Seharian ini, Marinka dan Leon sibuk dengan kasus tabrak lari yang ditugaskan pada Leon. Setelah seharian menemani Leon mengadakan pemeriksaan di TKP, mencari dan mendengar keterangan para saksi, barulah keduanya pulang ke kantor mereka. Pulang untuk membuat laporan tentang kasus tabrak lari yang sedang ditangani oleh Leon.
Marinka merasa lelah. Dia merasa, hari ini jauh melelahkan dari hari-hari dia sebelumnya yang hanya memiliki pekerjaan mengikuti Leon. Marinka meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah membantu Leon mengetik hal apa saja yang dibutuhkan Leon untuk melengkapi laporannya.
"Gue bosan. Lo bisa nggak, buat ngga ngasih gue pekerjaan yang ngebosenin gitu?" rengek Marinka yang memang sudah diambang rasa jenuh dan bosannya.
Leon melihat Marinka sebentar lalu mengumpulkan beberapa berkas yang masih terlihat kosong.
"Lo emang ngerti buat laporan?" tanya Leon datar.
Meski datar, Marinka yakin kalau Leon sebenarnya sedang menyepelekan dia.
"Heh, gini-gini gue lulusan fakultas hukum tau. Gue belajar kali tentang nulis berkas-berkas tuntutan dihukum acara pidana," pamer Marinka.
Leon tidak mengatakan apapun malah kembali melihat laporannya dan mengambil beberapa berkas dari atas mejanya.
"Kalau gitu lo buat laporan untuk ini," kata Leon menyerahkan beberapa lembar kertas tadi kepada Marinka.
Marinka menatap kumpulan keterangan saksi, data-data dan identitas pelaku dan korban. Marinka mencoba mengisi laporan itu sesuai dengan keterangan tadi dan ilmu yang dia dapat selama kuliah. Dalam mengerjakannya, Marinka benar-benar behati-hati mengerjakannya, karena bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama Marinka menerapkan ilmunya dalam dunia nyata.
"Leon, tersangka kasus ini benaran Bastian Onallo Pratama? Putra dari Pratama group bukan?" tanya Marinka memastikan.
Leon tidak menjawab memilih untuk melanjutkan tugas miliknya.
Marinka membiarkan Leon untuk mengabaikannya dan membaca lagi semua ketarangan yang ada ditangannya. Marinka yakin kalau ini adalah Bastian, anak dari salah satu pengusaha besar di Indonesia. Marinka pernah bertemu dengan pria ini, namun Marinka tidak pernah benar-benar berkomunikasi langsung dengannya. Marinka sangat tidak menyukai Bastian karena Bastian adalah tipe pria yang hanya mengandalkan harta orang tuanya. Image bad boy dan b******k benar-benar melekat pada Bastian. Bahkan dulu, papa Marinka pernah mewanti-wanti Marinka untuk tidak pernah berurusan dengan keturunan Pratama.
Marinka kemudian membaca lagi riwayat Bastian. Ternyata, ini bukanlah pertama kalinya pria itu tersangkut kasus hukum. Dimulai dari pemukulan, pelecehan, pemakaian narkoba dan juga penculikan. ‘Tapi kenapa tidak ada pemberitaan tentang ini sama sekali?’ pikir Marinka
Seingat Marinka, Marinka tidak pernah mendengar tau melihat tentang pemberitaan media tentang semua ini. Padahal, berita dia yang mencium Leon saja bisa beredar hanya dalam satu malam saja. Sebenarnya Marinka pernah diberitahu temannya tentang hal ini. Namun Marinka pikir itu hanyalah rumor karena tidak ada pemberitaan media atau tindak lanjut dari polisi untuk berita itu. Pratama group adalah salah satu group terbesar di Indonesia, Marinka yakin seharusnya media tertarik dengan semua kasus ini.
'Oh iya, uang selalu bisa bicara,' kata Marinka akhirnya sadar.
Ya selalu begini, uang seolah memiliki kekuatan yang lebih besar dari apapun. Bahkan dari hukum, sesuatu yang seharusnya digunakan untuk melindungi keadilan.
"Gue nggak mau ngerjain laporan ini," kata Marinka mengembalikan berkas ditangannya kepada Leon. Leon tidak menjawab, dia menatap datar kepada Marinka.
"Gue nggak mau ngelakuin hal yang sia-sia. Buat apa gue ngehabisin tenaga dan waktu buat nulis ini sekarang kalau ternyata kasus ini bakal nggak diproses dan tidak menghasilkan rasa keadilan buat korban dan keluarga korban," ucap Marinka panjang lebar.
Leon masih saja diam, kemudian melihat laporan yang sudah dibuat Marinka sebagian. "Ternyata lo beneran bisa nyusun laporan dan nganalisa kasus."
Setelah mengatakan hal itu, Leon kembali memeriksa pekerjaan Marinka dengan baik-baik. "Gue nggak ngerti apa masalah lo, tapi yang gue tau setiap orang bebas memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah. Sebuah kebenaran mungkin saja dicurangi, tapi setidaknya bukan gue yang ngelakuin kecurangan itu. Gue juga berharap bisa menjadi salah satu orang yang berjuang untuk kebenaran, meski peran gue hanya kecil dalam kebenaran itu," kata Leon panjang lebar namun dengan nada datar seperti biasanya.
Ketika mengatakan hal itu, mata Leon masih melihat semua laporan yang sempat Marinka buat tadi.
Marinka berusaha mengabaikan perkataan Leon, namun nyatanya perkataan pria itu memasuki hatinya. Marinka adalah lulusan fakultas hukum salah satu universitas negeri di Indonesia. Namun semenjak lulus Marinka tidak pernah berniat menggunakan gelar ataupun ilmunya. Padahal dulu sewaktu dia masih kecil, Marinka pernah bercita-cita untuk menjadi seorang hakim. Namun semuanya itu hancur begitu saja saat tau betapa bobroknya hukum di Indonesia.
Marinka langsung beranjak dari duduknya ketika Leon berdiri dan berjalan menuju tempat pengumpulan berkas. Satu hal yang paling tidak Marinka sukai, masuk kedalam keseriusan. Dimulai dari berpikir, suasana dan pembicaraan. Meski begitu, Marinka sadar kalau itu adalah satu hal yang pasti dan wajib dalam hidup. Tidak hanya dalam hidup, bahkan dalam hubunganpun semua orang dituntut sebuah keseriusan, makanya ada yang namanya pernikahankan?
Ngomong-ngomong soal pernikahan. "Leon gue boleh ngomong nggak ama lo?" Kata Marinka sambil menarik lengan Leon.
Leon menghentikan langkahnya lalu menatap lengannya yang dipegang oleh Marinka. Marinka segera melepaskan pegangannya itu secepat mungkin.
"Gue beneran nggak mau nikah ama lo," kata Marinka pelan.
Setelah mengatakan itu, keduanya terdiam sejenak. Marinka menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Leon. Leon sendiri, untuk sesaat tetap berdiri dihadapan Marinka, tapi kemudian Leon beranjak pergi tanpa berkata apapun pada Marinka.
Mulut Marinka bisa saja mudah mengatakan semua itu. Tapi jauh di dalam hati Marinka yang paling dalam, Marinka merasakan sedikit sakit disana setelah mengatakan itu.