Tengkar

856 Kata
Sudah dua hari Arjuna dirawat di rumah sakit, dan belum juga ada kemajuan dari tubuh Arjuna. Arjuna belum juga siuman, dan belum boleh dijenguk oleh keluarga maupun orang-orang. Ibunda Arjuna sudah ditelpon oleh Adhista, dan hari ini katanya akan sampai di Jakarta. Ayah dan Ibu Adhista sudah menjenguk kemarin, tapi mereka hanya bisa sampai didepan pintu saja, karena yang boleh masuk ke dalam kamar Arjuna hanya dokter dan suster yang memeriksanya. Adhista sudah tidak bisa menangis lagi, karena ya dirinya sudah terlalu banyak menangis, mungkin air matanya sudah habis sekarang. Sekarang Adhista hanya menunggu sendiri didepan kamar Arjuna, Chandra dan teman-teman nya sudah pulang karena ingin mandi dan mempersiapkan perlengkapan untuknya sekolah, karena tiga hari lagi libur sudah berakhir dan mereka harus menjalankan kegiatannya lagi menjadi murid teladan. Adhista hanya menulis cerita di buku diary nya, tak ada yang tau kalau Adhista suka menulis diary seperti itu. Termasuk kedua orang tuanya dan teman-temannya yang lain. "Sehari sebelum kau dirawat, aku sudah memiliki firasat bahwa kau akan jatuh sakit, lagi.'' ucap Adhista kepada dirinya sendiri sambil menuliskan kalimat tersebut di buku diary nya. "Aku tidak marah saat itu, hanya saja aku kecewa, kenapa kau masih saja merokok. Padahal kau tau, aku benci benda kecil itu,'' gumam Adhista lalu menuliskan nya lagi. "Kak, aku begitu bukan karena aku benci. Aku begitu karena aku sayang sama kamu. Aku ngga mau Kak Juna kaya gini, aku ngga suka liat kakak kesakitan kaya gini!" lirih Adhista sambil meneteskan air mata dan jatuh tepat di buku itu. Adhista kemudian berhenti menulis, dirinya menangis. Adhista merasa gagal menjadi seorang kekasih untuk Arjuna. Dari jauh Indah melihat Adhista menangis sebegitu hebat nya sambil memegang sebuah buku, buru-buru dia berjalan kearahnya. "Dhista, kamu gapapa nak?'' tanya Indah sambil duduk disamping Adhista dan berusaha menenangkan kekasih dari anak laki-lakinya itu. Mendengar suara itu, Adhista langsung memeluk Indah dengan erat dan menangis di pelukan Bunda nya itu. Indah pun membalas pelukan Adhista sambil mengelus punggung dan rambut Adhista. "Bun-da ma-afin Dhis--ta. Dhi-sta ng-ga bisa jag-ain K-ak J-una," lirih Adhista sesegukan dipelukan Indah. "Suuut, ngga boleh ngomong gitu. Arjuna emang udah biasa dirawat dari sebelum Una kenal kamu. Jadi ini bukan salah kamu. Arjuna aja yang bandel," jelas Indah berusaha menenangkan Adhista yang masih saja nangis. "Ta-tapi Bun--...." ucapan Adhista terputus. "Suut, yang penting kita berdoa aja semoga Una cepet sembuh ya sayang. Dan bisa nemenin kamu kaya dulu lagi, cantik." seru Indah lalu memeluk Adhista lebih erat lagi. "Makasih Bun.." jawab Adhista lirih lalu membalas pelukan dari Indah.                                                                                  *** "Jadi gini Bu, kemarin saya sudah memberitahu penyakit Arjuna kepada temannya, Chandra. Karena ibu menanyakan lagi, jadi saya akan jelaskan. Tolong ibu menyuruh Arjuna untuk berhenti merokok dan minum-minum, karena sepertinya seminggu kemarin ini dirinya banyak merokok oleh karena itu dirinya jatuh sakit lagi sampai seperti ini. Dan jika Arjuna masih sering merokok, Kanker paru-paru nya bisa lebih parah dan akan naik menjadi stadium empat. Dan ya.. Kalau sudah stadium akhir hidup puta ibu hanya tinggal hitungan bulan saja, seperti yang sudah-sudah. Lebih baik dikurangi dari sekarang ya Bu, tolong untuk dikatakan kepada Arjuna kalau sudah siuman nanti. Terimakasih,'' jelas Dokter Risman menjelaskan sambil memperlihatkan suatu gambar bagian dari tubuh Arjuna. "Baiklah dok, padahal saya juga sudah melarangnya membeli atau menghisp rokok dan setiap saya periksa tidak ada rokok di baju dan sakunya. Tapi namanya anak muda, rokok sudah terjual bebas di luaran sana. Oke dok terimakasih ya, tolong berikan yang terbaik ya kepada anak saya Dok. urusan administrasi nanti saya akan bayar semua," jawab Indah lalu bersalaman dengan dokter Risman dan pergi keluar menahan air mata nya yang berusaha keluar melalui celah yang ada disana. Air matanya menetes satu demi satu, perasaan nya hancur. Dirinya gagal merawat anaknya sendiri. Indah sadar, dia terlalu memikirkan pekerjaannya dan tidak terlalu memikirkan Arjuna yang sudah sakit sejak lama. Dirinya pergi ke kamar mandi, menatap wajahnya di cermin besar. Harta, Harta, Harta itu yang ada dipikiran Indah. Anaknya di nomor duakan, dan Harta di nomor satukan. Dirinya menyesal sekarang. Indah ingin memutar waktu, namun ia sadar itu semua sangat tidak mungkin. Indah buru-buru mengambil handphonenya, lalu menelpon seseorang. "Mas Reza, Juna mas," ucap Indah dengan nada lemas. "Hm, kenapa sama dia?" tanya lelaki itu diseberang sana. "Kanker paru-paru nya makin parah," jawab Indah lirih kemudian menangis dan takut dengan Reza yang pasti akan memarahinya nanti. "Kamu dimana sekarang? aku kesana," ucap Reza. "Dirumah sakit permata hijau," jawab Indah lalu mematikan telponnya.                                                                            *** "Kamu tuh jadi ibu ngga becus! ngurus Arjuna kaya gitu aja ngga bisa. Harusnya dulu Arjuna ikut aku aja!" teriak Reza Pamungkas selaku ayah dari Arjuna. "Mas bukan gitu," sergah Indah sambil menangis. "Halah ngelak aja kamu jadi cewek! Besok kalau Arjuna sudah siuman aku akan ajak dia tinggal dirumah aku! Aku pergi," ucap Reza emosi lalu pergi meninggalkan Indah yang menangis dilantai sendirian. "Juna, maafin Mama nak... Mama menyesal," lirih Indah menangis sambil menjambak rambutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN