Sekolah

783 Kata
Pagi ini di hari Senin, seluruh siswa siswi SMA Harapan Massa sudah mulai memasuki sekolah semester genap, sedangkan Arjuna masih saja nyaman dikasur rumah sakit tempatnya dirawat. Selama liburan, Adhista setia menemani Arjuna di kamar inapnya, mengajaknya mengobrol, bernyanyi, bercerita, walau Arjuna hanya diam saja. Hari ini Adhista tak semangat seperti sebelumnya. Dulu Adhista kesekolah karena ingin melihat Arjuna, namun sekarang keadaan tidak lagi sama. Adhista hanya ingin cepat-cepat pulang, dan pergi kerumah sakit untuk menemani kekasihnya lagi. "Tumben lo ngga semangat, Kak Juna belum keluar juga dari rumah sakit emang?" tanya Oca yang sedang duduk didepan Adhista. "Belom Ca, tapi udah lebih baik. Maybe dua atau tiga hari lagi udah boleh pulang, tapi sama aja, belom boleh sekolah juga," jawab Adhista sedih. "Yaudah sabar aja Dhis, kita semua doain yang terbaik kok buat cowok Lo," ucap Oca sambil mengelus punggung Adhista. "UUUU TAYANK, sini peyuk peyuk," seru Hanin lalu memeluk Adhista dari samping. "Thank you, btw gimana liburan kalian?" tanya Adhista lalu mereka bercerita tentang liburan dan tahun barunya.                                                                                       *** "Bunga lo kekantin ngga?" tanya Adhista. "Ngga Dhis, kalian duluan aja kekantin, gue bawa makan," jawab Bunga lalu mengeluarkan kotak makannya. "Eum okay, kita kekantin ya Bung," ucap Oca lalu mereka berempat berjalan menuju kantin. Diperjalanan Oca dan Hanin sibuk bercerita sambil tertawa-tawa, sedangkan Adhista hanya diam dan ingin cepat pulang lalu bercerita diruangan Arjuna. "Gue mau beli nasi goreng dulu ya," seru Adhista lalu berjalan kearah barat dimana warung itu berada. "Punten Nek, mau nasi goreng nya satu sama Aqua nya satu ya Nek," ucap Adhista lalu memberikan beberapa lembar uang kepada nenek penjual nasi goreng. "Makasih Nek, besok Adhis beli lagi insyaallah," seru Adhista pamitan lalu berjalan ketempat duduk yang sudah ada Hanin dan Oca disana. *Bugh* Adhista menabrak seorang siswa yang sepertinya itu adalah kakak kelasnya. "E-eh kak maaf, aku yang salah," ucap Adhista lirih lalu menatap mata lelaki itu kemudian Adhista langsung berjalan menuju tempat duduknya. "Iya gapapa," jawab lelaki itu dengan suara yang sangat kecil. "Gila lo Dhis, makannya kalo jalan liat-liat. Nabrak kan," omel Oca karena kelakuan Adhista yang seperti anak kecil. "Iya-iya maaf, udah ah gue mau makan, laver," seru Adhista sambil menyendok kan nasi goreng yang ia beli tadi ke dalam mulutnya. Mereka berempat sedang fokus makan, tanpa ada percakapan didalamnya. Adhista yang membenci keheningan langsung saja memecahkan keheningan tersebut. "Gila tumben ngga cerewet, oiya btw Bunga gimana kabarnya sama Abang gue?" tanya Adhista kepada teman-temannya. "Ya mana kita tau anjir, tanya aja langsung sama Bunga Dhis," jawab Hanin kesal. "Yakavi githu diya cweritha-cweritha," ucap Adhista dengan mulut yang penuh dengan makanan. "Adhis abisin dulu itu makanan lo! Jangan bikin malu kita apa, plis sekali aja, Dhis," seru Hanin yang sudah lelah dengan tingkah laku Adhista yang semakin hari semakin error. "Iya tuuuuh, gue juga heran kenapa Kak Juna mau sama Adhista yang astaghfirullah kek gini," sambung Oca sambil mengelus dadanya. "Iyaya, mending Kak Juna sama gue ae tuh harusnya," jawab Hanin mengejek Adhista. "Ish nyebelin!" seru Adhista lalu menyubit dan menonjok lengan Hanin sedikit kencang. "Sakit anjing ahahaha," seru Hanin tertawa puas karena berhasil mengejek Adhista, dan yang Oca juga ikut tertawa. Adhista hanya tersenyum walau sedikit kesal. Dia bahagia, karena disekolah bisa tertawa dan bercanda lagi, walau nanti di luar sekolah sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat. "Dhis," panggil Hanin. "HM," jawab Adhista yang masih mengunyah makanannya. "Kita nanti ikut kerumah sakit ya? nanti gue ajak Abang lo, dan yang lainnya. gimana?" tanya Hanin menatap mata Adhista. "Eum, gimana ya.. gue tanya Bunda dulu ya," ucap Adhista lalu menelpon seseorang di handphonenya. "Halo Bunda, nanti Dhista mau ke rumah sakit nih Bun ceritanya... sama Temen-temen Dhista sama Kak Juna juga. boleh ngga Bun?" tanya Adhista kepada Indah di telpon. "Iya sayang, yaudah nanti sekalian bantuin Bunda aja ya sayang... Una udah boleh pulang ternyata sayang sama dokter, nanti bantu-bantu ya..." jawab Indah dengan lembut. "Oke Bunda, bilangin Kak Juna juga ya, Adhista kangen hehe. Udah dulu ya Bun," ucap Adhista lalu mematikan sambungan teleponnya. "Buset akrab bener Dhis sama Emaknya Kak Juna, udah kayak mantunya," ejek Oca sambil mesem-mesem. "Woiya dong, abis lulus langsung nikah mereka Ca," tiba-tiba Aldo datang dari belakang dan membuat mereka bertiga tersentak kaget. "Dasar cowok, bisanya bikin kaget doang!" jawab Oca sedikit teriak. "Ahahaha, santai dong. Yaudah nanti gue kabarin yang cowok dah buat ke rumah sakit," ucap Aldo lalu pergi meninggalkan mereka bertiga. "Cowok ngga jelas, udah kek pesulap ae lo Do!" teriak Adhista dan Aldo hanya mengacungkan jempolnya. "Noh kan gajelas, gila emang," ucap Adhista lalu melanjutkan makannya yang sempat terhenti tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN