Senin, itu artinya sudah saatnya untuk kembali bekerja. Kalau kata orang-orang punya motto 'I hate Monday' maka Marinka punya motto, ‘She love Monday’ Marinka sangat menyukai hari Senin karena dia tidak perlu terburu-buru untuk berangkat kerja. Karena ada upacara di kepolisian, upacara yang tidak wajib dia ikuti.
"Pa, Inca boleh nanya nggak pa?" tanya Marinka serius saat keduanya sedang berada di meja makan.
Jangan tanya kapan dia baikan dengan papa dan kakak nya karena jawabannya tidak akan lebih dari 3 hari. Marinka akan langsung berbaikan dengan 2 pria yang paling dicintainya itu dalam waktu dekat. Apalagi kalau Marinka sedang ada maunya.
Aranda mengangkat wajahnya dari koran yang dibacanya lalu melihat Marinka dengan satu alis terangkat.
"Papa kenal nggak sih ama Leon?" tanya Marinka dengan serius.
Aranda terdiam sebentar lalu mendesah kecil.
"Kenal. Leon itu anak om Erlangga, sahabat papa." jawab Aranda dengan wajah yang sedikit sendu.
Marinka terdiam sebentar, nama Erlangga sepertinya pernah didengarnya, tapi dia lupa entah dimana.
"Om Erlangga itu sahabat papa dari SMA Ca, sama seperti om Ali dan om Yosep," kata papa Marinka lagi, namun kali ini dengan tatapan yang seperti melayang jauh.
"Jadi komandan Ali nggak bohong waktu bilang udah kenal Inca sejak kecil pa?" tanya Marinka terkejut. Pertama kali bertemu Marinka pikir pria tua itu hanya berbohong kepadanya.
Aranda tersenyum lalu mengangguk, "Tidak hanya om Ali. Om Yosep dan om Erlangga juga udah tau kamu sedari masa kamu masih di salam kandungan.”
“Inca pasti hanya ingat sama om Yosep aja ya?" tanya papa Marinka yang segera diangguki oleh Marinka karena dari tiga sahabat papanya itu, Marinka memang lebih mengenal Yoseph.
"Kalau sama Leon pa? Inca pernah ketemu nggak?" tanya Marinka kembali penasaran.
Aranda mengatupkan bibirnya rapat lalu menjawab dengan suara yang terdengar getir kalau menurut Marinka.
"Bahkan sejak lahirpun kalian udah ketemu Ca," jawab Aranda dengan wajah yang kembali sendu.
Marinka diam mencoba mengerti perkataan dan reaksi papanya yang menurutnya sedikit aneh.
"Kamu tau nggak Ca, dulu Leon itu lahir premature jadi harus di incubator selama 3 bulan. Tidak hanya premature, Leon juga terkena penyakit kuning yang membuat Leon diprediksi tidak akan bertahan hidup.” Cerita Aranda sambil mengenang ke masa-masa dimana dia menyaksikan perjuangan hidup Leon.
“Saat itu keadaanya benar-benar sangat menyedihkan. Kemungkinan hidupnya sangat kecil, bahkan tidak sampai 50%. Dokter yang menanganin Leon sudah menyuruh papa, om Yosep ama om Ali untuk menyerah dengan melepas semua alat bantu Leon untuk hidup. Beruntung om Yoseph pemilik rumah sakit itu, jadi Leon tetap dirawat secara eksklusif.” Aranda berhenti sejenak sebelum melanjutkan lagi ceritanya.
“Waktu itu Leon berumur 3 bulan, saat mama mau ngelahirin kamu. Tapi kamunya susah banget buat keluar. Karena kamu susah keluar, makanya papa nemani mama buat jalan-jalan di lorong rumah sakit. Waktu itu, tiba-tiba saja om Yoseph ngedatangi papa buat ngasih tau kalau detak jantung Leon hilang dan Leon juga tidak bernapas lagi.” Aranda memandang wajah Marinka dengan tatapan yang Marnka tidak tau apa itu artinya.
Setelah menatap Marinka sejenak, Aranda kembali melanjutkan ceritanya. “Papa panik, meminta mama untuk kembali keruangan saja biar papa ngelihat keadaan Leon. Tapi sepertinya kamu juga ikut khawatir dengan Leon makanya kamu langsung minta keluar dari perut mama.” Aranda mencoba membuat candaan agar menghilangkan kesedihan yang sempat dirasakannya.
“Tau nggak Ca, waktu itu kamu keluar dengan cepatnya. Mama nggak perlu susah-susah buat ngeluarin kamu.”
“Dan tau nggak Ca, ada keajaiban terjadi saat kamu keluar dari perut mama. Leon kembali bernapas. Tidak hanya itu, waktu kamu nangis kencang untuk pertama kalinya, saat itu juga Leon menangis bersama kamu," kata Aranda lalu tertawa geli, membuat Marinka menyipitkan matanya karena curiga.
"Papa boongin Marinka ya?" tanya Marinka.
Aranda melotot tidak terima dibilang bohong.
"Ih nggak ya. Ngapain papa bohong," protesnya.
"Terus, kenapa papa tau kalau pas Marinka nangis Leon juga nangis?" tanya Marinka masih curiga.
"Dari rekaman. Waktu kamu dilahirinkan papa rekam. Kalau Leon, diruangannyakan memang kita pasang kamera," kata Aranda menjelaskan dengan tidak terima.
Mendengarkan penjelasan papanya, barulah Marinka mengangguk-angguk kecil tanda mengerti.
"Terus pa, kenapa papa, om Yosep sama om Ali yang bertanggung jawab sama Leon?" tanya Marinka bingung. Marinka hanya merasa aneh, bukankah seharusnya mama papa Leon yang bertanggung jawab dan menjaga Leon.
"Papa Leon udah nggak ada waktu Leon sewaktu dia masih dalam kandungan mamanya. Kalau soal mama Leon, dia menghilang dihari yang sama Leon dilahirkan. Menurut kabar yang papa dengar saat kami melakukan pencarian, mama Leon sudah meninggal." Wajah Aranda kembali sedih mengingat nasib sedih Leon.
Marinka tergugu, tiba-tiba rasa sedih dan kasihan akan Leon memenuhi hatinya. Marinka tidak tau kalau hidup Leon setragis itu. Selama ini Marinka pikir, Leon adalah anak orang kaya raya karena sifat sombong dan songongnya pria itu. Rasa simpati terhadap Leon tiba-tiba tumbuh di dalam hati Marinka.
"Ih udah ih curhat-curhatnya udah mau jam 7 nih, kamu nggak takut terlambat," papa Marinka beranjak dari duduknya ketika melihat jam tangannya saat itu.
Bukannya panik, Marinka malah bersandar santai ditempatnya duduk. Marinka bersikap santai karena tidak akan ada yang memarahinya nanti di kantor tempatnya bekerja. Jangankan marah, bosnya saja tidak pernah bicara kepadanya. Tidak hanya itu, bosnya tidak menganggap keberadaannya.
Terlalu hebat kalau Leon mau bicara dengannya, melihat dia saja Leon tidak mau. Sampai-sampai Marinka curiga kalau pria itu tidak sadar dengan keberadaannya. Marinka tiba-tiba merasa seperti Kuroko. Ada, tapi nggak pernah disadari keberadaannya oleh teman-temannya.
*
Seharian ini Marinka tidak melakukan tugasnya seperti biasanya. Dia memang masih tetap mengikuti Leon kemanapun, tapi kali ini Marinka lebih banyak diam mengamati laki-laki itu. Marinka tidak melakukan apapun yang bisa mengusik Leon.
Sejak mengetahui cerita tentang Leon, Marinka merasa sangat kasihan pada Leon. Marinka adalah seorang lulusan hukum yang kebetulan mengambil jurusan hukum pidana. Dulu dihukum pidana dia sempat belajar mengenai psikologi manusia, membuat Marinka mudah membayangkan perasaan dan kepribadian sesesorang. Karena itulah Marinka jadi bisa mengerti sekarang kenapa kepribadian Leon begitu dingin. Tidak merasakan kasih sayang sejak kecil pasti sangat mempengaruhi Leon yang sekarang.
Mengingat fakta itu, membuat Marinka semakin menatap iba Leon. Tidak merasakan kasih sayang sejak lahir pastilah sangat menyedihkan. 'Jadi siapa yang merawat Leon hingga besar ini?' tiba-tiba pikiran itu memasuki otak Marinka.
Marinka mengutuk dirinya yang tadi tidak sempat menanyakan hal ini pada papanya tentang ini. Dalam memori Marinka, dia tidak pernah bertemu Leon, jadi dia tidak tau bagaimana tentang kehidupan Leon sama sekali.
"Kenapa lo dari tadi ngeliatin gue?"
Akhirnya, untuk yang pertama kalinya sejak Marinka mengenal seorang Leon, pria itu yang terlebih dahulu yang membuka pembicaraan dengannya. Hal itu membuat Marinka terkekeh geli.
Marinka sadar kalau Leon mungkin merasa risih dan terganggu dengan tatapannya yang tidak lepas dari pria itu sejak mereka bertemu pagi tadi. Menemui sesuatu yang membuat Leon bisa terganggu dengan kehadirannya, membuat tombol khusus mengganggu Leon di otak Marinka, langsung turn on. Dengan cepat Marinka menyeringai lalu memasang wajah genitnya.
"Ih ayang kok gitu, dari dulu Inca-kan memang perhatian ama ayang," goda Marinka dengan bibir mengerucut dan bahu yang maju mundur yang membuatnya terlihat menggelikan.
Leon menatap datar ke Marinka untuk sesaat, tetapi setelah itu dia beranjak menjauh tanpa mengatakan apapun.