Bab 23

1615 Kata
Napasnya terdengar tak beraturan. Seperti seseorang yang baru saja menjalani lari maraton. Keringatnya bercucuran deras dengan tangan yang masih memegang kapak. Tenaganya terasa terkuras habis hingga kapak yang dipegangnya langsung ia jatuhkan. "Hah, hah, wanita itu, bagaimana nasibnya?" tanya Alvaro pada diri sendiri. Deg! Untuk ke sekian kalinya pada hari ini, Alvaro harus kembali merasakan bahwa jantungnya akan segera berhenti berfungsi ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang. Seperti biasa, refleks yang ia berikan adalah memukul dan.... Brug! "Aduh!" Suara seseorang yang mengeluh. "Reyhan. Ternyata kamu. Aku kira hantu, tadi," ucap Alvaro setelah ia sadar bahwa yang dipukulnya itu adalah sang sahabat, yaitu Reyhan. "Ah, kau ini. Kau pikir ini tidak sakit?" ucap Reyhan sambil memegangi dadanya yang terpukul oleh Alvaro. Beruntungnya, ia tadi sempat menangkis pukulan Alvaro meski sedikit dari bagian kepalan tangan Alvaro sempat mengenai dadanya. Namun sialnya ia tak dapat menahan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. "Heh, lagian kamu. Ngapain pakai acara nepuk pundakku?" protes Alvaro. Reyhan diam sejenak. "Oh itu?" Reyhan bergerak mendekati Alvaro. "Tadi kudengar kamu berteriak, lalu kamu bicara tentang wanita-wanita. Apa kau sudah dapat petunjuk?" tanya Reyhan sedikit berbisik. "Iya, nanti kuceritain," ucap Alvaro. Alvaro secepatnya menaruh kapak itu ke dalam laci, dan menutupnya kembali. Dia rasa bukti ini sudah lebih dari cukup. Ia sudah menemukan titik terang dari masalah itu. Rumah tua di pengelihatannya itu, dia yakin sekali bahwa rumah itu adalah rumah tua yang ada di dalam hutan ini. Meski dalam pengelihatannya bagian luar rumah itu tidak terlihat, tapi pemikirannya hanya mengarah ke situ. Ya, dia sangat yakin. *** "Gimana?" tanya Reyhan tepat ketika dia dan Alvaro masuk ke kamar. "Aku melihat ada dua orang berjubah yang seperti membuat persembahan kepada makhluk halus. Di dalam pengelihatan itu, korbannya adalah seorang wanita," ucap Alvaro. "Persembahan untuk makhluk halus?" tanya Reyhan. "Iya, tapi wanita malang itu.... Eh, tunggu. Sepertinya aku tidak asing dengan si wanita yang ada di pengelihatanku itu," ucap Alvaro seraya seperti memikirkan sesuatu. "Siapa emang?" tanya Reyhan penasaran. "Hah, iya. Pakaian dan bentuk tubuhnya persis dengan hantu yang kutemui hari ini. Iya, aku yakin. Pantas saja tadi dia memberikan petunjuk itu," ucap Alvaro yang akhirnya mengingat sesuatu. "Hantu? Jadi itu artinya, dua orang berjubah itu telah membunuhnya?" tanya Reyhan. "Bukan," jawab Alvaro cepat. "Terus kenapa dia bisa jadi hantu?" tanya Reyhan. "Pertama, pelankan suaramu! Kedua, jangan sampai ada yang mendengar pembicaraan kita, termasuk teman-teman kita, dan ketiga...." Alvaro menggantung ucapannya. "Sudah, dua itu saja," lanjutnya. "Baiklah, baiklah. Jadi, kenapa wanita itu bisa jadi hantu kalau dua orang berjubah itu tidak membunuhnya?" tanya Reyhan sekali lagi. Kali ini dengan nada bicara yang pelan. Alvaro menghembuskan napasnya pelan dan bersiap untuk menceritakan apa yang ada di pengelihatannya itu kepada sang sahabat, yaitu Reyhan. Sementara itu, Reyhan nampak tak sabar dengan apa yang akan Alvaro bicarakan. Di sisi lain, lebih tepatnya di bawah ranjang tempat tidur, nampak sesosok wanita berwajah hancur dengan darah yang mengalir deras. "Saat itu, dia berhasil membebaskan diri dari ikatan. Namun sialnya dua orang berjubah itu tiba-tiba datang. Wanita itu menggunakan kapak untuk dipakai sebagai senjata. Terhitung dua kali ia mengayunkan kapaknya ke arah si manusia berjubah, namun anehnya kulitnya tak tergores sedikitpun." Alvaro mengakhiri ucapannya sejenak untuk mengatur napas. "Ilmu kebal, kah?" tanya Reyhan. "Gak tahu, mungkin iya," jawab Alvaro. Reyhan diam. "Lalu wanita itu berlari menuju pintu belakang, dan beruntungnya ia akhirnya bisa kabur lewat pintu belakang itu. Tapi tiba-tiba ada empat sosok hitam mengerikan yang juga ada di mimpiku saat itu. Empat sosok hitam itu mengejar sang wanita hingga pada akhirnya ia terjatuh ke jurang. Setelah itu, pandanganku menggelap. Aku sudah tidak tahu kelanjutannya," ucap Alvaro panjang lebar. Baik Alvaro maupun Reyhan masih belum tersadar bahwa sedari tadi ada sosok yang mendengarkan pembicaraan mereka dari bawah ranjang. Sosok yang sangat menyeramkan. "Jadi, itu artinya, lawan kita nantinya bukan seperti para pembunuh si Lio waktu itu, ya?" tanya Reyhan. "Iya. Kurasa akan jauh lebih sulit untuk mengalahkannya daripada waktu itu," jawab Alvaro. "Kalau dibacok pakai kapak aja masih tidak mempan, lalu bagaimana kita akan menghadapinya?" tanya Reyhan seperti sedang frustasi. "Heh, jangan pesimis kayak gitu, Rey. Meskipun dia sekuat itu, pasti dia juga punya kelemahan. Ingatlah! Kebenaran akan selalu menang," ucap Alvaro. "Eh, sebentar. Bukannya rencananya kita cuma akan meninggalkan tempat ini saja, bukan malah menghadapinya?" ucap Reyhan. "Emangnya kau yakin, jika mereka akan percaya dengan hal ini? Aku yakin mereka akan menganggap ini hanya sebuah lelucon. Kamu bilang, para dosen juga gitu kan, tadi?" tanya Alvaro balik. "Iya sih," jawab Reyhan. "Jika mereka tidak percaya, maka jalan satu-satunya adalah dengan menghadapinya," ucap Alvaro. Reyhan terdiam. Ia seperti ragu dengan apa yang telah Alvaro putuskan. Walau bagaimanapun juga, itu tentu bukanlah bidangnya. Sang manusia bernama Reyhan itu tidak cocok jika harus berurusan dengan dunia ghaib, karena ia benar-benar tak paham sama sekali tentangnya. Ia juga pasti sedang memikirkan lawan yang nantinya akan dihadapi. Bagaimana bisa menang jika lawannya seperti kebal dengan semua senjata? Bisa-bisa nyawa dia yang melayang nantinya. "Oh ya, Rey, ada satu hal lagi yang ingin aku beritahukan," ucap Alvaro pelan kepada Reyhan. "Apa?" tanya Reyhan. "Kapak yang kutemukan tadi, itu adalah kapak yang dibawa oleh si wanita yang ada di dalam pengelihatanku. Waktu dia terjatuh ke jurang, aku yakin dia masih membawa kapak itu, tapi anehnya, sekarang ini kapaknya ada di dapur. Itu berarti...." Alvaro menggantung ucapannya. "Salah satu dari pemilik villa ini lah dalang di balik semuanya," sahut Reyhan. "Tepat. Atau bisa jadi malah semuanya," ucap Alvaro. "Hufff.... Ternyata benar, ya," ucap Reyhan sambil menghembuskan napasnya. "Kita harus hati-hati," ucap Alvaro. "Iya," jawab Reyhan. Alvaro kemudian merasakan sesuatu yang tidak enak di sekitarnya. Aroma busuk tiba-tiba menyerang Indra penciumannya. Padahal sedari tadi ia berada di sana, ia tak merasakan apa-apa. Mungkin karena tadi ia terlalu fokus dalam pembicaraan hingga gagal fokus pada hal ini. "Bau ini...." Alvaro menggantung ucapannya. "Cih, sial! Dia ada di sini," lanjut Alvaro. "Dia? Dia siapa?" tanya Reyhan bingung karena memang ia tak tahu maksud Alvaro. "Dia, si hantu wanita itu," jawab Alvaro. Matanya mulai bergerak liar ke sana ke mari. Tak lama kemudian, ada sesuatu yang terbang dengan sangat cepat. Arahnya dari bawah ranjang tempat tidur itu, terbang melewati depan kaca lemari dan meninggalkan sebuah tulisan di kaca itu, kemudian menghilang. "A-apa itu?" tanya Reyhan menunjuk ke arah kaca lemari yang kini terdapat sebuah tulisan yang ditulis dengan darah. Nampaknya Reyhan pun bisa melihatnya. Tak peduli dengan Reyhan yang gemetar ketakutan, Alvaro malah mendekat ke arah lemari itu untuk melihat lebih jelas apa yang sosok itu tuliskan. "Balaskan dendamku!" ucap Alvaro membaca tulisan di kaca lemari itu. Tak lama setelah ia membaca, tulisan itupun berangsur memudar dan kemudian hilang. Mungkin itu pula yang terjadi dengan tulisan di kamar mandi sana. Kalau memang seperti itu, malah lebih bagus. "Dia ingin kita membalaskan dendamnya," ucap Alvaro ketika ia sudah berada di samping Reyhan lagi. "Dendam apa?" tanya Reyhan yang terlihat masih gemetar. "Tentunya dendamnya adalah kepada manusia berjubah itu," jawab Alvaro. "Kenapa harus kita?" tanya Reyhan lagi. "Hahaha. Sejak kapan kau jadi penakut kayak gini?" tanya Alvaro balik mengalihkan pembicaraan. "Cih, hantu sialan itu muncul di saat yang tidak tepat. Lagian kalau mau muncul, kenapa gak langsung nampakin wujudnya aja, sih? Kenapa malah cuma nulisin tulisan itu di cermin?" protes Reyhan entah ke siapa. "Hahaha.... Emang pada dasarnya kau ini penakut," ejek Alvaro. "Cih, bukan takut, cuma kaget," ucap Reyhan. "Hmmm.... Iya, iya, terserah," ucap Alvaro. Sejenak, mereka berdua saling diam. Reyhan masih berusaha untuk mengendalikan tubuhnya agar tidak gemetaran lagi. Ia juga sedang berusaha untuk menormalkan detak jantungnya yang hampir copot karena kejadian barusan. Ia bukannya penakut. Apa yang dikatakannya memang benar. Hantu itu muncul di saat keadaan yang tidak tepat. Ia baru saja deg-degan ketika mendengar cerita Alvaro tentang si manusia berjubah yang konon kebal dengan senjata tajam itu, dan tiba-tiba ditambah dengan kehadiran sang hantu yang menulis sesuatu di cermin dengan menggunakan darah. Bagaimana tidak gemetaran? "Tapi aku merasa aneh deh, Rey, dengan hantu itu," ucap Alvaro kemudian. "Aneh gimana?" tanya Reyhan. "Sudah beberapa kali dia nampakin diri di depanku, tapi cuma berani muncul secara mengagetkan, lalu menghilang. Malahan tadi, ketika aku sedang marah ke dia, dia bahkan cuma berani muncul dari kejauhan dan memberitahukan sesuatu lewat tulisan di cermin seperti yang dia lakukan sekarang. Ah, entahlah. Aku juga tak tahu kenapa itu bisa terjadi. Kau punya pendapat?" ucap Alvaro panjang lebar yang berakhir dengan pertanyaan. "Emmm.... Mungkin karena dia takut kau pukul kalau muncul di dekat kamu," jawab Reyhan. "Eh hem, serius dong, Rey," pinta Alvaro. "Lah, aku juga serius. Kau kan tukang pukul hantu. Bahkan tadi aku kan juga kena pukul gara-gara kau menyangka kalau aku ini hantu," ucap Reyhan. Tak bisa dipungkiri memang, refleks Alvaro ketika melihat hantu yang muncul secara mengagetkan adalah langsung menyerangnya. Refleks yang aneh, tapi juga menakjubkan. Mungkin hanya satu dari 100 manusia di bumi ini yang punya refleks seperti Alvaro. "Atau mungkin karena energi yang ada di dalam diri kamu terlalu besar hingga para hantu pun tak berani mendekat, terlebih lagi ketika kamu marah atau sedang dalam situasi terdesak," ucap Reyhan kemudian. "Kau ingat waktu kita dikejar kuntilanak hari itu? Waktu itu, kamu sudah tak bisa berlari lagi karena kau belum pulih secara sempurna gara-gara kecelakaan itu. Saat itu bukankah kuntilanaknya langsung menghilang ketika berada di jarak yang begitu dekat denganmu? Kalau menurutku, itu karena kau sedang dalam situasi terdesak sehingga energimu muncul dengan sendirinya, lalu membuat hantu itu takut," lanjut Reyhan. Alvaro manggut-manggut mengerti. Kali ini ia agak sedikit puas dengan jawaban yang diberikan oleh sahabatnya itu. Kalau dipikir secara logika, hal itu memang tak masuk akal. Akan tetapi ini berhubungan dengan dunia mistis. Bahkan hal yang paling tidak masuk akal di dalam logika pun bisa menjadi masuk akan ketika sudah dihubungkan dengan mistis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN