Pesta Ulang Tahun ( Part 3)

1546 Kata
"Kenapa kamu mau bekerja sebagai baby sitter, Ra?" tanya Khafi tiba-tiba. "Uhuk!" Rona langsung tersedak air yang sedang diminumnya saat mendengar pertanyaan Khafi. "Maaf, Ra. Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Khafi khawatir. Apalagi melihat Rona yang terlihat kesakitan karena air yang diminumnya sampai masuk ke hidung. Rona melambaikan tangannya, tanda bahwa dia sudah tidak apa-apa. Walaupun sekarang hidungnya terasa sedikit perih. Untung saja hanya air putih yang diminumnya. Bagaimana kalau tadi saat tersedak dia sedang makan seblak kesukaannya? Rona tidak bisa membayangkannya. Mungkin air matanya sudah mengalir karena kesakitan. "Sudah mendingan?" tanya Khafi memastikan bahwa Rona baik-baik saja. "Sudah, Mas. Sudah nggak apa-apa," sahut Rona . "Mas tadi mau tanya apa sama aku?" tanya Rona kemudian. "Lupakan. Bagaimana Athar di sekolah? apakah dia suka rewel?" "Alhamdulillah nggak, Mas. Athar termasuk anak yang cerdas dan patuh. Dia mendengarkan semua apa yang guru jelaskan," sahut Rona memerhatikan dari jauh Athar yang sedang bermain bola bersama Bella. "Syukurlah. Terkadang saya sedikit khawatir karena dia tipe anak yang hanya bisa dekat dengan orang yang dikenalnya. Saya juga sempat kaget karena kamu yang melamar menjadi pengasuh Athar. Kamu masih kuliah, kan?" ucap Khafi panjang lebar. Rona sempat terpana karena Khafi jarang sekali berbicara panjang padanya. "Masih , Mas. Sedang dalam tahap bimbingan dan revisi , Mas." "Memang kamu nggak terganggu dengan bekerja sambil kuliah?" "Nggak, Mas. Alhamdulillah dosen pembimbing aku baik banget. " "Syukurlah," komentar Khafi. "Mas Khafi kenal dekat dengan Mbak Intan? Dulu teman sekolah atau kuliah" tanya Rona penasaran. Perempuan itu akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengenal Khafi lebih dekat. Oleh karena itu, walaupun sedikit gugup, dia berusaha mencari topik untuk mengobrol dengan laki-laki pujaannya. "Teman SMA. Saya juga berteman dengan suaminya. " "Pantas saja kalian berdua terlihat akrab," ucap Rona. "Kamu sejak kapan berteman dengan Anya?" tanya Khafi balik. "Sejak kecil, Mas. Kami berteman sejak dari sekolah dasar. " "Berarti kamu sering menginap di rumahnya?" Rona mengangguk."Sering. Anya juga sering menginap di rumahku. Kenapa memang, Mas?" "Ah...nggak apa-apa. Sepertinya Athar sudah selesai bermain," ucap Khafi saat melihat putra tunggalnya berjalan cepat ke arahnya. "Daddy!" teriak Athar menghampiri Khafi yang menyambutnya dengan senyuman lembut. Pemandangan itu tidak luput dari perhatian Rona. Dia sangat senang saat melihat interaksi Athar dan juga Khafi. Karena saat bersama dengan Athar, sifat kaku Khafi hilang entah kemana. Hanya ada senyuman hangat dan suara lembut yang akan diperlihatkan laki-laki itu pada anaknya. Bagaimana perlakuan laki-laki itu pada istrinya kelak? apakah akan seperti perlakuannya terhadap Athar? Karena jika melihat pernikahan sebelumnya yang gagal, semua itu terjadi karena mantan isteri Khafi yang menolak untuk hidup bersama laki-laki itu. Entah apa yang dipikirkan mantan isteri Khafi, bisa -bisanya dia menolak laki-laki sebaik Khafi. Rona saja langsung jatuh hati saat pertama kali bertemu. Bahkan dia pun rela menjadi pengasuh untuk mendekati laki-laki di hadapannya ini. "Mommy ada di sini?" tanya Athar terlihat senang. "uhuk!" Rona langsung tersedak kembali mendengar panggilan Athar pada dirinya. "Sayang, siapa yang mengajari Athar panggil tante Rona seperti itu? Kemarin-kemarin Athar masih panggil tante," tanya Khafi lembut. "Nggak ada. Di sekolah cuma Athal yang nggak punya Mommy. Jadi kalena cuma ada tante Lona, Athal panggil tante Lona Mommy ," sahut Athar polos. Namun kalimat polos tersebut mampu membuat d**a Khafi berdenyut nyeri. Apakah dia harus menyalahkan mantan isterinya yang tidak peduli sama sekali pada putra mereka sehingga membuat anak mereka memanggil pengasuhnya mommy? "Athar bisa panggil Tante Vivi Mommy," ucap Khafi mengingatkan Athar pada adik perempuannya yang tinggal di luar kota. Athar menggeleng keras."Tante pipi jauh, Dad. Tante Lona deket. Temani Athal telus di sekolah.' Khafi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tapi kamu nggak bisa sembarangan memanggil orang lain dengan Mommy, Nak. " Orang lain yah? Yah untuk saat ini memang Rona adalah orang lain bagi mereka. Seharusnya dia tidak sakit hati mendengar kalimat yang Khafi ucapkan. Tetapi entah kenapa, dia tetap merasa tidak nyaman saat mendengarnya. "Aku nggak keberatan dipanggil mommy, Mas. Athar terlalu kecil untuk menerima alasan kenapa dia jarang bertemu dengan ibunya." ucap Rona membuat Khafi langsung menoleh padanya. "Maksud kamu? Kamu nggak keberatan dipanggil Mommy oleh Athar?" tanya Khafi memastikan. Rona tersenyum lembut pada Athar yang sedang menatapnya dengan tatapan polos. Bagaimana bisa seorang ibu meninggalkan anak setampan dan sepintar ini? "Iya. " sahut Rona singkat. "Tapi-" "Tapi kalau Mas Khafi yang keberatan, aku bisa apa. Aku cuma minta tolong kasih pengertian pada Athar dengan kata-kata yang bisa dicerna olehnya. Karena kekecewaan seorang anak bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya. Itu menurut buku parenting yang aku baca," jelas Rona panjang lebar. * " Jadi kamu masih marah sama aku, An?" Tanya Rona saat keduanya sudah sampai di rumah Rona sepulangnya dari pesta ulang tahun Bella. "Kamu pikir? Kenapa kamu tega biarin aku duduk berdua sama Zikra? Kan kamu tau sendiri Na aku sebal sama dia?" Gerutu Anya kesal. Rona yang melihatnya hanya bisa menahan senyum. Jarang sekali Anya dibuat uring-uringan oleh seorang laki-laki. Biasanya laki-laki yang uring-uringan karena ditolak oleh Anya. " Loh aku kan nggak mungkin tiba-tiba datang terus ngusir dia, An. Lagipula kamu tau aku lagi sama Mas Khafi. Aku juga kan mau pedekate sama dia. Jarang- jarang kami bisa duduk semeja, An. " Jelas Rona. "Dasar teman nggak setia," sungut Anya kesal yang ditanggapi tawa oleh Rona. "Memang si Zikra ngapain kamu? Ngajak kamu nikah?" Ucap Rona asal. "Iya. Makanya aku sebal banget!" Sahut Anya menghentak-hentakan kakinya di lantai. "What? Kok bisa? Bukannya perjodohan kalian belum terjadi, yah? Kayaknya dia memang suka beneran sama kamu. Buktinya kamu langsung diajak nikah sama dia," tanya Rona . "Justru karena perjodohan itu nggak terjadi, Na. Aku nolak karena belum kenal dia dengan baik, kan. Eh tiba- tiba saja dia malah mau ngelamar aku. Katanya aku bakal kenal dia kalau sudah nikah. Gila, kan?!" Ucap Anya terdengar kesal. " Bukannya bagus, yah? Kan kamu juga bukan penganut pacaran sebelum nikah. Zikra juga wajahnya juga tampan dan mapan. Memang apa yang bikin kamu nolak dia? " Tanya Rona bingung. "Aku nggak suka sama dia, Na. Kamu juga kan ngejar-ngejar Mas Khafi karena suka sama dia, kan? Aku juga gitu. Aku nolak Zikra karena aku nggak suka sama dia," sahut Anya cemberut. Ah, benar. Dia mengejar Khafi kan karena dia memang menyukai laki-laki itu. " Terus gimana sekarang? Kamu sudah tolak dia?" Tanya Rona lagi. " Sudah. Tapi dia tetap kekeuh mau dekati aku. Katanya dia bakal bikin aku terima dia jadi suami aku. Aku jadi makin ilfil kalo sikap dia kayak gitu," sahut Anya terdengar putus asa. "Daebak! Pantang menyerah sekali dia. Jadi langkah kamu selanjutnya apa? Kayaknya dia beneran suka sama kamu, An." "Aku bakal blokir semua akses dia ke aku. Nggak akan aku biarin dia dekati keluargaku. Lihat saja kalau sampai dia melewati batas. Aku bakal..." "Bakal apa? Kok berenti? Aku kan nungguin lanjutannya, " tanya Rona penasaran. " Aku bakal ngadu ke Mas Kaisar. Cuma dia satu-satunya yang bisa nolong aku. " "Kenapa nggak bilang sekarang? Kamu kan tinggal telpon Mas Kaisar dan bilang soal Zikra yang ganggu kamu." "Nggak bisa, Na. Mas Kaisar lagi sibuk. Aku harus ngomong langsung supaya Mas Kaisar ngerti karena sejujurnya, Mas Kaisar dan Zikra itu teman baik. " "Apa?! " Teriak Rona terkejut. Dia tidak salah dengar, kan? " Kamu nggak salah dengar. Mas Kaisar itu seniornya Zikra waktu SMA dulu. Dan mereka tetap berhubungan baik sampai sekarang." "Jadi secara nggak langsung Mas Kaisar itu tau kalau kalian mau dijodohkan sama Mbak Intan?" Anya mengangguk pasrah. " Dan Mas Kaisar setuju karena dia sudah kenal Zikra dari dulu. Dia sudah tau sifat Zikra seperti apa. Gimana dong, Na? Hiks aku bingung," ucap Anya menahan tangis. Melihat Anya yang terlihat frustasi membuat Rona menjadi sedih. Dia tidak tau harus berbuat apa. "Memang nggak bisa dibicarakan baik-baik yah, An? Kamu bisa kan bilang ke Mas Kaisar kan. Tadi kamu bilang kamu mau ngadu ke Mas Kaisar karena dia ganggu kamu. Itu bisa jadi alasan kan, An?" " Bukti. Aku harus kumpulin bukti kalau dia ganggu aku. Baru bisa yakinkan Mas Kaisar supaya bantu aku jauh dari Zikra." " Jadi aku bisa minta tolong sama kamu kan, Na?" Tanya Anya memasang wajah memelas. "Tolong apa? Insya Allah kalau bisa, aku pasti bantu," sahut Rona. "Tolong bantu aku buat godain Zikra. Kalau laki-laki itu sampai terpancing, aku bisa bikin hal itu jadi bukti." "Godain? Ih mana bisa aku godain laki-laki, An. Kamu kok minta tolongnya aneh-aneh begini. Big no!" Tolak Rona cepat. Berdekatan dengan lawan jenis saja dia tidak biasa. Apalagi menggoda seorang laki-laki. Bagaimana kalau Khafi sampai tau dia adalah perempuan centil yang suka menggoda laki-laki? Yah walaupun hal tersebut dia lakukan untuk menolong Anya. Tapi tetap saja dia takut untuk melakukannya. " Kamu cuma tes dia dengan SMS atau Chat aja, Na. Tanpa perlu berinteraksi langsung dengan Zikra. Nanti nomer dan ponselnya aku siapkan. Please, Na. Help me," mohon Anya. "Kalau Zikra nggak merespon aku gimana?" Tanya Rona. "Yah aku bakal cari plan B dan Plan C. Pokoknya aku nggak mau nikah sama dia. Titik. " "Oke. Aku bakal bantu," ucap Rona akhirnya. "Thank you , Rona. You are my soulmate forever. Muach...muach," ucap Anya senang lalu menciumi pipi dan wajah Rona membuat perempuan itu bergidik geli. "Stop , Anya! Jangan cium-cium lagi," teriak Rona berusaha melepaskan diri dari pelukan Anya. Sementara Anya tertawa senang melihat reaksi Rona. Sahabatnya terlihat geli karena Anya yang terus saja menciuminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN