Evan terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Napasnya memburu lelah. Mimpi itu seperti nyata. Mimpi itu sangat keterlaluan! Evan keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum di dapur. Dia melihat Karenina duduk di meja makan dengan sepiring spageti dengan saus barbeque. “Apa yang kamu lakukan malam-malam begini di dapur.” “Apa kamu tidak melihat kalau aku sedang makan.” Jawab Karenina lebih berani. Ya, dia melihat kelemahan Evan akhir-akhir ini. Seperti memberinya asupan gizi untuk berani pada Evan kecuali mengenai ancamannya jika Karenina kembali bertemu dengan Damian. Evan melangkah dengan sikap acuh tak acuh mencoba menutupi segala kecemasannya mengenai mimpi buruknya itu. Sejak kapan dia mulai memimpikan Karenina? Baru saja dia memimp

