Adhista Sanatana

813 Kata
Hari demi hari sudah berlalu dan taun baru sebentar lagi pun akan datang. Arjuna juga sudah sehat namun, badannya menjadi lebih kurus sejak terakhir kali dirawat kala itu. Tetapi, Adhista tak mempermasalahkannya, justru Adhista semakin perhatian kepada Arjuna, dan Arjuna menyukainya. Malam ini pukul 23.48 mereka masih saja setia telponan padahal sudah tiga jam berlalu. "Minggu depan tahun baru Dhis, kamu mau jalan-jalan kemana?" tanya Arjuna diseberang sana. "Aku mah kemana aja mau, asal..." jawab Adhista sengaja menggantung perkataannya. "Asal? asal apaan?" tanya Arjuna yang tidak mengerti. "Asal sama kamu ish," jawab Adhista kesal. "Yha modus lo basi anjir huaammm," seru Arjuna dari sebrang sambil menguap. "Idih masa cowok jam segini udah ngantuk," ejek Adhista. "Lah aku mah cowok baik-baik, lah lo cewek apaan jam segini belom tidur, astaghfirullah," Arjuna balas mengejek. "Idih, yaudah iya-iya tidur nih," jawab Adhista pura-pura ngambek. "Nah gitu dong, good night my Queen, sleep well and have a good dream honey. luv you Adhista Sanatana." lirih Arjuna dengan kata-kata yang sangat manis sampai membuat Adhista cengar-cengir sendiri dikamar nya. "Wuidih namanya ganti ya haha, good night too ma king, luv you toooooo. sarang-sarang dah pokoknya," jawab Adhista dengan senyuman yang masih melekat dibibir manisnya itu. "Matiin Dhis telponnya," suruh Arjuna yang enggan untuk mematikan teleponnya duluan. "Yang nyuruh tidur siapa coba?" tanya Adhista. "Aku, kenapa?" jawab Arjuna sembari bertanya lagi. "Nah, yaudah kamu yang matiin," balas Adhista yang sebenarnya masih ingin berbincang-bincang dengan Arjuna. "Dih ada ya peraturan kaya gitu, baru tau aku," ucap Arjuna dan sepertinya teleponnya tidak akan mati dalam waktu dekat. "Ada dong, barusan aku yang bikin kan," jawab Adhista. "Yaudah iya-iya," ucap Arjuna dengan suara yang sudah mulai berat. "Iya," jawab Adhista yang matanya belum ada rasa kantuknya sama sekali. Beberapa menit mereka diam tak bersuara lalu.. "Hemm," suara dengkuran terdengar dari Arjuna. "Kak? tidur yaaaa?!" tanya Adhista memastikan. "Kak, punten, Assalamualaikum" ujar Adhista lagi. "Oalah beneran tidur, yaudah deh ikutan aja. sleep well kak Juna, semoga ngga sakit-sakitan lagi and i luv you to the moon and not back hahaha apasi, yaudah see you tomorrow," Seru Adhista lalu mematikan teleponnya dan bergegas rapih-rapih untuk pergi tidur.                                                                               *** Keesokan Harinya... Sejak hari ini, SMA Harapan masa sudah liburan tengah semester, dan masuk kembali taun depan tanggal enam Januari dua ribu delapan belas. Murid-murid jelas senang, apalagi untuk Arjuna dan Adhista. Dengan datangnya hari libur, mereka bisa berjalan-jalan kapanpun waktu yang diinginkan. Hari ini, rencana mereka akan pergi ke Bandung untuk refreshing dan menghilangkan penat karena banyaknya tugas yang diberikan dari sekolah. "Halo Dhis, aku otw rumah kamu ya. kalo kesiangan nanti takutnya macet," seru Arjuna dari telepon. "Iya kak, udah rapih nih. tinggal makan aja," jawab Adhista. "Oke, aku otw ya, see you," ucap Arjuna lalu mematikan teleponnya, dan Arjuna langsung menaiki mobil kemudian pergi menuju rumah Adhista. 30 menit kemudian... Arjuna sudah sampai tepat didepan rumah Adhista, dan Arjuna langsung saja turun untuk berpamitan kepada keluarga Adhista. "Assalamualaikum," ucap Arjuna sambil memencet bel rumah Adhista. Tak lama kemudian datang wanita sekitar umur empat puluh dua tahun berjalan untuk membukakan pagar rumahnya. "Waalaikumsalam, Arjuna? Mau ngapain kamu Na?" tanya Intan selaku ibunda Adhista dan Chandra. "Itu Tante, mau jalan sama Adhista ke Bandung. Adhista emang belom bilang?" tanya Arjuna lalu salim kepada Intan. "Wah belum tuh, yaudah masuk dulu yuk, Adhista lagi makan di dalam," jawab Intan lalu menyuruh Arjuna untuk masuk ke dalam rumahnya. "Adhis, kamu ngga bilang ya sama Mama kalo mau jalan-jalan kan, Mama juga mau ikut haha," ejek Intan kepada Adhista yang sedang duduk di meja makan bersama dengan Harsa, Ayahnya. "Eh iya mah lupa, abis dadakan. Tadi malem aja baru di rencanain," jawab Adhista jujur. "Oalah pantesan, yaudah sana nanti kalo jam enam udah mulai macet jalan tol," seru Harsa lalu Adhista mengambil barang-barang di kamarnya. "Jun, pelan-pelan ya bawa mobilnya. jangan ngebut, makan jangan lupa, hati-hati aja pokoknya. Kalo misalkan udah kemalaman, kalian nginep aja dulu di hotel atau apa, Papa percaya kok kalau Juna anak baik. Jaga Adhista ya Na," ujar Harsa yang membuat Arjuna merinding hebat. "Iya Om, siap." jawab Arjuna dengan tangan jempol yang naik ke atas. "Anggap aja kita orang tua kamu Jun, ngga usah kaku gitu ah," seru Harsa lagi sambil bercanda dan memukul pelan pundak Arjuna, seperti Ayah dan Anak yang sedang bercanda. "Oke siap Yah hahaha," jawab Arjuna yang masih canggung. "Kak yuk, aku udah siap," ajak Adhista dengan tas ransel yang lumayan besar dan slingbag kecil. "Udah kaya mau ke mana aja si princess bawa tas gede-gede," ucap Harsa. "Ini ngga berat kok Yah, cuma cemilan sama baju ganti doang," jawab Adhista. "Oh gitu, yaudah sana nanti macet," terang Intan lalu Adhista dan Arjuna salim kepada Intan dan Harsa kemudian mereka berjalan keluar rumah. "Mah Yah, Adhis berangkat ya, Assalamualaikum," ujar Adhista lalu bergegas untuk memasuki mobil. "Waalaikumsalam," jawab Harsa dan Intan bersamaan. Mobil Arjuna sudah mulai berjalan pelan-pelan, Intan dan Harsa melambaikan tangannya dan Adhista membalasnya walaupun belum tentu terlihat oleh mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN