"Gue udah lama suka ama lo," kata pria di hadapan Marinka dengan santainya. Saking santainya, pernyataan cinta pria itu tidak menunjukkan keseriusan di mata Marinka.
Seharusnya pria dihadapannya ini tau jawaban Marinka dari sikap santai Marinka atas pernyataan cintanya tadi. Marinka tidak menunjukkan terkejutan, wajah malu-malu atau wajah tegang, sikap yang seharusnya wanita miliki saat ditembak. Tapi sepertinya pria itu sudah mendengar berita tentang Marinka yang selalu menerima setiap pria yang menembaknya. Membuat dia tetap dengan percaya dirinya menyatakan perasaannya pada Marinka.
Marinka menghela napasnya dengan berat. Sebenarnya Marinka sedang tidak ingin berpacaran, tapi dia akan menerima pria itu karena itulah kebiasaannya. Marinka merasa berat menerima pria dihadapannya itu karena bukan pria dihadapannya itu yang Marinka inginkan untuk menyatakan cintanya.
'Marinka maunya Leon,' kata Marinka dalam hatinya.
Namun perkataannya dalam hati itu segera ditepisnya. Membuat Marinka segera memukulkan kepalanya. Dia melakukan itu untuk membuat otaknya selalu ingat kalau Leon adalah musuhnya.
Heck, kalau sampai Leon menembaknya itu berarti, kesempatan Marinka untuk membatalkan perjanjian wajib menikah dia dan Leon akan semakin sulit.
"Jadi gimana?" tanya pria didepannya itu.
Marinka memandang pria didepannya itu, sejenak dengan tatapan datarnya. "Baiklah, kita pacaran," jawab Marinka akhirnya.
Marinka bukannya tidak tau kalau pria didepannya itu menginginkan sesuatu dari dirinya, tapi Marinka akan membiarkannya begitu saja. Toh, Marinka bisa membuang laki-laki kalau laki-laki itu dengan terang-terangan memanfaatkannya.
Bukankah selalu begitu, hampir semua orang didekatnya ada untuk kepentingan tertentu. Tapi Marinka menerima mereka, bukan karena Marinka bodoh tapi Marinka mau mengisi tempat kosong dihatinya yang memang seharusnya terisi orang-orang yang bisa dia sebut sebagai kekasih dan teman. Walaupun orang-orang itu hanyalah kekasih dan teman-teman palsu buat Marinka.
Jika mereka ingin bermain, Marinka siap kok menyiapkan permainan yang menarik dan penuh kepura-puraan buat mereka. Sejujurnya, semua itu semakin membuat Marinka merasa kesepian dan kosong. Teman dan kekasih bohongan inilah yang membuat blank space dihati Marinka. Bahkan ruang itu semakin membesar setiap waktunya, hingga akhirnya dia menemukan tiga sahabatnya. Kekosongan dihatinya untuk pertemanan yang tulus akhirnya dapat dia isi dengan nama Aruna, Valen dan Nindya. Setelah mengisi bagian kosong pertemanan dihatinya, lalu kini yang tertinggal hanyalah bagian kosong untuk kekasih hatinya.
Ketika Marinka sibuk memikirkan masalah kekosongan dihatinya untuk bagian kekasih, pikirannya tiba-tiba membawanya kepada sosok Leon. Marinka baru menyadari kalau ternyata dia hampir menghabiskan 1 bulan ini bersama Leon. Marinka bahkan terlalu sibuk dengan dengan Leon hingga membuat dia lupa untuk mencari pacar baru, penggati Ryan.
Selama 1 bulan ini, Marinka terlalu sibuk dengan dunia barunya lengkap dengan Leon didalamnya. Kalaupun dia punya waktu luang, dia memilih untuk beristirahat dirumahnya. Bayangkan saja, jam pulang kerja Marinka adalah jam 5 sore. Dia sampai dirumahnya sekitar jam 6, setelah itu dia mandi, makan lalu tidur. Begitulah kesehariannya dalam satu bulan belakangan ini. Marinka tidak ada waktu untuk bersenang-senang seperti dulu.
Dalam satu minggu, Marinka memang mempunyai satu hari libur yaitu hari Minggu. Tapi, tetapi saja Marinka tidak bisa meliburkan dirinya secara total di hari itu karena di hari Minggu dia harus beribadah ke gereja. Marinka bisa saja jadi gadis liar, tapi tetap saja yang namanya ibadah adalah hal yang wajib sekali buatnya.
Setiap hari Minggu, dia selalu mengusahakan untuk bisa beribadah di gereja. Kewajiban yang selalu diusahakannya untuk diikutinya sebagai umat Katolik. Barulah sepulang dari gereja dia melanjutkan akan melanjutkan tidurnya. Alasan Marinka memperbanyak istirahat dan tidur adalah untuk menyiapkan energi dan hatinya untuk menghadapi Leon dikeesokan harinya. Jadi jangan tanya apakah dia masih sempat berpesta atau bersenang-senang karena jawabannya tentulah tidak.
Sedikit berebeda dengan 5 minggu belakangan ini, Marinka tidak melanjutkan tidurnya sepulang gereja. Marinka hang out ke mall, tempat janjiannya dengan Vino, pria yang mengajaknya ke luar. Marinka mau melakukan hal itu karena pria Vino menerornya beberapa hari belakangan ini.
Vino menerornya dengan ratusan pesan dan panggilan yang memaksanya untuk nge-date bersamanya. Ajakan itu tidak hanya dalam bentuk paksaan, tapi juga diseratai dengan ancaman kecil. Ancaman kalau Vino akan nekat datang kerumahnya yang jelas hal itu sangat tidak disukai Marinka. Marinka tidak mau berdebat lagi dengan papanya, soal banyaknya laki-laki yang datang bergantian mengunjungi dia. Makanya Marinka ada disini sekarang, di salah satu café di sebuah mall di Jakarta.
"Jadi mulai hari ini kita pacaran?" tanya pria itu semangat sambil memastikan statusnya.
Marinka mengangguk santai untuk menanggapinya. Namun Vino bangkit hendak memeluk Marinka, Marinka langsung bangkit dari duduknya. bukan karena Marinka tidak mau dipeluk, tapi mata Marinka menangkap sosok yang cukup familiar dengannya belakangan ini. Sosok itu adalah Leon, Doleon Airlangga Putra.
Senyum manis langsung muncul di wajah cantik Marinka. Dengan cepat Marinka mengambil tasnya untuk menyusul Leon. Marinka langsung melupakan keberadaan Vino yang ada bersamanya. Saat Marinka hendak melangkahkan kakinya, tangan Marinka segera ditahan oleh Vino.
"Mau kemana?" tanya Vino dengan tatapan posesif.
Marinka mengernyitkan dahinya, belum pernah dia melihat tatapan seperti itu dari seorang Vino. Namun pemikiran itu segera diabaikan oleh Marinka ketika menyadari Leon semakin menjauh.
"Mau ketoilet, perut gue nggak enak."
Marinka menghempaskan tangannya. Dengan segera dia keluar dari tempatnya dengan Vino den segera mencari sosok Leon.
Dengan cermat Marinka memperhatikan orang-orang yang disekitarannya. Setelah beberapa menit mencari Leon, akhirnya Marinka menangkap sosok Leon. Marinka mengernyitkan keningnya, dia mencoba untuk menebak apa yang Leon sedang lakukan. Melihat Leon yang sedikit sembunyi-sembunyi dan hati-hati membuat Marinka menarik kesimpulan kalau pria itu sepertinya sedang memata-matai seseorang. Dengan cepat Marinka medekati Leon lalu memperhatikan arah dimana Leon sedang menatap. Kening Marinka mengkerut karena dari apa yang dilihat Marinka, tidak ada satupun tampang kriminal dari objek yang diintai oleh Leon. 'But, don't judge book from the cover' kan berlaku.
Akan selalu ada manusia bertampang malaikat tetapi iblis didalamnya. Akan ada juga manusia berwajah iblis namun berhati malaikat. Seperti Leon, tampilan sih Casanova abad 21, tapi hati dan kelakuan seperti ratu Jagdis di film Narnia. Leon tidak tersentuh dan terdekati. Sekalinya Marinka mendekat dan menyentuh Leon, dia akan berubah menjadi es.
Mengalihkan tatapannya dari objek Leon, Marinka mengamati penampilan Leon. Marinka tidak mengerti dengan Leon, pria itu ingin memata-matai, tapi dia berpenampilan yang mencolok. Mencolok karena menggunakan penampilan serba hitam miliknya. Otomatis mengundang perhatiankan? Mall bukan tempat melayat mah men. Perhatian yang datang pada Leon banyak datang dari cewek-cewek. Hal ini sukses membuat Marinka misuh-misuh.
"Sayang lagi ngintai siapa?" tanya Marinka berbisik di telinga Leon.
Marinka sengaja melakukan ini karena dia berniat untuk mengejutkan Leon. Namun bukan Leon yang mendapat kejutan, tapi Marinka. Marinka tidak sadar kalau posisinya terlalu dekat dengan leon. Jadi, ketika Leon berputar, jarak mereka terhapuskan. Tubuh mereka menempek karena sakin dekatnya mereka. itulah alasan dia sekarang ada berhadapan dengan Leon. Dengan tubuh yang menempel dan kepala yang menengadah ke arah wajah Leon, membuat Marinka yakin orang bakan berpikir kalau mereka sedang m***m-mesuman.
‘Oh God’ pekik dalam hatinya saking terkejutnya Marinka.
Jantung Marinka berdetak kuat. Bukan hanya karena terkejut, tapi juga karena munculnya rasa.