Heroine

1354 Kata
Marinka mengerjapkan matanya yang sebenarnya masih terasa sangat mengantuk. Tidak hanya matanya yang masih mengatuk, tubuh Marinka pun masih terasa berat untuk bangun dari tidurnya. Wajar kalau dia ngantuk dan malas bangun seperti ini mengingat dia baru tiba dirumahnya jam 2 dini hari tadi. Sepanjang hidupnya, baru kali itu Marinka pulang sangat terlambat seperti sekarang. Pulang disaat seluruh orang dikeluarganya telah tidur. Marinka memang penikmat hiburan malam, tapi Marinka tidak pernah pulang lewat lebih dari jam 12 malam. Selain itu, biasanya, mama atau papanya tidak akan tidur. Salah satu dari mereka akan menunggui Marinka hingga pulang. Intinya, baru kali ini Marinka pulang sangat terlambat dan tidak ditunggui sama sekali. Jangan pikir, memiliki Leon sebagai calon suami yang memiliki tempat kerja yang sama dengan Marinka membuat Marinka pulang diantarkan. Tidak, Marinka tidak diantar. Jangankan diantar, mendengar kalimat 'sebaiknya kamu pulang duluan saja' 'kamu hati-hati' 'mau aku antar?' saja Marinka tidak. Marinka tidak tau, calon suami seperti apa sebenarnya Leon ini. Bukannya Marinka berharap perhatian dari pria itu, hanya saja Marinka mengira pria itu akan mengucapkan salah satu dari kalimat itu. Walau pertanyaan itu nantinya Leon ucapkan hanya untuk sekedar basa basi. Mengingat kelakuan Leon yang seperti ini, membuat Marinka berpikir kalau Leon sebenarnya tidak setuju dengan perjanjian wajib menikah mereka? Mana ada calon suami yang cuek dan tidak peduli dengan calon istrinya. Kalaupun ada, Marinka yakin kalau itu hanya Leon. Sebenarnya Marinka tidak mengerti dengan pemikiran Leon, semua sikapnya membuat Marinka benar-benar bingung. Bingung apakah Leon ingin menikahi dia atau tidak. Disatu sisi Marinka merasa Leon menerimanya karena tidak ada penolakan dari Leon saat papanya mengumumkan kewajiban mereka untuk menikah. Di sisi lain, Marinka merasa Leon menolaknya, Leon tidak pernah memperlakukannya sebagai calon istri. * Berbeda dengan hubungannya dengan Leon yang membuat Marinka bingung, hubungan dia dan Ryan selalu membuat Marinka emosi belakangan ini. Sejak kejadian malam penangkapan itu, hubungan dia dan Ryan dalam masa yang tidak baik, lebih tepatnya diujung tanduk. Merasa hubungannya dengan Ryan tidak akan bisa diselamatkan lagi, membuat Marinka memutuskan untuk mengakhiri hubungannya mereka. Toh bukan dia pihak yang membuat mereka harus putus. Ryan dan kelakuannya lah yang akhirnya membuat Marinka akhirnya berpikiran untuk mengahiri hubungan mereka. Mengakhirinya saat dia menemui pria itu nanti. Meski hubungannya dengan Ryan sudah putus nanti, bukan berarti Marinka akan setuju dengan semua perjanjian konyol yang memaksanya menikah dengan Leon. Setidaknya Marinka perlu mempelajari tentang Leon lebih dalam lagi, sebelum memutuskan apakah dia harus menikahi Leon atau tidak. Mata Marinka kembali terbuka ketika alarm hp-nya berbunyi lagi setelah di snooze-nya beberapa kali tadi. Marinka masih sedikit lelah, tapi Marinka tetap berusaha bangun kali ini. Demi mendekatkan diri dengan Leon, Marinka akan melakukan apapun untuk saat ini. Dan langkah pertama untuk hari ini adalah dengan tidak terlambat ke tempat kerjanya. Setelah mandi, berpakaian rapi dan cantik, Marinka mengeluarkan sebuah bag plastik besar dari laci meja kamarnya. Dimasukkannya taplak meja, peralatan tulis, notes, jam meja kecil dan boneka kecil yang biasanya menghias meja ke dalam plastik itu. Marinka menyiapkannya barang-barang itu dengan jumlah sepasang agar bisa dia pasangkan ditempatnya dan Leon nanti. Corak yang dipilih Marinka-pun sesuai dengan karakter Disney kesukaan Marinka, yaitu karakter Mickey dan Minnie mouse. Marinka sudah berpikir sebelum tidur tadi, selain mendekatkan dirinya dengan Leon, Marinka akan berusaha mengganggu Leon. Membuat pria itu kesal dan marah padanya. Untuk memancing emosi Leon, Marinka memutuskan untuk bertingkah menyebalkan pada Leon. Sebagai langkah pertama, dia akan membuat Leon malu dengan peralatan yang dibawanya ini. Marinka memang semangat untuk membuat marah Leon, tapi Marinka tetap merasa was-was dan takut membayangkan wajah marah Leon nanti kepadanya. Marinka masih mengingat raut, tatapan dan suara pria itu ketika Marinka berhasil mengusiknya. Tatapan dan suara Leon mampu mengubah Marinka menjadi patung es. Hal itu membuat Marinka sedikit tidak yakin dengan rencananya untuk memancing emosi Leon. "Ma, Inca berangkat ya ma." Marinka pamit pada mamanya. Dia mengabaikan keberadaan papa dan kakaknya, Mattew. Marinka masih kesal dengan keputusan Randa yang menurutnya terlalu berlebihan, jadi Marinka memutuskan untuk mogok bicara pada papanya. Kalau kakaknya, Marinka ngambek karena dia tidak dibela kakaknya sama sekali. Hingga dia terjebak dengan Leon, seperti sekarang ini. Padahal selama ini, kakaknya selalu membela dia apapun kesalahan yang diperbuatnya. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya Marinka juga masih marah kepada sama mamanya, tapi Marinka tidak pernah siap kalau harus musuhan sama mamanya. Jadilah Marinka hanya memusuhi papa dan kakaknya saja. "Kamu nggak sarapan dulu Ca?" tanya mama Marinka. Marinka menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak mah, Inca undah telat.” Marinka mengatakan itu setelah meneguk semua s**u miliknya. "Lalu, semua barang-barang yang kamu bawa itu untuk apa?" lanjut mama Marinka bingung melihat tentengan Marinka. "Ada deh..." jawab Marinka sambil mencium pipi mamanya lalu pergi begitu saja dengan mini cooper-nya. * Marinka sengaja berangkat lebih cepat 30 menit lebih awal dari jam masuk kantor mereka seharusnya. Dia melakukan itu, agar rencananya bisa berjalan dengan baik. Sesampainya Marinka ditempatnya kerjanya, hal pertama yang dilakukannya adalah memasang taplak meja bermotif mickey miliknya di meja Leon. Divisi kejahatan, divisi tempat Marinka dan Leon berada. Di ruang divisi tempat Marinka dan Leon bekerja, hanya ada 10 orang yang bekerja disana. Divisi ini dipimpin oleh Leon. Normalnya, semua meja di ruangan itu tidak ada yang tertutup sama sekali, alias polos. Diatas meja mereka hanya ada berkas, alat tulis atau peralatan lain. Sama seperti meja kerja kebanyakan. Divisi ini hampir semuanya dihuni oleh laki-laki. Kalau Marinka tidak salah ingat, hanya ada dia dan 2 orang wanita yang ada di ruang itu kemarin. Jadi, rencana Marinka kemungkinan akan berjalan mulus mengingat fakta-fakta itu. Fakta-fakta itu mungkin sepele, tapi efeknya akan semakin besar karena fakta itu. Mengingat itu, membuat Marinka terkekeh dalam hatinya. Untuk kali ini, Marinka akan benar-benar memainkan perannya sebagai heroine yang menyebalkan buat Leon. Saat ini Marinka tengah menghias meja milik Leon, dengan pernak pernik Mickey mouse yang telah dibawanya tadi dari rumahnya. Setelah merasa sudah bagus dan lengkap, Marinka beralih ke meja miliknya menghias dan menyusun sama persis dengan apa yang dibuatnya di meja Leon. Marinka benar-benar menghias dan menyusun kedua meja itu sama persis. Bedanya hanyalah di hiasan yang Marinka pakai di meja dia dan meja Leon. Jika seluruh meja Leon dihias dengan karakter Mickey mouse, maka meja Marinka dihias dengan karakter Minie mouse. "Apa yang kamu lakukan?" sebuah teguran mengejutkan Marinka. "Eh mas Rio," balas Marinka terkejut dan gugup karena mendapati Mario dibelakangnya. Mario ini adalah salah satu anggota Leon. Mario ada di divisi yang sama dengan Leon. Umur Mario tidak jauh berbeda dengan Marinka, tapi Marinka tetap merasa kesusahan untuk bisa dekat dengannya. Sifatnya yang tidak jauh berbeda dengan Leon membuat Marinka berpikir dua kali untuk mendekat dengan Mario. Tatapan datar Mario seolah mencoba mengintimidasi Marinka. Jujur saja, tatapannya Mario itu membuat Marinka tidak nyaman. Cukup Leon saja yang memberikan tatapan seperti itu padanya. Marinka belum sanggup kalau harus bertemu lawan baru. "Eum saya hanya sedang merapikan meja milik calon suami saya," jawab Marinka ragu. Meski begitu, Marinka siap mendebat Mario seandainya Mario menyuruh dia membuka apa yang telah dipasangnya d meja Leon. Namun sebelum Mario membalas perkataan Marinka, pemilik meja Mickey mouse itu tiba. Mencegah perdebatan antara Marinka dan Mario yang mungkin akan terjadi jika Leon terlambat sedikit saja. Tanpa komentar, Leon langsung berjalan menuju meja kerjanya. Meja yang telah Marinka hias saat datang tadi. Leon sempat berdiri sejenak disamping meja itu. Mata Leon seolah sedang mengidentifikasi perubahan di meja kerjanya. "Gimana kamu suka?" tanya Marinka dengan suara sedikit ditinggikan agar terdengar centil. Tidak hanya suaranya, wajahnya juga dibuat se innocent mungkin agar Leon kesal. 'Ternyata jadi pemeran utama perempuan antagonis tidaklah susah,' puji Marinka memuji dirinya. Di dalam hatinya. Saat Marinka sedang menahan senyumnya, menanti reaksi Leon. Namun, hingga beberapa menit menunggu, yang didapat Marinka hanyalah pandangan dan wajah datar milik Leon. Tidak hanya itu, Leon juga segera duduk diposisinya seperti biasa. Leon bertingkah seolah tidak ada yang berbeda di meja kerjanya. Seolah meja itu masih sama dengan meja yang dipakainya kemarin. 'Wth, am i a worst heroine too?' teriak Marinka dalam hatinya. Tanya Marinka dalam hatinya saat tidak mendapati reaksi Leon sama sekali. Bahkan dengan tampang tidak terbacanya, saat ini Leon menggunakan bolpoint dengan kepala Mickey mouse yang tadi Marinka bawa dari rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN