Pesta Ulang Tahun ( Part 2)

1725 Kata
“Selamat ulang tahun ponakan aunty yang cantik,” ucap Anya saat Bella menghampirinya di meja tamu. Ponakannya itu terlihat cantik dengan gaun Snow Whitenya. “Thank you, Aunty. Kadonya Bella suka banget,” sahut Bella yang kini duduk dipangkuan Anya. “Sama-sama, sayang. Syukurlah kalau kamu suka,” timpal Anya mengelus rambut Bella dengan sayang. “Ini siapa ,Ty? Teman Aunty?” tanya Bella berbisik pada Anya seraya menatap Rona. “Halo Bella! Selamat Ulang Tahun yah.” Rona menyapa Bella dengan senyum manisnya. “Makasih, Kak,” ucap Bella malu. “What? Kakak? Bella dengar yah, dia ini teman aunty. Jadi kamu harusnya panggilnya aunty Rona,” ucap Anya tidak terima. Bagaimana bisa Rona begitu saja dipanggil kakak oleh ponakannya. “Mau manggil kakak juga boleh kok sayang,” ucap Rona tersenyum senang. Ah, mood bo0ster sekali keponakan Anya yang polos ini. “Mau kamu itu. Pokoknya manggilnya aunty Rona yah, sayang. Panggil apa?” “Aunty Rona,” sahut Bella. “Good. Kamu sudah makan belum?” tanya Anya mengalihkan perhatian Bella yang terus-terusan menatap Rona. “Sudah. Aunty nanti kita foto di istana aku yah. Di samping rumah aku ada istana putri salju,” ucap Bella. “Boleh. Nanti kita foto berdua di sana.” “Bertiga dong, Ty! Ajak Ty Rona juga,” bisik Bella kepada Anya tetapi Rona masih dapat mendengarnya. “Oke. Nanti bilang saja kalau sudah mau foto yah. Tuh kamu dipanggil mama,” ucap Anya yang melihat kakak sepupunya dari jauh memanggil Bella. “Bye..bye aunty. Aku ke tempat mama dulu,” pamit Bella yang berjalan menghampiri mamanya. “Kamu pakai pelet apa sih, Na?” celetuk Anya tiba-tiba. “Hah? Pelet? Astagfirullah, Anya! Kamu nuduhnya sembarangan deh. Mana mungkin aku pakai begituan. Kalau aku pakai pelet. Aku nggak perlu susah payah jadi pengasuh buat narik perhatian Mas Khafi.” “Habisnya aku heran. Kenapa semua anak kecil pada suka sama kamu. Bella itu agak susah dekat dengan orang lain. Kalian berdua itu kan baru ketemu. Tapi dia sampai ajak kamu foto segala.” Rona mengangkat kedua bahunya,”Mana aku tau," sahutnya cuek. “Mungkin wajah cantik kamu yang bikin anak-anak kepincut kali, yah. Athar saja langsung suka pas liat kamu di rumahku,” timpal Anya. “Nggak tau. Aku mana pernah tanya sama anak-anak yang suka dekat sama aku.Yang jelas aku juga memang suka sama anak-anak. Mungkin karena itu mereka suka sama aku. " “Eh Na, itu bukannya Mas Khafi sama Athar yah?” tiba-tiba saja Anya menunjuk tamu yang baru saja masuk ke dalam taman. Rona ikut melihat ke arah yang Anya tunjuk. Di sana berdiri Khafi dan juga Athar di dalam gendongan Khafi. “Sepupu kamu kenal Mas Khafi juga?” tanya Rona. “Nggak tau. Memang Mas Khafi nggak bilang kalau Athar mau ke pesta ulang tahun?” Anya balik bertanya. “Nggak. Athar juga nggak ada bilang soal pesta. Biasanya dia bakal heboh kalau ada temannya yang ulang tahun,” sahut Rona. “Mungkin dia juga baru tau hari ini. An, Mas Khafi ganteng banget yah hari ini,” puji Rona dengan wajah sumringah. Anya bisa mendengus melihat kebucinan Rona .”Jangan kumat yah, Na.” “Calon anak aku juga ganteng banget. Lucu banget yah Athar kalau pakai jas gitu,” lanjut Rona. “Ya ya ya. Kamu nggak mau nyamperin?” tanya Anya Rona menggeleng pelan.”Nggak ah. Mereka berdua kan mau me time, An.” “Tapi aku nggak yakin. Athar lihat kamu pasti bakal nyamperin, Na. Aku –“ “Tante Lona!!!” teriak Athar berlari lari kecil menghampiri meja mereka berdua. “Belum kelar ngomong aku. Eh beneran nongol anaknya,” lanjut Anya tak percaya. “Hai, sayang,” sapa Rona tersenyum lembut mengangkat Athar ke kursi di samping tempatnya duduk. “Tante, Athal mau itu,” ucap Athar menunjuk kue mochi yang ada di meja. Rona lalu memberikan kue tersebut pada Athar. Dengan santainya Athar mulai mengunyah makanan kenyal tersebut. “Athar sama siapa ke sini?” tanya Anya melirik Khafi yang kini berjalan ke arah mereka. “Daddy. Itu daddy mau ke sini,” sahut Athar polos. “Athar, tante Rona sama Anya lagi makan. Sama daddy saja yah. Kita ketemu sama kakak Bella dulu. Kadonya kan belum dikasih,” ucap Khafi lembut membujuk Athar yang kini terlihat nyaman duduk di samping Rona. “Baleng tante Lona,” ucap Athar tiba-tiba membuat Rona menjadi terkejut. Anya melirik Rona yang wajahnya mulai terlihat memerah. “Tante Rona kan sedang makan, sayang. Nanti setelah kasih kado, Athar boleh balik lagi,” bujuk Khafi lembut. Athar menggeleng. Menolak saran ayahnya. “Mau sama tante Lona pokoknya,” ucapnya kekeuh. "Rona maaf merepotkan kamu. Kamu bisa ikut kami sebentar untuk kasih kado? " Tanya Khafi kemudian. Rona mengangguk pelan." Baik, Mas. Yuk sayang kita kasih kadonya dulu. Na aku tinggal sebentar yah," ucap Rona melihat Anya yang terlihat tersenyum lembar. Dan Rona tau maksud dari senyuman lebar tersebut. " Lama juga nggak apa-apa, kok, Na," sahut Anya kalem. Nah, kan? Anya memang terkadang suka sekali membuat dirinya mati kutu. "Pinjam Rona sebentar, An, " ucap Khafi padanya. "Santai,Mas. Rona itu memang masternya tukang nemenin kondangan. Maklum jomblo soalnya mas," sahut Anya membuat Rona ingin sekali segera menutup mulut sahabatnya itu dengan lakban. Khafi hanya tersenyum simpul menanggapinya. " Jomblo itu apa, dad? Makanan?" Tanya Athar bingung. "Bukan apa-apa, sayang. Yuk kita antar kado dulu," ajak Rona menggandeng tangan mungil Athar. Lalu sedetik kemudian Rona tersadar bahwa warna pakaian mereka ternyata sama. Warna navy. Melihat hal itu mau tak mau Rona tersenyum senang, mereka seperti terlihat keluarga kecil yang sedang menghadiri sebuah pesta. Intan menyambut kedatangan mereka dengan senyum bahagia. " Loh tadi bukannya Rona sama Anya? Kok sekarang sama kamu, Fi? Rona ini pacar kamu?" Tanya Intan penasaran. Mendengar Intan memanggil nama Khafi langsung, sepertinya mereka berdua memang memiliki hubungan yang cukup dekat. "Jangan asal bicara. Kami berdua memang kenal. Athar juga memang dekat dengan Rona. Dia tadi kekeuh mau ajak Rona antar kado ke Bella. Mana Bella?" Sahut Khafi datar. " Sayang! Sini nak. Ini ada adek Athar! " Panggil Intan pada Bella yang sedang asyik bermain bersama teman-temannya. "Wah dek Athar ke sini juga? Aunty Rona mamanya Athar, yah? Kok bareng sama Athar?" Tanya Bella begitu saja di depan Rona dan juga Khafi. Mendengar hal itu membuat wajah putih Rona menjadi memerah. Dia sih senang saja disebut mamanya Athar. Tapi dia tidak menyangka akan secepat. Walaupun hanya sebuah kesalahpahaman. Tetapi setidaknya itu berarti dia juga pantas menjadi ibunya Athar, kan? Masih ada kesempatan untuknya menjadi ibu tirinya Athar, kan? "Bu-" "Iya. Ini mama aku, aku juga punya mommy," potong Athar tiba-tiba membuat Khafi dan Rona terkejut. Bahkan Intan belum menyelesaikan ucapannya. Melihat reaksi Athar , perempuan itu tersenyum pada Khafi yang masih saja memasang wajah datarnya. Perempuan itu menyeringai seolah meledek laki-laki itu. "Wah pantesan adek Athar tampan. Mamanya juga cantik," ucap Bella terlihat kagum pada Rona. Hal itu membuat Rona semakin salah tingkah dan malu. "Hahaha...sepertinya Bella suka banget sama kamu, Na. Dia ini jarang-jarang suka muji orang lain," ucap Intan tertawa geli melihat tingkah putrinya. Rona hanya tersenyum malu mendengar hal tersebut. Dia bingung harus berkata apa. " Ayo Athar kasih kadonya ke kak Bella." Perintah Khafi mengalihkan pembicaraan. Dia melihat Rona yang sepertinya tidak nyaman karena kesalahpahaman yang terjadi. Tetapi dia juga tidak bisa membuat anaknya menjadi sedih dengan menyangkalnya. Nanti dia sendiri yang akan menjelaskan pada Athar setelah sampai di rumah bahwa dia tidak boleh seenaknya mengakui orang lain sebagai mamanya. " Selamat ulang tahun, Kak Bella. Ini kado dali aku," ucap Athar menyerahkan kado yang dibawanya pada Bella dengan susah payah. " Terima kasih adek Athar. Yuk kita main ke sana," ajak Bella menunjuk wahana mandi bola. Di sampingnya berdiri petugas yang berjaga agar bisa memperhatikan anak-anak yang sedang bermain sehingga keamanan anak-anak terjaga. "Boleh, dad?" Tanya Athar meminta persetujuan. " Boleh. Sayang. Hati-hati yah mainnya," sahut Khafi lembut. " Siap daddy! Yuk Kak !" Ajak Athar semangat melupakan Rona yang berdiri kaku di samping Athar. " Sorry, Fi, Aku tinggal dulu yah. Kamu makan saja dulu. Rona bisa antar kamu . Tadi dia sudah makan duluan bareng Anya," ucap Intan tersenyum menggoda Khafi. Khafi dan Intan adalah teman semasa SMA. Mereka tetap berkomunikasi walaupun sudah mempunyai kesibukan masing-masing. Apalagi Khafi juga dekat dengan suaminya. Terkadang mereka berdua memiliki urusan pekerjaan yang membuatnya sering bertemu satu sama lain. "Oke. " Sahut Khafi singkat . " Mas Khafi mau makan nasi? Atau mau makan cemilan dulu?" Tawar Rona membuat Khafi menoleh padanya. Hari ini Rona terlihat cantik seperti biasanya. Terkadang Khafi masih berfikir, apa alasan perempuan cantik seperti Rona ingin menjadi baby sitter anaknya. Apakah perempuan di sampingnya ini menyukai dirinya? Namun, sejauh mereka berinteraksi , Rona tidak pernah melakukan flirting padanya. Perempuan itu malah terlihat sedikit gugup jika mereka berdua berbicara. Terlihat jelas bahwa Rona jarang berinteraksi dengan lawan jenis. "Saya ambil sendiri saja. Kamu bisa kembali ke meja kamu. Pasti Anya sedang menunggu kamu," sahut khafi melihat ke arah meja dimana Anya dan Rona tadi duduk. Namun laki-laki itu sedikit terkejut karen sekarang kursi milik Rona sudah ditempati oleh seorang laki-laki. "Sepertinya kamu tidak bisa kembali ke meja kamu. Kursi kamu sudah ada yang menempati," ucap Khafi membuat Rona langsung menolehkan pandangannya kearah meja yang dimaksud Khafi. Di sana Anya terlihat sedang berbicara dengan laki-laki yang tidak Rona kenal. Dari raut wajahnya, sepertinya Anya terlihat menahan kesal. Apakah laki-laki itu Zikra? Sepupu Intan yang akan dijodohkan kepada Anya? "Iya, Mas. Kalau gitu aku cari meja yang kosong saja. Nggak enak kalau mengganggu mereka berdua," ucap Rona akhirnya. Perempuan itu mulai mencari meja tamu yang kosong. Pandangannya mengelilingi satu per satu meja tamu yang mulai terisi. "Sepertinya semua meja sudah penuh. Kamu duduk dengan saya saja," ucap Khafi saat melihat semua meja tamu hampir terisi semuanya. Rona langsung pada Khafi. Dia tidak salah dengar, kan? "Apa Mas?" tanya Rona memastikan bahwa dia tidak salah mendengar. Dia tidak ingin mempermalukan diri karena hanya karena dia salah mendengar ucapan Khafi. "Kamu duduk semeja dengan saya saja. Atau kamu keberatan?" Tanya Khafi menatap Rona. Rona langsung menggeleng cepat."Nggak kok, Mas. Aku nggak masalah duduk di mana saja," sahut Rona cepat. Dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan Khafi kali ini. Nikmat Tuhanmu yang manakah hang kamu dustakan, Rona?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN