Suatu Tempat yang Indah

855 Kata
Disore hari yang cerah ini, mereka semua berkumpul untuk berangkat menjemput Arjuna dirumah sakit. Adhista, Chandra, Hanin, Bunga, Oca, Bima, Aldo, dan Rizky sedang berkumpul di depan Minimarket dekat sekolah Adhista dan kawan-kawannya. Chandra, Aldo, Naufal, dan Rizky mereka membawa mobil sendiri-sendiri. "Langsung aja deh biar cepet, Gue, Adhista, Bunga sama Reihan ikut di mobil gue," seru Chandra mempercepat keadaan karena sudah menjelang malam. "Hanin, Oca, Bima naik di mobil Aldo," ucap Chandra menginterupsi. "Dan sisanya sendiri ya mblo," ejek Chandra lagi dengan sedikit candaan. "Iye, yaudah yuk cepet, keburu malem nanti," seru Naufal lalu mereka semua dengan cepat memasuki mobilnya masing-masing dan menjalankannya.                                                                                     *** "Gue turun disini aja, gue mau ketemu bunda duluan ya," seru Adhista lalu Chandra langsung memberhentikan mobilnya di lobby utama rumah sakit. "Nanti langsung naik aja," ucap Adhista lalu pergi menuju anak tangga yang tersedia. Beberapa saat kemudian. "Assalamualaikum Bun, Dhista dateng nih," seru Adhista sambil menyelonong masuk ke dalam kamar rawat Arjuna. "Belum juga dijawab sayang udah masuk aja, waalaikumsalam," jawab Indah tersenyum sambil menyalami Adhista. "Kak Juna gimana kabarnya? udah baikan? kapan bisa masuk sekolah lagi? terus kata dokternya apa?" tanya Adhista secara beruntun kepada Arjuna yang masih sedikit pucat dan terlihat lemas. "Pelan-pelan Dhis," ucap Arjuna dengan suara baritonnya yang sedikit serak. "Maaf, udah baikan kak?" tanya Adhista lalu duduk disamping kursi roda Arjuna. "Alhamdulillah Dhis, tapi belum bisa masuk sekolah ya Ma?" tanya Arjuna kepada sang Ibunda yang sedang fokus memainkan handphonenya. "Belum Na, Minggu depan mungkin baru boleh masuk kamu," jawab Indah yang masih saja fokus dengan handphone nya. "Yaudah yuk Dhista, kamu bantu Bunda. Supir kita sudah sampai didepan," jawab Indah lalu membawa tas yang lumayan besar lalu berjalan mendahului Adhista dan Arjuna. "Tunggu dulu Bun, temen-temen Dhista belum ke atas. Biar mereka aja nanti yang bawa," cegah Adhista lalu Indah berhenti berjalan dan kembali duduk menuruti kemauan sang gadis itu. "Assalamualaikum Arjuna," seru sekelompok orang didepan sana. "Waalaikumsalam," Adhista sudah memasang muka judes ingin marah karena terlalu lama berada dibawah sana. "Yuk Bun, biar mereka aja yang bawa. Kak Juna biar sama aku," ajak Adhista lalu berjalan melalui beberapa temannya itu. Adhista dan Arjuna berjalan layaknya sepasang kakak beradik yang sangat lucu. Bercanda ria di sepanjang perjalanannya. Adhista mendorong kursi roda Arjuna, dengan tangan Arjuna yang bergelantungan memegang jari-jari manis Adhista. Menggemaskan. "Kamu megangin tangan aku apa ngga capek?" tanya Adhista menurunkan tangan Arjuna yang bergelantungan ditangannya sejak tadi. "Kamu tau kangen ngga si? udah berapa hari aku ngga liat kamu Dhis," jawab Arjuna, lalu kembali menggenggam tangan Adhista seperti tadi. "Maaf ya, aku belum bisa jagain kamu dengan baik. Malah kamu terus yang jagain aku," ucap Arjuna lirih lalu menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Heh ngomong apa sih, udah yuk itu mobil kamu udah didepan," seru Adhista lalu mempercepat jalannya. "Sini Una, Mama bantu. Dhista naik mobil mana?" tanya Indah sambil membantu Arjuna menaiki mobil. "Naik mobil ini aja mah, nemenin Kak Juna," jawab Adhista. "Ini tas nya taroh mana Tan?" tanya Chandra membawa dua tas jinjing yang lumayan besar milik Arjuna. "Taroh belakang aja Chan, Dhista tolong bantu ya," perintah Indah dan Adhista langsung mengikuti perintahnya. "Kak, nanti gue naik mobil ini ya. Dah terserah kalian mau ikut kerumah Kak Juna ngga," ucap Adhista dan hanya dijawab deheman saja oleh Chandra. Diperjalanan, Adhista dan Arjuna sibuk melepas rindu yang sudah beberapa hari ini tak Arjuna rasakan getarannya. "Dhis, kamu tuh waktu aku sakit ngajakin aku ngobrol terus ya?" tanya Arjuna sambil meletakkan kepalanya di bahu Adhista. "Eum, jujur atau bohong?" jawab Adhista mengejek Arjuna. "Waktu aku sakit juga, kamu ngajakin aku bercanda, nyanyi ya pokoknya ngomong gitu lah ke aku. iya kan?" tanya Arjuna lagi. "Wah, kayaknya sakit bohongan nih ya kamu?" tanya Adhista pura-pura menginterogasi. Adhista sebenarnya tau, bahwa orang yang sedang koma masih bisa mendengar apa yang di omongkan oleh orang lain. Oleh karena itu, Adhista terus mengajak Arjuna mengobrol, walau tak ada balasan apapun dari sang lawan bicara. "Ngga lah, walau aku sakit, suara kamu tuh teriang-iang gitu. Aku aja waktu itu mau masuk ke suatu tempat yang entah itu apaan, gara-gara aku denger suara kamu aku balik lagi ngga jadi masuk," jawab Arjuna berhenti sesaat. "Padahal kata orang yang disana, tempatnya itu indah banget. Dan ada satu orang bilang gini 'kamu bisa cari yang lebih indah dari dia' nah kebetulan aku ngga tau, maksudnya dia itu siapa," jelas Arjuna menceritakan. "Untung kamu ngga ikutin orang itu ya. Hmm, Kaya di film-film aja," jawab Adhista terheran-heran sambil membayangkan yang Arjuna ceritakan barusan. "Nanti kalo udah dirumah aku ceritain semua yang aku alami selama sakit ya Dhis," ucap Arjuna lalu mengelus kepala Adhista dengan rasa sayang. "Iya Kak siyap," jawab Adhista lalu memeluk tubuh Arjuna dari samping dan memejamkan matanya. Indah diam-diam memperhatikan dua sejoli itu. Sakit. Itu yang dirasakan Indah saat melihat putranya yang seringkali jatuh sakit dan tidak bisa bertahan lebih lama itu. "Kasihan Adhista," lirih Indah dengan suara yang sangat pelan. Yang sepertinya pak supir pun tidak akan mendengarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN