Semester pertama ketika beranjak dari kelas X menuju kelas XI, banyak hal yang harus Wulan lalui dengan air mata. Karenanya saat ini, Wulan lemah dalam segala hal. Berawal dari insiden pelemparan guci oleh Wira sampai membuat ibu Wulan meninggal dunia. Namun takdir tak hanya bergulir sampai di sana, sebulan setelah itu, Wulan harus menerima fakta bahwa Wira akan menikahi selingkuhannya—Rana—perempuan matre yang sekarang menjadi ibu tirinya.
Dan lagi, saat kehidupan Wulan sudah seperti di neraka berkat Rana, cobaan berikutnya harus membuat Wulan kehilangan harga diri di sekolah. Wira—ayah kandungnya—ditangkap oleh polisi karena terjerat kasus n*****a. Dan pada saat itu, Wulan menyaksikan langsung bagaimana Wira mengelak dan berusaha melepaskan diri dari polisi. Wulan semakin hancur, kehidupannya berubah sangat drastis setelah nyawa sang ibu direnggut.
Dua bulan berlalu dengan sangat memperhatikan. Semua harta Wira disita oleh polisi karena diduga diperoleh dari hasil penjualan barang haram tersebut. Dan dengan status sebagai pengedar serta pemakai, Wira harus menikmati sisa hidupnya di penjara.
Entah karena tidak sanggup dan tidak memikirkan bagaimana dirinya, Wira justru mengakhiri hidupnya sendiri dengan meminum setengah botol cairan pembersih lantai.
Lagi, badai kehancuran memporak-porandakan kehidupan Wulan yang sudah kacau. Berita itu seperti angin sejuk yang tiba-tiba berubah menjadi p****g beliung. Wulan menjalani semester pertama di kelas XI dengan cobaan yang berkali-kali membuatnya mati dalam keadaan napas yang masih berembus.
“Lan? Kok nasi uduknya cuma lo liatin?” Seruan Meta membuat lamunan panjang Wulan buyar. “Nggak enak, ya? Mau gue pesenin bakso atau siomay?”
Wulan membendung air matanya, Renata dan Meta sedang menatapnya dengan keprihatinan. Tetap saja Wulan merasa kesulitan jika terus bergantung pada teman-temannya selama enam bulan. Bahkan bulan pertama di semester dua ini hampir berlalu, namun dirinya masih tetap membuat kedua sahabatnya kerepotan.
“Maafin gue,” isak Wulan tiba-tiba hingga air matanya terjatuh. “Gue nggak bisa terus-terusan kayak gini, gue bener-bener menyedihkan!”
“Lo ngomong apa, sih, Lan. Lo sama sekali nggak menyedihkan, tolong jangan dengerin omongan mereka,” ujar Renata sambil bangkit dan duduk di samping Wulan. “Mereka nggak tau apa-apa tentang lo. Mereka juga nggak tau gimana rasanya jadi lo. Gue mohon, tutup telinga lo perihal omongan nggak penting dari mereka.”
“Siapa, Lan, yang bikin lo kayak gini? Tante Rana lagi?”
Meta mengangkat mangkuk baksonya, kemudian duduk di samping Wulan. Menaruh baksonya kemudian mengusap punggung Wulan dengan wajah sedih. “Bener. Pasti dia. Liat kening lo yang bengkak kebiru-biruan itu, dia main fisik sama lo, Lan. Kenapa lo nggak balas, atau setidaknya lo pertahanin harga diri lo.” Meta menelisik wajah dan tubuh Wulan yang memar di beberapa bagian. Dan yang paling mencolok adalah keningnya, berkat kejadian semalam.
“Semakin gue ngelawan, paling nggak cuma untuk nenangin diri gue sendiri, Tante Rana semakin menekan gue, Ta. Gue nggak bisa menentang keputusan dia, apalagi untuk mencoba kabur dari dia.”
Renata dan Meta saling bertatapan. Wulan memang selalu mengeluh, namun di balik itu semua, Wulan memilih untuk terus bertahan. Karena menurut Wulan, Rana tidak sepenuhnya menjahatinya, sebab dia masih membiarkan Wulan bersekolah di tempat yang sama dan diberi uang saku meski tidak cukup. Jika dipikir-pikir, Rana juga tidak sekejam itu padanya.
Namun sebaliknya, Renata dan Meta justru berpikir bahwa Rana memiliki tujuan di balik jahatnya yang hanya setengah-setengah pada Wulan. Pun demikian, Renata dan Meta tak akan lengah, mereka akan menjaga Wulan semampu mereka.
“Gue sering bilang sama lo, tinggal aja sama gue kalau lo udah nggak sanggup tinggal satu atap sama Tante Rana. Ini namanya penyiksaan, Lan, nyawa lo dalam bahaya.”
“Nah, Renata bener. Dia udah nawarin buat tinggal di rumahnya berkali-kali, tapi lo keras kepala, sekarang liat masalahnya, lo dijadiin babu sama induknya para iblis itu!”
Wulan masih menunduk, menangis di balik helaian rambut yang menutupi wajahnya. Sementara di posisi kiri dan kanan terdapat Meta dan Renata yang menenangkannya.
Sebelah tangan Wulan bergerak, menghapus air matanya meski dirasa sudah sangat terlambat. Jejaknya sudah mengering dan membuat wajahnya mengilap. “Selagi gue masih sanggup, gue akan bertahan, Ta. Gue nggak akan lari dari masalah ini, gue akan coba pertahanin harga diri gue," ucap Wulan sembari membentuk lengkungan tipis di bibirnya yang memucat.
Dan pada akhirnya, Renata dan Meta menyerah untuk menasihati Wulan. Meski gadis itu terlihat lemah sekarang, nyatanya dia masih sanggup untuk bersikap keras kepala setelah apa yang dia alami selama enam bulan ini. Meski begitu, bukan berarti Meta dan Renata lepas tangan, mereka hanya menghargai keputusan Wulan.
***
Hari beranjak sore, sementara niat untuk pulang ke rumah masih belum ada. Wulan masih duduk sendirian di kelasnya menatap seragam berdarah yang selalu ia bawa kemana-mana selama enam bulan ini. Benda itu yang selalu menemani kesendirian Wulan. Dan tatapan hina dari pemilik darah tersebut membuat Wulan meragu untuk menuntut sesuatu.
"Lukanya semakin melebar, sakitnya semakin mengoyak pertahanan. Mau menuntut kesepakatan, tapi gue ragu lo memiliki kepedulian terhadap anak NAPI kayak gue." Cewek berparas lembut itu bergumam sambil membuka ranselnya, mengeluarkan parfum beraroma vanila.
Tangan kecilnya bergerak, menekan bagian atas botol parfum yang terbuat dari kaca. Wulan menyemprotkan parfum tersebut pada seragam di tangannya. "Kenapa lo terlalu sulit digapai, layaknya impian yang sialnya gue gantung terlalu tinggi di angkasa," ujarnya dengan tatapan sendu.
Dan kala sendiri, Wulan selalu memiliki kebiasaan ini; menyemprotkan parfum ketimbang harus mencuci seragam yang terkena noda darah tersebut. Dan semenjak teman-teman sekelasnya mengetahui hal ini, mereka menyebut Wulan; cewek aneh. Gelar di depan namanya bertambah satu. Dan, ya, yang tidak berubah dari kehidupannya semenjak ibunya meninggal hanyalah kedua sahabatnya, Renata dan Meta. Karena kedua sahabatnya itu sudah pulang, Wulan jadi punya waktu untuk meratapi keadaan dalam kesendirian.
"Gue tau sinar lo melemah. Tapi bukan berarti kesepakatan di antara kita ikut berakhir. Di antara jutaan manusia yang melimpah di jagat bumi ini, entah mengapa Tuhan menghadirkan lo dalam setiap bayangan di benak gue."
Tangan Wulan meremas seragam yang sudah diberi parfum agar baunya sedikit berkurang. "Aneh memang. Saat lo berusaha menghindar dari gue karena takut gue celaka, justru gue semakin ingin dekat sama lo. Nggak peduli dengan risiko nyawa yang harus jadi taruhannya. Gue tetep mau, lo bantu gue."
BRAK!
Pintu kelas Wulan yang awalnya tertutup tiba-tiba terbuka lebar. Menciptakan bunyi benturan keras dikarenakan dorongan kuat oleh seseorang sampai membentur dinding. Di tempat duduknya, Wulan melebarkan mata melihat cowok berpakaian acak-acakan memasuki kelasnya dengan tergesa-gesa.
"s**t!"
Cowok itu memaki sesaat setelah menutup pintu kembali dan matanya menemukan Wulan tengah menatapnya dengan wajah terkejut. "Lo ngapain masih di sekolah?!" marahnya sembari mendekati Wulan yang memucat di tempatnya. "Mau nyari mati lo, hah?"
"B-Bens, muka lo—"
Tidak ingin mendengar apapun dari Wulan dikarenakan situasi darurat yang sedang mencekiknya, Bens menutup mulut Wulan dengan tangannya. Lagi-lagi membuat Wulan menegang hingga cowok itu menarik lengan Wulan dengan paksa.
"Jangan berisik, mereka di sini," ujar Bens seraya berbisik. Memperingatkan Wulan agar tidak bersuara saat tubuh Wulan ia seret kemudian dibenturkan ke dinding di sudut pintu.
Sekarang posisinya terlalu intim, membuat Wulan hanya mampu diam seperti patung. Namun karena ini situasi darurat yang mengharuskan Bens melakukannya, cowok itu tampak tidak peduli dengan keadaan dimana dia sedang menyudutkan Wulan. Posisi tangan kiri yang mencekal tangan kanan Wulan, tangan kanan yang menutup mulut Wulan dengan kuat, serta posisi tubuh yang hanya berjarak sejengkal dari tubuh gadis itu. Bens celingak-celinguk ke jendela saat suara langkah kaki yang tak terhitung berapa jumlahnya berlarian di lorong sekolah. Mengejarnya.
Napas Bens terengah-engah, dia tampak kacau sampai akhirnya tenang saat manik matanya bertemu dengan mata sayu milik Wulan. Cewek itu hampir menangis, Bens mengetahuinya lewat matanya yang berkaca-kaca.
Dirasa keadaan sudah cukup aman, Bens melepaskan cekalan dan bekapan tangannya. Tubuh Wulan pun merosot turun ke bawah, air di pelupuk matanya semakin banyak hingga jatuh ke lantai. Seragam berdarah di tangannya digenggam kuat, Wulan terduduk dalam keadaan tangis yang tidak terpecah.
Bens menatap seragam berdarah milik Wulan, dia tidak menyangka bahwa Wulan masih menyimpan benda tersebut setelah enam bulan berlalu. "Lo harus pulang," ujar Bens dingin, lalu berjongkok di hadapan Wulan.
"Kenapa lo nggak mau bantu gue menjadi kuat, Bens?" Pertanyaan Wulan membuat Bens terdiam bingung. "Apa lo juga berpikir kalo anak dari seorang narapidana seperti gue nggak pantas berada di lingkungan yang sama dengan kalian?"
"Lan, lo akan menyesal."
"Gue nggak peduli, Bens. Gue capek sama keadaan ini, gue nggak mampu berjuang tanpa hasil yang maksimal. Nggak ada yang bener-bener mampu menolong gue selain lo! Cuma lo satu-satunya orang yang akan mampu melindungi gue, please...."
"Gue bukan orang baik," ucap Bens. "Lo liat barusan? Banyak orang yang pengen gue mati. Lo nggak akan bisa bertahan dalam keadaan kayak gitu!"
Setelah mengucapkan itu dengan nada marah dan napas terengah-engah, Bens bangkit dari duduknya. Segera pergi sebelum dirinya ditangkap basah oleh pria-pria berbadan besar itu. Inilah alasan mengapa Bens enggan melibatkan orang lain dalam kehidupannya. Terlalu banyak tangan yang mengincar nyawanya, sehingga Bens mau tidak mau harus berdampingan dengan kejahatan.
Mata Wulan menatap punggung Bens yang menghilang di balik pintu, air matanya terus berguguran. "Kenapa?" lirihnya pedih. "Kenapa lo selalu menjauh dari gue, Bens? Kenapa lo menghindari gue saat keadaan memaksa lo untuk ketemu sama gue? Tapi lo jangan khawatir, gue akan tetap nuntut kesepakatan itu. Lo, harus melindungi gue!"