Siapa Dia?

2189 Kata
“Sudah mau pulang, Ra?” tegur sebuah suara berat yang membuat Rona tersentak kaget saat gadis itu baru saja menutup pintu kamar Athar. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat Mas Khafi sedang duduk di sofa bed ruang tengah seraya melepas sepatunya. Rona mengangguk.”Iya, Mas. Sudah sore. Athar juga sudah selesai mandi dan sholat Ashar. Tinggal menunggu makan sore yang sedang Bi Sumi siapkan.” “Kamu pulang naik apa?” tanya Mas Khafi yang kini menatap dirinya. Ditatap oleh laki-laki yang disukainya membuat Rona jadi salah tingkah. “Anya yang jemput, Mas. Kami berdua ada janji,” sahut Rona. Mas Khafi mengangguk mengerti,”Ya sudah hati-hati, Ra.” Ucap Mas Khafi kemudian masuk ke dalam kamar. “Iya, Mas,” Sementara Rona masih tersenyum – senyum sendiri di tempat. Dia tidak menyangka sama sekali Mas Khafi akan menyapanya. Yah walaupun itu hanya sekedar basa-basi. Tetap saja Rona merasa sangat senang. Oh iya tadi Mas Khafi memanggilnya apa? Ra? Dia tidak salah dengar kan? Bukankah seharusnya dia dipanggil dengan panggilan ‘Ro’alih-alih ‘Ra’. Apakah itu panggilan kesayangan untuknya? Seperti kedua orang tuanya yang lebih senang memanggilnya dengan nama Ara. Boleh kan kalau dia berharap sedikit? Drrrt...Drrtt... Getaran ponsel miliknya menyadarkan Rona dari kehaluannya. Gadis itu bergegas turun ke lantai bawah karena Anya sudah menunggunya di depan gerbang. “Bi Sumi, Rona pulang dulu, yah. Assalamu’alaikum,” pamit Rona saat berpapasan dengan Bi Sumi. Tak lupa dia mencium punggung tangan Bi Sumi. “Wa'alaikumsalam, Mbk. Hati-hati,” pesan Bi Sumi. “Iya, Bi.” Rona berlari-lari kecil menuju pintu gerbang, tidak ingin Anya mengomel karena menunggunya terlalu lama. Benar saja, gadis itu sudah berdiri di samping mobilnya yang terparkir di depan pintu gerbang. “Sorry, lama, An. Yuk! ” Rona langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi. “Ada apa dengan wajah itu? Bahagia banget kayaknya,” komentar Anya sambil mengendarai mobilnya. Sesekali matanya melirik Rona yang masih memasang senyum bahagianya. “Nggak ada apa-apa, kan kita mau makan Gelato. Kamu tau sendiri aku suka banget sama Gelato. Sudah berapa bulan kita nggak kesana, kan?” ucap Rona beralasan. Dia malas menceritakan kejadian tadi karena Rona tidak ingin Anya meledeknya kembali. Cukup kemarin saja dia keceplosan dengan kejadian tentang roti sobek Mas Khafi. Butuh waktu setengah jam untuk keduanya sampai di Cafe Gelato. Anya dan Rona langsung memilih duduk di tempat biasa. Dekat kaca jendela besar yang bisa melihat pemandangan jalan depan Cafe tersebut. Suasana Cafe Gelato sore itu cukup ramai. Selain desain interiornya yang instagramable. Rasa Gelato di Cafe ini juga sangat enak. Favorit Rona dan Anya adalah rasa Hazelnut dan Matcha. “Jadi kamu mau beli hadiah apa buat keponakan kamu?” tanya Rona seraya menikmati Gelatonya. “Rencananya boneka. Cuma dia juga ada request barbie limited edition itu,” sahut Anya. “Berarti kita harus ke toko boneka dong. Kayaknya dekat-dekat sini ada toko mainan yang besar deh, An. Yang dekat Kampus kita itu loh,” ucap Rona disela-sela dia menikmati gelatonya. “Ah iya. Aku baru ingat. Yaudah abis makan nanti kita langsung ke sana aja yah. “ “Sip. Memang acaranya kapan?” tanya Rona. “Minggu depan. Kamu mau ikut, nggak? Nemenin aku kesana,” ajak Anya. Rona menggeleng pelan.”Aku nggak kenal sama sepupu kamu. Males, ah.” “Kamu kenal, kok, Na. Ini anaknya Mbak Intan. Kalian pernah ketemu di pesta ulang tahun aku yang ke dua puluh kemarin.” Rona berusaha mengingat wajah sepupu Anya tersebut. Butuh waktu beberapa detik barulah Rona mengingat wajah perempuan cantik yang sudah memiliki dua anak tersebut. “Aku baru inget. Yang anaknya cantik kayak barbie itu, kan? Siapa namanya? Bel—“ “Bella.” Potong Anya. “Ah iya. Bella, jadi besok ulang tahun yang ke berapa?” “Empat tahun. Jadi gimana? Mau kan nemenin aku, Na. Please...” rayu Anya. “ Insya Allah. Semoga minggu aku nggak ada kerjaan. Jadi aku bisa nemenin kamu ke pesta,” ucap Rona akhirnya. Dia mana bisa menolak ajakan Anya yang selalu mengandalkan wajah imutnya itu. Padahal gadis itu selalu bermuka jutek. Tapi di depan Rona, sisi keimutannya selalu dia keluarkan tanpa gadis itu sadari. “Rona memang the best. Jangan cepet-cepet nikah, yah. Tungguin aku ketemu jodohku baru kamu boleh nikah duluan,” ucap Anya tak rela jika sahabat terbaiknya menikah dan jadi tidak ada waktu lagi untuknya. “Heh, doa’nya. Walaupun aku udah nikah. Insya Allah kita tetap bakal sahabatan An.” “Hahaha, yaudah aku ubah doanya. Semoga Mas Khafi segera melamar Arona Alaya,” ucap Anya berdoa sambil tertawa geli. “Aamiin Ya Allah,” sahut Rona dengan semangat. Selesai makan keduanya akhirnya menuju toko mainan yang Rona sebutkan tadi. Suasana Toko Mainan tersebut cukup ramai. Rata – rata pengunjung adalah sepasang suami istri beserta anaknya. Setelah bertanya kepada salah satu pegawai, akhirnya keduanya sampai di bagian etalase yang memajang macam-macam boneka barbie. Anya dan Rona sampai terpesona melihat boneka-boneka cantik berbagai versi tersebut. “Kalau aja aku masih kecil. Kayaknya aku bakal khilaf borong semua boneka barbie ini. Soalnya lucu-lucu dan cantik semua ya, Na,” ucap Anya memilah-milah boneka mana yang akan dia pilih untuk kado ponakan cantiknya. “Bener, An. Lihat tuh yang satu set sama rumahnya. Cantik banget. Mana ada yang sepasang dan punya anak. Tuh, boneka aja ada pasangannya, An. Kita?” “Hahaha, mulai baper. Sabar lah. Kan kamu sudah ada target. Lah aku bel—“ “An, itu Mas Khafi bukan sih?” tiba-tiba saja Rona memotong ucapan Anya. Perempuan itu menunjuk seorang laki-laki yang mengenakan kemeja coklat. Di sampingnya berdiri seorang perempuan yang mengenakan hijab. “Kayaknya sih, iya. Tapi Mas Khafi sama siapa yah itu? Mukanya nggak kelihatan soalnya,” sahut Anya penasaran. “Jangan bilang itu pacarnya Mas Khafi, An. Aku belum siap patah hati soalnya,” ucap Rona terdengar sedih. “Kayaknya bukan deh, Na. Soalnya Mas Kaisar nggak pernah bahas pacar kalau ketemu sama Mas Khafi,” sangkal Anya. Sebenarnya dia juga tidak yakin. Tetapi Anya tidak ingin Rona terlihat sedih. Selama belum ada kepastian mengenai perempuan berhijab tersebut. Anya tidak mau mengakui bahwa Mas Khafi sudah memiliki pasangan. “Cantik yah, An. Kayak boneka,” ucap Rona lirih saat perempuan itu berbalik menghadap ke arah mereka berdua. “ Mirip Luna Maya versi hijab. Tapi tenang aja, Na. Tuh liat aja, Mas Khafi nggak pegang-pegang tangan si mbaknya. Kamu jangan kecewa dulu. Siapa tau itu perempuan saudaranya Mas Khafi,” hibur Anya agar sahabatnya tidak negatif thinking duluan. “Saudara dari mana coba, An. Mas Khafi itu matanya sipit. Sementara si mbaknya kebule-bulean,” gerutu Rona terdengar kesal. “Tapi kan mereka berdua nggak gandengan tangan, An. Kalau mereka pacaran, pasti si perempuan sudah gelayutan di lengan Mas Khafi,” sangkal Anya yakin. Kenapa dia sekarang malah mendukung Rona mendekati Mas Khafi sih? Bukannya seharusnya dia senang kalau Mas Khafi sudah memiliki kekasih? Dia kan bisa melancarkan aksinya menjodohkan Rona dengan kakak tersayangnya, Mas Kaisar. “Iya juga, sih. Yaudah cepetan kamu pilih boneka yang mana. Kita harus ikutin mereka berdua, An. Aku penasaran banget habis ini mereka mau kemana,” ucap Rona buru-buru. Akhirnya pilihan Anya jatuh pada boneka barbie beserta rumahnya. Karena ukurannya yang besar, akhirnya pegawai toko tersebut yang membawakan mainan yang sebelumnya sudah di bungkus kertas kado itu masuk ke dalam bagasi mobil. “Cepetan, An. Mereka berdua udah masuk mobil, tuh,” ucap Rona setelah memakai sabuk pengamannya. Anya pun bergegas menyalakan mesin mobil dan mulai mengendarai mobil tersebut mengikuti mobil SUV berwarna navy milik Mas Khafi. Keduanya tampak fokus melihat kemana mobil itu berjalan. Rona bahkan terlihat gelisah di samping Anya. Setengah jam berkendara, akhirnya mobil milik Mas Khafi berhenti di sebuah perumahan mewah yang cukup jauh dari tempat tinggal laki-laki tersebut. Anya sengaja menjaga jarak sejauh lima belas meter dari mobil SUV tersebut. Dia pun langsung mematikan mesin kendaraannya. Tak lama keduanya turun dari mobil. Keduanya tampak berbicara sebentar, kemudian sang perempuan masuk ke dalam rumah, sementara Mas Khafi masuk ke dalam mobilnya. Tak berapa lama mobil tersebut pun bergerak menjauh meninggalkan rumah tersebut. “Kalau dari gerak-geriknya sih mereka cuma kolega, Na. Jangan khawatir, Mas Khafi masih available.” Suara Anya memecah kesunyian. “Semoga aja, An. Entah kenapa aku punya perasaan nggak enak sama perempuan itu soalnya.” “Wajar. Naluri seorang perempuan itu kalau gebetannya didekati perempuan lain pasti bakal muncul. Besok aku bakal cari info ke Mas Kaisar deh soal perempuan itu, gimana? Biar kamu bisa tidur nyenyak malam ini,” ucap Anya menenangkan sahabatnya. Anya tidak tega melihat wajah cantik Rona yang sedih dan kecewa. Jadi sebisa mungkin dia akan membantu Rona. Tetapi jika hasilnya seperti yang tidak diharapkan. Maka planning kedua dia adalah tetap menjodohkan Rona dengan Mas Kaisar. “Ah Anyaaa.” Rona langsung memeluk Anya kuat-kuat. Perempuan itu bahkan sampai terbatuk-batuk. “Lepas Rona! “ teriak Anya.”Kamu mau bunuh aku, ya?” gerutunya kesal. Sementara Rona hanya terkekeh pelan. Tidak merasa bersalah sama sekali. Rona senang sekali memiliki sahabat seperti Anya yang selalu siap sedia menolong dirinya. Ah, andai saja Rona jatuh cintanya kepada Mas Kaisar. Sudah pasti ikatan persaudaraannya dengan Anya akan semakin kuat. Tapi apa mau dikata? Rona malah jatuh hati pada sahabatnya Mas Kaisar. * “Sedang menunggu siapa, dik? Anaknya ya?” sapa seorang perempuan cantik berhijab krem yang duduk tak jauh dari Rona. Perempuan berambut hitam panjang itu sedang menunggu Athar yang sedang sekolah. Setelah memilah-milah dengan cermat. Akhirnya Mas Athar memilih Little Panda sebagai sekolah Athar. Selain fasilitasnya lengkap, semua pengajar di sana berkompeten dan juga memiliki sertifikat yang sudah terakreditasi. Satu kelas hanya diisi sebanyak sepuluh murid. Dengan dua teacher dan satu assisten teacher. Rona tidak perlu menyiapkan makan siang karena semuanya sudah difasilitasi oleh sekolah. Menu makanannya pun di masak oleh chef senior dan juga diawasi oleh ahli gizi yang berpengalaman di bidangnya. “ Ah...bukan, Mbak. Saya menunggu anak asuh saya,” sahut Rona tersenyum ramah. Dahi perempuan cantik itu mengernyit.”Maaf, mbak. Maksudnya mbak ini baby sitternya salah satu murid di sini?” tanya terdengar tidak percaya. Rona mengangguk,”Iya, Mbak.” “Tapi...penampilan mbak nggak memperlihatkan mbak seperti seorang baby sitter. Biasanya baby sitter memakai seragam seperti yang ada di sebelah sana,” tunjuk perempuan tersebut pada kursi panjang yang diduduki beberapa orang baby sitter yang sedang mengobrol. “ Dan mbak terlalu cantik untuk seorang baby sitter,” lanjutnya dengan suara lirih. “Saya memang tidak –“ “Untuk itu Jeng harus hati-hati dengan baby sitter jaman sekarang. Yang mereka incar bukan hanya uang, Jeng. Tapi juga suami majikannya,” sahut salah satu perempuan dengan memakai baju yang terlihat mencolok. Penampilannya seperti toko perhiasan berjalan. Norak sekali. Rona yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas pelan. Padahal belum ada sehari dia menunggui Athar di sekolah. Ada saja perempuan yang mencibir dirinya. Padahal mereka semua belum tau situasinya seperti apa. Yang dia incar adalah laki-laki single tanpa istri. Namun menurutnya itu tidak penting. Mereka semua hanya orang lain yang tidak berarti di hidup Rona. Jadi Rona memutuskan untuk mengabaikan keduanya. “Jangan bicara seperti itu, Bu. Nggak baik. Apa salahnya kalau dia nggak pakai seragam pengasuh ? Mungkin kebijakan dari majikannya yang tidak mempermasalahkan baju yang dikenakannya. Lalu kenapa kalau dia cantik? Memang tidak boleh baby sitter cantik? Ingat ya ibu-ibu, perselingkuhan itu terjadi karena ada timbal baliknya. Ada feedback dari masing-masing pelaku. Kalau salah satunya menolak, Insya Allah nggak akan terjadi yang namanya perselingkuhan,” tiba-tiba saja seorang perempuan manis dengan hijab yang cukup lebar berbicara. Perempuan itu menepuk bahu Rona pelan, seolah mengatakan abaikan semua ucapan orang-orang yang menggunjingnya. Rona pun membalas senyum hangat perempuan manis tersebut. “Yuk kita pindah ke sana saja,” ajak perempuan itu menggandeng tangan Rona ke salah satu kursi panjang di sudut ruangan. Dari sana mereka masih tetap bisa mengawasi kegiatan di dalam kelas. “Makasih yah, mbak sudah membela saya,” ucap Rona berterima kasih. “Jangan sungkan begitu. Aku paling nggak suka sama tukang ngejudge. Mereka berdua kan baru kenal kamu. Tapi lagaknya sudah kenal saja. Oh iya, nama kamu siapa?” “Rona, Mbak. Kalau Mbak siapa namanya?” tanya Rona. “Aku Mutia. Panggil saja Mbak Tia.” “Oke, Mbak Tia. Thanks buat yang tadi,” ucap Rona sekali lagi. “Jangan dengerin kalau ada yang bilangin kamu seperti tadi. Anggap saja angin lalu,” saran Tia. “Iya, Mbak. Aku juga males meladeni mereka. Lagian mereka kan nggak kenal siapa aku.” Mbak Tia mengangguk setuju,”Benar. Kamu kan kerja sama duda. Bukan sama suami orang. Jadi siapa yang mau kamu rebut, kan Khafi memang masih single. Kamu dekati pun wajar. Apalagi kalau Khafinya suka juga sama kamu. Itu wajar-wajar saja,” ucap Tia membuat Rona terkejut. Bagaimana Mbak Tia bisa tau mengenai Mas Khafi? “Mbak Tia kenal dengan Mas Khafi?” tanya Rona menatap wajah Tia. Mencermati apakah ada kemiripan antara keduanya. Tapi Rona tidak melihat kemiripan di sana. Wajah Tia lebih kearab-araban. “Tentu saja kenal. Saya kan kakak sepupunya,” sahut Tia ramah. “Siapa, Mbak? Sepupu Mas Khafi?” Seru Rona dengan wajah terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN