Bandung

1020 Kata
Hari sudah siang dan sore akan segera datang. Sedangkan Bandung masih saja macet dan hanya bisa berjalan sedikit demi sedikit. "Aku kira yang macet Jakarta doang, ternyata Bandung jauh lebih parah," gumam Adhista sambil geleng-geleng kepala. "Kayaknya semua daerah-daerah besar macet deh. Waktu aku ke Jogja, Semarang, Solo itu macet di waktu-waktu tertentu. Apalagi ini mau liburan kan," jawab Arjuna tidak kaget dengan jalanan yang macet parah. "Kirain Jakarta Bogor doang yang macet, ternyata semuanya. ya udah mau gimana ni? Mau nginep atau lanjut jalan aja?" tanya Adhista. "Gimana ya, aku si mau makan di pinggiran jalan dulu, katanya Lumpia basah khas Bandung tuh enak," jawab Arjuna dan menjalankan mobilnya. "Ya udah ngikut aja, nanti aku mau beli juga," jawab Adhista. Disepanjang perjalanan Adhista dan Arjuna bercanda ria, membicarakan semua hal tentang macet, makanan, sekolah, teman, artis dan lainnya. Seperti tak kehabisan topik pembicaraan. Sampai akhirnya jalanan sudah sedikit lebih lancar lalu Arjuna berhenti di pinggir jalan untuk membeli beberapa makanan. "Yuk turun, itu ada Lumpia sama makanan khas Bandung lainnya," ujar Arjuna lalu mengambil tas kecil miliknya dan langsung turun dari mobil. "Kamu mau beli apa Dhis?" tanya Arjuna sambil melihat-lihat warung makanan yang ada di sana. "Seblak atau Lumpia basah ya?" tanya Adhista. "Seblak makan disini, Lumpia buat makan nanti di perjalanan," ujar Arjuna memberi jalan keluar. "Tumben pinter, yaudah deh. tinggal mikirin ini mau minum apa," ucap Adhista lalu berjalan menuju Tukang seblak yang sangat menggoda. "Punten pak, seblak cekernya satu ya, sedeng aja jangan pedas-pedas," ujar Adhista kepada bapak penjual seblak. "Oke Teh, ditunggu ya. calik heula teh," ucap si Bapak tukang seblak sambil memberikan kursi kepada Adhista. "Eh iya pak, makasih pak," jawab Adhista disertai senyum yang manis. Arjuna yang berada tak jauh dari Adhista hanya memperhatikan sambil sesekali tersenyum tipis melihat tingkah Adhista. 'ngga nyesel gue pacarin Adhista, baik, ramah, cantik, pinter, ya Allah makasih ya Allah. baim tau pacaran ga boleh, tapi gimana ya...'  ucap Arjuna di dalam hati sambil senyam-senyum sendiri. "Mas, ini lumpianya," seru si penjual Lumpia basah. "Punten Mas," serunya lagi. "Mas," ucapnya lagi dan Arjuna masih tak mendengarnya. "ITU KAK LUMPIANYA," teriak Adhista sampai membuat pelanggan lainnya menengok kearahnya. "Eh iya Mas, makasih ya," balas Arjuna malu lalu mengambil lumpia basah miliknya dan Adhista. Adhista juga sudah selesai, berjalan kearah Arjuna sambil membawa semangkuk seblak ceker yang sangat menggoda bagi pecinta pedas. "Yuk makan yuk," ajak Adhista sambil memegang sendok di tangan kanan dan garpu di tangan kiri. "Sok atuh makan duluan, jangan lupa baca doa," ucap Arjuna. "Oh iya, kita belom beli minum, astaghfirullah," ucap Adhista pura-pura kaget. "Oh iya, yaudah kamu makan, aku beli minum. mau beli apa?" tanya Arjuna. "Beli apa ya, eum.... aku samain aja deh sama punya kamu," jawab Adhista setelah lumayan lama berpikir. "Oke, aku mau beli es teh aja," ujar Arjuna lalu berjalan mencari penjual minuman. "Okay" jawab Adhista kemudian memakan Seblak pedasnya.                                                                                         *** Semakin malam, bukannya semakin lancar, Bandung malah semakin macet. Akhirnya Adhista dan Arjuna memutuskan untuk menginap disalah satu hotel dan melanjutkan perjalanannya besok pagi. "Ini mau nginep dimana Dhis? dua kamar aja ya?" tanya Arjuna. "Di Deket sini aja kak, biar ngga jauh nanti pulangnya. dua kamar? tapi aku belom pernah tidur sendirian, takut," jawab Adhista dengan jujur. "Terus mau gimana? coba cari di maps hotel yang kasur nya dua atau tingkat kasurnya," perintah Arjuna dan Adhista langsung menurutinya. Sepuluh menit kemudian... "Nah ada nih kak, coba deh liat," ujar Adhista lalu memberikan handphonenya kepada Arjuna. "Nah kaya gitu gapapa, kamu mau Dhis? btw itu daerah mana?" tanya Arjuna lalu mengembalikan handphone Adhista. "Di jalan Asia-Afrika, coba ikutin maps aja ya," jawab Adhista lalu menyalakan GPSnya. Setelah 20 menit perjalanan Akhirnya mereka sampai juga di hotel. "Yuk," ajak Arjuna lalu menggenggam tangan Adhista dan berjalan menuju resepsionis. "Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita cantik penjaga resepsionis. "Saya mau pesan satu kamar hotel dengan kasur tingkat ya mbak," ujar Arjuna kepada sang resepsionis. "Oke baik, ditunggu ya kak," balas sang resepsionis lalu ia menelpon seseorang. "Kamar nomor tiga ratus empat belas di lantai empat ya kak, selamat malam," ujarnya lalu memberikan kartu yang sepertinya alat untuk membuka pintu kamar kepada Adhista. "Terimakasih," balas Adhista sambil tersenyum dan berjalan dibelakang Arjuna. "Kok kaya ada yang ketinggalan ya," gumam Arjuna mengingat-ingat barang apa saja yang ia bawa. "Udah aku bawa semua kok, tas, hp, kunci mobil, sling bag. Terus apa lagi?" tanya Adhista memeriksa barang bawaannya. "Oh berarti perasaan aku aja kali ini," ucap Arjuna lalu mereka berdua keluar dari lift dan mencari kamar nomor tiga ratus empat belas. "Dhis ini, yuk masuk," panggil Arjuna lalu menempelkan kartu tadi disini. "Kecil tapi lucu, gumush ish aku suka," gumam Adhista lalu meletakkan tasnya. "Kamu mau diatas apa dibawah?" tanya Arjuna. "Atas, kalo dibawah takut digigit setan," ucap Adhista dengan percaya dirinya. "Ebuset, iyaudah iya," jawab Arjuna dan langsung saja ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Adhista pergi untuk mengambil peralatan untuk daily night routine nya agar wajahnya tetap terawat. "Dhis serem banget dah," seru Arjuna yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian seperti ini.          "Serem apaan si ah, biar glouing nih," jawab Adhista. "Kaga usah glowing-glowing nanti banyak yang demen ama elu. Udah buluk aja, ngga bakalan lirik ke yang lain gue Dhis, janji dah," ujar Arjuna dengan logat orang Betawi. "Halah, semua cowok juga bilang begitu karena mereka ngga mau biayain, ada yang cantik dikit juga ngelirik. Cih," cetus Adhista mewakili semua uneg-uneg para perempuan. "Ya udah dah, seterah elu. Gue mau tidur dulu, good night and have a good dream Adhista Sanatana," ucap Arjuna kemudian pergi tidur. Adhista senyam-senyum sendiri, karena ini benar-benar diucapkan didepan wajahnya. Pasti Adhista akan mimpi sangat indah malam ini, Pasti. Adhista langsung saja membersihkan wajahnya yang masih terbayang-bayang wajah Arjuna saat mengucapkannya, dan akhirnya Adhista jadi senyam-senyum lagi, lagi, dan lagi. Adhista lalu mengganti bajunya dan pergi tidur. "Good night too Mr. Arjuna Sanatana," lirih Adhista saat sudah di atas kasurnya. "Tidur Dhis," ucap Arjuna yang ternyata mendegar perkataan Adhista barusan. "Kirain udah tidur," "Belom, nunggu kamu tidur," ucap Arjuna dari bawah. "Ayo tidur barengan," ajak Adhista. "Ayo," "Satu," "Dua," "Tiga, Good night Mrs. Adhista Sanatana," seru Arjuna dari bawah. "Good night too Mr. Arjuna Sanatana," Lalu mereka berdua pergi tidur dengan senyum yang terus mengembang di bibir satu sama lain. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN