Then Help Me

1094 Kata
Terlahir sebagai keturunan Dinatra, membuat Marinka selalu dipenuhi apapun keinginannya. Hal itu membuat Marinka terbentuk menjadi gadis dengan sifat egois, keras kepala dan tidak mau kalah. Mungkin karena sifat itu pulalah Marinka tetap bertahan di tempat ini sekarang. Saat ini, Marinka sedang mengikuti Leon. Mengikuti Leon yang sedang melakukan razia di salah satu diskotik di Jakarta. Marinka tau, kali ini dia memang sudah sedikit kelewatan dan terlalu nekat dengan mengikuti Leon sampai kesini. Bagaimanapun Marinka bukanlah anggota kepolisian ataupun bagian dari kepolisian secara resmi. Itu artinya, tidak seharusnya Marinka ada disini sekarang untuk ikut melakukan razia. Tapi otak bandel Marinka sangat hebat, hingga menemukan jalan dan alasan hingga dia bisa ada disini. Ikut bersama Leon melakukan razia. Dalam otak Marinka, dia telah menyimpan alasan seandainya dia kena marah nantinya kalau pimpinan mereka tau Marinka ada di lokasi razia. Marinka akan beralasan kalau dia ada disana bukan untuk ikut melakukan razia, tapi hanya datang sebagai pengunjung biasa. Bedanya, Marinka datang bersama Leon. Genius bukan? Beruntung penampilan Marinka terlihat cocok untuk pergi ketempat itu. Dan disinilah dia berada sekarang, berada di belakang Leon memperhatikan wajah serius Leon yang sedang bekerja. Sebenarnya polisi lainnya sudah menyarankan Marinka untuk tidak ikut turun, tapi Marinka bersikeras mengikuti Leon. Marinka terlalu bersikeras agar goalnya di hari pertama kerja terpenuhi. Goal pertama Marinka itu adalah, membuat Leon mau mengakui keberadaanya. Sampai saat ini, usaha Marinka memang belum menunjukkan perkembangan sama sekali, tapi Marinka tau yang namanya usaha tidak semua langsung berhasil. Iya kan? "Bersiap!" Leon memberi komando, bodohnya Marinka refleks ikut merunduk seperti polisi lainnya. "Masuk!" perintah Leon lagi yang membuat para polisi itu berlari memasuki pub, termasuk Marinka didalamnya. Marinka lupa sesaat untuk apa sebenarnya dia disana. Membuat dia masuk bersama dengan polisi lainnya, namun itu sesaat karena akhirnya dia tertinggal sendiri. Tertinggal karena gerakan cepat para polisi itu. Beruntung keberadaan Marinka tidak membuat pengunjung lain panik karena penampilan Marinka yang lebih cocok seperti pengunjung pub itu sekarang. Jadi Marinka bisa bisa acting layaknya pengunjung lainnya saat kesadarannya kembali soal dia yang bukan polisi. Marinka berjalan di dalam pub, sambil mencari Leon. Marinka sedikit kesulitan menemukan Leon karena para polisi itu sudah mulai memencar. Mereka sibuk memeriksa tempat yang mereka curigai sedang terjadi transaksi dan yang memang mereka targetkan malam ini. Saat Marinka berhasil menemukan sosok Leon dikeremangan diskotik, Marinka berjalan kearah itu. Namun betapa terkejutnya Marinka melihat siapa yang sedang digeledah oleh Leon dan beberapa polisi disana. "Ryan? Jannice?" panggil Marinka pelan, tapi cukup untuk didengarkan oleh orang disana. Dengan cepat pria yang dipanggil Marinka tadi berjalan kearahnya dan merangkul pinggang Marinka. "Dia Marinka, putri dari pemilik Dinatra Group. Dia ada bersama kami dari tadi," kata Ryan dengan gaya angkuhnya. Semua polisi yang ada disana terdiam, hanya Leon yang tetap bergerak mengambil beberapa plastik yang Marinka tebak adalah narkoba. "Amankan semua yang ada di meja ini!" kata Leon datar. Marinka masih terdiam shock, tidak hanya soal Ryan dan Janice ternyata pengguna. Kenyataan soal Ryan juga tega berbohong dan membawa namanya dalam kasus ini jauh membuat Marinka lebih shock. "Dasar polisi angkuh, gue pastiin lo nyesel setelah ini," gertak Ryan. Marinka yang disana tetap diam dan tidak melakukan apapun selain menatap lurus pada Ryan. Hal itu membuat dia seperti orang linglung, Marinka terlalu terkejut untuk menelaah sebanrnya siapa teman-temannya itu. Baiklah, Marinka akui dia juga penikmat kehidupan malam. Dia juga punya hobby ke diskotik untuk bersenang-senang, tapi dia hanya minum saja. Tidak pernah terlintas dipikirannya untuk memakai obat-obatan. Bahkan, mencoba sajapun dia tidak mau. Marinka masih saja terkejut. Keterkejutannya membuat dia sibuk di alam pikirnya sendiri, hingga membuat dia tidak sadar kalau kini dia sudah berada dikantor polisi. Dia duduk di sebelah Ryan yang memang dengan tidak tau dirinya membawa Marinka bersamanya sejak dari diskotik tadi. Posisi Marinka sekarang ini, membuat Marinka seolah menjadi salah satu orang yang terkena razia. "Kalian akan ditahan beberapa saat, selama masa penyelidikan," suara datar Leon terdengar mutlak. Suara Leon itu manyadarkan Marinka dari pemikirannya yang sudah terlalu jauh. "Heh polisi songong, lo nggak dengar itu barang bukan punya kita. Lagian lo nggak takut, pacar gue ini putri dari pemilik Dinatra group!" Ryan tidak hentinya mengucapkan hal itu. Hal itu sebenarnya membuat Marinka muak, namun dia mencoba untuk tetap bertahan. "Tidak peduli anda anak siapa dan pemilik apa. Jika anda bersalah anda dihukum, kalau anda benar anda bebas!" cukup panjang kali ini perkataan Leon tapi tetap dengan nada datar milikinya. "Lagian putri pemilik Dinatra group tidak ada hubungannya dengan penangkapan malam ini," lanjut Leon. Kepala Marinka langsung bergerak kearah Leon saat ditaunya Leon tengah membersihkan namanya dari perkataan Ryan tadi. Matanya langsung menatap Leon yang ternyata sibuk menulis entah apa. Ryan mendengus lalu menantang balik Leon. "Hah, tidak ada hubungannya? Dia ada bersama gue sepanjang malam ini," Ryan merasa berang pada Leon. Namun Leon tidak menggubris perkataan Ryan. Marinka sudah benar-benar muak dengan Ryan akhirnya meledak juga, Marinka segera berdiri dan pergi menjauh dari pria tidak tau malu itu. "Yang, telepon papa kamu. Suruh buat menuntut semua polisi sialan ini. Bilang kalau mereka salah menangkap orang dan kamu salah satu korbannya bersama aku dan teman-teman ku..." PLAKKK... Ryan belum menyelesaikan perkataannya ketika Marinka sudah terlebih dahulu melayangkan tamparannya. "b******n!" maki Marinka yang langsung pergi begitu saja. Setelah Marinka melakukan itu, dia segera pergi meninggalkan ruang pemeriksaan tadi. Meski begitu dia masih mendengar umpatan Ryan, namun umpatan itu berhenti saat didengarnya Leon berbicara. "Putri tuan Dinatra seharian ini bersama saya bukan anda," kata suara datar Leon. Marinka menelungkupkan kepalanya di atas meja kerjanya yang tidak berbalut apapun. Tidak hanya badannya, kepalanya pun terasa lelah. Bahkan kepalanya semakin mau pecah saat dia tau kalau Jannice adalah pacar Ryan yang sebenarnya. Ryan dan Janice telah berhubungan selama 5 tahun. Lalu dia menjadi selingkuhna selama ini? Marinka tidak apa-apa kalau Ryan mempergunakannya atau memperalatnya, tapi dia paling benci dengan perselingkuhan. Dan Ryan menjadikannya sebagai selingkuhan, selingkuhan yang bodoh. Airmata Marinka meluruh begitu saja. Marinka menangis, hingga membuatnya tidak menyadari kalau Leon sudah ada disana. Setelah menangkap keberadaan Leon. Saat menyadari keberadaan Leon, tangis Marinka bukannya mereda, tangis Marinka malah semakin deras. "Gue nggak tau dia jadiin gue selingkuhan gua dan gue nggak nyangka kalau dia bakal setega itu ngebawa nama gue," kata Marinka entah pada siapa. Leon tidak menanggapi perkataan Marinka, bahkan Leon malah memilih sibuk memasukkan barang-barangnya ke tas kerjanya. Marinka pikir, Leon akan benar-benar mengabaikannya dan pergi begitu saja tanpa mempedulikannya. Namun semua pemikiran itu terbantahkan saat Leon berbicara, "Seharusnya lo tau, lo bergaul dengan siapa." Setelah mengatakan itu, Leon bersiap pergi. Namun sebelum Leon berlalu, Marinka sudah terlebih dahulu menarik lengan Leon. "Then help me!" Pintanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN