Tersesat

972 Kata
Adhista dan Arjuna masih setia dihutan itu, karena cuacanya yang sejuk dan sinyal yang lumayan bagus. Sekarang sudah hampir jam dua belas siang, namun rasanya masih sejuk dan tidak terasa panas sama sekali, tidak seperti dikota. "Mau pulang jam berapa?" tanya Arjuna yang sudah mulai bosan. "Ah masih betah disini, disini dulu ya. sampe setengah satu aja," pinta Adhista. "Sekarang jam?" "Eum, sekarang jam setengah dua belas lewat empat menit," jawab Adhista melihat jam ditangannya. "Astaghfirullah, kita dari tadi cuma diem duduk doang Dhis astaghfirullah. Lo kaga bosen apa?" tanya Arjuna kaget. "Hahahaha, yaudah ayo ayo pulang. lagian ga ngajakin dari tadi si," ajak Adhista sembari berdiri dan merapikan pakaiannya. "Ya gimana ya... enak soalnya walaupun diem-diem doang, tapi kan bosen juga Dhis," ucap Arjuna lalu mereka berdua kembali ke villa. "Iya-iya i know what you feel, yaudah sambil jalan yuk," ajak Adhista lalu merekatkan tangannya ke Arjuna. Mereka berdua berjalan menuju Villa yang lumayan jauh, karena mereka juga tidak tau jalannya, tadi hanya jalan-jalan iseng saja sambil menghilangkan bosan tapi sekarang mereka lupa arah jalan pulangnya, haha lucu sekali. "Kamu inget jalannya ngga Dhis?" tanya Arjuna yang kelihatannya sudah lelah. "Yah lupa, tapi kayaknya udah deket deh Kak," ucap Adhista melihat-lihat sekitar. "Dhis, ini d**a aku sesak banget serius, duduk dulu ya? takut ngga kuat, lemes banget ini Dhis," ucap Arjuna sambil memegangi dadanya menahan rasa sakit. "Kak? Kamu kenapa? pucet banget, mana ga bawa minum lagi, yaudah duduk dulu yuk di batu besar itu," ajak Adhista dan menuntun Arjuna ke batu besar yang berjarak kuran lebih sepuluh meter itu. "Apa aku telpon orang yang di villa aja ya? aku takut kamu pingsan," ujar Adhista dan Arjuna hanya diam saja menahan sesak di dadanya. "Kak Chandra, jemput gue sama Juna dong, Kak Juna sakit nih sekarang," ucap Adhista panik menelpon Chandra, kakaknya. "Lo dimana sekarang?" tanya Chandra dari sebrang sana. "Aduh dimana ya.. gue ngga tau juga persisnya kak, pokoknya tadi gue ada didalam hutan gitu, kaya foto gue yang di i********:," seru Adhista mulai panik. "Yaudah tunggu, gue sama anak-anak cowok lainnya kesana, jangan dimatiin telponnya," jawab Chandra dan langsung saja dia mengajak Naufal, Rizky, Bima, Aldy, Agung dan lain-lain, kecuali anak perempuan. Adhista masih setia menaruh ponselnya ditelinganya, sambil duduk disebelah Arjuna dan memegangi tangannya. "Kak? masih kuat kan?" tanya Adhista khawatir. "Masih Dhis, tenang aja," lirih Arjuna bohong, Arjuna hanya pura-pura kuat, sejujurnya itu sakit sekali. tapi, Arjuna tak ingin membuat Adhista khawatir dan berpikiran aneh-aneh tentang penyakitnya. "Halo Dhis?" panggil dari sebrang tapi bukan suara Chandra. "Iya kak? Gue masih ditempat tadi," jawab Adhista. "Gue Rizky bukan Chandra, coba lo sebutin ciri-ciri tempat disana atau disekitar lo Dhis, biar gampang." seru Rizky dari handphone Chandra. "Gue kirimin fotonya aja kali ya kak? Lo lagi dijalan kan? Gue takut Arjuna doang ini, dia sesak katanya, lemes," ucap Adhista melihat kondisi Arjuna. "Iya dijalan, buru kirimin," Lalu Adhista mengirimi foto tempat ia berhenti sekarang, dan memvideokannya juga agar Chandra dan yang lainnya lebih mudah menemukannya. "Foto nya udah gue kirim, gue duduk di batu besar, Arjuna duduk sambil nunduk ya," ucap Adhista. "Oh oke, kita udah deket nih, nanti kalo gue teriakin lo nyaut ya," perintah Rizky. "Iya." jawab Adhista. Adhista hanya memperhatikan Arjuna yang masih saja memegangi dadanya, kasihan, pikir Adhista. "Uhuk uhuk" Arjuna batuk sambil memegangi d**a dan menutup mulutnya saat batuk. Adhista langsung saja mengelus-elus punggung Arjuna. "Kak? kok?" tanya Adhista kaget karena ditangan Arjuna ada bercak-bercak merah sehabis ia batuk tadi. "Kak? jawab ih, aku takut nih, Kak aku nangis nih, jawab Kak," seru Adhista menatap Arjuna sambil meneteskan air matanya. "Dhis, ngga kuat." lirih Arjuna lemas dan menaruh kepalanya di bahu Adhista. "Kak, sebentar lagi Kak Chandra dateng, tunggu ya," ucap Adhista sambil mengelus-elus kepala Arjuna. "Dhis, lo dimana?" suara teriakan yang sangat kencang terdengar di kuping Adhista dan Arjuna. "Kak, gue ada disini, ganti vidcall aja ya," ucap Adhista lalu langsung mengalihkan panggilannya menjadi panggilan video. "Nah oke, gue dibelakang lo pas, coba nengok," jawab Chandra lalu Adhista menengok dan benar saja, teman-temannya ada dibelakang. "Kak bantuin, Juna udah pingsan ini, cepet!" seru Adhista lalu Rizky, Naufal, Reihan, dan Bima membopong Arjuna dan langsung kembali ke villa mereka.                                                                                 *** Sesampainya di Villa, mereka semua langsung berkemas-kemas untuk pulang, karena tidak mungkin mereka masih berlibur sedangkan Arjuna sedang kesakitan. "Dhis, tadi kak Juna kenapa emangnya?" tanya Oca. "Ya begitu lah Ca, dia tadi lemes dan sesak gitu dadanya," jawab Adhista tidak memberitahu dengan detil yang terjadi di hutan tadi. "Oh, yaudah semoga cepat sembuh deh. Yaudah yuk langsung aja ke mobil, mereka udah nunggu disana," ajak Oca lalu mereka berdua membawa tasnya dan berjalan menuju mobil. Setelah di parkiran, ternyata semuanya sudah berkumpul, kecuali Arjuna yang sepertinya sudah ada di dalam mobil. "Karena Arjuna sakit, jadi gue yang ambil semuanya ya. Langsung aja abis ini kita balik. kan kita ada dua mobil, Arjuna, gue, Adhista, Oca, Naufal, Rizky, Aldy sama Reihan di mobil Gue. dan sisanya pake mobil Juna ya. biar kita selamat sampai tujuan, sebaiknya kita berdoa terlebih dahulu, berdoa dimulai," ucap Chandra menginstruksikan lalu mereka semua berdoa untuk keselamatan dijalan nanti. "Berdoa selesai, udah yuk langsung aja, Arjuna udah didalem. hati-hati ya gais," seru Chandra lalu mereka semua langsung memasuki mobilnya. Adhista dan Arjuna duduk di paling belakang ditemani dengan Rizky. Arjuna masih belum bangun juga. "Kak, Kak Juna emang suka begitu ya? sesak nafas gitu?" tanya Adhista kepada Rizky. "Ngga tau dhis, Juna orangnya tertutup banget, dia ngga pernah cerita tentang privasi nya. Paling-paling dia cerita tentang lo doang, tentang keadaan rumah atau penyakitnya itu ngga pernah cerita. Arjuna juga setiap sebulan sekali pasti dia izin ngga masuk buat check up," jawab Rizky menjelaskan. "Baru tau gue kalo Kak Juna tertutup. Btw itu beneran tiap bulan?" tanya Adhista memastikan. "Iya, kadang juga tanggalnya sama gitu dah Dhis, ngga ngerti gue juga." jawab Rizky. "Oke, thanks deh infonya ya Kak," ucap Adhista dan Rizky hanya mengangguk saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN