Stick With U

1084 Kata
Marinka memamerkan senyum manisnya. Marinka sangat senang saat melihat Leon mendelik kepadanya, meskipun itu hanya sebentar. Tapi melihat Leon yang mendelik seperti tadi, layaknya keajaiban bagi Marinka. Keajaiban bagi Marinka karena perubahan raut wajah Leon sangatlah langka. Sama langkanya dengan gerhana matahari kalau menurut Marinka. Marinka tau kalau kelakuannya tadi salah. Salah karena telah membuat intaian Leon lolos, tapi Marinka malah merasa kalau dia tidak sepenuhnya salah dalam hal itu. Kalau dipikir-pikir lagi, Leon dan Marinka sama-sama salah, makanya Leon bisa kecolongan. Leon yang tiba-tiba berputar hingga mendempet Marinka tadilah saat dimana Leon kehilangan targetnya. Dalam hal ini, menurut Marinka bukan hanya Leon sebenarnya yang kehilangan. Marinka jauh lebih banyak kehilangan. Mau tau apa saja kehilangan Marinka? Marinka kehilangan kesadarannya meski hanya untuk sejenak. Marinka juga kehilangan kewarasannya karena malah mengagumi wajah Leon yang ternyata sangat tampan kalau dilihat secara dekat. Lalu, Marinka kehilangan hitungan detak jantungnya karena detak jantung Marinka menggila saat berdempetan dengan Leon. Itu masih kehilangan kecil yang Marinka rasakan, kehilangan paling besar yang paling Marinka rasakan adalah kehilangan harga dirinya. Harga diri Marinka hilang karena dia ditegur oleh seorang anak. Anak itu menegur Marinka dan Leon, dengan menyuruh mereka untuk tidak bermesuman di depan umum. Marinka masih ingat bagaimana anak itu menegur Marinka, "Om, Tante. Kata mama sama papa, nggak boleh m***m-mesuman di tempat umum." Saat teguran anak-anak itulah Leon langsung mendelik ke arah Marinka. Delikan yang membuat Marinka tersenyum lebar hingga sekarang. Tidak hanya senyuman, awalnya Marinka bahkan tertawa kesenangan hingga akhirnya dia merasa lelah sendiri. "Ini hari Minggu, lo bebas tugas. Jadi berhenti ngikutin gue," kata Leon dengan raut datarnya. Senyum Marinka terhenti, tapi tatapan mata Marinka dan seringainya kembali, hingga menampilkan binar jahil diwajahnya. Lalu Marinka memberikan jawaban pada Leon, jawban yang Marinka anggap mampu membuat Leon frustasi. "Nggak mau, i will stick with u forever." Marinka menjawab itu dengan nada genit menggoda. Baru Marinka sadari sekarang kalau ternyata tatapan milik Leon ternyata berubah-ubah. Ternyata ekspresi perasaan pria itu bukan terletak di raut wajahnya, tapi pada tatapan pria itu. Dan Marinka baru menyadarinya saat dia bisa bertatapan sedekat ini dengan Leon. Walaunpun menyadari hal itu, Marinka tetap tidak bisa membaca arti tatapan Leon. "Is it okay if i stick with u?" Tanya Marinka dengan mata yang tetap bertahan menatap Leon. Berbeda dengan yang sebelumnya, pertanyaan Marinka kali ini murni dari dalam hatinya. Leon diam menatap Marinka, dia tidak memberikan jawaban atas petanyaan Marinka, tapi Marinka yakin tatapan mata Leon memberikan jawaban untuknya. Marinka yakin akan hal itu karena Marinka meyadari perubahan sorot mata Leon. Sayangnya, Marinka tidak tau dan mengerti akan arti sorotan mata itu. Saat Marinka berpikir akan membiarkan jawaban Leon itu berlalu begitu saja, Leon menanggapi pertanyaan Marinka melalui mulutnya. "Give me a reason, why i need to say yes?" tanyanya datar dan dingin. Marinka sempat terdiam sebentar, lalu memasang wajah memberengut kesal. Marinka tidak suka keadaan seperti ini, keadaan dimana Leon menanggapinya serius. "Itu keluarganya," kata Marinka sambil menunjuk keluarga yang diintai Leon. Marinka begitu bersyukur ketika Marinka menemukan orang yang diintai Leon. Hal itu membantu Marinka menghindar dari petanyaan serius Leon. * "Yang, kamu tau nggak kamu itu terlalu mencolok jadi mata-mata," Kometar Marinka pada Leon yang mengabaikannya sedari tadi. Marinka kembali mendengus sebal saat didengarnya tidak ada jawaban dari Leon. Meski begitu tangan Marinka tetap merangkul tangan kanan Leon. Saat ini keduanya tengah berada di sebuah toko pakaian wanita dan pria, tempat dimana keluarga yang diincar Leon sedang berebelanja. Kalau tadi Leon dan Marinka mengamati intaian mereka dari jauh, maka sekarang keduanya dengan terang-terangan mendekat ke arah keluarga itu. Entahlah siapa yang Leon intai sebenarnya dari salah satu anggota keluarga itu, tapi Marinka yakin kalau Leon tidak mengintai salah satu anak pasangan itu. "Sayang ini pas nggak buat aku?" tanya Marinka dengan tidak tau malunya memasang sebuah gaun hitam ditubuhnya. Lagi-lagi tidak ada tanggapan dari Leon, membuat keluarga yang dimata-matai Leon melihat kasihan pada Marinka. 'Leon b******k. Harusnya pria bodoh itu tau kalau Marinka hanya ingin membantunya' maki Marinka di dalam hatinya. "Mas itu pacarnya dikomentari, entar ngambek loh mas," kata wanita cantik yang Marinka duga adalah istri dari pria yang juga tengah menatapnya kasihan itu. Perhatian Marinka untuk sesaat teralihkan pada suami si wanita. Pria itu benar-benar berwajah ramah dan baik untuk pantas memiliki kejahatan. Sungguh, Marinka yakin kalau bukan pria itu targetnya Leon. Lalu, kalau bukan anak mereka dan bukan si suami, itu artinya si istrikan yang menjadi target Leon? "Nggak cocok," perhatian Marinka kembali ke Leon ketika suara dingin itu dengan sadisnya mengeluarkan pendapatnya. Pendapat Leon itu membuat Marinka gondok segondok gondoknya. Bukan hanya karena pendapat Leon, tapi juga karena tawa tertahan dari wanita tadi. Meski wanita itu berusaha menutup mulutnya, Marinka tetap bisa mendengar suara tawa kecilnya. "Maaf mbak, istri saya nggak sopan.” Si suami sepertinya sadar dengan kekesalan Marinka hingga akhirnya dia memutuskan untuk membawa istrinya itu pergi. ”Kita pergi Ma," suami si wanita itu akhirnya pamit pada Leon dan Marinka. Tanpa membiarkan istrinya berbicara, si suami langsung menarik tangan istrinya bersama 2 anaknya. Salah satu anak dari pasangan itu menyempatkan dirinya untuk melambaikan tangannya kepada Marinka dan Leon. "Lo harusnya ikut kerjasama ama gue, lebih mudah ngemata-matain gitu daripada cara lo yang ngecolok," sungut Marinka, sambil mengembalikan gaun ditangannya. Leon tidak membalas, dia memilih diam dan mengikuti mengikuti Marinka ke luar dari toko pakaian itu. Keduanya tetap diam hingga akhirnya Marinka membuka suaranya. Marinka menanyakan pada Leon dengan cara memancing Leon untuk tau siapa sebenarnya target pria itu. "Lo yakin om-om tadi kriminal, ngelihat wajah sama perhatiannya keanaknya gue nggak yakin deh dia kriminal," kata Marinka. Leon tidak menjawab, memilih untuk mendahului Marinka. Jujur, meski sudah kebal dengan cueknya Leon, Marinka tetap saja merasakan sebal setiap kali dia dicueki oleh Leon. Meski sebal, Marinka tetap mengikuti Leon lagi. Saat ini keduanya kembali dalam mode mengintai,. Saat keduanya tengah serius, Marinka lagi-lagi tidak bisa menahan keterkejutanya ketika Leon akhirnya menjawab. "Bukan suaminya, tetapi istrinya." Marinka terdiam beberapa saat. Baru kali ini Leon menaggapi pertanyaannya tanpa membuatnya berubah jadi patung es. Sungguh, Leon tidak pernah menjawab pertanyaannya meskipun pertanyaan itu tentang pekerjaan. Makanya ketika Leon menjawab dia seperti sekarang ini, itu cukup membuatnya terkejut. Buat Marinka, hari ini hubungannya dengan Leon penuh dengan keajaiban. Pertama, Leon mendelik. Lalu sekarang, Leon menjawab pertanyaanya. Ini yang namanya perkembangan kan? Marinka kemudian tersenyum licik, sepertinya usahanya tidak akan berakhir sia sia. Meski memakan waktu yang cukup lama, Akhirnya perjuangan Marinka menunjukkan hasilnya. Dan sekarang tekad Marinka semakin bulat, Marinka akan melakukan apapun untuk bisa semakin mendekatkan dirinya dengan Leon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN