Makan Siang Bersama

2147 Kata
“Tante! Tante Lona!” Panggil Athar “Apa sayang?” sahut Rona masih menggandeng tangan Athar berjalan menuju mobil jemputan mereka. “Athal mau makan sup bakso. Tante bisa masak?” tanya Athar mendongak menatap Rona. “Bisa. Athar mau dimasakin sup bakso sama tante?” tanya Rona balik menatap Athar. Athar mengangguk antusias. Siang tadi disekolah Athar mendengar percakapan teman-temannya mengenai ibu mereka yang selalu memasakkan makanan untuk mereka. Teman-temannya pun bebas memilih menu apa yang akan mereka makan untuk makan siang ataupun makan malam. Athar yang selama ini tidak pernah dimasakkan makanan oleh ibunya merasa iri. Jangankan dimasakkan, bertemu saja keduanya hanya beberapa kali. Ibunya terlalu sibuk dengan urusannya sehingga jarang mengunjunginya. Bersyukurlah Athar memiliki ayah yang begitu perhatian, sehingga dia tidak kekurangan kasih sayang. “Campul sosis boleh tante?” tanya Athar tersenyum bahagia. “Boleh dong, Sayang. Nanti kita mampir ke mini market sebentar yah buat beli bahannya. Takutnya di rumah Athar nggak ada bahannya. Oke?” “Oke, Tante. Pak Asep nanti mampil-” “Pakai tolong dong, sayang bilangnya. Coba ulangi lagi,” ucap Rona mengoreksi kalimat Athar. Mulai sekarang Rona harus memberikan contoh yang baik bagi Athar. Dimulai dengan kata tolong jika ingin memerintah para pekerja di rumahnya. “Pak Asep nanti tolong mampil ke mini malket dulu yah,” ucap Athar sambil menatap Rona yang mengacungkan jempol untuknya. Tanda bahwa kali ini ucapannya benar. “Siap, Den Kecil,” sahut Pak Asep, supir pribadi Athar. Setelah membenarkan letak car seat milik Athar. Rona pun duduk di samping Athar. “Tolong mampir ke mini market pinggir jalan saja ya, Pak. Biar nggak perlu putar jalur ” ucap Rona menambahkan. “Baik, Bu,” sahut Pak Asep. Sepuluh menit kemudian mobil yang dikendarai Pak Asep berhenti di sebuah mini market di kiri jalan. Athar dan Rona kemudian turun dari mobil berjalan menuju mini market. Keduanya lalu masuk ke dalam mini market dan di sambut ramah oleh pegawai mini market tersebut. “Selamat datang di Happy Market,” sapa pegawai tersebut yang dibalas senyuman oleh Rona. Sementara Athar langsung berlari kecil menuju kotak freezer yang berisi frozen food. Setelah mendapatkan bakso dan juga sosis yang diinginkan, Rona menggandeng tangan Athar menuju kasir. Ini salah satu cara agar Athar tidak melihat rak mainan yang ada di sudut ruangan. Bukannya Rona pelit, tetapi mainan Athar sudah terlalu banyak. “Totalnya delapan puluh dua ratus , Bu. Ada tambahan lagi ? Pulsanya tidak sekalian,” tawar si kasir ramah. “Tante Athal mau itu,” tunjuk Athar pada sebuah mobil-mobilan kecil yang digantung di atas meja kasir. Rona hanya bisa tertawa dalam hati. Dia menghindari rak mainan di sudut jalan, tetapi mainan tersebut malah terpampang jelas di atas meja kasir.Pintar sekali cara mereka memasarkan produknya. Tapi Rona tidak akan luluh.. Biarkan saja dia dicap pelit oleh sang kasir. Toh semua itu untuk kebaikan Athar sendiri. Athar harus tau, tidak semua yang diinginkan oleh Athar harus dipenuhi. “Mainan Athar masih banyak di rumah, sayang. Ganti yang lain boleh asal bukan mainan atau permen yah,” ucap Rona memberikan pilihan. “Kalau ini boleh, Tante?” tanya Athar meminta persetujuan Rona. Rona melihat telunjuk anak asuhnya kearah makanan stik coklat yang ada di meja kasir. Karena makanan tersebut tidak terlalu mengandung banyak coklat, Rona pun mengangguk setuju. “Boleh, Sayang. Mau berapa?” “Satu,” ucap Athan mengacungkan jari telunjuknya. “Mbak tambahannya stik roti coklat itu satu, yah,” ucap Rona pada kasir. “Baik, Bu. Totalnya Sembilan puluh dua ribu lima ratus,” sahut sang Kasir. Rona memberikan selembaran uang berwarna merah pada kasir. Setelah mendapatkan struk belanja dan kembalian, Perempuan itu kemudian kembali menggandeng tangan mungil Athar menuju mobil mereka. “Sudah, Bu?” tanya Pak Asep setelah keduanya duduk di dalam mobil. “Sudah, Pak. Langsung pulang saja, Pak,” ucap Rona kemudian. “Baik, Bu,” Sahut Pak Asep. * Sampai di rumah Athar, Rona langsung menuju dapur. Di mencari Bi Sumi, namun perempuan paruh baya itu tidak ada di dapur. Setelah meletakkan belanjaan yang dibelinya di dalam kulkas. Rona menuju lantai atas untuk membantu Athar mengganti seragamnya. Namun perempuan itu hanya bisa tercengang melihat Athar yang sedang mengganti seragamnya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Rona memang beberapa kali mengajarkannya agar bisa mengganti bajunya sendiri. Tapi dia tidak mengira Athar bisa belajar secepat ini. “Masya Allah, Athar pintar sekali, sih, sayang. Athar sudah bisa ganti baju sendiri,” puji Rona mengelus rambut Athar dengan lembut. “Sudah benal belum tante?” tanya Athar tersenyum bangga memperlihatkan hasil kerja kerasnya. Dia ingin menunjukkan pada Rona bahwa dia juga bisa mengganti bajunya sendiri. Sebenarnya Athar melakukan hal itu karena dia sangat senang setiap kali mendengar Rona memujinya. Athar suka dengan senyuman bangga dari baby sitternya itu. “Sudah. Athar sudah benar memakai bajunya. Sekarang Athar makan buah dulu yah sebelum makan Supnya. Tante masak dulu, Oke?” Ajak Rona menuruni tangga menuju lantai bawah. “Athar mau makan buah apa?” tanya Rona melihat isi kulkas di rumah Khafi yang penuh macam-macam buah. “Stobeli sama melon , Tante,” sahut Athar. “Oke. Athar tunggu di ruang TV yah, sayang,” ucap Rona yang langsung dilaksanakan oleh Athar. Rona mengambil tiga buah stroberi berukuran besar dalam kulkas dan juga melon berwarna kuning yang sudah dibelah menjadi empat bagian. Setelah mencuci buah stroberi dan memotong-motongnya menjadi empat bagian lalu meletakkannya di piring bersama melon yang kulitnya juga sudah dikupas dan dipotong-potong kecil. “Ini buahnya. Dihabiskan yah, sayang,” ucap Rona setelah meletakkan piring berisi buah di atas meja, yang kemudian hanya dibalas Athar dengan anggukan karena anak itu sedang fokus menonton film kartun muslim kesukaannya. Rona kemudian kembali ke dapur untuk membuat sup bakso dan sosis sesuai dengan permintaan Athar. “Loh, Mbak Rona sedang buat apa? Biar Bibi saja yang memasak,” ucap Bi Sumi saat melihat Rona yang sedang memotong-motong sosis menjadi beberapa bagian. “Nggak usah, Bi. Ini permintaan Athar. Dia mau saya yang masak sup Bakso dan sosis buat makan siang nanti. Saya cuma butuh kaldu jamur, Bi. Ada?” tanya Rona. “Oh ada, Mbak. Sebentar Bibi ambilkan,” ucap Bi Sumi kemudian menghampiri kabinet dapur yang terletak di samping kulkas. “Ini Mbak kaldu jamurnya. Ada lagi ?” tanya Bi Sumi. Rona menggeleng,” Nggak ada, Bi. Semuanya sudah ada,” sahut Rona seraya memasukkan bakso dan juga potongan sosis ke dalam panci kecil yang sudah diisi air. “Ternyata Mbak Rona pintar memasak, yah,” ucap Bi Sumi memuji. “Saya cuma bisa sedikit, Bi. Kalau di suruh masak rendang, saya mana bisa,” sanggah Rona sambil tertawa. “Memasak rendang memang sedikit ribet dan lama, Mbak. Tapi Tuan Khafi suka sekali dengan rendang, kadang-kadang beliau lebih memilih beli karena nggak mau buat Bi Sumi capek,” cerita Bi Sumi. Rendang? Mas Khafi suka rendang? Kenapa nggak yang mudah saja sih, Mas sukanya? Misalnya sup bakso ini ? Jadi aku kan nggak perlu belajar masak lagi lagi kan? Gumam Rona dalam hati. "Kalau sup bakso ini suka nggak , Bi? " Tanya Rona penasaran. " Suka juga, Mbak. Makanan yang nggak disukai mas Khafi cuma oncom," sahut Bi Sumi. "Kok sama? Saya juga nggak suka oncom Bi. Jadi Mas Khafi nggak perlu khawatir saya masakin dia oncom, " ucap Rona tanpa sadar. " Memang mbak Rona mau masakin Mas Khafi?" Tanya Bi Sumi bingung. " Ah...bukan, Bi. Maksud saya, saya nggak bakal masak oncom karena saya nggak suka. Jadi nggak mungkin kasih oncom ke Mas Khafi, gitu maksudnya," sahut Rona gelagapan. "Oh begitu. Yaudah saya tinggal ya mbak. Saya mau ke belakang sebentar, kalau ada yang dibutuhkan mbak cari saya saja di taman belakang," pesan Bi Sumi. "Baik, Bi. " Setelah Bi Sumi meninggalkan dapur, Rona kembali fokus pada masakan yang sedang dibuatnya. Sebentar lagi baksonya matang. Rona tadi sudah mencicipi rasa kuahnya dan sepertinya sudah pas. Tidak perlu ada yang ditambahkan lagi. Selagi menunggu supnya matang, Rona memilih menyiapkan nasi untuk Athar dan juga dirinya. Juga dua mangkok untuk sup bakso. Tadi dia juga menggoreng nugget kesukaan Athan menggunakan air frayer. Setelah menata semua makanan di atas meja, Rona kembali ke dapur untuk mematikan kompor lalu menuangkan sup bakso dan sosis ke dalam mangkok. "Kamu masak, Ra? " Tiba-tiba saja terdengar suara dari ara belakang. Jantung Rona langsung berdetak kencang saat mendengar suara yang amat dikenalnya bertanya padanya. Perempuan itu memutar tubuhnya dan mendapati Khafi berdiri tau jauh darinya. " Ah, iya. Mas. Athar tadi minta dimasakkan sup bakso dan sosis untuk makan siang, " sahut Rona. "Kan ada Bi Sumi. Kamu nggak capek pulang dari sekolah langsung masak?" Tanya Khafi lalu duduk di kursi meja makan. " Nggak, Mas. Ini untuk pertama kalinya Athar meminta saya memasak, jadi saya dengan senang hati melakukannya. Lagipula masakan yang diminta juga gampang dibuatnya," sahut Rona panjang lebar. "Kalau kamu nggak capek, it's okay. Tapi jangan kamu turuti semua mau Athar, yah. Tidak baik untuk tumbuh kembangnya," pesan Khafi. "Iya. Mas. Tadi di mini market sempat minta mainan. Tapi saya beri pengertian kalau mainan di rumah masih banyak. Jadi akhirnya dia memilih membeli makanan," cerita Rona. "Bagus. Saya nggak nyangka walaupun masih muda, tapi kamu mengerti dengan baik membuat cara mendidik anak. Kamu suka baca?" Tanya Khafi. Ah...ini adalah percakapan terpanjang mereka berdua. Dan Rona merasa senang sekaligus deg-degan. " Suka, Mas. " Sahut Rona cepat. "Kamu bisa ke perpustakaan di lantai dua. Di situ juga ada beberapa buku cerita milik Athar. Siapa tau stok buku cerita di kamarnya sudah habis dibaca. Kamu bisa membaca buku disana. Atau jika ingin kamu bawa pulang, kamu bisa chat saya sebelumnya," ucap Khafi . Rona mengangguk mengerti. Ya Allah, mimpi apa dia semalam bisa mengobrol santai seperti ini bersama Mas Khafinya? Gumam Rona dalam hati. "Daddy? Daddy sudah pulang?" Tiba-tiba saja Athar berlari dari ruang TV saat melihat sang ayah sudah duduk manis di kursi meja makan. "Sudah. Sayang. Tapi sore nanti ayah balik lagi ke rumah sakit karena harus visit pasien. Sini nak, kita makan siang bareng. Lihat sup bakso dan sosis requestan Athar sudah matang.," Ucap Khafi membantu anaknya untuk duduk. " Wah....amazing! " Ucap Athar membuat Khafi dan Rona tertawa dibuatnya. Mulai sejak kemarin kata-kata favorit Athar adalah amazing. Di sekolah beberapa kali kata-kata itu keluar dari mulut mungilnya. " Masih ada sisa sup bakso dan sosisnya, Ra? " Tanya Khafi tiba-tiba membuat Rona yang sedang asyik melihat interaksi ayah dan anak itu gelagapan. "Masih, Mas. Mas Khafi mau juga?" Tanya Rona takjub. Dia tidak akan mengira bahwa Khafi akan menyicipi makanan buatannya. " Boleh. Tolong sekalian nasinya juga ya. Ra. Satu centong setengah saja," pesan Khafi. " Baik. Mas," ucap Rona lalu bergegas ke dapur untuk mengambil sup bakso dan sosis yang tersisa. Senyum bahagia tidak dapat ditahannya. Rona merasa sangat senang sekali karena dia akan makan siang bersama Khafi dan Athar untuk pertama kalinya. Nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan, Rona? "Ini Mas, " Rona meletakkan piring berisi nasi dan mangkuk berisi sup yang dimasaknya. "Terima kasih. Kamu juga makan, nanti keburu dingin," ucap Khafi lalu mulai mencicipi sup buatannya. Rona memilih duduk di kursi yang berjarak sedikit jauh dari Khafi. Dia belum siap duduk berdekatan dengan Khafi. "Enak, Ra. Terima kasih sudah masak untuk Athar," ucap Khafi yang membuat Rona tersenyum senang. "Sama-sama, Mas." Sahut Rona lalu pura-pura sibuk memakan makanannya. " Tante, supnya enak. Besok masakin lagi boleh?" Tanya Athar mengunyah baksonya dengan lahap. Bahkan nasinya sudah tersisa setengah. " Athar, Tante Rona kan tugasnya menjaga Athar. Bukan memasak. Tugas Bi Sumi yang memasak, Sayang. Besok pagi Athar minta sama Bi Sumi menu yang mau Athar makan untuk makan siang yah?" "Tapi, Athal juga mau dimasakin ibu sepelti teman sekolah yang lain. Athal cuma punya tante, jadi Athal mintanya ke Tante Lona," gumam Athar terdengar sedih. Mendengar hal itu membuat d**a Rona berdenyut nyeri. Dia tidak mengira bahwa ucapan polos dari teman-temannya membuat Athar menjadi sedih seperti ini. Walaupun Rona terlahir dari keluarga yang lengkap, tetapi beberapa muridnya di sekolah gratis ada juga yang hidup dengan keluarga broken home seperti Athar. Dan Rona sangat tau betapa menyakitkan keadaan tersebut. "Tapi tanter Rona cap-" " Nggak kok, Mas. Saya akan dengan senang hati memasak untuk Athar. Athar boleh request menu apa saja selama tante Rona bisa memasaknya, tante akan masakan untuk Athar,oke?" Ucap Rona memotong kalimat Khafi. Untuk kali ini, Rona tidak akan menolak permintaan Athar. Athar menengok kearah ayahnya. Tatapan matanya meminta persetujuan. Khafi hanya bisa menghela nafas kemudian mengangguk. Terkadang dia tidak boleh terlalu keras pada anaknya. Semua adalah salahnya karena tidak bisa memberikan keluarga yang lengkap untuk anaknya. " Boleh, sayang. Tapi jangan terlalu sering yah," ucap Khafi menasehati. " Telima kasih daddy! " Seru Athar mencium pipi Khafi bertubi-tubi. Rona hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu Athar. Semoga saja dia bisa menaklukan hati sang ayah, sehingga Athar bisa terus meminta dimasukan olehnya. Yah Semoga saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN