Sudah Seminggu sejak saat itu, Arjuna belum berani untuk menghubungi Adhista, karena pikirnya Adhista masih marah dengannya.
Ibunda Arjuna juga belum pulang sampai sekarang, karena masih ada urusan pekerjaan yang harus diurusnya di negeri Sakura itu.
Dua hari belakangan ini juga, tubuh Arjuna rasanya sangat lemas, dan mulai batuk-batuk berdarah lagi. Arjuna mulai merokok lagi, dan bertambah parah.
Arjuna bingung harus minta bantuan kepada siapa, Adhista juga pasti masih marah kepadanya. Ibunya pun masih sibuk dengan urusan pekerjaannya.
Akhirnya Arjuna nekat untuk menelpon Adhista, karena badannya sudah sangat lemas.
"Halo Dh... is," ucap Arjuna terbata-bata menahan rasa sakitnya.
"Hmm," jawab Adhista singkat.
"To... long ban...tu g...ue Dh...is" lirih Arjuna lagi dan handphonenya langsung terjatuh dari genggaman Arjuna.
"Kak? Kak? Yaudah aku otw," seru Adhista panik dari seberang sana dan bergegas untuk pergi menuju rumah Arjuna.
Adhista langsung saja mengajak Chandra untuk pergi ke rumah Arjuna karena perasaan Adhista sangat tidak karuan, pikirannya sudah kemana-mana saat itu.
"Ngebut woi, kalo pacar gue kenapa-kenapa lo gue salahin ya!" seru Adhista sangat panik dan kesal kepada Chandra.
"Yaudah sabar, bentar lagi nyampe ini," jawab Chandra lalu menaikan laju kecepatan mobilnya.
***
Sesampainya di rumah Arjuna, Adhista langsung membuka pintunya dan berlari menuju ke kamar Arjuna.
"Aduh dikunci lagi, Kak, Kak Juna! Buka dong! ini Adhis Kak!" seru Adhista sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Arjuna.
"Sini awas lo, biar gue dobrak pintunya," perintah Chandra lalu mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Arjuna.
"Hati-hati," ucap Adhista lalu Chandra langsung saja mendobrak pintu kamar Arjuna.Dan....
BRAK!
Akhirnya pintu kamar Arjuna terbuka dan Adhista langsung berlari kearah Arjuna yang berada di atas kasur dengan kondisi yang menyedihkan.
"Cepet Kak bawa ke mobil, gawat ini," suruh Adhista sambil menahan air matanya lalu membantu Chandra membawa Arjuna ke mobil.
"Cepet lo kabarin temen-temen sama orang tuanya," perintah Chandra lalu pergi meninggalkan rumah Arjuna.
***
"Kok Arjuna bisa sampe kaya gini lagi si?" tanya Rizky kepada Adhista.
Sedangkan di sisi lain..
"Kayaknya penyakit Arjuna tambah parah," ucap Agung kepada Bima dan Chandra.
"Gue juga gak tau, Juna ngga ngechat gue selama seminggu. Tiba-tiba tadi pagi dia nelpon gue, terus gue langsung otw kerumahnya dan ya, dia jadi kaya begini," jawab Adhista menjelaskan kepada Rizky sambil menangis.
"Gue ngga bisa ngebayangin, kalo sampe Arjuna mening---" ucapan Bima terputus karena Chandra langsung menatapnya sangat tajam.
"Jaga ye mulut lo! Arjuna bakalan sehat lagi!" seru Chandra dengan nada tinggi karena emosi.
Lalu Adhista dan Rizky langsung menengok kearah mereka berdua.
"Kenapa nih? kalem bro, kita lagi dirumah sakit," ujar Rizky menenangkan Chandra.
"Urusin tuh temen lo!" seru Chandra lalu mengajak Adhista pergi dari sana.
Diperjalanan Adhista hanya diam saja, dia tak mengerti apa-apa.
"Kita mau ke mushola, berdoa buat Juna. Lo mau kan Arjuna cepet sembuh?" tanya Chandra memecahkan keheningan.
"Mau," jawab Adhista singkat.
Lalu mereka berdua solat secara berjamaah, dan berdoa agar orang kesayangannya itu cepat sembuh.
***
Dokter yang memeriksa Arjuna sudah keluar dan mengajak salah satu dari mereka untuk diberitahu tentang keadaan Arjuna.
"Lo aja yang ikut," ucap Rizky menunjuk Chandra.
Lalu Chandra langsung berjalan mengikuti dokter itu dari belakang.
"Jadi begini Chandra, Arjuna mengidap penyakit Kanker Paru-paru stadium 3B T4. Arjuna sudah harus menjalani kemoterapi lagi agar penyakit nya lekas sembuh, walau kecil kemungkinan nya. Arjuna hanya bisa sembuh total sekitar 10% saja, karena penyakitnya yang sudah parah. Dan tolong agar Arjuna tidak merokok lagi, dan harus lebih diperhatikan ya Chandra. Nanti akan saya berikan resep obat dan dapat ditebus di depan nanti." jelas Dokter Risman to the point.
"Oke baik dok. Kalau boleh tau, umur Arjuna masih panjang kan dok?" tanya Chandra panik dan bodoh.
"Saya tidak bisa memastikan, tapi paling lama 1 tahun. Kita hanya bisa berdoa saja, semua Tuhan yang mengatur," jawab Dokter Risman yang tidak yakin dengan jawabannya.
"Oke dok, terimakasih," ucap Chandra lalu berdiri dan mengambil secarik kertas yang bertuliskan resep obat kemdian pergi meninggalkan ruangan itu.
Diperjalanan, Chandra hanya memikirkan nasib Arjuna dan Adhista. Dua sejoli itu. Chandra hanya memikirkan bagaimana nasib Adhista saat mengetahui bahwa Arjuna akan pergi. Pikiran Chandra sangat kacau sekarang.
"AAARRRGHHHHH" teriak Chandra sambil menendang kursi didepannya.
Untung saja keadaan dirumah sakit sedang sepi kala itu. Jadi Chandra tidak mendapatkan tatapan atau teguran dari orang-orang sekitar.
Dari jauh, Chandra melihat Adhista yang masih setia menunggu didepan pintu kamar tiga ratus empat dimana Arjuna berada di dalamnya.
Tatapan kosong Adhista yang membuat hati kecil Chandra menangis, membayangkan Adhista bila mengetahui apa penyakit Arjuna yang sebenarnya.
Chandra lalu berjalan mendekati Adhista, dan merangkul tubuh mungil adiknya tersebut dari samping.
"Nangis cepet, gue tau lo sedih. Ngga usah pura-pura sok kuat, tatapan lo mengartikan perasaan lo Dhis. Cepet nangis," paksa Chandra lalu memeluk Adhista erat.
Chandra menangis, teman seperjuangan nya sedang berusaha melawan penyakitnya itu. Chandra sedih, kesal, kecewa, semua bercampur menjadi satu.
"K-ak, Juna sa-kit ap-a?" tanya Adhista terbata-bata.
"Arjuna bakal sembuh sebentar lagi, lo banyak berdoa aja ya," jawab Chandra dengan suara parau.