rona.
“Bawa mobil. Kebetulan ada mobil Mas Kaisar di rumah. Tadi siang Mas Kaisar dijemput calon masa depan kamu. Jadi dia nggak bawa mobil,” jawab Anya menekan kata calon masa depan kamu. Sudah pasti Rona langsung berbunga-bunga dia mengatakan hal itu.
“Hehehe, tau nggak sih, An. Ternyata Mas Khafi itu calon imam yang sholeh rupanya. Aku nggak nyangka kalau dia rajin sholat berjamaah bareng Athar pas lagi di rumah. Ah...suamiable banget nggak sih?” See, Benar kan tebakan Anya.
“Iya, Bucin. Aku juga tau. Kalau ke sini hari Jum’at, Mas Khafi suka ngajak Mas Kaisar Jum’atan di Masjid kompleks. Telat banget taunya situ,” komentar Anya.
“Yah, kan namanya juga baru pendekatan, An. Otomatis aku baru tau dong kebiasaan doi apa aja," sanggah Rona langsung. Dari mana Rona bisa tahu kebiasaan Khafi jika ia sendiri jarang bertemu dengan Khafi. Untuk itu karena sekarang Rona sudah bekerja di rumah Khafi, ia akan menggunakan kesempatan yang ada untuk mendekati Khafi dan mencari tau kebiasaan laki-laki itu.
“Emang sudah sampai mana pendekatan kamu ke Mas Khafi?” Tanya Anya penasaran.
“Belum sampai mana-mana. Ngobrol aja kami nggak pernah,” jawab Rona lesu. Pulang dari sekolah tadi pun keduanya kembali bungkam. Tidak ada obrolan yang tercipta. Bahkan Khafi tidak mau berbasa - basi menanyakan asal usul Rona atau bahkan sekedar menanyakan dimana dirinya tinggal pun tidak.
“Khafi itu kan emang sedikit kaku kalau sama orang baru, Na. Jadi ya kamu harus sabar kalau mau deketin dia. Tapi kalau sudah kenal, dia suka bercanda tuh sama aku dan Mas Kaisar. Tunggu waktu aja kayaknya,” hibur Anya. Dia tidak mau sahabatnya itu menjadi patah semangat hanya karena hal sepele seperti itu.
“Benar. Lagian aku juga baru satu hari kerja di sini.”
“Betul. Slow but sure aja , Na. Pelan tapi pasti kalau tipe-tipe laki-laki macem Khafi. Jangan agresif. Yang ada nanti dia malah kabur,” saran Anya.
“Iya. Lagian mana berani aku agresif, An. Kalau udah ditatap Khafi tuh aku langsung panas dingin,” ucap Rona yang langsung disambut tawa Anya. Ah...sahabatnya yang polos tapi demen duda ini memang lucu. Baru ditatap saja sudah panas dingin. Apalagi dicium? Pingsan langsung mungkin.
“Belajar berani, Na. Kalau ngobrol jangan nunduk-nunduk. Mana bisa dia lihat wajah cantik kamu. Jangan gugup juga. Ingat, harus berani, kalau nggak kamu nggak bakal bisa deketin Mas Khafi.”
“Masalahnya, ada kejadian memalukan yang terjadi sebelumnya, Anya! Aku sampai nggak bisa tidur,” keluh Rona akhirnya membuka aibnya sendiri pada sahabatnya itu. Memang hanya Anyalah tempat Rona berkeluh kesah. Tong sampah favoritnya.
“Kejadian memalukan apa? Kok kamu baru cerita?”
“Jadi...”
Kemudian Rona mulai menceritakan kejadian yang terjadi kemarin siang pada Anya dari awal sampai akhir. Tanpa ada yang dikurangi atau ditambahkan. Dan reaksi Anya langsung membuat Rona kesal sekali pada gadis itu. Anya tertawa keras sekali, sampai-sampai gadis itu harus menjauhkan ponselnya dari telinga gadis itu.
“HAHA, Ya Allah, Rona. Kamu-”
“Terusin aja ketawanya, An. Anggap aku nggak ada,” gerutu Rona kesal mendengar tawa Anya yang cukup keras.
“Hahaha, Sorry, Na. Abisnya kamu kok bisa masuk kamarnya Mas Khafi, sih?”
“Kan aku sudah bilang tadi. Aku nggak tau kalau kamar itu kamar Khafi. Athar yang bilang itu kamarnya. Mungkin karena dia juga suka tidur di situ. Makanya dia bilang itu kamarnya juga. Waktu itu kami berdua cuma mau ambil mainan Athar, “ jawab Rona menahan kesal karena harus menjelaskan kembali penyebab kejadian memalukan itu bisa terjadi.
“Jadi...gimana pendapat kamu soal roti sobeknya Khafi?” goda Anya kemudian yang langsung membuat wajah Rona kembali memerah.
“Stop! Gara-gara itu aku jadi nggak bisa mandang dia kalo ketemu, An. Malu banget pokoknya.”
“Khafi nggak pernah bahas kejadian itu?” tanya Anya penasaran.
Rona langsung menggeleng. Tetapi setelah menyadari kalau mereka berdua sedang tidak bertatap muka, Rona langsung menjawab tidak.
“Bagus dong. Mungkin dia juga tau kamu nggak sengaja. Dan karena takut kamu malu. Akhirnya dia nggak ngebahas lagi kejadian itu.”
“Bisa jadi. Kalau menurut aku—“
“Tante!” panggil Athar tiba-tiba.
Rona menoleh kearah Athar dan melihat anak itu sedang mengucek-ucek matanya. Sepertinya Athar terbangun karena mendengar suara Rona. “An, udah dulu, ya. Athar kebangun. Nanti sore kita lanjut lagi.” Rona kemudian memutuskan panggilannya. Dia segera beranjak mendekati Athar yang masih terlihat mengantuk.
“Kenapa, Sayang?” Tanya Rona lembut membelai rambut Athar dengan sayang.
“Bobo sini, temenin Athal bobo,” ajaknya menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya yang kosong. Rona melirik jam dinding yang menempel di dinding kamar Athar. Ternyata Athar baru tertidur selama setengah jam. Mungkin dia terbangun karena suara Rona yang mengobrol dengan Anya tadi. Tante Nadia mengatakan bahwa setidaknya Athar harus tidur siang minimal satu jam setiap harinya. Dengan senang hati Rona pun naik ke atas tempat tidur untuk menemani calon anak tirinya itu kembali tidur siang. Dan tidak butuh waktu lama keduanya sudah terbang ke alam mimpi.