Pesta Ulang Tahun ( Part 1)

1575 Kata
Chapter 7 : Pesta Ulang Tahun Part 1 Minggu pagi Anya sudah bertandang ke rumah Rona. Perempuan itu dengan hebohnya membangunkan Rona yang masih tertidur nyenyak setelah sholat Subuh. Jika saja mamanya melihat kebiasaan buruknya itu, sudah pasti dirinya diomeli habis-habisan. Karena menurut mamanya, tidak seharusnya setelah sholat Subuh Rona kembali tidur. Masih banyak kegiatan bermanfaat yang bisa perempuan itu lakukan. Misalkan tadarusan, atau muroja’ah hafalan juz tiga puluhnya yang belum selesai-selesai. Namun semua itu tidak bertahan lama. Karena hanya butuh waktu lima menit, Rona akan kembali tertidur dengan posisi terduduk di atas tempat tidur dengan Al Quran di tangannya. “Rona! Bangun! “ teriak Anya tepat di depan pintu kamar Rona. Mendengar teriakan heboh Anya, Rona bergegas bangun. Dia tidak ingin sahabatnya itu membuat kegaduhan di rumahnya di pagi buta. Perempuan itu menghela nafas saat melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam pagi. “Sebentar,” sahut Rona lalu berjalan lunglai membuka pintu kamarnya. Di depan pintu, Anya sudah berdiri dengan senyum pasta gigi andalannya. Rona hanya memutar bola matanya lalu kembali masuk ke dalam kamar ingin kembali berbaring, namun segera dicegah Anya. “Wait!! Kok mau tidur lagi sih, Na?” protes Anya yang menatap Rona dengan wajah kesal. “Terus mau ngapain, An? Ini masih pagi,” Tanya Rona dengan mata terpejam. “Mandi dong, Na. Kamu kalau dandan kan lama,” sahut Anya. “Itu kamu, ya. Aku dandan nggak pernah lama,” ucap Rona tidak terima. “Milih bajunya yang lama. Seolah -olah kamu cuma punya dua baju. Padahal baju yang masih ada label harga pun kamu masih punya.” “ Sudah aku siapin semalem baju yang mau kupakai. Tuh sudah kugantung di belakang pintu.” telunjuk Rona mengarah pada pintu kamarnya. Di sana tergantung rapih dress bunga-bunga lengan panjang berwarna navy. “Tumben. Biasanya kamu paling lama milih baju,” tanya Anya heran. Mereka berteman cukup lama. Jadi tentu saja Anya tau sekali kebiasaan sahabatnya yang satu ini. “Aku harus berubah, dong An. Kalau suatu saat Mas Khafi khilaf ngajak aku kencan. Aku nggak akan buat dia menunggu lama. Jadi mulai sekarang , kebiasaan yang satu itu harus diperbaiki,” sahut Rona percaya diri. “Masalahnya, kapan Mas Khafi khilaf ngajak kamu kencan?” “Who’s know ? Kemarin saja kami makan siang bertiga di rumah Mas Khafi,” ucap Rona bangga. Mata Anya terbelalak mendengar hal itu. Masalahnya, Rona belum menceritakan padanya perihal makan siang bersama. “Demi apa?!” “Demi Anya,”sahut Rona tertawa senang melihat raut penasaran di wajah Anya. “Rona!! Jawab yang benar, dong!” “Aku sudah kasih tau yang benar , kok. Kamu yang nggak percaya sama aku.” “Oke...oke. Aku percaya. Kok bisa kalian makan siang bertiga? Kenapa kemajuannya bisa secepat ini?” Rona mengubah posisinya yang tadinya berbaring, kini duduk bersandar di kepala ranjang. “ Jadi kemarin itu Athar minta aku buat masakin Sop bakso dan sosis buat makan siang di rumahnya. Jadi pulang dari sekolah aku langsung masakin requestan Athar. Dan aku nggak tau kalau Mas Khafi pulang cepat. Tiba- tiba saja dia bergabung dan minta disiapkan sop yang aku buat," cerita Rona dengan menggebu-gebu. "Lalu?" "Ya kami bertiga makan siang bersama di meja makan. Apa lagi?" Anya berdecak kesal mendengar jawaban Rona. Seharusnya sahabatnya itu mengunakan kesempatan yang ada untuk lebih dekat lagi dengan Khafi."Kalian nggak ngobrol?" "Sedikit. Lagipula kami kan sedang makan, An. Masa' aku ngajak Mas Khafi ngobrol, sih?" "Namanya itu basa -basi Rona. Kamu kan nggak perlu terus-terusan ngajak ngobrol. Sesekali saja tanya mengenai pekerjaan, maybe...setidaknya kalian berdua ada komunikasi," jelas Anya gemas dengan sifat polos Rona. Tapi Anya tidak bisa menyalahkan Rona sepenuhnya. Sahabatnya itu belum pernah berpacaran. Khafi adalah laki-laki pertama yang disukai oleh Rona. Wajar jika Rona tidak tau menahu cara mendekati lawan jenis. "Nggak apa-apa. Setidaknya sedikit ada kemajuan. Aku sudah bisa makan siang bareng Mas Khafi. Lain kali aku bakal ajak ngobrol dia. Tenang saja," ucap Rona penuh percaya diri. "Yah kita lihat saja nanti. Kalau kamu nggak gugup duluan diajak ngobrol sama Mas Khafi," ledek Anya menjulurkan lidahnya. "Anya! Jangan ngeledek!!!" teriak Rona kesal lalu melempar Anya dengan guling yang ada disampingnya. Perempuan itu menghindar lalu balik melempar Rona dengan bantal tersebut. Dan akhirnya terjadi perang bantal antara keduanya. * Anya dan Rona sampai di tempat pesta ulang tahun lebih cepat dari yang diperkirakan. Lalu lintas memang terlihat lumayan lenggang sehingga waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke lokasi pesta lebih sedikit. Kedatangan keduanya disambut hangat oleh pemilik hajat, yaitu sepupu Anya, Intan. "Assalamu'alaikum Mbak," ucap Anya memberikan salam lalu mencium punggung tangan Intan, kakak sepupunya. Rona yang melihatnya pun ikut melakukan hal yang sama. "Wa'alaikumsalam, dek. Makasih yah sudah sempati datang ke pesta ulang tahunya Bella. Mana pakai bawa kado sebesar itu lagi. Jadi ngerepotin," ucap Intan tersenyum lembut menyambut kedatangan adik sepupunya itu. "Sama-sama, Mbak. Si Bella mana? Kok belum kelihatan?" tanya Anya celingukan mencari keponakannya. "Ada di samping rumah. Di sana sudah ramai karena wahana permainan memang ditaruh di taman samping yang lebih luas. Dan siapa nih perempuan cantik ini ?Kayaknya mbak nggak asing, deh," tanya Intan . "Sahabatku , Mbak. Namanya Rona. Waktu itu Mbak Intan pernah ketemu di ulang tahunku yang ke dua puluh," sahut Anya. "Ah, iya. Mbak baru ingat. Jangan sungkan yah Rona. Kalian berdua belum makan, kan? sana ke prasmanan, makan dulu. Atau kalau mau nyemil-nyemil silahkan pilih makanan di pondokan. Pokoknya jangan pulang sebelum kenyang yah," ucap Intan ramah. "Siap bos! yuk Na kita ke dalam. Sekalian mau cari si empunya pesta," ajak Anya menggandeng tangan Rona menuju taman belakang. Rona memerhatikan rumah sepupu Anya yang terlihat luas dan juga megah. Taman luas itu disulap menjadi lokasi pesta ulang tahun dengan tema salah satu putri Disney, yaitu Snow White. Warna biru sedikit mendominasi hiasan panggung mini tempat acara potong kue berlangsung nanti. Banyaknya jenis makanan yang disajikan membuat kedua perempuan itu sedikit bingung untuk memilihnya. "Mbak Intan itu kalau ngadain pesta pasti all out semua, Na. Apalagi mengenai menunya. Dia selalu pakai katering langganan anggota dewan yang memang terkenal enak. Jadi jangan heran kalau kita sampai bingung mau makan yang mana dulu," jelas Anya menuju salah satu pondokan yang menyajikan silky puding favoritnya. "Mau rasa apa?" tanya Anya. "Aku nggak mau makan puding. Aku mau coba jajanan pasarnya. Sepertinya enak-enak semua, An, " sahut Rona yang langsung menarik lengan Anya yang bebas menuju pondok yang bertuliskan Jajanan Pasar. Dia lalu memilih bolu Kojo, Kue Lumpur dan juga Mochi sebagai camilan. Untuk minuman keduanya sepakat memilih Es Dawet. Anya lalu memilih duduk di meja tak jauh dari tempat wahana bermain anak-anak. Dari sana dia bisa melihat ponakannya yang tampak bahagia bermain bersama teman-temannya. "Acaranya dimulai jam berapa, An? " Tanya Rona seraya mengunyah Kue Lumpur di tangannya. Anya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya." Jam sepuluh. Setengah jam lagi. " "Ramai juga yah yang datang," komentar Rona memerhatikan tamu-tamu yang mulai berdatangan. " Keluarga Mbak Intan itu keluarga besar. Begitu juga suaminya. Jadi wajar sih tamunya banyak." " Nggak ada lajang yang datang yah? Rata-rata yang berkeluarga semua yang datang." "Ada kok. Tapi mungkin sorean. Karena pesta yang jam segini itu ada temen play grup nya Bella juga," sahut Anya. "Terus kenapa kamu nggak ajak aku datang sorean? Kan kita nggak perlu kayak jomblo yang kesepian kayak gini, An,' tanya Rona yang masih memerhatikan tamu-tamu yang datang. "Amit-amit, Na. Aku paling males ketemu sama mereka. Apalagi Zikra. " "Siapa Zikra?" Tanya Rona mengerutkan dahi. Baru kali ini sahabatnya itu menyebutkan nama laki-laki dengan ekspresi yang terlihat kesal. "Adik iparnya Mbak Intan. Uncle kesayangannya Bella," sahut Anya datar. " Memang ada apa dengan dia? Kalian pernah ribut? Karena setau aku, kamu belum ada cerita." Anya menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan Rona. " Dia itu laki-laki yang mau dijodohkan Mbak Intan sama aku. Dan dia juga laki-laki yang bikin mobil papaku masuk ke bengkel ,"sahut Anya datar. " Oh jadi dia laki-laki yang buat kamu nggak boleh punya mobil sendiri?" Seru Rona. Perempuan itu masih ingat Anya yang menangis sesenggukan karena batal memiliki mobil sendiri. "Iya. Jadi sebisa mungkin aku nggak ketemu sama dia. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama. Tapi ada baiknya aku nggak pernah ketemu lagi sama dia, Na." "Kamu benci banget yah An sama dia?" Tanya Rona lirih. Anya mengangguk cepat."Banget." "Tapi saranku kamu jangan terlalu benci sama dia, An." "Why? " Tanya Anya bingung."Dia yang buat masalah sama aku duluan, Na," sahut Anya tidak terima. "Kamu pernah dengar hadis mengenai hal ini?" Tanya Rona. Anya menggeleng."Nggak tau. " "Cintailah orang yang kamu cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah kepada orang yang kamu benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kamu benci menjadi orang yang kamu cinta'(HR Tirmidzi). " "Jangan nakutin dong, Na!" Seru Anya bergidik ngeri mendengar kalimat yang diucapkan Rona. "loh, aku nggak nakutin, An. Ini memang sering terjadi di dunia nyata. Karena semakin kamu membenci dia, kamu tuh bakalan fokus ke dia terus. Dan lambat laun, pikiran kamu hanya terisi nama dia saja. " "Terus aku harus gimana, Na? Karena memang aku tuh kesal terus kalau ketemu dia. " "Yah sewajarnya saja. Jangan terlalu dipikirkan. Kecuali memang kamu ada rasa sama dia, " ucap Rona menaik turunkan alisnya menggoda Anya. " Amit-amit Ya Allah!" Seru Anya tanpa sadar membuat para tamu melirik kearah mereka. "Anya! Malu-maluin deh pakai teriak segala," gerutu Rona pelan seraya menutupi wajahnya dengan Clutch yang dibawanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN