Seperti janji pria yang keluarganya mereka intai hari Minggu kemarin, hari ini pria itu mengantarkan istrinya ke kantor polisi tempat Marinka dan Leon berada. Leon yang memang ditugaskan untuk mengurus kasus itu, memulainya dengan melakukan pemeriksaan terhadap istri dari pria itu terlebih dahulu. Lalu Marinka seperti biasa, dia selalu ada dimana Leon berada.
Marinka terdiam di sebelah Leon, dia ikut mendengarkan pengakuan dari Regina, wanita yang sedang diperiksa Leon. Mendengar penjelasan Regina yang disertai uraian airmata, tidak membuat Marinka iba sama sekali. Buat Marinka, pengakuan wanita itu membuat terlihat seperti istri dan ibu gagal di mata Marinka. Tidak hanya itu, Marinka semakin muak pada Regina saat dia tau Regina memang mencoba mencelakai bahkan membunuh anaknya.
Awalnya, Marinka hanya menatap muak pada Regina, namun akhirnya Marinka menatap marah pada Regina. Marah ketika Regina dengan seenaknya mengatakan kalau anak yang hendak dicelakainya itu tidak pantas untuk hidup. Anak itu hanyalah hasil kesalahannya, anak hasil perselingkuhannya dengan si pelapor.
*
Renata, wanita berumur 35 tahun. Diumurnya yang hampir menginjak 30, wanita itu terbilang masih sangat cantik dan terlihat masih muda. Sepuluh tahun yang lalu, saat Renata dan Dion baru menikah satu tahun dan baru dikaruniai 1 anak. Dion mendapat tugas di Kalimantan selama 5 tahun.
Saat Dion jauh disanalah Renata melakukan perselingkuhan dengan teman suaminya. Meski Dion pulang sekali sebulan, Renata tetap saja berselingkuh dengan selalu memberitahukannya kapan dia dan selingkuhannya bisa bertemu. Perselingkuhan itu terjadi sampai akhirnya Dion kembali bertugas di Jakarta.
Saat Dion kembali bertugas di Jakarta, Renata malah hamil Rio, anak yang Renata coba celakai. Sebenarnya sejak Renata tau dia hamil, dan anak itu bukanlah anak Dion, Renata selalu berusaha untuk menggugurkan Rio. Renata takut kalau sudatu saat Dion tau tentang perselingkuhannya. Karena sejatinya Renata sangat mencintai Dion.
Namun, usaha Renata untuk menggugurkan Rio selalu gagal oleh Dion sendiri. Menurut Dion Rio adalah anaknya dan Dion pikir, usaha Renata selama ini untuk menggugurkan Rio karena masalah rumah tangga mereka. Memang, sejak Dion ditugaskan jauh dari Renata, mereka memang tidak harmonis saat mereka baru menikah. Sifat curigaan dan asal menuduh Renatalah penyebabnya.
Merasa usahanya untuk menggurkan Rio tidak akan berhasil, Renata akhirnya membiarkan Rio lahir. Apalagi saat Renata tau selingkuhannya berjanji pergi dari hidupnya apabila Renata berjanji untuk merawat anak mereka.
Sayangnya, beberapa bulan terakhir ini selingkuhan Renata, Valdi. Dia datang kembali dan mencoba menghubungi Renata, memaksa Renata untuk memperkenalkannya dengan anaknya. Renata tentu panik dan takut. Perasaan itu menghantui Renata setiap saat, hingga akhirnya membuat Renata gelap mata.
Renata yang gelap mata memilih untuk melenyapkan Rio secepatnya. Kata Renata, dia tidak akan rela kalau dia harus kehilangan Dion hanya demi anak hasil perselingkuhannya. Ternyata Valdi menyadari hal itu, menyadari usaha Renata untuk mencelakai Rio. Perlakuan Renata akhirnya mau tidak mau membuat Valdi melaporkaan Renata kepolisi. Jadilah kasus itu ditangani Leon sekarang.
*
Ketika Renata masih terisak setelah menceritakan kronologi kejadiannya. Marinka tiba-tiba merasakan perubahan aura Leon, Marinka tidak tau kenapa tapi rasa dingin dari aura itu lebih mencekam dari yang pernah dia rasakan.
"Kenapa anda mencoba membunuh anak yang bahkan tidak meminta lahir dari sebuah kesalahan. Kenapa anda tidak mencoba membunuh diri anda sendiri karena andalah sumber kesalahan itu," kata suara dingin Leon menghentikan isakan si wanita.
Tubuh wanita itu terlihat mendadak beku dan kaku. Marinka yang ada di sebelah Leon saja bisa merasa merinding hanya dengan suara dingin Leon saja. Suara itu seolah kumpulan dari rasa marah, muak dan sakit hati Leon. Marinka terhenyak, ingatannya kembali kecerita papanya tenga masa kecil Leon.
Meski itu hanya sedikit, Marinka bisa melihat kesakitan dan kesedihan di mata Leon. Marinka tidak begitu mengerti tentang perasaan Leon karena dia tidak tau kehidupan Leon selama ini, tapi kehidupan Leon yang tumbuh tanpa orang tua sepertinya mengubah pria itu menjadi tidak tersentuh.
'Atau ada hal lain yang tidak aku tau yang membuat Leon berubah sedingin ini?' tanya Marinka dalam hatinya.
*
Entah berapa lama Marinka melamun, tapi yang pasti saat Marinka tersadar dari lamunannya pasangan suami istri itu sudah tidak ada lagi disana. Sedangkan Leon, Leon sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja dihadapannya.
Melihat itu, membuat Marinka bangkit lalu bergerak ke arah Leon. Entah dapat keberanian darimana Marinka mengelus rambut Leon yanglebat dan sedikit panjang. Marinka mengelusnya dengan lembut dan hati-hati, berharap Leon bisa baik-baik saja dengan elusan itu.
Secara teori, Marinka mungkin bisa tau apa yang Leon rasakan. Tapi tidak kalau dalam kenyataan, karena kenyataannya dia tidak pernah mengalami nasib se naas Leon. Sejak kecil Marinka selalu tinggal dan dipenuhi kasih sayang oleh mama, papa dan kakaknya. Hidupnya tetap penuh cinta, meski mama papanya sibuk. Apalagi dia memiliki Mattew yang mengganti peran mama papanya ketika keduanya jauh. Marinka tidak pernah membayangkan jika seandainya dia ada diposisi Leon sekarang.
Saat Marinka hendak menarik tangannya dari kepala Leon, tiba-tiba saja Leon menarik lengannya. Suara Leon begitu pelan dan terdengar lirih ketika dia meminta Marinka untuk tetap mengelus rambutnya. "Tolong teruskan."
Marinka terdiam kembali mengelus rambut tebal Leon, melakukannya dengan baik seperti tadi. Sambil mengelus rambut Leon, bermacam pemikiran berkelebat di otak Marinka. Pemikiran itu semuanya tentang Leon, terutama tentang Leon yang kekurangan dan merindukan kasih sayang.
Entah seberapa lama Marinka mengelus rambut Leon, tapi yang pasti itu sangat lama. Saking lamanya, Marinka sampai merasakan kakinya kesemutan. Tidak hanya itu, dari arah Leon, Marinka bisa mendengarkan dengkuran halus dari Leon, pertanda bahwa pria itu telah masuk ke alam tidurnya.
'Sepertinya dia tertidur,' pikir Marinka.
Dilihatnya jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul enam sore. Marinka lalu melihat ke arah luar yang untuk mencek suasana apakan dia bisa pulang atau tidak, tapi karena hujan niat Marinka akhirnya ditundanya. ‘Sebaiknya aku membiarkan Leon meneruskan tidurnya’ pikir Marinka.
Merasa Leon sudah bisa ditinggalkan, Marinka kembali keposisinya tadi, lalu menelungkupkan kepalanya sama seperti yang Leon lakukan. Dari posisinya ini dia bisa melihat wajah tenag Leon yang sedang tertidur. Wajah itu terlihat damai dan tanpa beban, bahkan kesan dingin dan datarnya menghilang begitu saja.
"He is totally handsome," puji Marinka pada Leon yang tertidur.
Tanpa Marinka sadari rasa kantuk kemudian menghinggapinya, mau tidak mau Marinka sudah dibawa kealam mimpi oleh tidurnya.
*
"Aakkhhh..." rintih Marinka saat bangun dari tidurnya.
Seluruh tubuh Marinka terasa sakit, otot-ototnya terasa kebas dan tulang lehernya kaku. Itu semua terjadi karena posisi tidurnya yang menelungkup semalaman ini. Saat Marinka mengusap matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah Leon yang tampak serius dengan berkas-berkasnya.
Setelah melihat Leon, Marinka memperhatikan sekitarnya.
"Oh masih di kantor" ucapnya entah pada siapa.
Marinka seolah lupa dia masih di kantor seharian ini dan belum pulang kerumahnya sama sekali. Marinka melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 11 malam.
"Kenapa lo nggak bangunin gue," rengeknya ke arah Leon.
Leon meliriknya namun tidak menjawab Marinka. Hal itu membuat Marinka kemudian mendengus. Berpikir menggunakan kesempatan dalam kesempitan, Marinka meminta sesuatu dari leon, meski dia tidak yakin Leon akan menyanggupinya.
"Lo harus nganterin gue pulang sekarang kalau gitu."
Minta Marinka sambil memasukkan semua peralatan miliknya ke dalam tas miliknya. Leon tidak menjawab, namun dia terlihat juga memasukkan barang-barang miliknya ke tas sandangnya.
Marinka sebenarnya cukup terkejut ketika Leon mengikutinya ke arah mobil miliknya. Marinka pikir, pria itu akan mengabaikan dia dan rengekannya. Tetapi saat pria itu mengadahkan tangannya dan Marinka menyerahkan kuncinya, disitulah Marinka tau kalau Leon hendak mengantarnya pulang.
Dalam perjalanan pulang itu, Marinka tiba-tiba merasa canggung hanya tinggal berdua bersama dengan Leon di dalam mobilnya. Terbiasa dengan menggoda Leon dan memiliki niat lain pada Leon membuat Marinka sedikit tidak nyaman dengan kenyataan dia peduli pada pria itu.
'No Marinka, stay focus and end it well,' teriak Marinka dalam hatinya untuk meneguhkan hatinya.
Ada satu yang mulai membuat Marinka mulai khawatir akan dirinya. Khawatir karena ada rasa tidak senang dalam hatinya ketika dia berpikir harus mengakhiri semuanya dengan Leon.
*