Ditaman

1003 Kata
Sudah dua hari sejak mereka berlibur dan Arjuna masih dirawat di rumah sakit. Teman-temannya belum menjenguk Arjuna, kecuali Adhista. Arjuna melarang orang-orang menjenguknya, tapi Adhista yang keras kepala langsung saja pergi ke rumah Arjuna lalu bertemu dengan Ibunda Arjuna, dan Adhista diajak ke rumah sakit olehnya. Malam ini, Adhista dan Ibunda Arjuna masih dirumah sakit. Padahal Arjuna sudah menyuruhnya pulang kerumah, tapi Adhista tidak menuruti itu. "Dhista kamu ngga pulang nak?" tanya Indah selaku Ibunda Arjuna. "Bun, boleh kan aku nginep disini? aku mau nemenin Kak Juna sampe sembuh," jawab Adhista yang sudah menganggap Indah sebagai Ibunya juga. "Kamu pulang aja Dhis, besok masih sekolah juga kan kamu. Besok pulang sekolah kesini aja lagi ngga papa," ujar Arjuna membujuk. "Tapi aku mau disini Kak," jawab Adhista merengek sambil menatap dalam kemata Arjuna. "Kenapa ngga pulang?" tanya Arjuna lagi dengan nada serius. "Una biarin aja, mungkin emang Dhista mau disini. Dhista disini aja ya, temenin Bunda," ucap Indah memberi jawaban. "Yash! makasih Bundaaaa." ujar Adhista dan langsung menghampiri Indah kemudian memeluknya. "Aduh manisnya," gumam Indah sambil mengelus rambut Adhista. "Hehehe, Biasanya bunda kalo tidur disini, dimana?" tanya Adhista. "Di sofa. Tenang Dhista sofa nya bisa dijadiin kasur kok, bunda lebarin dulu sofanya," jawab ibunda Arjuna dan Adhista hanya menurut saja   "Wah keren, jadi nanti kita tidur disini Bun?" tanya Adhista dan Arjuna hanya memperhatikan kedua perempuan itu. "Iya dong sayang, yaudah yuk tidur. Una kalo ga mau tidur yaudah biarin aja," ajak Indah lalu merebahkan badannya di sofa bed. "Lah mah, Mama mah kalo ada Adhista suka lupa sama aku. ngambek ah," gumam Arjuna lalu memunggungi Adhista dan Indah. "Bunda masa kak Juna marah," ucap Adhista menunjuk Arjuna. "Udah biarin, yuk tidur bunda kelonin sambil di dongeng in," ajak Indah dan Adhista langsung saja tiduran. "Oh iya lupa, aku belum izin kalo nginep, aku telfon dulu ya," ujar Adhista dan langsung saja duduk lalu menelfon nama 'Pai' yang berarti ayah di handphonenya. "Nah lho, kalo dimarahin aku ngga ikut-ikutan ya Dhis," ujar Arjuna menakut-nakuti. "Hush jangan gitu Na, sini biar Bunda yang telfon," pinta Indah dan Adhista langsung memberikan handphonenya. "Halo sayang, kenapa?" tanya seseorang dari sebrang dengan suara berat dan sedikit serak, Harsa. "Halo Pai, ini saya Indah Mamanya Arjuna. Adhista mau minta izin buat nginep di rumah sakit ni Pai, nemenin saya dan Arjuna, boleh ngga Pai?" tanya  Indah menjelaskan kepada Ayahnya Adhista. "Pai? Who's that? I don't know Pai," jawab Harsa Chalondra selaku Ayah dari Adhista. "Bunda, sini biar aku yang ngomong," pinta Adhista dan Indah langsung memberikan handphone Adhista. "Ayah, Pai itu artinya Ayah dalam bahasa Portugal haha. Yah, Adhis boleh kan nginep di rumah sakit?" tanya Adhista. "Oh kenapa ngga ngomong si princess, iya iya boleh, tapi besok sekolahnya?" tanya Harsa lagi dari sebrang sana. "Wah tenang yah, karena Adhista itu sangat pintar, Adhista udah bawa bajunya hehehe. Bilang Mama sama Bang Chandra juga yaaa, love you Yah. Jangan kangen ya sama Adhis hehe," seru Adhista dari telefon. "Wah bangga nih Ayah, iya Adhista putri Ayah yang paling cantik. Good night princess, love you too," jawab Harsa dan teleponnya langsung saja dimatikan. Setelah teleponnya dimatikan, Adhista melihat kearah Arjuna. Kasihan, Adhista jadi teringat tentang cerita Arjuna yang menyedihkan itu. "Bunda duluan aja ya tidurnya, aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama Kak Juna," seru Adhista lalu beranjak ke kursi disamping Arjuna. "Iya Dhista, Malam anak Mama dan Bunda. Jangan malem-malem tidurnya ya," ujar Indah dan langsung bersiap untuk tidur kemudian memejamkan matanya. "Kak, keluar yuk. Masih boleh ngga kira-kira?" tanya Adhista. "Boleh kayaknya, yuk aku juga bosen disini terus," jawab Arjuna. "Oke, aku ambil kursi rodanya dulu ya didepan," ucap Adhista kemudian berjalan keluar untuk mengambil kursi roda untuk Arjuna. "Ayo kak, sini aku bantu," ujar Adhista lalu membantu Arjuna untuk duduk di kursi roda. "Udah Dhis ayo," ajak Arjuna dan Adhista membawa Infused Water sambil mendorong kursi roda Arjuna. Belum terlalu larut, tapi cuacanya sudah membuat dingin sampai ke tulang-tulang, apalagi Adhista hanya memakai pakaian tipis tanpa sweater. "Beneran ngga dimarahin kan Kak?" tanya Adhista memastikan sekali lagi. "Ngga Dhis, itu masih banyak yang diluar sana," jawab Arjuna sambil menunjuk kearah taman. "Yaudah kita kesana aja ya," ajak Adhista lalu mereka berdua berjalan ke arah Taman yang Indah namun menyeramkan karena penerangan yang renamng-remang. Sampai ditaman, mereka berdua duduk di salah satu kursi taman dan pohon besar tepat dibelakang mereka serta lampu yang berada di samping kursi yang mereka duduki. Adhista dan Arjuna duduk berhadap-hadapan, Arjuna yang berada di kursi roda dan Adhista yang duduk di kursi taman. Adhista hanya diam saja, tanpa bicara satu kata pun. Adhista bengong, Adhista sedih, semua rasanya campur aduk. Adhista memikirkan Arjuna, Adhista sedih dengan keadaan Arjuna. "Dhis, diem aja. mau ngopi?" tutur Arjuna berusaha mencairkan suasana. "Eh, ngga. enak aja gitu Kak udaranya, malem-malem berdua sama Mas Crush kan rasanya rada beda gitu hahaha," balas Adhista menghilangkan semua pikiran tentang Arjuna. "Rada beda tapi diem aja hmm," cetus Arjuna dengan suara serak. "Suara kakak akhir-akhir ini beda ya, jadi rada berat sama ada seraknya," gumam Adhista dengan tangan kiri memegang Infused Water dan tangan kanan memegang tangan dingin Arjuna. "Gara-gara sakit itu mah Dhis, udah ga usah terlalu dipikirin," ucap Arjuna berusaha menenangkan pikiran  Adhista. "Iya kak, btw kemarin serem banget tau, waktu kamu batuk ada darahnya, sampe nangis aku," jelas Adhista bercerita sewaktu mereka di hutan kemarin. "Hahaha, santai Dhis. Berani beda itu hebat. yang lain batuknya pada keluar dahak, aku batuknya keluar darah. hebat kan aku," canda Arjuna berusaha melucu tapi mood Adhista sedang tidak ingin bercanda. "Ish apaan si lo, sakit kok di bercandain, udah tau aku khawatir banget, kamu malah bercanda, ga lucu tau!" jawab Adhista cetus dengan suara sedikit meninggi. "Ya maap Dhis, yaudah yuk masuk," ajak Arjuna lalu Adhista langsung berdiri dan mendorong kursi roda Arjuna masuk kembali ke dalam rumah sakit. "Kak" Panggil Adhista. "Nun" jawab Arjuna dengan jawaban khas orang Jawa. "Aku jadi penasaran," ujar Adhista menggantungperkataannya "Penasaran kenapa?" tanya Arjuna yang ikut penasaran. "Penasaran Kak Juna sakit apa," gumam Adhista yang langsung membuat Arjuna terdiam cukup lama. "Kak" Panggil Adhista lagi. "Udah ngga usah dipikirin Dhis, yaudah yuk cepetan ke kamar, aku ngantuk nih," Jawab Arjuna mengalihkan pertanyaan lalu mereka berdua memasuki kamar Arjuna dan pergi tidur. "Goodnight Adhista Sanatana," ucap Arjuna lirih sebelum menutup matanya. "Good night too, Mr. Arjuna Sanatana," jawab Adista lalu berusaha memejamkan matanya dan melupakan pertanyaan yang masih memenuhi pikiranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN