Arjuna dan teman-temannya tidak tidur sampai pagi, mereka masih sibuk bercanda, bermain, bernyanyi, dan berfoto bersama.
Mereka semua berniat menghabiskan tahun baru mengesankan dengan cara bersenang-senang. Apalagi untuk Adhista dan Arjuna, dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu.
Mereka terus saja berduaan sampai lupa bahwa ada yang lainnya. Kini mereka semua sedang berada di ruang tamu, bermain PlayStation untuk yang laki-laki.
Arjuna sedang bermain PlayStation, tapi Adhista tetap menempel bersamanya, dan itu membuat Arjuna sangat senang, hatinya bahagia, perutnya berbunga-bunga, sesenang itu.
"Nempel mulu ah adek gue, bikin malu aja lo anjir," seru Chandra kesal memperhatikan Adhista dan Arjuna.
"Sabar Chan, kita orang nih juga sebenernya kesel, tapi sekarang kita lagi dirumah Arjuna. Jadi tahan yah," jawab Rizky sambil mengusap-usap dadanya Chandra.
"Anj*ng, nyesel gue ikut. Gue bilangin Mama ya Dhis, pacaran lo ga baik," ancam Chandra lalu berjalan menuju sofa dan merebahkan badannya disana.
Sedangkan Arjuna dan Adhista hanya tertawa-tawa saja memperhatikan Chandra yang seperti orang kebakaran jenggot.
"Lanjut main atuh euy, Chandra mah biarin wae," perintah Arjuna lalu melanjutkan bermain game sepakbola di PlayStation nya bersama Rizky, Agung, Aldo dan Naufal.
Setelah lama duduk seperti itu, akhirnya Adhista berpindah posisi menjadi tiduran di paha Arjuna sambil memeluk perut sixpack Arjuna sambil mencium bau parfum kekasihnya itu.
Oca, Hanin, dan Bunga lebih memilih bermain handphonenya daripada harus memperhatikan para lelaki itu bermain game.
Bunga berjalan ke arah sofa yang sedang ditiduri oleh Chandra, karena sofanya yang lebar dan bisa dipakai untuk tiduran juga.
Bima yang melihat kejadian itu, langsung membuat Bunga dan Chandra menjadi bahan olok-olokan mereka semua. karena memang dari awal, Chandra sudah menyukai Bunga.
"Bung, temenin kakak gue ya. Kasian dia butuh kasih sayang," seru Adhista mengejek Bunga.
"Apaan sih, gue cuma mau rebahan doang kok diginiin. Dah lah, ngga jadi," ucap Bunga lalu dirinya beranjak pergi dari sana. Namun ditahan oleh Chandra.
"Weh mau kemana lo? udah disini aja, biasa orang sirik pantatnya sempit. Udah jangan dengerin mereka," cegah Chandra sambil memegang tangan Bunga agar ia tidak pergi dari sofa yang Chandra tiduri.
"Udah lo disamping gue aja, gue suka," lirih Chandra lagi menggoda Bunga.
"BUNGA HATI-HATI ABANG GUE FAKBOI!!!!!" Adhista berteriak yang membuat semua orang menutup kupingnya.
***
Lalu keesokan paginya mereka bergegas untuk pergi meninggalkan rumah Arjuna dan kembali lagi ke rumahnya masing-masing.
"Jun, gue balik duluan ya," ucap Bima lalu bersiap-siap dan berhigh five ala-ala lelaki kepada semua yang berada disana.
"Tiati Bim, jan ngigo terus lo," ejek Arjuna dan Bima hanya menanggapinya dengan jari jempolnya.
"Bro gue juga balik ya, kasian Emak pasti kangen sama gue," ucap Rizky, lalu dia pulang bersama Agung karena rumahnya memang berdekatan.
"Oke, titip salam ye buat Emak lo, Juna kangen gitu," jawab Arjuna bercanda.
"Iye iye, Mak gue juga nanyain lo kemaren haha" ejek Rizky lalu menyalakan motornya dan langsung saja pergi menjauh dari rumah Arjuna bersama dengan Agung.
"Jun gue balik ya, Bung ayo gue anter," ajak Chandra berpamitan sambil menyalakan motor Vespanya.
"Ah ngga enak Kak, aku naik ojol aja," jawab Bunga malu-malu.
"Udah ngga usah malu-malu, rejeki kaga boleh ditolak" seru Chandra lagi sambil menarik tangan Bunga pelan untuk menaiki motornya.
"Bunga, jangan baper ye sama Abang gue. dia fakboi garis kerad" bisik Adhista dikuping Bunga, dan Bunga hanya mengangguk-angguk saja.
"Udah sono lo curut, ganggu gue aja. Gue juga mau pacaran nih," usir Chandra sambil mendorong pelan kepala Adhista.
"Yeu jingan lo, sono cepet pergi! bikin rusuh aja bisanya," omel Adhista emosi sambil berusaha mendorong motor Chandra.
Lalu Chandra langsung saja melajukan motor antiknya itu, sambil berboncengan dengan Bunga. Pasangan yang romantis.
Sekarang, dirumah Arjuna hanya tinggal Adhista saja, teman-temannya sudah pulang semua. Adhista sengaja masih disana karena ingin menghabiskan waktunya lebih lama bersama Arjuna.
"Dhis, btw kalo aku kambuh atau apa sejenis nya kamu jangan sedih ya," ucap Arjuna basa-basi sambil berjalan ke kamarnya.
Adhista belum menjawabnya, dia masih saja berpelukan manja dengan lengan kekar Arjuna, Adhista suka itu.
"Ya sedih lah, gila lo. aku masih punya hati..." ucap Adhista sambil bernyanyi di akhir kalimatnya.
"Hati nih bukan perasaan?" tanya Arjuna jail.
"Lah iya ya, yaudah yang mana aja deh. Btw, kamarnya kamu bau nya apek. Bau rokok, Adhis ngga suka." gumam Adhista polos sambil merapikan kasur Arjuna.
"Maklum Dhis, namanya juga cowok perokok lagi," jawab Arjuna dan Adhista langsung menatapnya tajam.
"KAK JUNA MASIH NGEROKOK?!" tanya Adhista kencang yang membuat Arjuna langsung terbangun dari kursinya.
"E-eh keceplosan lagi," jawab Arjuna dengan suara kecil sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Gini Dhis, cowok hampir 80% itu pasti suka udud, jadi jangan heran. nyebat itu enak tau, tapi Adhis ngga boleh ya," ucap Arjuna menjelaskan pelan-pelan.
"Kalo Adhis ngga boleh, kamu juga ngga boleh. Kita itu harus balance, biar seimbang. Oke, besok kalo kamu masih ngeroko, aku mau nyoba ngerokok juga, seenak apa sih rasanya," ucap Adhista mengejek Arjuna.
"Dhis? Kalo kamu beneran kaya gitu, siap-siap kamu ngga bisa liat aku lagi," ancam Arjuna sambil memegang bahu Adhista.
"Yaudah. kalo aku masih ngeliat Kak Juna ngerokok, kamu ngga bakal ketemu aku lagi, saat itu dan seterusnya," ancam Adhista, lalu langsung saja mengambil tas nya dan berjalan kebawah.
"Dhis, mau kemana?" tanya Arjuna sambil berlari kebawah mengejar Adhista.
"Pulang." jawab Adhista singkat.
"Aku anter aja yuk," ajak Arjuna sambil mengambil kunci motornya dan bersiap untuk mengantarkan Adhista pulang.
"Ngga perlu, udah kamu ngudud aja sana. kan kamu suka ngudud, aku ngga usah dipikirin," jawab Adhista lalu langsung saja berjalan keluar pagar rumah Arjuna dan memanggil tukang ojek yang berada di dekat rumah Arjuna.
"Dhis ngga gitu," panggil Arjuna yang masih saja mengejar Adhista.
"Bang ojek!" teriak Adhista memanggil tukang ojek sambil melambaikan tangannya, dan salah satunya menghampiri Adhista.
"Siap neng, ini helm nya,'' jawab Abang tukang ojek dan langsung berjalan meninggalkan Arjuna sendiri yang berdiri menatap kepergian Adhista dengan tatapan emosi-nya.
"B*ngs*t!" seru Arjuna keras sambil menendang kaleng bekas didepannya.