Tahun baru saat ini sangat berbeda dari tahun baru sebelum-sebelumnya. Tahun baru saat ini Adhista ditemani sang kekasih, Arjuna.
Rencana mereka untuk merayakan tahun baru hanya bakar-bakar dirumah Arjuna bersama teman-temannya karena memang rumah Arjuna sangat sepi kala itu.
Pagi ini, tanggal 31 Desember 2018. Adhista dan teman-temannya sudah berada di kediaman Arjuna untuk mempersiapkan pesta nanti malam.
"Naufal sama Oca beli bahan-bahannya ya, kaya ayam, sosis, jagung, arang, kecap gitu ya. Ini duitnya, beli aja semuanya biar kenyang," perintah Adhista memberikan sebagian duit patungan mereka kepada Oca.
"Oke siap bos, kita otw dulu ya," ucap Naufal lalu menyalakan motornya.
"Oke, nah sekarang kita bagian beres-beres rumah nih. ada yang bagian depan sama bagian belakang nanti buat bakar-bakar. bentar, gue bangunin Arjuna dulu," seru Adhista lalu dirinya langsung berjalan ke kamar Arjuna.
Saat Adhista membuka kamar Arjuna, Adhista sangat kaget karena banyak sekali tisue yang ada darahnya di kasur Arjuna. Dan ada sedikit darah kering dibagian hidung Arjuna.
"Kak, bangun. kok kamu ga bilang si sama aku, kalo kamu kaya gini," ucap Adhista khawatir.
"Kak bangun dong!" seru Adhista lagi sambil menggoyangkan badan Arjuna.
"Hmm, apa Dhis?" tanya Arjuna membuka matanya sedikit demi sedikit.
"Ah tau ah, kesel aku. tidur aja lagi, aku mau beresin bawah," ucap Adhista lalu berjalan keluar sambil meneteskan air matanya.
Adhista berjalan ke halaman belakang rumah Arjuna, duduk sendiri disana. menangis, ia merasa sudah gagal menjadi pacarnya Arjuna. Tak becus untuk menjaga Arjuna. Adhista sakit melihat Arjuna kesakitan. Dan Adhista benci itu.
"Kenapa si? Kenapa kak Juna sembunyiin ini semua?! apa gue ga di anggap dihidupnya? kenapa?" tanya Adhista lirih sambil menangis dengan menundukkan wajahnya.
Dari kamarnya, Arjuna datang dengan wajah segar sehabis mandi. Adhista tak tau bahwa Arjuna mendengar semua itu, dia pun menyesal. Tak tau kenapa.
"Dhis," panggil Arjuna lalu duduk disamping Adhista sambil memegang pundak Adhista.
Adhista menepis dengan halus tangan Arjuna yang berusaha memegang pundaknya itu.
"Dhis, maafin aku ya. udah yuk jangan nangis, ngga enak itu banyak orang," ujar Arjuna berusaha membujuk Adhista.
"Dhis?" panggil Arjuna lagi, sambil menyingkirkan anak rambut Adhista yang menutupi wajahnya.
Akhirnya Adhista bangun dan menatap Arjuna tajam dan dalam.
"Besok kamu kalo kenapa-kenapa bilang aku ya?" tanya Adhista lirih dan Arjuna hanya mengangguk.
"Janji?" tanya Adhista mengacungkan jari kelingking nya.
"iya janji," jawab Arjuna mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Adhista.
Tetapi, tangan Arjuna yang satunya dipakai untuk menyilangkan jari telunjuk dan jari tengah, yang berarti Arjuna tidak sepenuhnya berjanji kepada Adhista.
"Udah yuk jangan nangis, sini elap dulu air matanya," perintah Arjuna lalu mengelap air mata Adhista dengan kedua tangannya.
"Senyum dong, masa pergantian tahun sedih sih. aku bakal ada disini Dhis, selamanya," ucap Arjuna lalu tangannya bergerak untuk membuat bibir Adhista melengkung ke atas.
"Nah gitu kan cantik," ejek Arjuna sambil mencubit hidung Adhista sedikit kencang.
"Sakit tau!" seru Adhista mengusap-usap hidungnya.
"Hahaha, yaudah yuk bantuin mereka," ajak Arjuna lalu mereka berdua berjalan ke depan rumah Arjuna untuk membantu teman-temannya.
"Adhista ngga bisa ngomong, jadi gue yang gantiin ya. ini kita bagi-bagi tugas aja, ada yang bagian depan ada yang bagian belakang. bagian depan itu kaya dapur, ruang tamu ya. bagian belakang itu yang beresin tempatnya nanti. oke ini dia bagian depan ya Oca, Naufal, Chandra, Hanin, Bima dan Bunga ya. Bagian belakang Gue, Adhista, Reihan, Rizky, Aldy, Agung. udah yuk sekarang kita beres-beres dulu, nanti kalo udah selesai baru main PS atau yg lainnya," seru Arjuna.
"Lo berdua nempel terus anjir, udah kayak suami istri," ucap Chandra kesal.
"Kan calon, doain aja ya gais haha," jawab Arjuna yang langsung membuat Chandra diam, menatapArjuna tak suka.
"Kalo iri langsung ae tembak Chan, kaga usah malu-malu t*i kucing apa" ejek Arjuna lalu mereka semua tertawa dan mengejek Chandra dengan Bunga.
Lalu mereka semua bergerak mengerjakan tugas masing-masing. Dibagian dapur mengerjakan dengan tenang, namun beda halnya dengan bagian belakang.
"Woi bantuin angkat ini jink, berat pisan euy," seru Arjuna mengangkat kompor Barbeque sendirian.
"k*****t ngakak," icap Rizky lalu dirinya berjalan kearah Arjuna dan membantu dirinya.
"Anjrit berat ternyata, kurang satu orang woi, bantuin," teriak Rizky yang tangannya sudah gemetar karena terlalu berat.
"Jingan muka lo Ky ngakak," ejek Aldy lalu membantu Arjuna dan Rizky mengangkat kompornya.
"Sini aja kak, coba dulu," perintah Adhista mengatur.
"Anj*ng coba dulu, berat k*****t," jawab Rizky tidak santai.
"Weh santai," ucap Arjuna memperingati lalu meletakkan kompor tadi.
"Nah oke disini aja ya, pake kursi lagi Kak?" tanya Adhista sambil mengelap keringat di wajah dan leher Arjuna.
"Iya, kamu tunggu sini aja Dhis. Biar anak cowok aja yang ambil," ucap Arjuna sambil mengusap rambut Adhista sebentar.
Selagi anak laki-laki mengambil kursi dan meja, Adhista menengok ke bagian depan.
"Lah dibikin kaya gini?" tanya Adhista kaget karena diplanning, mereka tidak membuat seperti ini.
"Iya, Oca sama Naufal tadi nyumbang balon banyak banget, yaudah bikin deh kaya gitu. lumayan Dhis, buat foto-foto nanti," ucap Bunga menjelaskan.
"Oh oke deh, Oca Naufal makasih ya hehe" jawab Adhista menganggukkan kepalanya.
"Yaudah gue balik dulu ya ke belakang," seru Adhista.
Saat Adhista sudah sampai belakang, Adhista dibuat kaget lagi karena kursi yang dibawa Arjuna itu bagus sekali.
dengan beberapa tenda segitiga dan kursi yang sudah lengkap dengan bantal dan lampu-lampu diatasnya. terlihat sangat indah dengan balon-balon yang tergeletak di halaman belakang rumah Arjuna.
"Ih gumuuuuush!" seru Adhista senang melihat kursi yang aesthetic seperti itu.
"Iya, itu dulu punya Mama. Mama dulu sering bakar-bakar kaya gini juga Dhis haha, aku kira udah rusak, ternyata masih bagus di taroh di gudang," ucap Arjuna sambil merangkul Adhista.
"Bunda jiwanya masih abege nih haha" jawab Adhista dan Arjuna hanya tertawa saja.