Sepupu Khafi

1635 Kata
“Maaf sebelumnya. Tapi...kalian berdua nggak mirip sama sekali,” ucap Rona bingung. “Oh, mungkin karena kakek saya menikah dengan nenek saya yang berdarah arab. Sementara Kakeknya Khafi menikahi Nenek Meilan yang berdarah Tionghoa. Kami berdua sepupu karena kakek kami kakak adik,” jelas Tia. “Oh pantas saja. Kalian berdua kontras sekali,” ucap Rona tertawa pelan. “Kalau kamu ikut acara keluarga kami, kamu akan lihat perbedaanya. Bahkan ada yang berkulit gelap karena para tante atau paman kami menikahi warga Afrika. Tapi bukankah semuanya sama di mata Allah? Fisik manusia tetap sempurna di mata Allah apapun bentuknya. Karena Allah pun mengakui makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna adalah manusia.” “Benar, Mbak.Tapi terkadang manusia lupa akan hal itu. Masih banyak sebagian memandang dari segi fisik,” timpal Rona. “Begitulah, manusia. Oh iya, gimana kerja dengan Khafi? Apa dia masih irit bicara?” tanya Tia Penasaran. Rona mengangguk.”Masih, Mbak. Mas Khafi kan memang pendiam orangnya.” “ Dulu dia sebenarnya ramah. Tapi semenjak bercerai dia jadi berubah. Lupakan soal Khafi . Kamu bagaimana bisa jadi pengasuhnya Athar ? Karena setau saya Athar itu pemilih sekali orangnya. Dia tidak mudah akrab dengan orang lain.” “Saya sebelumnya sudah mengenal Athar , Mbak. Kakak laki-laki sahabat saya berteman dengan Mas Khafi dan sering membawa Athar ke rumahnya. Disana saya pun mulai dekat dengan Athar.” “Pantas saja Athar tidak menangis. Semoga kamu betah ya kerja dengan Khafi. Karena mencari pengasuh yang cocok untuk Athar lumayan susah.” “Aamiin.Saya juga sudah sayang dengan Athar, Mbak. Menurut saya dia anak yang sopan dan cerdas juga menggemaskan,” sahut Rona. “Syukurlah. Saya senang mendengarnya. Semoga kamu betah bekerja dengan Khafi ya Rona. Kalau butuh bantuan, kamu bisa hubungi saya. Berapa nomer telpon kamu? “ tanya Tia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang dibawanya. Rona pun mulai menyebutkan nomer telponnya. Setelah itu tak lama ada pesan masuk di ponselnya. “Itu nomer saya,” ucap Tia. Rona kemudian langsung menyimpan nomer Tia di ponselnya. “ Sepertinya anak-anak sudah selesai kelas melukisnya. Yuk samperin dulu, takut pada nyariin,” ajak Tia mendekati kelas anaknya yang juga kebetulan satu kelas dengan Athar. “Tante!” panggil Athar. Dan benar saja, Athar sudah berlari keluar kelas menghampirinya dengan kertas lukis yang ada di tangan kirinya. Rona tersenyum hangat menyambut kedatangan Athar. Sementara di belakang Athar seorang anak seusianya dengan wajah kearab-araban ikut berlari. “Ummi!” teriaknya. “Sudah selesai kelasnya, sayang?” tanya Rona mengelus rambut hitam legam milik Athar. Persis dengan rambut Khafi yang juga hitam legam. Entah karena keturunan atau karena perawatan. “Sudah Tante. Liat tante, Athal lukis apa?” tanya Athar menunjukkan maha karyanya dengan bangga. Rona menahan senyum melihat hasil lukisan abstrak milik Athar. “Wah, lukisan Athar bagus sekali sayang. Athar melukis apa itu?” tanya Rona balik. Tak lupa dia memberikan pujian untuk Athar, karena menurut buku parenting yang dibacanya,setiap kali anak melakukan hal yang positif harus diberikan apresiasi agar dia merasa percaya diri, dihargai dan dilindungi. Pujian juga merupakan salah satu cara orang tua untuk membangun self esteem ( harga diri ) anak. Namun perlu diingat juga, tidak perlu memuji anak dengan berlebihan. “ Gajah. Gajah kan besal,” sahut Athar dengan gerakan tangan membentuk lingkaran besar. Tia dan Rona tertawa melihatnya. “Kalau Ayub? Ayub lukis apa, Nak?” giliran Tia bertanya pada anaknya. “Semut ummi, semutnya banyak,” sahut Ayub memperlihatkan gambar abstrak dengan titik-titik berwarna hitam dan merah. “Wah bagus sekali gambar semutnya. Semut hitam dan merah ya, Nak? Seperti yang ada di kebun Opa kemarin?” Tanya Tia lembut seraya menatap wajah Ayub penuh rasa sayang. “Iya, Ummi. Besok ke rumah Opa lagi boleh?” “Boleh. Tapi hari ahad ya, Sayang. Biar kita sama-sama bisa ke rumah Opa bareng Abi dan Kak Syafa,” sahut Tia masih dengan nada penuh kelembutan. “Oke, Ummi,” ucap Ayub. Rona yang memerhatikan interaksi ibu dan anaknya di depannya itu dibuat terpukau. Rona merasa kagum dengan cara Tia berinteraksi dengan anaknya. Setiap tutur katanya mengandung kelembutan dan kasih sayang. Dan Rona berharap semoga dia juga bisa melakukan hal yang sama terhadap anaknya kelak. Rona memang menyukai anak kecil. Untuk itu, walaupun dia belum menikah, tetapi Rona selalu rajin membaca buku dan artikel mengenai dunia parenting. Setidaknya dia memiliki bekal di saat menikah nanti. “Sudah waktunya istirahat, kita ke kantin, yuk,” ajak Tia menggandeng tangan Ayub. Rona pun langsung menggandeng tangan Athar mengikuti langkah Tia menuju kantin sekolah. * “Kenapa itu wajah manyun gitu ?” tanya Anya diseberang layar. Malam ini keduanya tidak bisa bertemu, jadi Anya memutuskan untuk melakukan panggilan video pada Rona. Namun saat panggilannya tersambung, dia disambut dengan wajah Rona yang terlihat tidak bersemangat. Hal itu membuat Anya penasaran apa yang tengah terjadi pada sahabatnya. “Lagi bete Anya,” sahut Rona meremas bantal guling yang dipeluknya. “Why ? Mas Khafi?” tanya Anya seraya mengunyah buah Apel ditangannya. Rona mengangguk, namun sedetik kemudian dia menggeleng. Melihat hal itu membuat Anya berdecak kesal. Dasar nona ababil. “Ck! Jadi yang benar yang mana, Rona? Jangan kayak anak SMP deh!” komentar Anya gemas. “Ya karna jawabannya memang seperti itu. Menurut kamu, memang baby sitter itu nggak boleh good looking ?” tanya Rona. “Ya boleh-boleh saja. Memang ada undang-undang yang melarang pekerjaan pengasuh nggak boleh cantik? Nggak , kan? Lagipula wajah cantik itu kan anugerah. Masa mau ditolak, sih? Nggak bersyukur itu namanya, Ra,” sahut Anya. “Kamu kenapa tanya hal ini? Jangan bilang di sekolah tadi ada yang gosipin kamu karena kamu cantik tapi kerjaan kamu jadi baby sitter?” tembak Anya langsung. Anya dan instingnya yang kuat memang tidak dapat dipisahkan. Rona mengangguk pelan menjawab pertanyaan Anya. " Jangan hiraukan, Na. Emak- emak kan memang tukang ghibah. Memang salah kita kalau terlahir cantik? Nggak kan? Lagipula kalau mereka bilangin kamu jadi WIL. Ingat, yang kamu dekati itu laki-laki single. Bukan suami orang," jelas Anya panjang lebar. Sementara Rona sedikit tidak mengerti dengan kata WIL yang diucapkan sahabatnya itu. Terkadang berbicara dengan Anya harus memeras sedikit otaknya jika perempuan itu sudah menggunakan istilah-istilah aneh yang entah didapatnya dari mana. "Apa itu WIL ?" tanya Rona tidak mengerti. "Wanita Idaman Lain, Rona. Masa' singkatan kayak gini saja kamu nggak tau?" sewot Anya. Rona mengangkat kedua bahunya."Aku kan memang nggak tau. Kamus aku nggak mencakup hal-hal unik kayak yang kamu bilang barusan." "Yah, anak baik kayak kamu memang harusnya nggak perlu tau bahasa aneh kayak tadi. By the way, terus kelanjutannya gimana? Kamu diam saja dighibahin secara live tadi pagi?" "Aku dibelain sama Mbak Tia, An. Dan kamu tau nggak siapa Mba Tia?" Anya menggeleng."Nggak tau. Kan kamu baru saja cerita, Na." "Kakak sepupunya Mas Khafi." "What?! Kok bisa? Anaknya juga sekolah di sana?" "Iya. Ya Allah, Anya. Selain cantik , Mbak Tia juga baik banget. Dia bela aku terus ajak aku pergi dari tempat itu. Terus kami ngobrol sebentar dan bertukar nomor telpon," cerita Rona dengan raut bahagia. Sepertinya Tia meninggalkan kesan yang baik untuk Rona. Melihat dari raut wajah Rona yang terlihat senang . Melihat hal itu Anya merasa lega. Setidaknya ada orang baik hati yang membela Rona disaat dirinya tidak berada di dekat sahabatnya itu. " Terus kamu cerita kalau kamu sedang dekati sepupunya?" "Mana berani aku, An. Rahasia ini cukup kita berdua yang tau. Oh iya, gimana soal kemarin malam ? Kamu sudah tanya Mas Kaisar soal perempuan yang pergi bareng Mas Khafi?" tanya Rona penasaran. "Mas Kaisar belum pulang ke rumah. Kemarin dia keluar kota karena ada seminar di salah satu kampus di Jogja. Mungkin lusa baru bisa pulang. Kamu tenang saja, selama janur kuning belum melengkung, Mas Khafi masih available, kok, Na," hibur Anya. "Walaupun janur kuning belum melengkung tapi kalau keduanya ada hubungan, aku nggak mau jadi orang ketiga, Na. Aku bakal mundur. Aku nggak mau jadi perusak hubungan orang. Karena aku percaya, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai nantinya." Inilah sahabatnya. Rona adalah perempuan baik yang terkadang membuat Anya sedikit cemas akan kepolosan perempuan itu. Oleh karena itu Anya awalnya Anya bersikeras untuk menjodohkannya dengan Kaisar karena menurutnya keduanya memiliki sifat yang mirip. Selain sabar, keduanya juga memiliki sifat penyayang. Ah, dia pasti sangat bahagia jika hal itu terjadi. Tapi cinta tidak bisa dipaksakan. Rona lebih memilih jatuh cinta pada sahabat kakaknya. Dan sebagai sahabat yang baik, Anya sebisa mungkin memberikan support untuk sahabatnya itu. "Maaf Ibu guru Rona. Anya salah, pelajaran hari ini adalah kita tidak boleh merebut milik orang lain. Noted," ucap Anya kemudian. Rona mengacungkan jempolnya ke layar ponselnya."Good. Itu baru Anyanya Rona. " "Rumah sepi, Na ? Tante Meira belum pulang dari rumah kakak kamu?" Rona menggeleng,"Kalau bisa nanti saja pulangnya, An. Misiku baru saja dimulai. Kalau nyonya besar tau, bisa berabe. Susah bujuknya soalnya," sahut Rona. "Memang Om Fajar nggak tanya kamu setiap hari pergi keluar?" "Papa sudah tau aku kerja jadi baby sitter. Awalnya beliau sempat heran, kenapa aku mau saja jadi pengasuh. Bahkan papa menawarkanku magang di kantornya , takut aku bakal kecapean. Karena menurut Papa menjadi pengasuh itu bukan pekerjaan mudah." "Terus kenapa akhirnya Om Fajar setuju? kamu bilang apa?" tanya Anya penasaran. " Karena Athar menggemaskan. Kamu tau kan papaku juga suka anak-anak. Jadi aku kasih lihat saja video-video menggemaskan Athar. Dan papa langsung jatuh hati. Malah papa kapan-kapan mau ketemu dengan Athar. Gimana kalau beneran Athar jadi cucunya coba?" "Tapi kan harus seleksi nyonya besar juga Rona. Nyonya besar lebih menyeramkan dibandingkan tuan besar." "Ah, iya. Aku lupa fakta itu," ucap Rona dengan wajah pasrah. Melihat raut wajah Rona yang berubah, Anya hanya bisa tertawa melihatnya. Memang ibu sahabatnya itu sedikit lebih keras dibandingkan sang ayah. Yah, semoga saja Tante Meira mau menerima keadaan Mas Khafi jika memang keduanya berjodoh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN