"Jadi, gitu, ya?" tanya Alvaro.
"Entahlah, itu cuma tebakanku saja," jawab Reyhan.
"Tapi kalau benar begitu, malah jadi bagus," lanjutnya.
"Bagus? Bagus gimana?" tanya Alvaro.
"Baguslah. Dengan kemampuanmu itu, kau pasti bisa dengan mudah mengalahkan hantu-hantu yang dipuja oleh para manusia berjubah itu. Kalau sang hantu sudah kalah, itu berarti musuhnya tinggal si manusia berjubah itu. Dan bisa saja, ilmu kebalnya pun akan hilang. Malah bisa dengan mudah untuk mengalahkannya," ucap Reyhan.
"Tapi masalahnya, kurasa para hantu itu tak selemah hantu-hantu lain. Mereka itu iblis. Pasti kekuatannya jauh lebih besar dari hantu yang tadi," jawab Alvaro.
"Kenapa bisa gitu? Apa di dalam pengelihatan kamu, kamu sudah melihat kekuatan asli mereka?" tanya Reyhan.
"Tidak," jawab Alvaro.
"Lalu?" tanya Reyhan.
"Kau pikir saja. Buat apa hantu tadi itu harus meminta bantuan ke kita kalau dia bisa membalaskan dendamnya sendiri. Itu berarti, ia merasa tak mampu untuk menghadapi mereka," jawab Alvaro.
"Hmmm.... Benar juga ya. Lalu bagaimana?" tanya Reyhan.
"Ya tetap seperti tadi. Apapun yang terjadi, tidak peduli seberapa besar risikonya, aku akan menghadapi mereka. Aku tak mau dihantui rasa berdosa jika aku membiarkan para penjahat itu tetap melakukan kejahatan. Berapa banyak lagi korban yang akan berjatuhan?" ucap Alvaro.
"Lagipula, kita masih punya sang pencipta yang pastinya akan selalu melindungi kita. Jadi, tenanglah!" lanjut Alvaro.
Alvaro tetap pada tekadnya untuk mengakhiri mimpi buruk ini segera. Sang pencipta mimpi buruk itu harus segera ia taklukkan agar tak ada lagi korban. Reyhan masih sedikit ragu akan hal itu. Ada banyak hal yang masih ia pikirkan, terutama perbedaan kemampuan yang masih jauh di bawah mereka.
Namun bagi Alvaro, hal semacam ini tak bisa dibiarkan. Daripada harus menanggung rasa bersalah sepanjang hidupnya, lebih baik ia mati dalam perjuangan itu. Ia yakin, sang kuasa memberikan kemampuan yang seperti itu gunanya untuk memberantas kejahatan semacam ini.
***
Di kala siang sudah berganti dengan malam, itulah saat-saat di mana kegelapan membawa sebuah aura yang sangat menakutkan. Berada di sebuah villa yang terletak di tengah-tengah hutan, itu nyatanya begitu sangat menakutkan.
Seseorang sedang berada sendirian di dalam kamar, duduk bersila di atas kasur. Dia adalah Alvaro. Teman-temannya sedang makan malam di ruang makan. Dia tidak ikut, dengan alasan sudah kenyang karena tadi sudah makan mie instan. Saat semuanya sedang berada di ruang makan itulah Alvaro memanfaatkannya untuk menguji kemampuan berkomunikasinya dengan makhluk halus.
Ia pernah menggunakannya sekali, tepatnya saat berada di bus ketika ada kuntilanak yang terbang mengikuti bus yang ia tumpangi. Masalahnya saat itu kuntilanak itu sudah terlihat oleh mata, namun kali ini ia ingin mencoba berkomunikasi pada hantu yang bahkan belum bisa terlihat oleh matanya.
Ia memfokuskan dirinya, mencoba tenang dan tak memikirkan hal lain selain hanya ingin berkomunikasi dengan sang hantu. Tujuannya tentu saja hantu yang sudah menampakkan diri beberapa kali itu, karena ia rasa, hantu itulah kunci utama dari masalah yang dihadapinya. Dia juga merasa bahwa hantu itu memiliki aura kebencian yang sangat besar.
"Jika kau berada di sini, jawablah aku!" ucap Alvaro dalam hati, mencoba untuk berkomunikasi dengan makhluk buruk rupa itu.
"Jawab aku!" ucap Alvaro lagi.
Tapi, tak ada hal aneh yang terjadi. Ia masih tak bisa mendengar apapun ataupun merasakannya. Namun ia tak menyerah, ia kembali memejamkan matanya dan berkonsentrasi lagi untuk bisa melakukan komunikasi dengan hantu itu.
"Jika kau bisa mendengarku, jawablah!" pinta Alvaro dalam hati.
Ia menunggu beberapa saat, namun lagi-lagi gagal. Ia tak mendengar satupun suara aneh selain suara jarum jam yang memecah kesunyian. Ia membuka matanya kembali. Rasa kecewa yang besar harus ia tanggung sendirian.
Ia merasa, hari itu hanyalah kebetulan saja. Sebenarnya kemampuannya yang seperti itu tidak ada. Bagaimana bisa seseorang melakukan telepati? Ia bahkan tak bisa mempercayai hal itu.
Tapi, tiba-tiba....
Wush!
Angin bertiup sepoi-sepoi di sekitarnya. Ia yakin bahwa itu adalah tanda kehadiran sang hantu. Tentang kenapa ia tak dapat melihatnya, ia juga tak tahu. Kemudian, ia seperti mendengar sesuatu. Sebuah suara yang terdengar samar-samar. Ia pun memejamkan matanya lagi, dan berkonsentrasi.
"Apa kau hantu wanita yang tadi?" tanya Alvaro dalam batinnya.
"Iya," jawab sang hantu dengan nada suara yang tak dapat dijelaskan. Terdengar lirih dan pokoknya sangat menyeramkan.
"Di mana kau sekarang? Tolong, tampakkan dirimu," ucap Alvaro sok berani.
"Tidak bisa, energimu terlalu kuat," jawab hantu itu.
Jadi benar apa yang dipikirkan Reyhan, bahwa Alvaro mempunyai energi yang terlalu kuat hingga membuat para hantu pun tak berani untuk mendekatinya.
"Baiklah. Aku ingin tanya. Apa kau wanita yang hampir dibunuh oleh para manusia berjubah itu?" tanya Alvaro.
"Iya," jawab hantu itu masih dengan suara yang menyeramkan.
"Kau tahu siapa mereka?" tanya Alvaro lagi.
"Tidak," jawab hantu itu.
Dalam hati, Alvaro menggumam, "Cih, bahkan cewek kalau udah jadi hantu pun tetap aja, cuek."
"Aku tidak cuek," ucap hantu itu seakan bisa membaca kata hati Alvaro.
"Eh, dari mana kau tahu kalau aku bilang kayak gitu?" tanya Alvaro terkejut. Hantu itu diam.
"Hmm... Lupakan! Kalau begitu, beritahu aku, apa kelemahan mereka?" tanya Alvaro.
"Aku tidak tahu," jawab si hantu.
Alvaro kembali menggumam dalam hati. Ia berkata bahwa hantu itu adalah si hantu bodoh yang cuma bisa merepotkannya tanpa bisa memberikan sedikitpun informasi.
"Beraninya kau bilang seperti itu. Mau kuperlihatkan wajahku lagi tepat di depanmu?" tanya si hantu yang lagi-lagi seperti bisa membaca kata hati Alvaro.
"Eh, kau tahu lagi? Tapi, jika memang itu yang ingin kau lakukan, coba saja," jawab Alvaro seakan mempersilahkan hantu itu untuk muncul di hadapannya.
Mendadak semuanya menjadi hening. Tak ada lagi suara dari si hantu. Alvaro berpikir bahwa sebentar lagi dirinya akan didatangi hantu itu, namun setelah sekian lama ia menunggu, tak ada sedikitpun tanda-tanda kehadiran darinya. Ia melihat sekeliling, berpikir pula bahwa jika hantu itu tak mau menampilkan dirinya di depannya, setidaknya sosok buruk rupa itu menuliskan sesuatu menggunakan darah di sembarang tempat. Namun, itu juga tak terjadi. Tak ada apa-apa sejauh mata Alvaro memandang. Hingga beberapa saat kemudian, gagang pintu kamar seakan ada yang memutarnya. Jantung Alvaro mulai berdebar, memikirkan kemungkinan bahwa hantu itulah yang akan ia lihat ketika pintunya terbuka.
Pintu semakin lama semakin terbuka lebar, hingga akhirnya menampilkan sosok yang ada di baliknya. Jantung Alvaro lagi-lagi berdebar kencang ketika tahu siapa sosok di balik pintu.
"Eh, ternyata kamu, Ji," ucap Alvaro.
Ternyata, itu adalah Aji, teman sekamar Alvaro. Dia kira, hantu itu beneran akan menampakkan dirinya lagi tepat di hadapannya, ternyata tidak. Meski ia tadi menantang, tapi biar bagaimanapun juga, seberani apapun dirinya, tetap saja pasti akan terkejut dan takut jika si hantu benar-benar datang di hadapannya.
"Lah, emang kau pikir siapa?" tanya Aji.
"Kukira cewek cantik dan seksi," jawab Alvaro sambil cengar-cengir.
"Cih, pikirannya tolong dijaga, woi," ucap Aji.
"Maksudku, kukira cewek cantik yang akan mengantarkan jatah makan malam buatku. Kan aku gak ikut makan malam bersama," ucap Alvaro.
"Emang kau aja yang berpemikiran kotor," lanjut Alvaro.
"Heleh, pakai ngeles, segala," sangkal Aji.
Alvaro menggaruk-garuk belakang kepalanya. Ia masih mempertahankan cengirannya.
"Oh ya, yang lain ke mana?" tanya Alvaro.
"Tuh, masih di ruang makan," jawab Aji.
"Reyhan?" tanya Alvaro lagi.
"Kalau Reyhan tadi sih bareng aku ke sininya. Tapi kata dia, dia mau ke teras dulu, nyari angin," jawab Aji.
"Ooo." kata Alvaro.
Alvaro berpikir bahwa Reyhan pasti tidak sekedar hanya untuk mencari angin saja. Reyhan pasti sedang mencari sesuatu yang aneh di luar sana. Itulah yang ada di pikiran Alvaro.
Ia kemudian berjalan keluar kamar meninggalkan Aji yang sendirian di kamar. Tujuannya adalah untuk menemui Reyhan dan sedikit membicarakan tentang apa yang dialaminya tadi. Namun, dalam perjalanan menuju ke arah teras, secara tak sengaja Alvaro berpapasan dengan Delia yang berjalan seorang diri.
"Alvaro, mau ke mana?" tanya Delia.
"Kamu juga mau ke mana?" tanya Alvaro balik.
"Yeee, ditanya malah balik nanya," ucap Delia.
"Yeee, ditanya balik malah gak jawab," balas Alvaro.
Demikianlah kepribadian seorang Alvaro Aditama. Ia terkadang bisa menjelma menjadi manusia yang sangat serius. Akan tetapi terkadang juga bisa menjadi manusia yang menyebalkan seperti apa yang sedang terjadi saat ini.
"Mau ke teras. Kamu sendiri mau ke mana?" Akhirnya Alvaro menjawab dengan serius, kemudian ia menanyai Delia balik.
"Aku ikut," ucap Delia tak sesuai dengan pertanyaan.
"Ikut ke mana!" tanya Alvaro.
"Teras, lah," jawab Delia.
"Jangan!" larang Alvaro.
"Kok gitu? Kenapa jangan?" protes Delia.
"Udara di luar sangat dingin. Nanti kalau masuk angin, gimana?" kata Alvaro.
Delia tersenyum singkat. Ia merasakan kesenangan karena Alvaro menunjukkan kepeduliannya kepadanya. Hanya saja yang masih ia tidak ketahui adalah tentang bentuk kepedulian Alvaro. Apakah peduli sebagai seorang sahabat, atau ada makna lain di balik kepeduliannya itu, Delia tak tahu.
"Nggak akan, Al. Masa cuma kena angin malam bisa masuk angin. Pokoknya aku ikut," ucap Delia masih terus memaksa supaya ia boleh ikut.
"Hufff.... Baiklah. Tapi kalau kamu masuk angin, aku nggak mau direpotin lho, ya," ucap Alvaro.
"Iya, iya," kata Delia.
Akhirnya Alvaro pun mengizinkan Delia untuk ikut bersamanya. Mereka pun berjalan beriringan menuju teras villa tersebut. Tak lama kemudian, sampailah mereka ke teras, dan di sana sudah terduduk manis seorang lelaki yang tak lain adalah si Reyhan. Ia sendirian di sana. Hanya ditemani oleh secangkir kopi yang menghangatkan suasana.
"Eh, ada Reyhan juga?" tanya Delia.
"Alvaro, Delia," ucap Reyhan ketika melihat kehadiran Alvaro dan Delia.
"Ngapain sendirian di sini, Bro?" tanya Alvaro sambil mengambil duduk di sebuah kursi yang tersedia.
"Nggak ngapa-ngapain. Cuma ingin cari angin aja," jawab Reyhan.
"Kau sendiri, ngapain berduaan sama Delia?" tanya Reyhan balik.
"Berduaan?" Delia menyahut pertanyaan Reyhan dengan pertanyaan juga yang entah kepada siapa ia tujukan.
"Ini, Aji tadi bilang kamu ada di sini. Lalu aku juga pengen ke sini, eh, ketemu Delia. Nggak tahu tuh, dia pengen ikut ke sini katanya," jelas Alvaro. Delia senyum. Reyhan manggut-manggut mengerti.
Suasana malam yang terasa mencekam sedikit menghilang ketika pembicaraan itu terjadi. Apa yang dikatakan Alvaro memang benar. Di luar sini, sang angin berhembus hingga udara dinginnya terasa menusuk tulang. Itu tentu tak baik untuk Delia. Walau bagaimanapun juga, dia hanyalah seorang gadis yang pastinya tidak sekuat Alvaro maupun Reyhan dalam menghadapi dinginnya udara.
"Del, ini dingin, lho. Kamu beneran tetap mau di sini?" tanya Alvaro.
"Iya, Al. Lagian juga gak terlalu dingin," jawab Delia.
"Ya sudahlah kalau itu maumu. Tapi, ingat, ya! Nanti kalau kamu masuk angin, aku tidak mau direpotin," ucap Alvaro.
"Iya, iya," jawab Delia.
Reyhan yang melihat perdebatan itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia mengira bahwa sahabatnya yang bernama Alvaro Aditama itu benar-benar tak punya sedikitpun rasa perhatian pada seorang gadis. Bahkan kepada Delia, yang bisa dibilang adalah sahabatnya sendiri saja Alvaro sampai menyatakan bahwa ia tidak mau direpotkan jika seandainya Delia nanti masuk angin.
"Oh ya, Rey. Ternyata, apa yang kamu katakan tentang yang tadi siang itu benar," ucap Alvaro.
"Tentang hantu yang tidak berani mendekati kamu itu?" tanya Reyhan.
"Iya," jawab Alvaro.
"Hantu? Hantu ap-"
Belum sempat Delia mengakhiri bicaranya, Alvaro sudah lebih dulu membungkam mulut Delia dengan menggunakan tangan kanannya. Perkataan Delia pun terdengar seperti tertahan akibat bungkaman yang dilakukan oleh Alvaro. Ia pun kemudian diam. Sungguh dalam kondisi terbungkam, wajah Delia yang cantik terlihat sangat imut.
"Jangan keras-keras, bicaranya," ucap Alvaro sedikit berbisik ke Delia.
"Pokoknya, kalau kita sedang membicarakan hal semacam ini, jangan sampai ada yang dengar. Kamu paham?" tanya Alvaro kemudian. Delia mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali. Itu benar-benar menambah keimutannya.
Ia kemudian menjauhkan tangannya dari mulut Delia. Mode seriusnya kini muncul. Tak mau bercanda seperti yang telah terjadi waktu dalam perjalanan ke tempat ini, tadi. Ia ingin membahas sesuatu yang ada hubungannya dengan keselamatan nyawanya, keselamatan teman-temannya, dan pokoknya keselamatan semuanya.
"Tadi baru saja aku berkomunikasi dengan dia," ucap Alvaro.
"Terus?" tanya Reyhan antusias.
"Nggak ada terusannya. Dia cuma hantu tidak berguna yang bisanya cuma merepotkan, tapi tidak bisa memberi sedikitpun bantuan," jawab Alvaro.
"Bentar, bentar. Ini lagi ngomongin apa, sih?" Delia yang memang tidak tahu apa-apa mulai bertanya.
Alvaro memandang Delia lekat. Ia kemudian mulai bercerita dengan cara berbisik agar tidak ada siapapun yang dengar kecuali Delia. Penjelasan yang cukup panjang ia sampaikan ke gadis cantik itu hingga mungkin terhitung hampir 5 menit hal itu terjadi. Reyhan dengan sabar menanti sambil sesekali matanya melihat keadaan sekitar. Meski tidak disuruh oleh Alvaro, Reyhan tetaplah peka kalau dirinya harus mengawasi jikalau ada tamu tak diundang yang tiba-tiba datang.
"Ooo.... Jadi gitu?" tanya Delia. Raut wajahnya terlihat tegang.